Breaking News

Islam

Politik

Tampilkan postingan dengan label Poligami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poligami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2016

POLIGAMI, HUKUM YANG MENJADI SENJATA


Ada bab tentang poligami dalam bukuku..
Dan pertanyaan terbanyak di inbox yg tdk sempat kujawab adalah, "Apakah bang Denny mendukung poligami ?"

Daripada capek menjawab satu persatu, lebih baik saya jawab disini saja..

Ketika saya berbicara tentang poligami, jangan kemudian saya di cap mendukung, menentang ataupun ingin berpoligami. Sama seperti ketika saya berbicara tentang kematian, bukan berarti saya ingin mati.
Saya hanya berbicara tentang fenomena yang terjadi, terutama pada sisi kaum hawa yang di poligami. Dan saya ingin menggambarkan bagaimana hukum itu terbuat, supaya mudah dipahami bahkan oleh mereka yang menolak hukum itu sekalipun.


Inspirasi itu saya dapat ketika ada seorang yg curhat kepada saya ketika ia di poligami.
Sebagai catatan, hukum poligami itu di keluarkan pada masa jahiliyah, dimana pada waktu itu perkawinan dilakukan tanpa batas istri. Tujuannya bukan hanya seks semata, tetapi juga utk membangun klan sbg bagian dr penguasaan wilayah. Karena itulah Nabi Muhammad Saw mengatur perkawinan dalam jumlah yg terbatas, supaya seorang lelaki tetap bisa berlaku adil pada pasangannya.
Apakah relevan pada situasi sekarang ?

Relevan atau tidak, kita tidak bisa mengukurnya melalui diri kita karena manusia itu banyak modelnya. Dan kitab suci mengatur secara general hukumnya. Titik terpentingnya bagi seorang lelaki adalah berlaku adil.
Hanya antara hukum dan manusianya memang jauh berbeda. Banyak hukum di manfaatkan untuk kepentingan seorang manusia. Hanya karena nafsu semata, dijadikanlah hukum itu sebagai senjata. Hukumnya benar, niatnya yang salah.

Karena itu wajar ketika poligami dipaksakan hanya karena "berdasarkan hukum Tuhan", banyak wanita yg tersakiti hatinya karena ia sudah merasa berbakti kepada suaminya, tetapi suaminya ingin ia lebih berbakti lagi dengan membagi perasaannya. Seorang wanita harus belajar ikhlas sampai tingkat tertinggi dan itu perjuangan yang sangat berat.

Dalam konsep poligami, disitulah hal yang paling menarik bagi saya.
Sebuah ketaatan tanpa batas seorang wanita, sebuah pengorbanan, perjuangan hanya untuk mendapatkan cinta Tuhan. Pada titik ikhlas tertinggi, seorang wanita hanya melihat suaminya sebagai tangga-nya untuk menuju surga, yaitu keikhlasan-nya kepada sang pencipta.
Sesudah mendengar ceritanya, saya tidak mau lagi menjadi hakim bagi wanita yang di poligami. Malah saya menaruh hormat yg tinggi padanya, yang tidak semua orang mampu melalui situasinya.

Enak dong laki2nya kalau begitu...
Saya biasanya tersenyum kalau mendengar pernyataan itu. Teringat nasihat Imam Ali as : " Ketika seorang wanita menangis karena perbuatan seorang lelaki, maka malaikat akan mengutuk setiap langkah lelaki itu.. "
Hati-hatilah... Jangan sampai hukum itu menjadi senjata yang memakan tuannya..

Menunggu sahur, secangkir kopi panas rasanya bisa menjadi teman yang tepat.. Seruput dulu, ah...

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Rabu, 27 Januari 2016

SURAT WARNA UNGU UNTUK JONRU

Dear, Jonru
Sebenarnya saya agak malu2 anjing nulis surat ini, karena siapa sih akyu dibanding kamyu yang wajahnya tersohor dari sampang sampai maumere.
Tapi orang2 banyak bilang kalau kita itu kembar identik. Saya agak protes karena saya gak suka dibilang kembaran ma sepatu bot. Tapi apa lacur, mereka terus mengatakan itu dan membanding2kan kita berdua. Yah, apa daya kaki gak sampai, gak bisa split jadinya..
Tapi terserah merekalah, ya say.. EGP, Emang Gatel Pentunge, bahasa gaulnya. Mereka mau bicara apa ajah, kita mah woles.
Saya kadang suka baca tulisanmu yang di share teman2 fb. Bagus tulisanmu. Ide2nya liar. Kritikanmu buat Jokowi tajam dan mengena. Saya sampai kagum sampe gak bisa pup 3 hari. Sungguh. Mungkin saya kurang serat.

