Breaking News

Islam

Politik

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Oktober 2017

350 Tahun Belanda Menjajah Pribumi?

350 TAHUN?
Berapa lama Belanda menjajah Indonesia? Hampir semua dari kita akan menjawab: 3,5 abad atau 350 tahun. Sebab demikianlah yg umumnya diajarkan di sekolah2, termasuk saat saya belajar dulu dari SD-tingkat pertama kuliah.
Hitungan dari mana 350 tahun itu? Dari pendaratan pertama penjelajah dan pedagang Belanda, yaitu Cornelis de Houtman tahun 1596 di Banten saat mencari rempah2, sampai proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Logikanya, begitu kapal dagang Belanda ini mendarat, apakah Indonesia - wilayah kepulauan yang terbesar di dunia ini - serentak dijajah seluruhnya oleh Belanda? Tidak logis. Maka meragukan angka 350 tahun itu.
Dan itu yang dari tahun 1960 sudah meragukan Prof. Mr. G.J. Resink -seorang Belanda-Jawa berkewarganegaraan Indonesia kelahiran Yogyakarta tahun 1911 meninggal di Jakarta tahun 1997. Guru besar hukum internasional, sejarah modern dan sejarah diplomasi UI ini menulis buku-buku penting yang mendorong metodologi penelitian sejarah menggunakan data-data hukum.
Foto terlampir itu adalah salah satu bukunya yang terpenting yang memasalahkan 350 tahun itu yang kebetulan terjemahannya (1973) saya punya. Judul aslinya "Inlandsche Staten in den Oosterschen Archipel" (1873-1915) - Resink, 1960.


Dari penelitiannya atas dokumen2 hukum, Prof. Resink menolak ajaran bahwa Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun. Prof. Resink termasuk yang pertama dalam membuat kontroversi atas sejarah Indonesia "versi Pemerintah".


Ini beberapa argumen Resink.
1. Antara tahun 1460-1910 belum ada suatu negara Indonesia sebagai bentuk politik yang bulat yang meliputi keseluruhan kepulauan Indonesia.
2. Penjajahan oleh bangsa-bangsa asing sampai 1910 belum meliputi seluruh kepulauan Indonesia, hanya terbatas pada beberapa wilayah tertentu saja.
3. Sebelum 1910 kepulauan Indonesia terdiri atas kerajaan2 besar dan kecil yang masing-masing berkedudukan sebagai negara merdeka bertaraf internasional.
4. Terdapat dokumen2 hukum bahwa Belanda tidak bisa mengadili kasus-kasus hukum yang terjadi di wilayah2 tertentu sebab wilayah2 itu tidak masuk ke dalam koloni Belanda.
Pendapat Prof. Resink itu sontak telah memicu perdebatan sebab versi resmi sejarah yang diakui Pemerintah (sejak Orba) adalah Belanda menjajah Indonesia 350 tahun. Dan itu yang diajarkan kepada kita.

Di beberapa tempat seperti di Jawa memang Belanda (VOC dan Pemerintah Belanda) lama menjajah Jawa, tetapi tidak 350 tahun juga sebab Jawa pun dikuasai Belanda terjadi secara berangs

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Sabtu, 13 Mei 2017

MAHASISWA


Setiap mahasiswa dari ilmu tertentu mempunyai karakternya masing-masing yang mau tak mau dipengaruhi ilmu dan gaya kuliahnya itu.
---
Mahasiswa kedokteran, seperti anak-anak saya, mereka harus tepat waktu datang kuliah, terlambat lebih dari tiga kali tak boleh ikut ujian. Mereka harus berpakaian rapih, formal, tak boleh kasual - tak ada jeans, tak ada polo shirt berkerah pun, yang laki-laki harus bercelana panjang kain bukan bahan jeans, baju kemeja. Rambut tentu harus rapih. Aturan-aturan ini demi membuat mereka terbiasa agar kelak bisa menjadi dokter dengan sikap yang baik. Dokter yang terlambat datang dan jorok, bisa saja menyebabkan nyawa orang lain melayang.
Dan mereka adalah jenis mahasiswa yang paling tak tahu gosip kampus sebab mereka hampir tak punya waktu untuk santai apalagi bergosip, selain belajar, belajar, belajar, laboratorium, klinik dan rumah sakit. Keriaan masa muda hilang, ucap orang-orang. Anak-anak saya bila berlibur pulang ke Bogor, di ransel-ranselnya tak pernah absen buku-buku teks kedokteran, dan mereka juga belajar setiap hari saat liburan. Pada awal kuliah mereka bahkan suka membawa steteskop di ranselnya.
---
Mahasiswa geologi, yang saya lihat tadi pagi di depan stasiun Bogor punya gaya lain lagi. Mereka didominasi laki-laki meskipun perempuannya kini semakin banyak dalam proporsi.
Mereka menggunakan jaket kampus yang menyolok warnanya, kebanyakan kuning, orange, atau merah. Jaket lapangan - warna ngejreng begitu agar bila mereka tengah di lapangan lebih mudah dikenali atau dicari bila mereka hilang. Hilang? Ya...mereka bisa tersesat di lapangan atau kena musibah di lapangan.
Tadi anak-anak mahasiswa berjaket lapangan warna merah ini memenuhi lima angkot jurusan Bubulak. Mungkin mereka mau pergi ke Gunung Cibodas, Ciampea - singkapan batugamping Miosen terkenal di sebelah barat-baratlaut Bogor. Ransel-ransel mereka besar-besar, mungkin mereka mau melakukan field camp beberapa hari. "Geologi Universitas Indonesia", saya baca di belakang jaketnya.
Ransel dan gulungan peta memenuhi bagian belakang setiap angkot. Tadi saat saya datang di stasiun, beberapa anak mahasiswa ini duduk-duduk di badan jalan membuka bekalnya, sarapan. Cuek saja, yang penting sarapan agar perjalanan terasa nyaman.
Sewa angkot rame-rame saja, yang penting tiba di lokasi, kalau ada truk tentara ya ikut truk tentara. Begitulah mereka. Bila ada yang terlalu ribet dengan urusan angkutan, makanan, akomodasi, pakaian - mereka akan dijuluki geolog salon. Juga bagi mereka yang di lapangan sedikit-sedikit mengenakan krem anti sinar Matahari di mukanya.
---
Begitulah, mahasiswa kedokteran dan geologi.
Mahasiswa kedokteran hampir selalu bisa dikenal dari penampilan dan gerak tubuhnya - cenderung hospital/medical lab.-looking, membawa steteskop.
Mahasiswa geologi juga bisa dibaca dari penampilannya dan gerak tubuhnya - cenderung field-looking, bahkan mereka membawa palu.
---


Saya pernah mengalami keduanya pada tahun 1983-1989: menjadi mahasiswa kedokteran (lalu drop out karena biaya) dan mahasiswa geologi.
Maka dalam diri saya berkumpul dua karakter itu: banyak membaca, analitis, diagnosis ala mahasiswa kedokteran dan bersahaja, apa adanya, kekuatan berjalan ala mahasiswa geologi.
Itu semasa mahasiswa. Kini, setelah 28 tahun menjadi seorang geolog Indonesia yang aktif berkiprah dalam profesi dan ilmunya, saya tahu bahwa mahasiswa apa pun harus rajin membaca, bersahaja, siap dalam segala medan, dan berusaha terus untuk sehat.
Anak-anak mahasiswa, isilah masa mudamu dengan kegiatan berguna, kelak kalian akan merasakan gunanya. Saya telah melalui keduanya. Masa kini kita dibentuk oleh masa lalu kita. Masa kini kita membentuk masa depan kita.
The past, the present, the future -semuanya saling berhubungan, yang satu mempengaruhi yang lain. Be wise with your time today, students!***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Sabtu, 05 November 2016

Kejujuran Menampilkan Pendapat yang Berbeda


Salah satu problem terbesar umat saat ini adalah anti dengan perbedaan. Perbedaan dianggap perpecahan. Itu karena kita menyikapinya sebagai pertentangan yang berlanjut pada pertarungan antar kelompok sampai perebutan kursi politik. Maka atas nama Islam banyak yang terjebak pada fanatisme kelompok. Retorikanya saja berjuang atas nama Islam, padahal yang mereka bela adalah pemahaman kelompoknya sendiri.
Belakangan banyak yang gerah dengan sejumlah tulisan saya karena dianggap selalu membahas pendapat yang tidak mainstream. Seolah menyebutkan pendapat di luar mayoritas itu menjadi anacaman. Seolah menyebutkan ada pendapat lain dari yang selama ini dipahami orang kebanyakan akan meresahkan. Seolah pendapat jumhur ulama, mayoritas ormas Islam atau pandangan mainstream itu pasti benar. Seolah pendapat yang memicu kontroversi itu pasti keliru.


Bagi mereka yang meniatkannya untuk belajar, maka mendengar atau membaca adanya pendapat yang berbeda dengan yang selama ini diketahuinya akan penasaran dan segera membaca kembali berbagai kitab rujukan. Bagi yang tidak mau lagi belajar, maka dengan mudah semua pendapat yang baru dia dengar dan berbeda dari apa yang dia pahami selama ini, dicap sebagai omongannya JIL, Syi'ah, atau bahkan ditanya: "anda muslim bukan? Atau "anda dibayar berapa?"

Kondisi ini jelas berbeda dengan masa keemasan Islam dahulu dimana semua pendapat didiskusikan dengan baik dan mendalam. Pelabelan hanya akan membuat diskusi terhenti. Datangkan saja argumen atau rujukan lain karena bagi para ulama klasik: "pendapat saya benar tapi bisa jadi mengandung kemungkinan salah, semenatara pendapat anda itu saya anggap keliru, tapi bisa jadi mengandung kebenaran yang belum saya pahami".

Ini saya hadirkan contoh dari kitab klasik Bidayatul Mujtahid karya Ibn Rusyd. Dari gambar yang saya sajikan terlihat bagaimana Ibn Rusyd ketika membahas persoalan syarat sah jamaah dalam shalat Jum'at itu berapa orang, beliau menyantumkan semua pendapat, termasuk yang tedengar aneh sekalipun. Ada yang bilang satu makmum saja cukup, ada yang bilang dua makmum, ada yang bilang 3, lantas disebutkan juga pendapat yang bilang 30 dan pendapat yang umum dipahami kita, yaitu minimal 40.

