Breaking News

Islam

Politik

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Oktober 2016

Ayam Datang, Babi Hilang


Ini lanjutan kuliah virtual tentang "Bab Perbabian" yang sempat tertunda. Untuk sementara lanjutan pembahasan "Bab Perkafiran" saya tunda dulu sebentar. Seperti pernah saya singgung sebelumnya (silakan review postinganku sebelumnya), ada sejumlah teori yang dikemukakan oleh sejumlah pakar (sejarawan, arkeolog, antropolog) tentang fenomena punahnya babi dari mayoritas kawasan Timur Tengah (meski tidak semuanya).


Salah satu teori yang belum sempat saya kemukakan adalah tentang hadirnya ayam sebagai bagian penting dalam "subsistence system" masyarakat Arab dan Timur Tengah. Teori ini dikemukakan oleh Richard Redding, misalnya dalam tulisannya, "The Pig and the Chicken in the Middle East". Menurutnya, berdasarkan kajian antropologi sejarah dan didukung oleh sejumlah data arkeologis, "kehadiran" ayam menjadi faktor fundamental bagi lenyapnya hewan babi di Arab dan Timur Tengah pada umumnya.

Asal-usul ayam tentu saja bukan dari Timur Tengah tapi dari Asia Tenggara. Hewan khas Timur Tengah waktu itu adalah keledai, onta, domba, termasuk babi yang menjadi primadona masyarakat di kawasan ini. Kaum nomad dan pelayar / pelaut Asia Tenggara (termasuk "Indonesia" tentunya) yang memperkenalkan mahluk bernama ayam ke kawasan Arab/Timur Tengah ini melalui jalur dan jaringan perdagangan dan pelayaran Samudera Hindia.

Kehadiran ayam disambut dengan riang-gembira oleh masyarakat suku Timur Tengah di daerah pedesaan, sub-urban, dan Arab nomad (pastoral nomads atau nomadic pastoralists) yang hidupnya mobile, berpinda-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada sejumlah alasan kenapa mereka lebih jatuh hati pada ayam daripada babi.

Pertama, ayam dipandang sebagai sumber protein yang jauh lebih efisien dari sisi ekonomi daripada babi. Tidak seperti babi yang yang boros makanan dan minuman yang juga dibutuhkan oleh manusia, ayam, karena perutnya kecil, hanya perlu sedikit makanan.

Kedua, ayam menghasilkan "sumber sekunder protein", yaitu telur. Ini tentu jauh lebih efisien. Ibaratnya: sambil menyelam minum air, sambil makan daging ayam, makan pula telurnya. Apalagi bulu ayam juga bisa dipakai untuk "korek kuping" he he.

Ketiga, ukuran ayam jauh lebih kecil ketimbang babi (kecuali "ayam kampus" lo ya yang mungkin ada yang bongsor he he) sehingga efektif dan efisien untuk dikonsumsi oleh keluarga dalam 24 jam kapan saja kalau lapar. Masaknya juga gampang, tidak perlu banyak alat. Kalau menyembelih babi repot karena dagingnya terlalu banyak dan belum ada kulkas untuk menyimpan. Kalau mereka menyembelih babi, sebagian daging harus ditukar dengan barang-barang lain (dalam antropologi istilahnya "reciprocal exchange") supaya tidak mubazir.

Keempat, ayam gampang diangkut kemana-mana (biasanya ditaruh di belakang punggung keledai atau onta) sesuai dengan kultur masyarakat nomad, sedangkan babi terlalu gembrot dan gak bisa jalan jauh berpindah-pindah. Babi juga tidak bisa dipakai sebagai alat transportasi seperti onta atau keledai. Jadi, fungsi babi seperti ayam, yaitu sebagai sumber protein saja. Oleh karena itu daripada memelihara babi yang boros dan ngrepotin, ya diceraikan saja si babi, lalu pindah ke ayam yang lebih "langsing" dan oke.