Nabi Jonru

Kalau saya agak berbeda pandangan. But its oke, saya sangat menghargai pandangan orang lain meski dia berbeda dengan saya. Buat saya, Your view adalah pandanganmu dan My view adalah pandanganku.
Cuma ada satu yang saya bingung, terutama ketika pandanganmu merendahkan kerja polisi kita yang berhasil menggagalkan teroris. Kamu malah bicara dengan teori2 dan tuduhan2 seakan itu semua adalah konspirasi, pengalihan issu.

Saya jadi bertanya2 dalam hatiku yang romantis ini, dimana sih sebenarnya rasa nasionalisme-mu ? Apakah kamu tidak bersyukur bahwa korban tewas sangat sedikit dibandingkan aksi teror di negara2 lain seperti Perancis misalnya yang tewas 100 orang lebih ?

Apa kamu tidak bersyukur bahwa yang tewas bukan anakmu, istrimu, ibumu ataupun keluargamu yang lain, yang mungkin saja sedang berada di mall Sarinah ketika teroris2 itu berhasil mem-bom di dalam mall ? Kalau sudah begitu, bisakah kamu bilang itu sekedar "pengalihan issu" ? Bisakah, Kaka ? Bisakah ?? Tampar aku, kaka.. Tamparrr....

Kenapa tidak ada sedikitpun rasa banggamu kepada negara Indonesia ini, kepada kinerja aparat2 kita ? Kamu tidak suka pada Jokowi, itu adalah hakmu. Tapi tidak punya sedikitpun rasa "kebanggaan" pada bangsa ini, bukankah itu penyakit hati ?
Apa kamu tahu, Jonse.. Sehabis mem-bom, teroris biasanya menyebarkan berita yang memperuncing keadaan, untuk memperlemah pandangan terhadap pemerintah, dan akhirnya memperbesar perbedaan ? Itu skenario mereka, dan mereka akan kirim ke orang2 seperti kamyu, say... ( Ah, maaf kalo kamu jengah ku panggil say, maksudku bukan sayank tapi sayur...).

Kenapa mereka mengirim berita ke orang2 seperti kamu ? Karena mereka tahu bahwa pengikutmu banyak dan mereka mendengarkan kamu. Dan ketika kamu berkata A, mereka akan menambahkan dengan A plus, A kuadrat dan terus berkembang. Sehingga suburlah rasa benci mereka kepada pemerintah ini.
Apakah benar itu hanya "kritikan", Jonru ? Benarkah seperti katamu itu hanya sekedar kritikan kepada pemerintah ? Oh, Come on jujurlah sedikit pada dirimu sendiri bahwa kamu punya andil besar untuk memecah-belah bangsa ini dengan membantu teroris menanamkan kebencian di dada mereka.
Kamu mungkin tidak sadar, karena buat kamu mereka hanya market untuk jualan sprei kan ? Tanpa mereka kamu gak bisa jajan, kan ? Ah, halal sekali caramu memberi makan keluargamu..
Mungkin kamu anggap nasihat saya ini hate speech, tapi biarlah. Saya mah gitu orangnyah, kalau naek metik seinnya ke kiri beloknya ke kanan.

Asu dahlah.. Saya berdoa semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya dan dibukakan hatimu supaya lebih terang. Saya sebenarnya sayang kamu, sepatu botku..
Kapan2 kita minum secangkir kopi vietnam tanpa sianida. Biar kuceritakan indahnya Indonesia sekarang ini, begitu juga dulu situasi Suriah dan kita sama2 tidak mau negara damai ini seperti itu, kan Jon ? Saya yakin, kamu juga tidak mau.
Sekian surat dari saya yang manis - kata emak - ini. Semoga kamu mengerti isi hatiku.
With love,hug and my raised middle finger.

Nb : Saya dengar kamu bisa ngetik sambil split, Jon ? Bokongmu gak suwek ?

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Senin, 09 November 2015

KEINDAHAN HIDUP WANITA JAWA

Selama beberapa tahun setiap hari jumat saya biasa duduk di bangsal Wisomarto, di depan Kori Kamandungan Kraton Kasunanan Surakarta.
Di Bangsal Wisomarto setiap hari banyak orang duduk untuk menikmati suasana kraton atau sekedar melepas lelah. Saya termasuk di antara orang yang ingin menikmati suasana Kraton Surakarta.
Namun di situ saya menemukan banyak pelajaran kehidupan yang mentakjubkan. Berikut adalah salah satunya.