Apa manfaatnya mengetahui perbedaan di atas? Untuk kondisi tertentu dimana Muslim menjadi minoritas, mereka tetap bisa menjalankan shalat Jum'at meski jumlah jamaah tidak mencapai 40 karena para ulama klasik tetap mencantumkan pendapat yang berbeda itu. Sekarang bayangkan betapa sulitnya kita kalau para ulama dulu 'menyembunyikan' pendapat yang berbeda itu dari ruang publik.

Kejujuran ilmiah ini penting untuk kita teruskan. Sebutkan kalau ada pendapat yang lain dalam masalah itu. Agar umat ini secerdas umat jaman dulu, setoleran ulama di masa kejayaan Islam, dan terus mau belajar seperti dicontohkan para ulama klasik.

Kalau kita terbiasa dengan keragaman pendapat maka kita tidak akan kaget, ngeyel, atau dengan mudahnya melabeli orang lain. Persis dengan wajarnya kita melihat pilihan menu makanan yang berbeda di warung padang, warteg atau fast food. Semua punya hak memilih. Selera boleh berbeda, pilihan boleh tak sama, namun kita tetap umat yang satu. Mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk dijalankan, bukan?

Tabik,
Nadirsyah Hosen
Yang sudah 11 tahun jadi Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand, dan sayangnya masih terus diminta untuk periode dua tahun ke depan. Khuz bi yadi ya Rasul....
Read more ...

Rabu, 26 Oktober 2016

KEEP PRAYING & FIGHTING


Berdiri di atas lensa batugamping yang memuncaki bukit volkanik Old Andesite di pantai selatan Lombok - Formasi Pengulung berumur Oligo-Miosen, merupakan bagian jalur volkanik bawahlaut terusan dari selatan Pulau Jawa.


Dulu sekali, sekitar 20 juta tahun yang lalu, batuan ini ada di bawah samudera, kini muncul di atas Samudera Hindia. Tenaga geologi mengangkatnya secara perlahan, namun pasti. Geologi itu mengajarkan: kesabaran, ketekunan, konsistensi, dan kesetiaan.

Pagi itu adalah 24 September 2016, Sabtu minggu lalu, hari istimewa buat saya, genap berumur 52 tahun. Saya berdiri di atas Old Andesite, menunjukkan bahwa saya tetap seorang Geolog Indonesia, dan ingin begitu terus selama Dia memberikan nyawa.

-----

Masih banyak yang ingin saya teliti dan kerjakan, masih banyak yang ingin saya publikasikan, masih ada lapangan-lapangan minyak atau gas yang harus saya dkk. temukan, masih banyak pemikiran geologi yang ingin saya sumbangkan buat Negeri yang berdiri di atas pertemuan tiga lempeng dan benturan belasan terranes ini, masih banyak ilmu yang harus saya turunkan kepada para murid, dan masih banyak para geolog muda yang harus saya didik, bangkitkan semangat dan keberaniannya.
Dan masih ada kewajiban saya sebagai seorang ayah, sebagai seorang warga masyarakat, sebagai seorang Indonesia, dan sebagai makhluk yang menyembah Khaliknya.

Lalu masih ada perjuangan fisik dan mental. Menjaga kesehatan, menjaga hati. Hidup bagi saya adalah: belajar, bekerja, berkarya, berjuang, berbagi, dan bersyukur menikmatinya. Mencintai dan dicintai.
Hidup juga telah dipenuhi pergantian antara kebenaran dan kesalahan masa lalu. Kebenarannya meyakinkan saya, kesalahannya mendidik saya meskipun pahit. Hadapilah yang dibawa hidup kepada kita dengan berani, semanis sepahit apa pun.

Dari pantai selatan Lombok di atas Old Andesite Formasi Pengulung berumur 20 juta tahun, di antara Samudera Hindia biru tua dan langit biru muda, saya syukuri kegenapan tambahan umur ini. Hanya kehilangan semangat yang menuakan orang itu, bukan tambahan umurnya. Umur menua akan memperlambat gerakan saya, bukan hati dan pikiran saya yang bertahun-tahun ditenagai oleh: cinta, ketekunan, konsistensi, dan keberanian.

-----

Keep praying and fighting!

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Senin, 24 Oktober 2016

KUK


Hidup tidak hanya berisi kesenangan dan tawa -mungkin itu bisa membuat kita lupa diri dan tinggi hati. Tetapi hidup juga berisi kesusahan dan air mata - itu mungkin yang bisa membuat kita sadar diri dan rendah hati.
Jadi terima saja segala kepahitan dan kesusahan dalam hidup, itu tidak akan mematikanmu, melainkan akan membangunmu. Kuk - beban, kita mungkin karena kesalahan kita sendiri atau beban dari-Nya. Terima saja.

Sebab:
"Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.
Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya.
Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan.
Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan." (Ratapan 3: 27-30)

Berdoa saja, dan bekerja sebab TUHAN itu baik pada segala waktu.
"TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.
Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN." (Ratapan 3: 25-26)


-----

Hadapi saja yang diperhadapkan hidup kepadamu. Tetaplah berdoa dan bekerja. Jangan tawar hati dan takut!

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Selasa, 18 Oktober 2016

NEGERI DIMAS KANJENG


Dimas Kanjeng itu bukan cuma satu orang. Jujur aja deh, sebagian besar kita pernah bermimpi jadi Dimas Kanjeng. Kerja sedikit, ongkang-ongkang kaki, tapi duitnya segudang. Murid Dimas Kanjeng tersebar dimana-mana.


Ada PNS di kehakiman, gajinya cuma Rp 8 juta sebulan, tapi dia punya Rumah Sakit, Hotel, Rumah Mewah dan 19 biji mobil. Dari mana duitnya kalau bukan dengan mengikuti jalan Dimas Kanjeng? Dimas Kanjang menggndakan duit dengan sulap, sedangkan dia dengan menjual perkara di pengadilan.
Ada perawat, kerja di RS swasta. Suaminya bekas perawat juga tapi sudah gak aktif lagi. Dari profil FB dia menunjukan mobil mewah dan rumah yang juga mewah. Dia meniru Dimas Kanjeng menggandakan uang. Pasangan itu memilih dengan jalan membuat vaksin palsu.

Ada seorang anggota DPRD DKI. Ketangkap tangan KPK, dengan uang yang tidak sedikit. Dia meniru Dimas Kanjeng dengan cara berbeda, kali ini dengan menjual isi Perda.

Dimas Kanjeng punya murid dimana-mana. Dalam skala kecil, orang-orang yang suka mengutak-atik kuitansi agar dapat untung adalah murid Dimas Kanjeng juga. Mereka yang malas kerjakeras, atau tidak menghargai kerja keras orang, tapi mau menikmati hasilnya secara maksimal, adalah Dimas Kanjeng juga.
Pada intinya, sebagian kita mungkin pernah menjadi Dimas Kanjeng. Kerja seupil, kecurangan segudang, agar cepat kaya. Repotnya, ketika sudah berhasil dengan kecurangannya, kita bangga dan memamerkan kekayaan. Seolah dia sudah bekerja sangat keras. Seperti pasangan suami-istri pembuat vaksin palsu itu.
Ideologi Dimas Kanjeng adalah ideologi yang tidak peduli dengan proses. Ideologi yang mencela proses. Ini ideologi yang berfikiran, hasil jauh lebih penting, proses adalah tetek bengek menyebalkan. Dia ingin menjadi Tuhan : Kun Faya Kun. Jadilah, maka jadilah. Cling! Mau nyolong, kek. Nipu, kek. Mainin kuitansi, kek. Makan duit anak yatim, kek. Semua gak penting. Tujuannya adalah menggandakan uang.

Cara berfikir Dimas Kanjeng ini melanda banyak orang. Mereka yang mau cepat kaya dengan cara instan, atau dengan cara curang, atau dengan korupsi, atau dengan memeras. Atau mark-up, atau memainkan kuitansi. Semua adalah Dimas Kanjeng dengan wujud yang lain.

Dimas Kanjeng ada di sekitar kita. Atau jangan-jangan, kita adalah Dimas Kanjeng juga, dengan wujud yang lain?

Padahal negeri ini hancur, karena populasi Dimas Kanjeng terlalu banyak!

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Rabu, 31 Agustus 2016

SALAH KAMAR


Lama tidak naik bus TransJakarta, tengah hari tadi saya naik bus ini lagi. Masuk ke dalam bus panjang ini saya langsung duduk kebetulan ada beberapa kursi kosong. Kemudian saya pun agak bingung -penumpangnya kok semua wanita. Ah saya salah masuk "kamar" nampaknya, lalu saya menoleh ke belakang ternyata para penumpang pria berkumpul di sana... Saya tahu ada pembagian area wanita dan pria di bus ini, tetapi tidak menyangka sepanjang dan sedefinitif itu areanya.
Saya pun segera berdiri mau berjalan ke bagian belakang, lebih baik saya berdiri di sana saja, di antara kaum saya...tidak apa-apa berdiri juga. Tetapi petugas bus menyilakan saya tetap duduk saja di bagian wanita (?).

Di perhentian bus berikutnya masuklah tiga anak muda dari pintu bus bagian wanita -seperti saya tadi. Melihat masih ada kursi kosong di bagian wanita mereka serentak hendak duduk. Tetapi petugas yang sama yang menyilakan saya tetap duduk melarang para pemuda itu duduk di kursi wanita (?)
Mengapa saya boleh duduk, sementara ketiga pemuda itu tidak boleh duduk di bagian wanita (?). Saya menduga-duga jawabannya. Mungkin karena saya terlihat sudah tua, rambut banyak ubannya dan tinggal sedikit, mengenakan baju batik, bermimik muka bersahabat... - nampak bukan ancaman bagi para wanita (he..he..).


Saya pun duduk saja dengan tenang... Sekali-sekali saya menoleh ke bagian pria. Nampak beberapa mimik muka tidak suka, apa iri melihat saya tidak diminta pergi. He..he..mungkin ini keistimewaan bagi para orang yang berpenampilan tua...