Sejumlah kajian antropologi juga menunjukkan suku-suku nomads di Arab dan Timur Tengah (seperti Beduin, Bahktiari, Luri, Qashqai, dlsb) memang memelihara ayam di tenda-tenda mereka. Mau percaya atau tidak dengan teori ini, terserah saja, emang gue pikirin? he he (bersambung)

Jabal Dhahran, Arabia

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Rabu, 12 Oktober 2016

Kepercayaan Menurut Papa John's Pizza


Setiap orang memiliki kepercayaan yang berlainan. Ada yang percaya setengah mati dengan agama. Bagi kelompok ini, agama bukan hanya sekedar "tuntunan hidup" di dunia tapi juga "pegangan hidup" di akhirat. Mereka percaya, agama bisa mengantarkan pemeluknya selamat dunia-akhirat: hidup bahagia di dunia, mati bahagia masuk surga, atau minimal terhindar dari siksa dan malapetaka.

Tapi uniknya, doktrin-doktrin keagamaan atau "rumusan teologi-keagamaan" ini pada umumnya bersifat "eksklusif" dan "egois". Mereka hanya "menyelamatkan" pengikut agamanya saja, tidak mempedulikan umat lain. Pengikut agama-agama lain dinilai nyasar ke jurang kesesatan dan bakalan tidak selamat dan bahkan "nyemplung" ke neraka di alam akhirat nanti. Sadis dan ngeri ya? 


Ada pula kelompok yang tidak percaya dengan agama. Mereka menolak tetek-bengek doktrin, dogma, dan ajaran keagamaan yang mereka anggap sebagai "rekayasa" kaum agamawan. Kelompok ini juga sangat besar jumlahnya di dunia ini dan bermacam-macam jenisnya: ateis, agnostik, sekularis, humanis, "scientologist," dlsb. Kaum "spiritualis" tertentu bisa juga masuk dalam gerbong ini. Kelompok ini ada yang menolak tesis-tesis eksklusif-formal agama, dan lebih mempercayai pada "spiritualitas" yang dianggapnya lebih netral, cross-cultural, dan inklusif.

Ada lagi yang fanatik percaya terhadap ideologi tertentu (Islamisme, kapitalisme, sosialisme, komunisme, dlsb), partai politik tertentu (Republik, Demokrat, "Pilkaes," dlsb), ormas tertentu (FPI, HTI, JTI, HMI, PMII, dlsb), dan seterusnya. Pengikut ideologi, parpol, atau ormas-ormas ini juga tidak kalah fanatiknya dengan "kaum agamis" dan "non-agamis" di atas. Apalagi ideologi, parpol, dan ormas ini sering kali berkaitan erat dengan agama atau "paham sekularisme" tertentu.

Ada pula lo orang yang "jatuh hati" dan percaya setengah mati dengan keampuhan atau kesaktian kiai, dukun, tuyul, danyang, dokter, tabib, konsultan, kepala suku, dan seterusnya, termasuk antropolog he he.
Nah, bagaimana dengan Papa John's Pizza? Selidik punya selidik ternyata Papa John mempercayai terhadap "mahluk" yang bernama "Better". Gak percaya? Simak saja dengan teliti foto yang saya jepret ini: "We believe in better". Better apa? "Better ingredient, better pizza..." dan lain-lain. Foto ini saya jepret di sebuah "kedai" Papa John's Pizza di kompleks mall tidak jauh dari tempat saya tinggal di Saudi. Perusahan restauran Amerika yang didirikan oleh John Schnatter pada 1984, dan bermarkas di Louisville, Kentucky ini termasuk yang laris-manis di Saudi, bersaing ketat dengan restoran-restoran cepat saji ala Amerika lain seperti McDonald, KFC, Subway, dlsb. Bagaimana dengan Anda?