Wanita Jawa
Suatu hari sementara saya menikmati suasana di depan kraton, ada seorang ibu yang  menggendong tenggok besar, ikut duduk di bangsal Wisomarto. Ternyata ibu tersebut berjualan telor. Tenggoknya berisi telur ayam dan telur bebek. Hebat juga ibu tersebut, karena tenggok itu cukup besar. Lagi pula rumahnya juga cukup jauh, di daerah selatan Grogol, kira-kira 5 km dari kraton Surakarta.Ia berjalan kaki membawa telornya ke para pelanggan.
Ibu tersebut sangat ramah, sehingga kami bisa berbicara cukup banyak. Dan akhirnya beliau mau menceritakan kisah hidupnya.
“ Sudah lama jualan telor Bu?” tanya saya.
“ Sudah sejak gadi mas” jawabnya
“ Ooo..sudah lama sekali...lha putranya berapa sekarang?”
“ Anak saya 1,sudah bekerja. Bersyukur, sudah mapan mas”
“Wah, lha kalau anak sudah mapan, koq ibu masih bekerja?” tanya saya penasaran
“o, iya jangan mengharapkan anak to mas. Selama masih bisa bekerja, ya harus cari penghidupan sendiri. Supaya bisa memberi cucunya” jawabnya sambil tersenyum.
“ Kalau bapak bekerja dimana?”
Ibu itu diam sebentar, lalu jawabnya, “ Bapak tidak ada di rumah”
“ Maksud ibu”
“ ya, ini lelakon yang harus saya jalani”
“ Ada sesuatu terjadi bu?”
“ Iya, mas. Bapak sedang kena goda orang” jawabnya sambil senyum sedih.
“Apa yang terjadi Bu” tanya saya ingin tahu.
“ Bapak beberapa kali kecanthol wanita...” jawabnya dengan pelan
“ o, iya? Terus bagaimana?” saya lebih ingin tahu.
Ibu itu diam agak lama. Kemudian dengan suara berat ibu tersebut melanjutkan.
“ Bapak beberapa kali kecanthol wanita. Tapi dulu bapak selalu pulang. Namun itu berulang dan tidak kapok-kapok. Bapak masih merasa kuat, belum merasakan hukuman Tuhan. Tapi ya saya selalu terima kalau bapak pulang.”
“Wah, berat ya Bu..”
“Berat mas, tapi ya ini lelakon. Bagaimanapun saya harus menjalani dan tetap harus menerima Bapak. Bagaimanapun dia adalah suami saya dan ayah dari anak saya”
Saya terpesona dengan jawabannya yang indah. Karena itu saya ingin tahu lebih lanjut.
“ Kalau yang sekarang bagaimana?”
“ Ini juga sudah lama mas. Bapak bekerja di satu perusahaan. Lalu kecanthol dengan juragannya. Entah bagaimana juragannya cinta kepada bapak. Nah, setelah dengan perempuan ini bapak tidak peduli dengan keluarga.” Ibu itu menghela nafas berat.
“Oooo, bgt ya?”
“Pulangnya jarang, dan malah kemudian tidak pulang. Sampai hari ini tidak pulang.”
“ Wah, sejak kapan itu bu”
“ Sejak anak saya SD”
“oo, sudah lama sekali?”
“Iya mas. Anak saya marah sekali dengan ayahnya. Dia sering mengatakan kata-kata yang tidak baik. Tapi saya selalu berkata kepada anak saya untuk tidak mengatakan hal-hal buruk tentang ayahanya. Bagaimanapun dia adalah ayahnya. Anak harus tetap menghormati ayahnya. Sekarang ayahnya sedang gelap mata, tidak tahu mana yang benar. Namun anak tidak boleh berkata buruk tentang ayahnya dan tidak boleh tidak hormat kepada ayahnya. ”
Wah,  saya terpesona dengan ibu tersebut. Kagum sekali. Inilah wanita jawa sejati. Seseorang yagn mengerti hakekat hidup.
Lalu ibu itu melanjutkan,” Sebagai wanita saya pernah sakit hati mas. Tapi terus saya pupus. Ini adalah lelakon hidup. Suami saya sedang dalam kegelapan, saya tidak boleh ikut-ikutan. Satu waktu suami saya akan sadar. Mungkin setelah nanti menerima akibat dari kesalahannya. Sejak itu saya bertekad yang penting saya bekerja keras untuk menghidupi anak saya. Bersyukur anak saya sudah bisa mandiri”
“  Bagaimana kalau satu waktu bapak kembali Bu?”
“ Saya akan menerimanya mas. Saya adalah istrinya hingga hari ini. Saya akan menunggunya. Saya mengatakan kepada anak saya, saya akan menunggu bapakmu. Dan kalau nanti bapak pulang dalam kondisi menerima hukuman,saya siap merawatnya sampai sembuh ataupun sampai dipanggil yang maha kuasa...”
Saya terdiam. Saya seperti berada di depan seorang filsuf.Ini bukan sekedar penjual telor. Ini pemilik kehidupan.
Saya bertanya untuk menguatkan,” Ibu siap merawat Bapak, kalau seandainya bapak pulang, tapi dalam kondisi stroke atau mengalami keadaan lainnya?”
“ Ya, mas. Itu sudah tanggung jawab saya sebagai istri...Saya siap merawatnya...” jawabnya dengan penuh kesungguhan.
Wah, bagaimana mungkin orang bisa memiliki jiwa sebesar itu. Saya memujinya, tapi ibu itu berkata, itu hal  biasa. Itu sudah kewajiban hidup. Katanya lagi,” Orang lain yang sakit saja saya mau menolong , apalagi ini suami dan ayah dari anak saya”
Kami masih berbincang beberapa hal lagi, dan akhirnya ibu tersebut melanjutkan perjalanannya sambil menggendong tenggok di punggungnya.
Saya memandanginya. Saya belajar banyak dari wanita tersebut. Wanita jawa sederhana,tapi itulah wanita jawa sejati yang pernah saya kenal. Wanita yang memahami kehidupan sebagai orang jawa. Dia tidak belajar dari bangku sekolah atau dari agama, dia belajar dari leluhur melalui kehidupannya.
Saya kagum, tapi juga merasa malu dengan kekerdilan hidup saya.