Tiba-tiba saya ingat aktor/artis Benyamin Suaeb, alm: muka kampung rezeki kota, katanya. Penampilan saya boleh tua -memang umur sudah lebih dari setengah abad, tetapi jangan salah menilai. Para geolog muda tak jarang teler mengikuti saya berjalan... Saya juga tentu lelah sebenarnya, hanya antusiasme, semangat, mental yang kuat sering menyeret fisik yang lemah...***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Selasa, 23 Agustus 2016

RUTINITAS MENJAWAB


Di bawah ada tanya jawab seorang mahasiswa (M) dan saya (A) melalui message FB.
Pertanyaan pertama lebih dari dua tahun lalu, pertanyaan terbaru baru kemarin malam. Mungkin mahasiswa yang tak saya kenal ini kini sudah lulus. Namun selama itu dia bertanya hal-hal yang sama: sedimentasi volkanik.
Jawaban saya lugas -ciri bila saya sedang sibuk. Ada juga pertanyaan yang baru saya jawab empat bulan kemudian, itu pasti saya lupa menjawabnya. Tetapi selalu saya jawab, cepat atau lambat. 
-----
Saya hampir selalu menerima belasan pertanyaan teknis seperti ini setiap harinya dari seluruh mahasiswa di berbagai perguruan tinggi geologi di Indonesia yang kebanyakan tidak saya kenal secara pribadi. Itu bermanfaat dua arah: buat sang mahasiswa menerima jawaban, buat saya terlatih terus dengan berpikir. Saya kalau sebagai mahasiswa, akan senang sekali bila mendapatkan jawaban dari seorang geolog senior. Karena itulah saya selalu usahakan menjawab mereka sebab saya berpikir di sisi mereka.
Saya pun ada waktunya tidak menjawab bahkan menegur atau menasihati si mahasiswa. Pertanyaan seperti: Pak bisa ceritakan tentang tektonik Sumatra? Tidak akan pernah saya jawab, saya malahan akan menegurnya: cari literaturnya, baca sendiri dulu, dan tanyakan bila ada yang tidak paham -jangan terlalu mudah untuk bertanya. Kalau dia bertanya: Pak apakah benar Sesar Sumatra itu ada yang arahnya 300 NE dan 330 NE, bila iya kok bisa dan kenapa begitu Pak? Itu akan saya jawab. Bisa bedakan kan mana pertanyaan yang tak perlu saya jawab dan mana yang harus saya jawab...


Saya juga tak akan menjawab pertanyaan yang tak sopan atau tak santun, seperti: Coba jelaskan escape tectonics itu. Saya akan menegurnya malahan: Saya punya nama, sapalah saya dengan nama saya atau cukup Pak. Begini cara bertanya yang santun, Pak saya masih bingung dengan teori escape tectonics, Bapak bisa tolong jelaskan? Terima kasih. Beberapa orang pernah saya tegur gara-gara seperti itu. Kesopanan dan kesantunan itu juga harus diajarkan.
-----
Menjawab pertanyaan para mahasiswa adalah sebagian dari rutinitas harian saya. Saya menjawab mereka, membimbing beberapa dari mereka, dari mahasiswa S1-S3. Menjawab mereka juga adalah termasuk menegur dan menasihatinya.
Selama ilmu kita belum bermanfaat bagi orang lain, apakah benar kita ini bermanfaat?***
--15 April 2014--
M: selamat malam pak awang
boleh tanya peran dari gunung api terhadap tektonik global?
A: Selamat malam ...... Justru yang berperan adalah tektonik global atas gunungapi, bukan sebaliknya. Tektonik global mengontrol penyebaran gunungapi di seluruh dunia.
M: Terimakasih banyak pak awang. Saya junior bapak dari ..... pak
A: Ok, salam kenal.... ... Selamat belajar..
M: Terima kasih pak, saya banyak belajar dari artikel yang bapak publish. Dan jujur tugas saya kali ini sangat membingungkan hahaha
A: Tidak masalah, kebingungan dan kesulitan akan mendidik kita, nanti akan terasa setelah melaluinya.
M: siap pak.. terima kasih banyak..
--5 Februari 2015--
M: selamat malam pak, saya ingin bertanya dan saya rasa ini pertanyaan yang sangat penting bila saya ingin jadi geologist. yang saya ingin tanyakan adalah, mengapa tipe aliran liquified flow mempunyai aliran keatas, bagaimana penjelasan komperhensivenya pak? saya masih belum bisa menemukan jawaban yang saya inginkan. lalu untuk perbedaan antara debris flow dan flow apa ya pak? itu saja pak. terima kasih banyak atas waktunya
A: Selamat malam...., liquified flow mengalir ke atas di subsurface karena ia mencari tekanan rendah, dan tekanan rendah di subsurface adanya di tempat lebih dangkal, jadi aliran menuju tempat dangkal, ke atas. Debris flow adalah aliran fluida dengan bahan rombakan, sementara flow hanya aliran fluida. Salam.
M: oke siap pak awang, sekarang saya sudah mengerti. terima kasih..
M: selamat sore pak awang, ada beberapa hal lagi yang mengganjal dan ingin saya tanyakan 😊. untuk perbedaan vulkanoklastik, epiklastik dan piroklastik itu apa dari genetik dan hasil produknya. terima kasih pak Awang atas waktunya 😊
A: Selamat sore ...., mereka berbeda baik dalam genetikanya maupun produknya. Piroklastik adalah endapan primer gunungapi, misalnya abu volkanik diendapkan jadi tuf, lahar jadi breksi volkanik. Sementara epiklastik adalah endapan sekunder gunungapi, yaitu batuan gunungapi seperti tuf kemudian dierosi dan diendapkan ulang lalu bercampur dengan sedimen lainnya seperti batupasir atau batulempung, maka nantinya terdapat perselingan antara batuan volkanik dan sedimen, nah itulah epiklastik.
M: terima kasih banyak pak awang atas jawaban dan waktunya. jadi secara menyeluruh, piroklastik dengan volkaniklastik adalah kesamaan, benar pak?
A: Beda ..... Piroklastik biasanya hanya batuan volkanik misalnya abu/ tuf. Sementara volkaniklastik adalah campuran asal volkanik dan asal sedimen lain nonvolkanik (batupasir nonvolkanik, batulempung, batugamping).
M: terima kasih banyak pak awang sudah memberikan waktunya untuk mempertinggi ilmu saya:). Ada pertanyaan lagi pak hehe. hubungan antara arus dan arah keseragaman butir ada 4 macam menurut sam boggs, yaitu paralel current parallel to current flow, perpendicular to current flow, imbricated to curent flow dan randomly oriented. yang saaya ingin tanyakan adalah bagaimana yana membedakan parallel dengan perpendicular to current flow di lapangan pak? terima kasih
--28 Juni 2016--
M: Selamat malam Pak Awang, saya ingin bertanya mengenai batuan vulkanik, selama ini saya belom mendapatkan jawaban yang memuaskan. Apa perbedaan Batupasir tufan dan tuff secara makroskopik ataupun mikroskopik? terima kasih Pak Awang
A: Selamat malam ...., maaf baru saya respon pertanyaan ini. Di satu singkapan tak bisa secara langsung menentukan arah transportasi parallel atau perpendicular. Itu harus direkonstruksi dulu dari beberapa singkapan yg menunjukkan arah arus purba, baru tahu arah regional sedimentasi di situ. Setelah tahu arah regional baru bisa ditentukan mana singkapan yg arah transportasi sedimennya sejajar atau tegak lurus dari arah regional.
A: Batupasir tufan utamanya adalah batupasir, tuf variasi pencampurnya, jadi secara makroskopik dan mikroskopik ia mirip batupasir biasa hanya ada kandungan mineral2 tufnya (spt gelas) di samping banyak mineral lainnya. Sementara tuf hampir seluruhnya mineral gelasan, dan secara makroskopik mikroskopik keduanya cukup jauh berbeda.

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Kamis, 28 Juli 2016

SAMPEL


Dalam beberapa tahun terakhir ini menemani para geosaintis dari berbagai oil company juga dari kantor saya sendiri - SKK Migas melakukan fieldtrip dari Sumatra sampai Papua, saya suka mengamati soal pengambilan sampel batuan. Ternyata yang paling banyak membawa pulang sampel batuan adalah saya - gurunya.

Para peserta kebanyakan tidak membawa pulang sampel, atau kalau pun mengambil ya hanya beberapa saja itu pun berukuran kecil saja, nampaknya buat kenangan. Kalau saya tidak, saya mengambil setiap sampel batuan secara sistematik -yang mewakili setiap formasi yang dijumpai. Dan ukuran sampel itu umumnya sebesar kepalan tangan saya.

Para peserta tidak mengambil sampel bisa dengan dua alasan: (1) menyediakannya untuk geolog generasi yang akan datang, (2) repot membawanya sebab ini hanya fieldtrip bukan survei geologi jadi tak ada angkutan khusus untuk membawa sampel. Alasan (1) bagus, saya juga mengambil sampel setelah melihat bahwa begitu berlimpah singkapannya berkilometer-kilometer - mengambil sampel segenggam saja tak apa-apalah. Mungkin alasan (2) yang menyebabkan mereka tak mengambil sampel. Lagipula mereka berpikir: ah buat apa juga sampel itu toh saya tak akan mengggunakannya.

Terus buat apa saya mengambil sampel batuan? Tentu saja untuk saya pelajari dan kemungkinan analisis lab sebab saya sedang menyusun buku Geologi Indonesia. Saya harus punya sampel batuan dari berbagai wilayah di Indonesia kalau bisa. Kan saya bisa saja pergi ke Badan Geologi untuk melihat koleksi batuan hasil pemetaan geologi bersistem yang sudah puluhan tahun mereka lakukan? Iya bisa saja, tetapi kalau saya sedang di lapangan dan ada batuan di depan mata yang saya perlukan dan bisa saya ambil tanpa mengganggu konservasinya masa saya tak mengambilnya.


-----

Minggu lalu pun saat saya menemani kawan-kawan saya dari SKK Migas fieldtrip ke Aceh dan Sumatra Utara, sebisa mungkin saya mengumpulkan sampel-sampel batuan secara sistematik yang mewakili setiap formasi di Cekungan Sumatra Utara, kebetulan saya belum punya sampel-sampel batuan Cekungan Sumatra Utara. Saya pun membawa sampel minyak dari penambangan tradisional di dekat sumur eksplorasi pertama di Indonesia yang menemukan minyak secara komersial - Telaga Tunggal-1 (1885).

Saat pulang, menjadi pikiran tersendiri bagaimana bila sampel-sampel itu tidak boleh dibawa naik pesawat atau tak boleh dibawa keluar dari Sumatra Utara. Ah dicoba saja dulu: kalau tidak dicoba pasti gagalnya, kalau dicoba ada kemungkinan berhasil. Batu-batu yang hampir 10 kg beratnya itu pun saya masukkan di tas bagasi, ditumpuk di antara pakaian-pakaian kotor, yang nampak mudah hancur saya taruh di atas.
Sampel minyak saya pindahkan ke botol bekas minuman kopi dan madu yang sengaja saya beli di Medan. Kedua botol ini kuat, botol madu bahkan dari beling. Saya lalu memasukkannya juga ke tas bagasi menyusunnya sedemikian rupa agar botol tak pecah atau tumpah isinya. Kalau ditanya petugas itu botol apa saya akan menjawab itu botol madu dan botol kopi (memang iya kan) hanya kopinya sudah diminum, madunya dipindahkan ke botol lain, diganti minyak bumi. Warna minyak bumi kebetulan mirip kopi, mirip madu...