Jabal Dhahran, Arabia

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Rabu, 31 Agustus 2016

SALAH KAMAR


Lama tidak naik bus TransJakarta, tengah hari tadi saya naik bus ini lagi. Masuk ke dalam bus panjang ini saya langsung duduk kebetulan ada beberapa kursi kosong. Kemudian saya pun agak bingung -penumpangnya kok semua wanita. Ah saya salah masuk "kamar" nampaknya, lalu saya menoleh ke belakang ternyata para penumpang pria berkumpul di sana... Saya tahu ada pembagian area wanita dan pria di bus ini, tetapi tidak menyangka sepanjang dan sedefinitif itu areanya.
Saya pun segera berdiri mau berjalan ke bagian belakang, lebih baik saya berdiri di sana saja, di antara kaum saya...tidak apa-apa berdiri juga. Tetapi petugas bus menyilakan saya tetap duduk saja di bagian wanita (?).

Di perhentian bus berikutnya masuklah tiga anak muda dari pintu bus bagian wanita -seperti saya tadi. Melihat masih ada kursi kosong di bagian wanita mereka serentak hendak duduk. Tetapi petugas yang sama yang menyilakan saya tetap duduk melarang para pemuda itu duduk di kursi wanita (?)
Mengapa saya boleh duduk, sementara ketiga pemuda itu tidak boleh duduk di bagian wanita (?). Saya menduga-duga jawabannya. Mungkin karena saya terlihat sudah tua, rambut banyak ubannya dan tinggal sedikit, mengenakan baju batik, bermimik muka bersahabat... - nampak bukan ancaman bagi para wanita (he..he..).


Saya pun duduk saja dengan tenang... Sekali-sekali saya menoleh ke bagian pria. Nampak beberapa mimik muka tidak suka, apa iri melihat saya tidak diminta pergi. He..he..mungkin ini keistimewaan bagi para orang yang berpenampilan tua...


Tiba-tiba saya ingat aktor/artis Benyamin Suaeb, alm: muka kampung rezeki kota, katanya. Penampilan saya boleh tua -memang umur sudah lebih dari setengah abad, tetapi jangan salah menilai. Para geolog muda tak jarang teler mengikuti saya berjalan... Saya juga tentu lelah sebenarnya, hanya antusiasme, semangat, mental yang kuat sering menyeret fisik yang lemah...***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Kamis, 11 Agustus 2016

YAHUDI DAN ZIONIS


Di Surabaya ada satu tempat di pusat kota, tepatnya jalan Kayon, pernah berdiri sebuah Sinagog, tempat beribadah umat Yahudi.
Ketika masih kuliah saya pernah melihatnya. Sepi.

Alkisah, ketika itu ada protes mahasiswa krn pendudukan Israel di Palestina, sampai bakar2 bendera. Akhirnya karena digeruduk mahasiswa, sinagog itu disegel oleh pemkot Surabaya.
Sinagog yang akhirnya diruntuhkan entah oleh siapa, dulu adalah bekas bangunan Belanda dan dialih-fungsikan sebagai rumah ibadah agama Yahudi. Sebagai catatan sejarah, hak Yahudi dulu pernah disamakan dgn agama lain oleh keputusan Menteri Agraria thn 1961. Dan seorang Yahudi Surabaya, Charles Mussry saat 10 November bahu membahu membantu arek Suroboyo untuk mengusir Belanda.
Apa yang bisa kita pelajari di sini ?

Bahwa kita terbiasa meng-generalisasi tanpa pengetahuan yang memadai. Bahwa semua Yahudi itu zionis. Padahal Yahudi itu ada 2 komunitas, yaitu Yahudi sebagai agama ( Judaism ) dan Yahudi yang berpolitik kembali ke bukit zion ( Zionism ). Tapi karena banyak yang bego - saya dulu juga begitu - akhirnya semua di samakan, bahwa Yahudi itu pasti zionis.