Penulis: Gunawan Sri Haryono
Read more ...

Sabtu, 24 Oktober 2015

POLIGAMI

Pahami dulu kondisi masyarakat arab zaman dahulu, ketika mereka berada pada era jahiliyah.

Saya pernah cerita bagaimana mereka bisa mempunyai istri dan harem sampai ratusan, dan itu hal yang sangat wajar pada masa itu. Semakin kaya dia, maka status sosialnya akan terangkat ketika ia mampu mendapatkan wanita bahkan membeli budak wanita. Semacam trophy. Yang monogami ya stratanya rendah.

Dan itu bukan hanya masalah seks semata, tetapi juga untuk membangun keluarga besar. Semacam klan tempat mereka bernaung dan berkuasa. Semakin besar keluarga, maka semakin besar juga kesempatan berkuasa.




Poligami

Ketika Nabi Muhammad saw berada ditengah2 mereka, maka Nabi banyak mengatur hukum2 termasuk hukum pernikahan. Dan seperti yang disebut dalam Al-quran, maka dipampatkanlah tradisi menikahi ratusan wanita itu menjadi maksimal empat saja.

"Pertanyaannya kenapa empat ?"
Sebenarnya ini bukan masalah bilangan, tetapi Nabi pasti paham ukuran kecukupan sehingga tidak berlebih2an. Dan sekali lagi catat, ini juga karena situasi dan kondisi masyarakat arab.

"Berarti gak relevan dong jika dipakai zaman sekarang ?"
Relevan atau tidak kan tergantung situasi zaman. Kalau sekarang zaman monogami, buat sebagian orang pernikahan lebih dari satu jadi pandangan aneh. Tapi yang perlu dicatat, hukumnya tetap halal jadi diperbolehkan. Sebagai contoh relevan, hukum potong tangan bagi pencuri dulu biasa diberlakukan. Tapi sekarang diatur dengan penjara saja.

"Itu sunnah Rasul-kan ?"
Ya, Nabi juga melakukan itu. Sunnah itu artinya melakukan hal yang sesuai dengan perbuatan dan perkataan Nabi. Masalahnya, bisa tidak manusia seperti Nabi yang mampu berlaku adil kepada istri2nya sehingga mereka semua sayang dan rela. Kalau mampu, silahkan. Kalau misalnya malah membawa bencana dalam rumah tangga, ya hindarkan. Semua kan tergantung situasi dan kondisi juga. Sunnah Nabi itu banyak dan yg terpenting dari itu semua adalah ahlak. Jangan cuman sunnah yang enak aja dimakan, yang susah malah ditinggalkan.

"Kalau poliandri ?"
Ya gak bolehlah. Poliandri itu mengacaukan pertalian darah. Jadi tidak jelas ini anak siapa. Tatanan sosial bisa berantakan kalau wanita boleh menikah lebih dari satu lelaki.

"Berarti Tuhan tidak adil dong ?"
Konsep adil itu bukan sama rata, tapi sesuai porsinya. Menempatkan sesuatu pada tempatnya. Wanita kurang pada sisi ini, tapi dilebihkan pada sisi lain. Misalnya, tidak wajib mencari nafkah. Jadi cukup ongkang2 aja sambil baca koran, suami yang kerja.

"Ih, sembarangan. Trus kalau konsep adil kepada istri2nya itu juga harus begitu ?"
Ya, iyalah. Disesuaikan juga pada porsinya. Kalau istri pertama makan kangkung dan yang kedua suka steak, berikan sesuai porsinya. Kangkung ya kangkung, dikasi steak ntar sakit perut. Kalau si steak disuruh makan kangkung, entar kentutnya bau.

"Jadi kamu suruh aku makan kangkung dan kentutku bau, gitu ya ? MALAM INI TIDUR DI SOFA !!!"

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Indonesia

Air Hidup

Advertise Here

Designed By VungTauZ.Com