Saat bagasi masuk pemetiksaan di bandara, petugas menghentikan tas saya dan menanyakan:
Petugas: "Apa itu di dalam bagasi?"
Saya: "Batu-batu kali, saya baru pulang melakukan penelitian geologi, saya seorang geolog." -saya sambil bersiap menunjukkan ID card SKK Migas saya bila diperlukan
Petugas: "Oh..." (entah dia mengerti penjelasan saya atau tidak, he2...) - mungkin dia heran batu kali kok dipungut...

Untung petugasnya tidak cerewet atau rasa ingin tahu dan curiganya tinggi. Batu-batu dan minyak pun (yang tak ditanyakannya) lolos...saya senang.


Beberapa kawan seperjalanan saya yang membawa beberapa batu di tas kabin mesti meninggalkan batunya, - harusnya mereka menyimpannya di tas bagasi. Tetapi ada juga batu-batu di tas kabin yang diloloskan yaitu yang berwarna gelap, sementara yang berwarna terang (batupasir kuarsitik) mesti ditinggalkan. Saya tahu alasannya: mungkin yang berwarna terang nampaknya bagus buat digosok...he2...
Pebbly mudstone Bohorok berumur 300 juta tahun yang mengembara dari Gondwana dilepaskannya sebab warnanya gelap saja dan nampak tak menarik, sementara batupasir glaukonitik dan kuarsitik Middle Baong berumur 15 juta tahun ditahannya... Ah terbalik Pak..he2..

Hm..begitulah membawa sampel batuan atau minyak juga ada suka dukanya. Suka saat sampel-sampel itu bisa dibawa pulang dan akhirnya bisa masuk ke koleksi saya, duka bila batu-batu itu harus ditnggalkan.
Sampel batubara Fm Tanjung dan Fm Warukin misalnya pernah harus saya tinggalkan di bandara Banjarmasin saat fieldtrip ke Pegunungan Meratus bersama ConocoPhillips, saat itu penambangan batubara di Kalimantan Selatan sedang marak. Apa hubungan antara penambangan batubara yang marak dengan tak boleh membawa sampel batubara segenggam saja saya pun gagal paham...

Lalu saya juga beberapa bulan lalu harus rela meninggalkan sampel-sampel batu belerang dari Kawah Ijen di bandara Surabaya hasil mengambil sampel belerang yang membeku saat melakukan fieldtrip ke sana bersama kawan-kawan Geotrek Indonesia. Menurut petugas belerang termasuk bahan berbahaya dan terlarang dibawa di pesawat penumpang. Saya mencoba mendebat sampai agak lama termasuk bertemu dengan kepala para petugas bandara, saat ditunjukkan bukunya dan aturan tertulis bahwa belerang dilarang dibawa di dalam pesawat penumpang, saya pun menyerah dengan duka... Ya sudah.

-----

Sebagai seorang geolog, saya dan batu berkawan, saya sediakan satu kamar di rumah untuknya, tempat rak-rak batu berada...Tanpa batu, bukan geolog...***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Rabu, 20 Juli 2016

BELAJAR = MENGULANG & MENGGUNAKAN


Seorang mahasiswa mengirimkan message FB kepada saya dua hari yang lalu.
Pak Awang, selamat siang. Saya ----- dari Universitas -----
Saya ingin bertanya satu hal, satu saja pak, mohon sempatkan waktunya untuk menjawab sebentar.
Kalau Pak Awang rajin sekali membaca dan belajar sejak kuliah, bagaimana caranya agar materi-materi yang Bapak pelajari tidak terlupakan pak? Karena saya belajar dan satu bulan kemudian saya sudah lupa materi yang saya pelajari. Saya sangat ingin belajar dan tetap mengingatnya Pak
Terimakasih banyak Pak Awang.
----
Saya menjawabnya.
-----, selamat siang.
Induk dari belajar adalah mengulang. Saya sering mengulangnya, kemudian saya memakainya, bekerja dengannya, kemudian saya mengajarkannya. Maka kemudian pengetahuan itu jadi milik permanen saya.
Selama masih menjadi mahasiswa banyaklah mengulang-ulang belajar atau menggunakan pengetahuan itu untuk berdiskusi bersama teman, atau menggunakannya dalam tugas2 kuliah. Bila hanya belajar satu kali atau dua kali kemudian tak pernah mempelajarinya lagi maka akan segera lupa, saya juga akan sama begitu.
Kemudian saya banyak belajar sendiri, mencari pengetahuan sendiri dari buku-buku atau paper2. Itu proses yang lebih sulit daripada belajar seperti biasa di ruang kuliah. Tetapi saya percaya apa yang dengan sulit kita memperolehnya pasti akan dengan sulit pula akan terlepas dari kita, yang mudah kita memperolehnya akan mudah pula lepasnya dari kita (easy come, easy go).
Jadi saran saya: 1) ulang2 terus jangan bosan, 2) gunakan pengetahuan itu dalam diskusi, membuat tugas, 3) cari sendiri pengetahuan itu. Coba saja dan lihat nanti hasilnya.
Salam.
----
Mahasiswa itu melanjutkan.
Pak Awang, terimakasih banyak atas jawabannya. Saya akan langsung mencatat saran dari Pak Awang di buku harian saya. Sekali lagi terimakasih banyak atas waktu dan jawabannya Pak. Semoga tetap diberi kesehatan dan terus menyumbang ilmu pengetahuan untuk Indonesia.
Saya juga akan mengaplikasikannya.
Selamat siang.
----
Saya merespons.
Amin. Terima kasih -----. Iya dicoba saja dulu saran saya dan nanti dirasakan hasilnya. Cara itu berdasarkan pengalaman saya. Salam.
----
Demikianlah percakapan singkat saya dengan mahasiswa itu. Meskipun jawaban saya singkat dan lugas, jawaban tersebut dilatarbelajangi pengalaman belajar saya selama 33 tahun dari saya mahasiswa sampai saya menjadi seorang geolog senior sekarang ini.


Contoh sederhana bagaimana saya mengulang belajar. Saya mengajar kursus petroleum geology of Indonesia, juga petroleum geochemistry, dalam kelas-kelas lima hari nonstop sudah 14 tahun. Murid-murid saya yang mengikuti kursus saya itu hanya belajar sekali di tahun mereka mengambil kursus itu. Saya, gurunya belajar setiap tahun selama 14 tahun itu. Maka jadi siapa yang lebih banyak belajar, muridnya atau gurunya? Tentu gurunya. Dia belajar dengan cara mengulang-ulang.
Belum lagi saya melakukan banyak riset pribadi, publikasi paper-paper saya banyak sekali, saya sering diundang pula menjadi narasumber di berbagai seminar dan projek-projek pekerjaan, lalu saya pun membimbing banyak mahasiswa baik formal maupun nonformal. Artinya pengetahuan-pengetahuan yang saya peroleh itu saya gunakan: learning by doing!
Dan saya mengajarkannya - inilah pencapaian tertinggi atas penguasaan suatu ilmu: yaitu bila kita bisa mengajarkannya dengan mudah kepada orang lain sebab yang sulit-sulitnya sudah berhasil diatasi.
Maka, mengulanglah belajar, jangan bosan. Dan gunakan pengetahuan itu. Niscaya itu akan masuk sebagai memori permanen dalam benak kita.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Kamis, 14 Juli 2016

Sadar Kompetensi

Saya sering bertanya pada mahasiswa, nanti kalau sudah lulus mau jadi apa? Mau kerja sebagai apa? Sebagian dari mereka menjawab tidak tahu. Sebagian lagi menjawab ingin jadi ini dan itu, tapi ketika ditanya tentang apa kompetensi yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan tersebut, mereka tidak tahu. Mereka hanya bermimpi ingin menjadi sesuatu, tapi tidak menempuh jalan menuju impian tersebut.

Ada kawan saya mahasiswa jurusan komunikasi. Dia ingin jadi wartawan. Maka dia fokus menekuni kuliah-kuliah yang akan menjadi bekal untuk jadi wartawan. Mata kuliah pilihan yang dia ambil semua terkait dengan persiapan menjadi wartawan. Dia kemudian memang jadi wartawan setelah lulus.
Seperti itulah cara menempuh jalan menuju mimpi Anda.Tanpa upaya itu maka mimpi Anda adalah mimpi kosong belaka. Bila kebetulan cita-cita Anda tidak paralel dengan jurusan kuliah maka Anda harus belajar ekstra, dari sumber-sumber di luar kuliah.



Bagaimana mengetahui kompetensi yang diperlukan untuk suatu pekerjaan yang Anda inginkan? Baca! Artikel-artikel soal ini banyak bertenaran di internet. Stay in touch with your future! Bergaullah dengan orang-orang yang sudah bekerja di bidang yang ingin Anda tuju, baik secara nyata maupun virtual. Pergaulan itu sekaligus membuatkan Anda jaringan untuk masuk ke dunia kerja. Ingat, jaringan sangat penting dalam mencapai sukses.

Waktu kuliah dulu IP saya pas-pasan. Tapi saya sadar soal kompetensi. Saya memahami struktur ilmu fisika yang saya pelajari. Saya menguasai kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang sarjana fisika, di antaranya menguasai sistem pengukuran serta analisa dan interpretasi data hasil pengukuran. Makanya ketika masuk bekerja sebagai field engineer di industri minyak saya tenang saja. Semua prinsip kerja yang merupakan prinsip pengukuran sudah saya kuasai. Saya hanya perlu belajar know how saat menggunakan alat ukur yang spesifik.

Di sisi lain, untuk jalur karir di dunia riset saya juga siap. Saya bisa menyusun proposal riset, dan sama seperti di atas saya bisa membangun sistem pengukuran dalam eksperimen fisika. Maka saya tidak kesulitan dalam wawancara seleksi penerima beasiswa.

Selain itu, bahasa Inggris skornTOEFL saya 570. Saya sudah biasa menulis di media massa. Saya juga sudah biasa berpidato atau presentasi di depan orang banyak, bahkan sanggup memberi training.
Begitulah. Mahasiswa harus sadar kompetensi apa yang harus mereka bangun, dan menempuh jalan untuk membangunnya. Ada kompetensi inti, ada pula kompetensi tambahan. Tanpa hal itu, sebaiknya Anda berhenti kuliah saja. Karena lulus sarjana pun kemungkinan Anda akan jadi pengangguran saja.