Kelompok yang aktif menentang penggunaan agama Yahudi sebagai alat untuk kepentingan zionis bernama Naturei Karta. Mereka adalah kesatuan rabbi2 Yahudi dengan jaringan internasional menolak penyamaan persepsi bahwa Judaism adalah Zionism. Bahkan di Palestina sendiri mereka berjuang bersama agama lain menentang pendudukan Israel terhadap Palestina.

Jadi, mulailah adil sejak dalam pemikiran bahwa ulah suatu oknum bukanlah kesalahan suatu kaum. Kita juga menolak bahwa Islam disamakan dengan terorisme kan ? Begitu juga mereka.
Saya yakin agama Yahudi masih ada di Indonesia, hanya mereka beribadah secara sembumyi2 akibat stigma yang terlanjur dilekatkan kepada mereka. Kesalahan cara pandang kita yang sempit dan dangkal, menjadikan mereka korban dari ketidak-adilan persepsi sekian lama.

Saya bisa dituding sebagai Yahudi yang menyusup sesudah posting ini, meski gelar saya sudah cukup panjang mulai dari Syiah, jemaat HKBP,JIL, JIN dan JUN dan entah apalagi. Gelar tertinggi yang disematkan masih iblis berwujud manusia, sebuah prestasi yang membuat iblis langsung rendah diri ketika berpapasan dengan saya.

Karena itulah saya sarankan untuk minum kopi jika sempat. Kafeinnya membuka cakrawala berfikir bahwa dunia itu luas tidak sebatas syahwat bahwa sunnah itu beristri empat. Dengkul lemas otak bisa mampat..
Seruput dulu ah...

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Sabtu, 16 Juli 2016

Muhammad Ali dan Islam di Amerika (2)

Sambungan dari Muhammad Ali dan Islam di Amerika (1)

Seperti saya uraikan sebelumnya, keliru besar jika menganggap Amerika itu sebagai melulu "negeri Kristen-Yahudi". Amerika adalah negara "melting pot" tempat ngumpulnya berbagai agama dan sekte dan kelompok non-agama. Amerika juga rumah buat aneka ragam sekte Islam dan kelompok keislaman. Sekte-sekte dan berbagai kelompok Islam yang dilarang di negara-negara tertentu (misalnya Ahmadiyah atau Hizbut Tahrir), bisa menikmati kebebasan disini, ketawa-ketiwi, egal-egol, dan kentat-kentut dengan bebasnya karena konstitusi Amerika menjamin kebebasan beragama semua warganya.


Meskipun sebagian umat Islam dan sejumlah ormas keislaman di AS ada saja yang rajin dan istiqamah mengkopar-kapirkan Mamarika, tetapi mereka tetap dibiarkan sepanjang tidak melakukan tindakan terorisme, kekerasan, dan hal-ikhwal yang mengganggu ketentraman publik. Karena alasan "demokrasi agama" inilah, Amerika menjadi salah satu tumpuan hidup dan eksistensi buat aneka ragam kelompok agama, termasuk Islam. Jane Smith, dalam buku Islam in America, bahkan menyebut negara Paman Sam ini yang paling heterogen dan paling banyak menampung berbagai kelompok dan mazhab umat Islam.

Menurut catatan sejumlah sejarawan, dari sekian banyak suku-bangsa Muslim di Amerika, kaum Muslim Afrika-Amerika konon yang paling banyak populasinya. Kaum Muslim Afrika-Amerika (disebut "Black Muslims") kontemporer merupakan keturunan para budak Afrika yang didatangkan oleh Amerika sejak awal abad ke-18. Karena politik rasisme anti-negro (white supremacy) yang begitu kuat di Amerika kala itu, sejumlah tokoh Muslim Afrika-Amerika sejak awal abad ke-20 kemudian menggelar sejumlah perlawanan teologi-budaya untuk melawan "supremasi kulit putih".