Penulis: Hasanudin Abdurakhman
Read more ...

Jumat, 08 Juli 2016

Kasih Ayah

Ada 2 fenomena yang masih baru terjadi di time line saya, yang pertama adalah seorang guru SMP yang di tuntut di pengadilan akibat mencubit siwanya (entah benar dicubit atau hanya di elus) dan yang kedua adalah seorang ayah yang kebetulan seorang anggota DPR RI meminta fasilitas penjemputan kepada KJRI yang ada di kota New York atas putri nya yang sedang mengikuti Summer Camp Stage Manor di Loch Sheldrake.

Kedua tipe ayah diatas menurut saya adalah sama, yaitu memberikan yang terbaik buat anak mereka menurut versi mereka masing-masing sehingga si anak bisa lebih nyaman dan merasa disayang oleh ayah mereka. Namun anehnya, justru si anak dan orang tua nya di bully di dunia maya (mungkin juga di dunia nyata hanya tak terekspose). Apa yang salah? Masalahnya dimana?

Jika menurut nalar kedua ayah tersebut, perbuatan mereka adalah benar dan dapat dibenarkan. Kenapa mereka harus mendapat penolakan dari sebagian besar masyarakat di Indonesia yang berada di dunia maya?

Kita rinci satu per satu.


Kasus pertama adalah seorang anak yang di cubit oleh gurunya. Kalaupun itu bener dicubit, sekeras apa sih seorang guru mencubit murid nya yang bolos ketika ada salat berjamaah di mushola sekolah. Inikah yang dipermasalahkan oleh "sang" ayah yang melaporkan guru tersebut?
Saya jadi teringat ketika dulu saya masih SD dan menerima didikan dari seorang guru berupa tamparan dan cubitan hanya karena bermain di halaman sekolah yang kondisinya sedang dalam pembangunan dan hari sedang gerimis padahal sudah dilarang terlebih dahulu oleh guru tersebut. Apa maksud guru saya? Supaya saya tidak terluka akbiat material bangunan (paku atau kerikil) dan gerimis yang bisa menyebabkan saya sakit. Saya orang pertama yang di tampar oleh guru tersebut dari 6 orang yang "didakwa" bersalah. Apakah perlu pengadilan untuk hal tersebut?
Apa maksud ayah tersebut melaporkan guru anak nya ke kantor polisi untuk diadili? Apakah cara tersebut menjadi pendidikan yang baik buat anaknya? Bahkan di salah satu foto yang di share oleh anaknya di Instagram, terlihat anak SMP tersebut sedang merokok bersama dengan temannya. Apakah ayahnya sudah mengetahuinya?
Hai orang tua, didiklah anak mu dengan sebaiknya. Jangan engkau beri roti plastik saat anak mu meminta roti untuk dimakan.


Kasus kedua adalah penggunaan posisi di DPR RI untuk mendapatkan fasilitas negara untuk urusan pribadi. Kalau politisi yang satu ini sangat terkenal di Indonesia. Bak aktor DPR terkenal. Mungkin dia juga tidak sadar mendidik anaknya dengan fasilitas negara yang bukan milik pribadi. Kira-kira apa ya percakapan antara ayah dan putri nya ini ketika dia menitip pesan kepada anaknya bahwa sudah ada yang akan menjemputnya di bandara JFK New York oleh orang kedutaan. Mungkin dia mengatakan, "tenang aja nduk, anggota bapak sudah ada yang jemput kamu disana. Nanti bapak yang hubungi mereka. Kamu kan anak dari seorang anggota DPR RI", dan sianak pun menjawab, "Ok deh papi, makaci ya. Papi memang hebat". :)

Kedua kasus tersebut memiliki persamaan. Sama-sama memiliki ayah yang hebat. Mungkin anak mereka belum pernah merasakan rotan ketika mereka di didik.

Karena ada tertulis, "Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati."

So... Orang tua, kita mulai mendidik anak dengan lebih baik lagi, jangan memanjakan anak mu karena engkau sama saja memberikan roti imitasi saat mereka ingin makan roti.

Penulis: The Tampan Man
Read more ...

Rabu, 15 Juni 2016

MELAYANI MASYARAKAT

Pemuda di tepi kiri, berbaju hitam yang sedang memeriksa tekanan darah seorang wanita itu adalah anak kedua saya: Mario Joel Satyana. Itu sebuah bakti sosial para mahasiswa kedokteran Universitas Kristen Maranatha -Bandung di acara car free day Jl Ir. H. Juanda, Bandung pada hari Minggu pagi kemarin. Sekaligus mereka berkampanye untuk mengurangi konsumsi gula demi mengurangi kecenderungan peningkatan penyakit diabetes.
Mereka mengecek tekanan darah, memeriksa kadar gula darah sesaat, dan memberikan konsultasi kesehatan bagi masyarakat yang berminat. Tentu semuanya gratis.


---------
Bila ke Bandung, seperti kemarin saya tentu sekalian menengok kedua anak saya. Mereka tinggal di Bandung, kota kelahiran ayahnya karena memilih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha (UKM). Tiga puluh tiga tahun yang lalu, 1983 ayahnya tercatat juga sebagai mahasiswa kedokteran di tempat yang sama, sekaligus sebagai mahasiswa geologi di Universitas Padjadjaran. Apa daya karena kurang biaya, akhirnya cita-cita menjadi dokter yang telah disiapkan sangat serius dari SD-SMA sebelumnya, termasuk membeli textbooks bekas kedokteran dari tukang loak, mesti dikubur. Jadilah saya sebagai seorang geolog, bukan dokter.



Tuhan tentu tahu cita-cita saya itu. Anak saya pertama, Hans, tiga puluh tahun kemudian setelah ayahnya drop out dari kuliah kedokteran memutuskan memilih kedokteran kuliah di tempat ayahnya dulu drop out, lalu tiga tahun kemudian adiknya mengikuti jejak langkah kakaknya kuliah di tempat yang sama.
Tuhan memanggil ayahnya untuk menjadi seorang geolog bagi Indonesia. Dan saya berjanji sejak drop out dari kedokteran itu untuk menjadi seorang geolog yang baik, bagi Indonesia. Maka jadilah saya seorang geolog yang tetap geolog "garis keras" , meskipun telah 33 tahun berlalu sejak saya kuliah geologi.
Sebagai gantinya, Tuhan memberikan saya sekaligus dua calon dokter -kakak beradik...Amin...yang memilih dan memutuskan sendiri jalan hidup mereka. Orang tuanya memberikan kebebasan dan menghormati serta mendukung yang mereka pilih dan putuskan.

"Jadilah kalian dokter yang baik yang berhati kemanusiaan yang melayani masyarakat Indonesia, kalian adalah rekan sekerja Tuhan, perpanjangan Tangan Tuhan untuk menyelamatkan nyawa manusia yang dikehendakiNya masih hidup. Setiap pilihan dan keputusan selalu ada risikonya, jangan kuatir orang tuamu pasti selalu mendukungmu. Tugas kalian hanyalah berkuliah dengan sebaik kalian bisa. Biaya yang dulu menghentikan ayahmu dari kuliah kedokteran tidak akan jadi masalahmu. Tuhan beserta kita. Yakinlah. Amin", begitu ucap saya kepada anak-anak saya saat mereka diterima di Fakultas Kedokteran Maranatha.
Lalu waktu pun berjalan. Hans, yang sulung, kini telah menyelesaikan semua tugas kuliahnya dan tengah menunggu waktu untuk memulai ko-ass, praktik calon dokter di RS sambil menjadi asisten dosen di kampusnya.



Mario, adiknya, baru memulai kuliahnya setahun berjalan. Dia aktif di senat mahasiswa fakultasnya, termasuk ikut dalam bakti-bakti sosial. Walaupun anak kedua saya ini belum genap setahun kuliah di kedokteran, baguslah dia sudah melibatkan dirinya dalam pelayanan nyata kepada masyarakat. Saya menyarankannya agar dia sering mengikuti bakti-bakti sosial supaya dia kelak saat menjadi dokter lebih punya hati untuk melayani sesamanya.

Dan anak-anakku, kelak jadilah kalian para dokter yang baik yang melayani masyarakat Indonesia seperti juga ayahmu berusaha keras menjadi geolog yang baik untuk Indonesia. Untuk semua pekerjaan baik yang kita lakukan, yakinlah Tuhan selalu memberikan kita kekuatan untuk menjalaninya. Amin.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Senin, 13 Juni 2016

Murid Saudi-ku yang Spesial

Di antara sekian ratus murid-murid Arabku semester ini, ada beberapa yang cukup spesial seperti dalam foto ini. Yang satu dari suku Badui, satunya lagi dari suku al-Faifi (atau al-Fifa). Kedua suku ini sangat unik di Saudi. Nama "Badui" (English: Bedouin) berasal dari kata "badawi" dalam Bahasa Arab yang berarti "penduduk padang pasir". Kata "badawi" sendiri berasal dari akar kata "badiyah" yang berarti "daratan padang pasir". Sebutan "badui" sebetulnya dari orang lain. Mereka sendiri menyebutnya sebagai "Arab".
Suku Badui masa kini yang pecah menjadi berbagai suku dan klan ('asya'ir) merupakan keturunan para nomads yang tinggal dan hidup berpindah-pindah di daerah gurun Arabia dan Suriah. Kini mereka tinggal di berbagai wilayah gurun di Afrika Utara dan Timur Tengah. Dalam sejarahnya, mereka tinggal di tenda-tenda dan selalu pindah tempat tergantung musim dan cuaca. Ciri lain dari kelompok ini adalah penggembala onta dan kambing.


Masyarakat Badui dikenal sangat sederhana, ramah, pemurah, dan sangat menghormati tamu. Seperti ditunjukkan dalam berbagai studi antropologi, konon jika ada tamu atau orang asing datang atau mampir, orang-orang Badui akan minta para tamu untuk menginap di tenda-tenda mereka sambil menikmati hidangan ala kadarnya, khususnya "teh Arabia" yang aduhai rasanya. Bukan hanya itu, mereka juga akan memotong kambing atau domba untuk dihidangkan kepada sang tamu tadi, meskipun sebetulnya mereka sangat membutuhkan domba / kambing itu. Bagi mereka, yang penting tamu kenyang meskipun mereka lapar.
Meski cukup banyak dari komunitas Badui yang sudah mengalami "transformasi gaya hidup" dalam hal berpakaian (seperti muridku ini yang mengenakan pakaian formal khas Saudi) dengan tinggal di kota-kota, mereka masih memelihara dan mempraktekkan tradisi dan warisan kebudayaan Baduwi seperti berpuisi / berpantun, musik tradisional, "tarian pedang" dlsb. Mereka juga menggelar aneka "festifal Badui" di berbagai daerah.