Di antara tokoh Muslim Afrika-Amerika yang memelopori gerakan "perlawanan teologi-budaya" atas "bangsa kulit putih" adalah Noble Drew Ali dan yang paling fenomenal adalah Wallace Fard Muhammad yang mendirikan Nation of Islam (NOI) pada awal 1930-an. Puncak gemilang NOI ketika dipimpin oleh tokoh Muslim Afrika-Amerika karismatik bernama Elijah Muhammad (1837-1975). Tokoh Muslim yang hobi berpeci, berjas, dan berdasi inilah yang menjadi mentor sejumlah tokoh Muslim Afrika-Amerika legendaris termasuk Malcolm X (Malcolm Little), Louis Farrakhan, Warith Deen Mohammed, dan "sang petinju legenda" Muhammad Ali.

Mereka adalah para tokoh Muslim yang bergemuruh menentang perang dan politik rasisme serta memperjuangkan martabat dan hak-hak kemanusiaan yang dipenjarakan oleh rezim Amerika waktu itu. Mereka bahu-membahu berjuang bersama sejumlah tokoh Kristen kharismatik penentang rasisme seperti Martin Luther King, Jr. Di antara sekian tokoh Muslim Afrika-Amerika, Malcolm X yang paling fenomenal. Pidato-pidatonya menggelegar bergemuruh laksana petir yang menyambar-nyambar yang mampu menyihir beribu-ribu orang dan mampu memikat hati dan pikiran banyak warga Afrika-Amerika untuk bergabung menjadi umat Islam.

Menariknya, meskipun mereka adalah para tokoh Muslim hebat di Amerika ini, tidak ada satupun yang berjubah apalagi berjenggot panjang menjuntai tak terurus. Mereka berjas dan berdasi dan kelimis. Mereka juga tidak mengkhotbahkan tentang jubah, celana cingkrang setengah tiang, jilbab/hijab, apalagi poligami he he. Kenapa? Ya memang buat mereka semua itu gak penting banget lah karena bukan esensi ajaran Islam hanya "bunga-bunga" budaya Arab saja yang tidak perlu diterapkan di Amerika.

Kent Vale, Singapore

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Minggu, 10 Juli 2016

Muhammad Ali dan Islam di Amerika (1)


Anggapan atau tuduhan sejumlah kelompok “Islam ekstrim” di Indonesia bahwa Amerika adalah “negeri kafir” Kristen-Yahudi adalah tidak tepat. Menuduh “kafir” saja keliru karena mereka jelas bukan kafir tapi umat beriman. Apalagi menganggap Amerika sebagai negeri Kristen-Yahudi. Jelas bombastis dan mengandung unsur propaganda murahan. Amerika—atau Barat secara umum—adalah kawasan multi-agama. Ini persis dengan dunia Arab yang juga kawasan multi-agama.

Kemajemukan agama itu sebagai dampak dari arus migrasi yang sangat kuat. Seperti negara-negara Arab Teluk, Amerika juga dibanjiri oleh kaum migran, termasuk kaum migran Muslim tentunya. Memang Kristen menjadi agama dominan sebagaimana Islam di Arab. Tetapi umat Kristen, sebagaimana kaum Muslim, juga jauh dari kesan tunggal dan monolitik. Kedua kelompok ini bukan sekumpulan “bebek kuwek-kuwek” yang seragam. Baik “dunia Islam Arab” maupun “dunia Kristen Amerika” sangat beragam, majemuk, dan sangat kompleks: kelompoknya, mazhabnya, suku-bangsanya, kultur-tradisinya, pandangan keagamaannya, sikap politiknya dan seterusnya.



Karena itu keliru besar jika menganggap Amerika itu adalah “negeri kafir Kristen-Yahudi” yang anti-Islam seperti yang didakwahkan secara konyol oleh kelompok “Islam pentungan” itu. Ini sama kelirunya yang menganggap Arab atau Muslim itu anti-Amerika atau anti-Kristen. Bahkan menurut pencandraan para ilmuwan sosial, populasi kaum Muslim sebentar lagi akan menyalip warga Yahudi di Amerika hal itu dikarenakan kaum Muslim suka memproduksi anak, selain faktor lain tentunya (seperti migrasi). Menjadi Muslim juga mudah: hanya membaca sebaris kalimat syahadat sim salabim ting jadilah Muslim.