Selain Suku Badui, Suku Al-Fifi juga unik. Mereka hidup dan tinggal di pegunungan berbatu atau dataran tinggi yang sangat terjal dan sulit dijangkau di wilayah Jizan, Saudi. Karena medan darat yang sangat sulit untuk transportasi, akhirnya mereka mengembangkan "transportasi udara" yang antik (seperti dalam foto ini). Sangking tingginya daerah dimana suku ini tinggal, maka daerah ini sering disebut sebagai "tetangga bulan" atau "surga bumi". Suku Faifi ini memiliki kostum / busana, makanan, adat, tradisi & kebudayaan sendiri. Mereka juga memiliki Bahasa Arab sendiri yang tidak bisa dipahami oleh masyarakat Arab lain. Hanya yang orang-orang yang bermental baja (seperti muridku ini) yang mau berkelana mencari ilmu dan berani berkompetisi dengan suku-suku lain. Melihat mereka berdua, saya seperti melihat diriku sendiri: orang gunung dan mantan penggembala kambing...

Jabal Dhahran, Arab Saudi

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Kamis, 09 Juni 2016

KARTINI

21 April yang lalu, peringatan hari Kartini, hari kelahirannya, 137 tahun yl. Merayakannya hanya dengan berkebaya atau pakaian nasional lainnya adalah sesuatu yang terlalu sederhana -maaf primitif saya bilang, warisan tradisi Orde Baru, hari Kartini jauh lebih daripada sekadar kebaya Jawa.

Soekarno dulu menjadikan 21 April sebagai hari Kartini dengan ikon Kartini sebagai wanita maju dibandingkan zamannya di antara kaumnya. Kemajuan itu juga memuat pemberontakan -meskipun hanya dalam idea-idea tertulis sebab Kartini pada akhirnya mesti menyerah juga pada tradisi zamannya -dipingit dan dipoligami - menjadi isteri keempat seorang bupati, sebuah tradisi kaum ningrat yang sebenarnya ditentangnya. Juga meninggal muda pada usia 25 tahun empat hari setelah melahirkan anaknya.

Lalu Soeharto dengan Orde Barunya segera menjadikan Kartini sebagai ikon wanita Jawa yang patuh pada tradisi, patuh total pada suami, wanita baik-baik, ibu rumah tangga, melakukan pekerjaan rumah tangga, memasak, menjahit, dan tradisi-tradisi wanita Jawa lainnya. Maka sejak itu perayaan hari Kartini selalu dirayakan dengan berkebaya, dari anak-anak perempuan sekolah dasar sampai karyawati-karyawati kantor.
Era Reformasi pasca-Soeharto bagaimana kita merayakannya? Campur, antara ikon wanita maju berjiwa pemberontak dengan wanita Jawa berkebaya yang patuh pada tradisi.

Sesungguhnya begitulah memang jiwa Kartini: cerdas, maju, punya jiwa pemberontak, tetapi sekaligus patuh dan taat pada tradisi.

R. A. Kartini

-----
Saya hanya hendak menulis bahwa Hari Kartini bukan hanya untuk diingat kaum perempuan Indonesia, tetapi juga kaum laki-lakinya. Banyak idea dan pikiran Kartini yang baik, mendasar, dan penting untuk perbaikan pribadi maupun masyarakat. Saya kutipkan dua saja, yang ditemukan di kumpulan surat- suratnya.

(1) Kartini menulis (15 Agustus 1902):
"Door nacht tot licht
Door storm tot rust
Door strijd tot eer
Door leed tot lust"

Ini sama saja dengan yang sering saya tulis: "no pain no gain". Sebab Kartini menulis yang dimaksudkannya: melalui malam timbul terang, melalui badai timbul ketenangan, melalui perjuangan timbul kemenangan, melalui kesedihan timbul kesenangan. Peribahasa kita juga menunjukkan hal yang sama: berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian - bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ingat: no instant!
Kartini berpesan buat kita: bekerja keraslah untuk mendapatkan hasil yang baik.

(2) Kartini juga menulis:
"Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu, tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri"
Ini sebuah kebenaran universal. Problem itu selalu ada, selalu datang, selama manusia hidup problem pun hidup. Tetapi bukan problem itu sendiri yang penting, yang penting adalah bagaimana sikap kita menghadapi problem itu.

-----
Demikian Kartini. Selamat Hari Kartini untuk kita semua, renungilah idea-ideanya.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Sabtu, 28 Mei 2016

Binatang Homo

Fenomena homoseksual atau "perilaku dan orientasi seksual sesama jenis" bukan hanya terjadi di komunitas manusia saja ("human primates", menurut antropolog) tetapi juga di komunitas binatang. Seorang biolog Kanada Bruce Bagemihl, penulis buku keren dan populer Biological Exuberance: Animal Homosexuality and Natural Diversity, "pluralitas seks" di kalangan binatang jauh lebih banyak dan lebih kompleks ketimbang di kalangan manusia.

Pada tahun 1999, para biolog dan ilmuwan mendokumentasikan sekitar 500 spesies binatang adalah homo, kemudian pada tahun 2006, jumlah binatang homo ini meningkat menjadi 1.500 spesies. Daftar binatang homo ini hampir merata di semua jenis: mamalia, burung, ikan, reptil, ampibi, serangga, dlsb. Bison, anjing, serigala, pinguin, bebek, gajah, jerapah, kucing, rakun, koala, kuda, ayam, emu, salmon, baboon, domba, dlsb ada "kelompok homo"-nya. 


Riset tentang kaum binatang homo ini baru berkembang sejak awal 1990-an. Sebelumnya belum populer karena sikap sosial masyarakat Barat, khususnya kaum agamis-moralis, yang sangat keras dan anti-pati terhadap isu-isu homoseksual atau LGBT yang mereka anggap sebagai tabu, haram, "tidak Kristeniani" dsb.
Penemuan dan fakta-fakta tentang binatang homo yang disajikan oleh para biolog dan ilmuwan itu, terutama karya-karya monumental Bruce Bagemihl dan Joan Roughgarden, kemudian dijadikan sebagai basis penyelenggaraan eksibisi berjudul "Against Nature?" di sejumlah negara Eropa yang menampilkan aneka gambar, binatang, dan model spesies yang mengalami homoseksual. Eksibisi yang diprakarsai oleh Natural History Museum, University of Oslo, ini bertujuan untuk meruntuhkan persepsi, anggapan, keyakinan, dan "mitos" tentang orientasi dan perilaku homoseksual yang dipercayai oleh kelompok agama dan "kaum moralis" sebagai "pelanggaran terhadap alam" dan "kodrat Tuhan".

Argumen dasarnya kira-kira: jika memang perilaku dan orientasi homoseksual itu "melawan kodrat" dan "kehendak alam", kenapa fenomena ini terjadi pada komunitas binatang? Bukankah fenomena "binatang homo" ini alami, bukan rekasayasa? Terlepas dari pro-kontra tentang homoseksual di kalangan umat manusia, yang jelas fenomena "binatang homo" ini tampak lebih damai dan toleran. Para binatang atau "jamaah hewan" tidak ribut dan saling mengharamkan dan mengafir-sesatkan. "Binatang hetero" tidak menuduh teman-temannya, "binatang homo", sebagai penghuni neraka atau makhluk yang dilaknat Tuhan hanya gara-gara memiliki perilaku dan orientasi seks terhadap sesama jenis. Sepertinya mereka saling memaklumi kalau kaum "binatang hetero" maupun "binatang homo" adalah sama-sama alamiah dan "kodrat ilahi". Selamat berakhir pekan.

Jabal Dhahran, Arab Saudi

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Selasa, 10 Mei 2016

Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus: Fakta Sejarah atau Sekadar Dogma? (Bag 3)

Lanjutan dari... Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus: Fakta Sejarah atau Sekadar Dogma? (Bag 2)

Halusinasi Murid-Murid
Pengikut Agnostik mengatakan, bahwa murid-murid Yesus sangat terpukul secara emosi dan pengharapan akan datangnya seorang mesias mereka kemudian berhalusinasi dan menjadi benar-benar percaya bahwa Yesus sudah bangkit. Dengan kata lain, murid-murid Yesus semuanya terganggu secara kejiwaan. Teori ini segera akan dapat dipatahkan oleh logika sederhana berikut ini: Dengan menerima teori semacam ini, kita harus mengatakan bahwa sekitar 500 lebih saksi kebangkitan Yesus dengan waktu yang berbeda (1Kor. 15:6), situasi yang berbeda, lokasi yang berbeda, bahkan mungkin ada yang tidak terlalu mengenal Yesus secara pribadi ketika Yesus masih hidup, semuanya mengalami ganguan kejiwaan! Bahkan jika kita melihat catatan Injil, sebenarnya murid-murid Yesus justru tidak tahu bahwa Yesus akan bangkit kembali. Mereka sebenarnya melihat kematian Yesus sebagai akhir. Mereka baru teringat bahwa Yesus sudah menubuatkan kebangkitan-Nya sendiri setelah diingatkan oleh malaikat di kubur (Luk 24:6-7). Lagi pula, jika ini semua karena halusinasi, maka imam-imam kepala dan orang-orang Farisi tinggal menunjukkan mayat Yesus yang masih di dalam kubur kepada murid-murid.

Rekayasa
Hugh Schonfield mengatakan bahwa seluruh peristiwa ini merupakan rekayasa Yesus dan para pengikutnya. Jadi untuk seolah-olah menggenapi nubuatan Perjanjian Lama, Yesus rela untuk disiksa, tetapi kemudian rencana menjadi gagal ketika tentara Romawi menombak Yesus sampai mati. Yusuf dari Arimatea kemudian menyuruh seorang anak muda berpura-pura menjadi “Tuhan yang bangkit.” Dalam hal ini, Schonfield tidak memperhitungkan (bahkan mungkin sama sekali tidak paham) bagaimana para tentara Romawi (yang notabene sangat terlatih dan terkenal berdisiplin tinggi itu) menjaga kubur. Dan dalam catatan Matius 28:11 para serdadu penjaga ini adalah juga saksi mata yang mengalami kejadian supranatural kebangkitan Kristus. Rekayasa ini juga sulit diterima karena pada akhirnya murid-murid dan pengikut Yesus rela mati dan jadi martir. Apakah mereka rela mati untuk sebuah rekayasa? Bagaimana dengan saksi mata yang masih hidup ketika Paulus berbicara kepada jemaat di Korintus?

Mayat Yesus Dicuri Murid-Murid
Murid-murid Yesus mencuri mayat Yesus ketika para penjaga sedang tidur. Teori ini sebenarnya bukan rekayasa baru. Sangat mungkin teori ini malah lahir dari catatan Matius 28:12-15, dimana para imam kepala dan tua-tua agama Yahudi bersepakat untuk membangun kebohongan bahwa Yesus telah dicuri murid-murid-Nya. Perlu diketahui bahwa para tentara Romawi yang menjaga kubur bukan terdiri dari dua-tiga orang “peronda malam” yang (maaf) dungu dan gampang tertidur waktu menjaga. Tentara Romawi yang menjaga pasti adalah tentara terlatih yang jumlahnya tentu terdiri dari belasan orang, yang kemudian berjaga secara bergantian. Apalagi sebelumnya mereka sudah mendapat peringatan akan kemungkinan mayat Yesus akan dicuri (Matius 27:64-66), sehingga para penjaga terlatih itu pasti akan berada pada “status siaga satu,” karena mereka bisa diancam hukuman mati bila mereka ketahuan tidur ketika bertugas. Jika para tentara Romawi tidak tidur, tidak mungkin para murid sanggup mengalahkan mereka. Apalagi dalam catatan keempat Injil, sangat jelas digambarkan bahwa para murid telah lari ketakutan sejak Yesus Kristus ditangkap. Mana mungkin murid-murid yang telah ketakutan itu berani mengambil risiko yang terlalu besar dengan menghadapi belasan tentara Romawi yang terlatih? Sungguh sebuah teori yang tidak masuk akal!


Kebangkitan Yesus adalah Fakta Historis

Dari uraian di atas, jelas bahwa kematian dan kebangkitan Kristus sebagai fondasi iman Kristen bukanlah sebuah dogma yang membabi buta tanpa dasar fakta historisitas sama sekali. Bahkan Lukas, salah satu penulis Injil menegaskan bahwa apa yang ia tulis adalah sebuah rujukan kesejarahan yang ditulis secara teliti dan seksama: “Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (Luk. 1:3-4). Pengajaran yang benar (dan masuk akal) adalah bahwa Yesus memang telah mati, namun kemudian bangkit dari kematian dengan kuasa Allah. Ia menampakkan diri-Nya kepada banyak saksi dan kemudian naik ke sorga. Pandangan inilah yang sesuai dengan pengajaran Alkitab dan sekaligus berdasarkan fakta sejarah yang solid. Pandangan ini akhirnya menempatkan umat Kristen dalam iman kepada Allah yang Maha Kuasa, Allah yang Hidup, Allah yang penuh kasih yang dengan aktif menyelamatkan umat manusia.

Akhirnya, seluruh pengikut Kristus sepanjang zaman seharusnya dengan teguh dan bangga berkata, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir” (1 Pet 1:3-5).



-------------------------------------------------------------


referensi:

[1]Craig Evans, Jesus, The Final Days: What Really Happened (Westminster: John Knox, 2008) 15.

[2]Lih. Josh McDowell, The New Evidence That Demands a Verdict (Nashville: Thomas Nelson, 1999) 119-136.

[3]Dapat dipastikan, orang yang membangun teori seperti ini tidak pernah belajar atau tidak mengenal sama sekali tradisi penguburan di daerah Palestina pada zaman Yesus Kristus. Untuk studi lebih lanjut baca Craig Evans, Fabricating Jesus (Yogyakarta: Andi, 2008).

Copy-paste dari Majalah Dia
Read more ...

Jumat, 06 Mei 2016

Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus: Fakta Sejarah atau Sekadar Dogma? (Bag 2)

Lanjutan dari... Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus: Fakta Sejarah atau Sekadar Dogma? (Bag 1)

Dukungan Ekstra-Biblikal Terhadap Kematian Kristus

Kematian Yesus tidak saja ditegaskan dalam setiap tulisan Alkitab Perjanjian Baru dan kekristenan awal, melainkan juga disaksikan oleh para penulis Yahudi dan Romawi yang bukan Kristen. Yosefus, seorang sejarawan dan apologet Yahudi abad pertama, menyatakan bahwa Yesus telah dituduh oleh para pemimpin Yahudi, dan dihukum untuk disalibkan oleh Pilatus (Jewis Antiquities 18. 63-64). Selain itu, Tacitus, sejarawan Roma, mencatat, “Kristus… menderita hukuman mati sewaktu pemerintahan Tiberius, dengan keputusan prokurator Pontius Pilatus” (Annals 15.44). Di samping itu, Mar bar Serapion, seorang Syria, dalam sebuah surat yang ditulis kepada putranya sekitar akhir abad pertama, merujuk kepada kematian Yesus, “raja bijak” orang Yahudi.[1] Nama-nama sejarawan lain yang menerima kematian Yesus akibat penyaliban adalah Suetinius, Pliny, Thallus, dan Phlegon. Mereka adalah sejarawan sekuler yang memiliki nama besar dan berotoritas dalam bidangnya. Tulisan mereka menunjukkan bahwa kebenaran proklamasi Alkitab dapat ditemukan dalam bidang ilmu sejarah.



Selanjutnya, otoritas lain yang amat penting untuk diperhatikan adalah sumber Yahudi. Talmud Babilonia menyatakan tentang Yesus demikian: “It has been taught: On the eve of passover they hanged Yeshu . . . they hanged him on the passover.” Dalam kalimat ini, kata “Yeshu” jelas mengacu pada Yesus dan kata “hanged” merupakan sebutan lain dari penyaliban (Luk. 23:39; Gal. 3:13). Selain itu, referensi mengenai penyaliban Yesus yang terjadi pada malam persiapan Paskah juga sesuai dengan kesaksian Alkitab (Yoh. 19:14). Pada tahap ini adalah penting untuk disadari bahwa para sejarawan sekuler maupun penulis Yahudi (Talmud Babilonia) tersebut bukanlah orang-orang yang mendukung kekristenan. Dalam kenyataannya, tulisan-tulisan mereka sebenarnya bernada negatif terhadap kekristenan. Mereka tidak memiliki motif keuntungan apa pun dalam menyatakan kematian Yesus di salib. Kesepakatan para lawan Kekristenan dalam menerima kematian Yesus di salib sebagai fakta sejarah merupakan hal yang mendukung klaim Alkitab sebagai firman Allah.

Jawaban atas Keberatan-keberatan terhadap Kebangkitan Kristus
Banyak orang di dunia ini yang tidak percaya kepada kebangktian Yesus Kristus. Itu adalah pilihan hidup yang harus dihargai dan tidak bisa dipaksakan. Namun, di antara orang yang tidak percaya itu kemudian ada beberapa orang mencoba mencari cara untuk “merobohkan” bangunan iman Kristen ini. Mereka mencoba membuat berbagi teori untuk menyangkal kebangkitan Yesus. Meskipun sekilas tampak meyakinkan, teori-teori tersebut dapat dijawab dengan logika sederhana. Yang diperlukan adalah sikap hati yang jujur dan terbuka, serta landasan berpikir yang runut dalam melihat argumentasi alkitabiah.

Lokasi Kuburan Tidak Diketahui Murid-murid
Kelompok pertama mengatakan bahwa Yesus dibaringkan di kuburan yang salah, sehingga murid-murid-Nya tidak tahu ke mana harus mencari mayat Yesus. Jadi menurut pandangan ini, murid-murid Yesus membuat cerita bahwa Yesus sudah bangkit dari kematian. Hal ini bertentangan dengan catatan Alkitab, bahwa Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus yang adalah murid-murid Yesus, merekalah yang menguburkan mayat Yesus, jadi mereka pasti mengetahui di mana Yesus dikuburkan (Matius 27:57; Markus 15:43; Yohanes 19:38, 39). Pemerintah Romawi pada saat itu juga mengetahui dengan pasti lokasi kuburan Yesus karena mereka menempatkan tentara Romawi untuk menjaga kuburan tersebut (Mat 27:62-66).

Kuburan Yang Salah
Ada teori lain menyebutkan akan adanya kemungkinan para wanita yang datang ke kubur Yesus pagi-pagi benar, masuk ke kuburan yang salah yang masih terbuka, dan bertemu seorang anak muda. Karena anak muda tersebut mengatakan bahwa Yesus tidak ada di situ, para wanita yang ketakutan mengira anak muda tersebut adalah seorang malaikat. Hal ini tidak dapat diterima karena para wanita tersebut tidak mencari kubur yang terbuka, melainkan kubur yang tertutup.[3] Lagi pula, mereka mengetahui di mana Yesus dikubur, karena mereka menyaksikan mayat Yesus dikafani (Luk 23:55). Orang-orang Farisi, Sanhedrin, orang-orang Romawi dan Yusuf dari Arimatea pasti langsung mengetahui jika para wanita itu masuk ke kuburan yang salah.

Hanya Legenda
Ada juga yang mengatakan, bahwa kisah kebangkitan Yesus hanyalah sebuah legenda cerita rakyat yang baru berkembang lama setelah peristiwa tersebut terjadi. Tetapi Rasul Paulus, kira-kira 20 tahun setelah peristiwa kebangkitan, menuliskan kepada jemaat di Korintus bahwa kebangkitan adalah fakta yang nyata disaksikan oleh 500 saksi mata, yang banyak di antara mereka masih hidup pada saat itu dan bisa diperiksa kebenarannya (1 Kor 15:6). Perlu diketahui, berdasarkan penelitian para ahli sejarah Alkitab surat Korintus yang pertama memang ditulis tidak lebih dari tahun 30 M. Ini berarti pada waktu itu masih banyak saksi mata kematian dan kebangkitan Kristus yang hidup. Dengan demikian, ketika Paulus menulis bahwa Kristus telah bangkit, dan bahwa banyak saksi dari kebangkitan itu yang masih hidup, maka ia berbicara dengan risiko yang terlalu tinggi jika yang ia sampaikan hanyalah legenda. Para “musuh” Kristen yang menjadi saksi kematian dan kebangkitan Kristus tentu saja segera akan mematahkan penyataan Paulus jika kisah kebangkitan Yesus sekadar dongeng yang dibuat-buat. Namun hingga abad pertengahan, tidak pernah ada sanggahan dari saksi mata yang lain tentang fakta kematian dan kebangkitan Kristus ini.

Lanjut ke...  Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus: Fakta Sejarah atau Sekadar Dogma? (Bag 3)

Copy-paste dari Majalah Dia
Read more ...

Senin, 02 Mei 2016

Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus: Fakta Sejarah atau Sekadar Dogma? (Bag. 1)

Tidak dapat disangkal lagi, kematian dan kebangkitan Kristus adalah pilar atau fondasi iman Kristen yang paling penting. Hal ini bukan hanya ditegaskan oleh para teolog Kristen sepanjang zaman, tetapi juga oleh Rasul Paulus, seorang penulis mayoritas kitab Perjanjian Baru. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, ia menuliskan satu pernyataan iman yang penting: “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1 Korintus 15:17-20).   

Peristiwa kebangkitan Kristus merupakan dasar yang sangat penting bagi iman Kristen. Sebagaimana yang telah dikutip di atas, Rasul Paulus secara panjang lebar menyampaikan argumentasi bahwa kebangkitan Kristus adalah dasar utama bagi pengharapan iman Kristen. Ungkapannya yang penting adalah, “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kita.” Kebangkitan Kristus sangat penting bagi kekristenan, karena di dalam kebangkitan Kristus itulah terletak pengharapan bukan saja akan janji keselamatan atau hidup kekal bagi setiap yang percaya, tetapi juga pengharapan akan kebangkitan tubuh bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus di akhir zaman nanti. Perjanjian Baru mencatat dengan jelas, bahwa kebangkitan Kristus menjadi yang sulung, yang kemudian akan diikuti oleh setiap orang yang percaya kepada-Nya (1 Kor. 15:23; Kol. 1:18).







Permasalahan yang kemudian dihadapi kekristenan sepanjang zaman adalah bahwa fakta kematian dan kebangkitan Yesus Kristus ini dipertanyakan banyak kalangan. Fakta kematian dan kebangkitan Kristus seringkali dianggap tidak lebih dari sekadar dogma kekristenan, alias tanpa dasar fakta historis sama sekali. Hal ini bukan saja dihadapi oleh kekristenan di abad-abad terakhir, tetapi sejak para rasul masih hidup.

Telah banyak upaya untuk menutup fakta sejarah tentang kebangkitan Kristus. Catatan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:1-8 mengimplikasikan bahwa ada upaya untuk menutup fakta kebangkitan Kristus pada masa pelayanannya, namun banyak saksi kebangkitan itu yang masih hidup, sehingga fakta itu tidak bisa dibelokkan. Dalam catatan Matius 28:11-15, Matius mengagambarkan bahwa sejak hari-hari pertama kebangkitan Kristus, para imam kepala dan tua-tua agama Yahudi sejak dini juga telah berupaya untuk membungkam kesaksian para serdadu romawi yang menjaga kubur Yesus, yang adalah saksi kebangkitan Kristus sendiri. Dengan demikian, tidak mengherankan jika hingga saat ini banyak upaya untuk “membungkam” fakta historis dari kebangkitan Kristus.

Dukungan Intra-Biblikal Terhadap Kematian-Kebangkitan Kristus

Pemahaman orang Kristen terhadap fakta kematian Yesus di kayu salib tidaklah didasarkan atas penafsiran yang rumit, melainkan penalaran yang langsung atas narasi Injil dan banyak bagian lain dalam Alkitab. Ayat-ayat Alkitab berbicara lugas tentang kematian Yesus di salib. “Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya” (Mat. 27:50); “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.’ Dan sesudah berkata demikian, Ia menyerahkan nyawa-Nya” (Luk. 23:46); “ Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya” (Yoh. 19:30).

Selanjutnya, koherensi dari kisah kematian Yesus ini juga tercermin dalam banyak fakta. Fakta-fakta ini tidak membuktikan kebenaran Alkitab, melainkan menunjukkan bahwa Alkitab berisi kebenaran-kebenaran yang konsisten satu sama lain. Fakta pertama berkaitan dengan nubuatan Yesus mengenai diri-Nya sendiri. Kitab-kitab Injil berulang kali menunjukkan bahwa kematian Yesus telah dinubuatkan-Nya sendiri dalam berbagai kesempatan (Mat. 12:40; 17:22-23; 20:18; Mrk. 10:45; Yoh. 2:19-20; 10:10-11). Kematian Yesus dalam perspektif Alkitab bukanlah suatu kebetulan atau peristiwa naas yang mengejutkan, melainkan inti dari misi Yesus datang ke dalam dunia. Selanjutnya, perlu ditegaskan bahwa nubuatan mengenai kematian Yesus pada dasarnya telah terkandung dalam kitab-kitab Perjanjian Lama yang berbicara mengenai kebangkitan Mesias dari antara orang mati (Mzm. 16:10; Yes. 26:19; Dan. 12:2).

Fakta kedua yang perlu diperhatikan adalah banyaknya saksi mata pada waktu penyaliban Yesus. Saksi mata pertama adalah para murid Yesus sendiri. Rasul Yohanes (Yoh. 19:26) dan beberapa pengikut Yesus seperti Maria, dan wanita-wanita lain berada di dekat penyaliban Yesus (Luk. 23:27; Yoh. 19:25). Berikutnya, kematian Yesus di kayu salib juga disaksikan oleh para tentara Romawi, dua orang penjahat yang disalibkan di samping Yesus (Mat. 27:38), orang banyak (Mat. 27:39; Luk. 23:27) serta para pemimpin Yahudi (Mat. 27:41).

Dengan memperhatikan para saksi mata penyaliban Yesus tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa mayoritas dari mereka merupakan orang-orang Yahudi yang menghendaki kematian-Nya. Mereka begitu bernafsu untuk membunuh Yesus sehingga sebelum penyaliban itu sendiri berlangsung, orang-orang Yahudi telah berseru berkali-kali di hadapan Pilatus agar Yesus disalibkan (Mat. 27:22-23). Orang-orang Yahudi itu bahkan berani berkata “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” (Mat. 27: 25). Selain itu, kita harus mengingat, bahwa tentara Romawi adalah orang-orang yang terlatih dalam menjalankan eksekusi, sehingga mereka tidak akan salah mengidentifikasi terpidana.

Berdasarkan faktor-faktor di atas, adalah jelas bahwa Alkitab menerima fakta kematian ini sebagai peristiwa historis. Oleh karena itu, khotbah Petrus juga disertai dengan pemberitaan yang tegas mengenai kematian Yesus yang disalibkan dan dibunuh oleh orang-orang Yahudi yang durhaka (Kis. 2:23-24). Berdasarkan hal ini, kita melihat bahwa bagian-bagian dalam Alkitab saling menegaskan satu sama lain bahwa Yesus telah mati di kayu salib.


Lanjut ke... Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus: Fakta Sejarah atau Sekadar Dogma? (Bag. 2)

Copy-paste dari (Majalah Dia)
Read more ...

Sabtu, 30 April 2016

KEPEDULIAN

Tiga foto terlampir saya ambil gambarnya tadi pagi dari perjalanan Jakarta-Bogor, seperti biasa menggunakan angkutan masal KRL.


Ada foto dua wanita duduk di salah satu pilar peron sebuah stasiun di Jakarta menunggu kereta datang. Mereka asyik melihat sebuah dunia kecil dalam genggaman bernama gadget, sementara mereka nampaknya tidak mempedulikan lingkungan sekelilingnya termasuk saya yang mengambil gambarnya dari jarak dekat.
Ada foto dua pria di dalam gerbong kereta saat melintas seusai stasiun Bojonggede. Keduanya melakukan hal yang sama, yaitu menyumbat kedua telinganya dengan earphone yang dihubungkan ke gadget di genggamannya yang juga tengah diamatinya dengan raut muka kadang-kadang memberengut, kadang-kadang tersenyum.


Mereka asyik dengan dunia kecil di genggamannya, tidak mempedulikan lingkungan sekelilingnya termasuk saya -seorang observer yang mengambil gambarnya dari jarak dekat. Saya berpikir kedua orang ini nampaknya tengah menutup kedua inderanya bagi dunia sekelilingnya, yaitu mata dan telinga. Matanya hanya mengamati dunia kecil gadget, telinganya tertutup oleh musik yang keluar dari alat ajaib itu.
Serentak saya teringat beberapa korban tabrak KRL adalah para penyeberang rel yang tengah menutup kedua inderanya itu oleh gadget. Pikiran dan mata mereka tengah terfokus ke layar dunia kecil mereka, dan telingannya tak mendengar peluit kereta yang meraung sebab musik yang hingar bingar mungkin tengah didengarnya. Dan mereka pun tertabrak, terlempar, atau terseret...

Ketidakpedulian akan dunia sekeliling, maaf saja, saya menyebut kedua foto itu begitu. Maaf juga buat keempat orang di dalam foto tersebut bila saya posting. Banyak orang melakukan seperti begitu, mungkin termasuk saya juga.

Sampai di Stasiun Bogor, juga di setiap stasiun yang saya singgahi di mana pun di Jabodetabek, di dekat pintu masuk sekaligus keluar saya selalu melihat satu atau dua kursi roda yang tengah terlipat siap untuk digunakan. Kursi roda ini dijaga petugas. Dan sekali dua kali saya melihat penumpang renta atau disabilitas tengah didorong oleh petugas stasiun menuju pintu keluar atau menuju gerbong kereta. Kursi roda begini semula hanya saya lihat ada di bandara-bandara untuk membawa penumpang renta atau disabilitas ke/dari pesawat terbang. Sekarang, di setiap stasiun ada, pun di stasiun kecil. Hebat.


Saya menyebut foto kursi roda itu kepedulian akan dunia sekeliling.
Ketidakpedulian dan kepedulian akan dunia sekeliling selalu ada dan terjadi setiap hari.
Saya memilih untuk peduli, sekecil apa pun yang saya lakukan untuk sekeliling saya. Kalau saya tak peduli, saya tak akan menulis, mengajar, menemani kawan-kawan ke lapangan, memberikan nasihat dan pencerahan, menjawab banyak sekali pertanyaan dari penanya yang saya tak kenal, dan lain-lain.

Manusia adalah Homo socius, jangan menutup inderamu terhadap sekeliling...paling tidak untuk dirimu sendiri, tetap waspadalah sebab tak sedikit nyawa telah melayang oleh sebab terlalu asyik dengan gadget..Gadget itu sangat penting saat ini, tetapi bukan segalanya.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Indonesia

Air Hidup

Advertise Here

Designed By VungTauZ.Com