Ada cukup banyak kaum Muslim dari berbagai suku-bangsa yang tinggal di Amerika: Afrika, Arab, Iran, India, Pakistan, Bangladesh, Turki, Kurdi, Afganistan, Indonesia, negara-negara Muslim pecahan Uni Soviet (Kazahtan, Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgistan, dlsb), atau bahkan kaum “bule Muslim” itu sendiri yang menjadi mualaf, baik setelah menikah dengan suami Muslim atau istri Muslimah atau lantaran ketertarikan sendiri dengan ajaran-ajaran Islam. Dari sekian banyak suku-bangsa, warga Afrika-Amerika-lah yang paling banyak mendominasi keislaman di Amerika (mereka sering disebut dengan “Black Muslims”).

Dalam konteks sejarah, meski dipastikan kaum Muslim sudah mendarat di Amerika jauh sebelum pendaratan Christopher Columbus (1451 – 1506), arus migrasi kaum Muslim ke AS dalam jumlah signifikan baru terasa sejak akhir abad ke-18 terutama setelah pendirian negara AS pada tahun 1776. Kala itu, sebagai penguasa baru menggantikan Inggris, Amerika membutuhkan banyak budak untuk dipekerjakan di berbagai sektor pembangunan serta pembukaan lahan baru (babat alas) di berbagai wilayah di AS yang masih belantara tak bertuan. Para budak itu kebanyakan didatangkan dari Afrika. Tercatat pada tahun 1800, ada sekitar 500 ribu budak dari Afrika di AS. Para sejarawan, misalnya Michael Gomez, menaksir sekitar 30% dari para budak laki-laki dan 15% budak perempuan beragama Islam. Hal ini bisa dimaklumi mengingat para budak itu didatangkan dari berbagai kawasan Afrika yang diantaranya sudah lama diislamkan oleh para penguasa Muslim, misalnya Afrika Utara dan Afrika Barat.

Petinju legendaris Muhammad Ali yang nama aslinya Cassius Marcellus Clay yang meninggal beberapa hari lalu adalah dari generasi Afrika-Amerika ini. Lalu, bagaimana kisah orang-orang kulit hitam Afrika di Amerika seperti Ali ini kemudian berbondong-bondong masuk Islam? Jangan kemana-mana, panteng terus di channel FB-ku ini he he

Kent Vale, Singapore

Bersambung ke  Muhammad Ali dan Islam di Amerika (2)

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Kamis, 30 Juni 2016

RAZIA DI SEBERANG JENDELA SERANG BANTEN


Pak Walikota Serang,

...daripada merazia warung makan kenapa gak lebih dulu merazia hati, apakah bapak lebih mulia daripada seorang ibu yang sedang mencari makan dengan halal ?
Apakah bapak lebih bersih dalam mencari makan, di bandingkan seorang penjual nasi yang berjualan di bulan Ramadhan ?

Apakah bapak merasa nyaman dengan pendapatan yang besar, sehingga sudah tidak perduli lagi dengan mereka yang harus ngebut mencari tambahan menghadapi lebaran ?
Bulan Ramadhan sesungguhnya bulan instropeksi.. Ketuklah dulu pintu hati, benarkah saya "berpuasa" ?
Perut saya menahan lapar, tapi terus mencari cara bagaimana korupsi tidak kelihatan..
Perut saya menahan lapar, tapi harus memainkan anggaran dengan bijak supaya semua kebagian dan bisa lebaran.


Perut saya menahan lapar, tapi harus buat kesepakatan dengan rekanan siapa dapat apa, berapa dan bagaimana caranya supaya berjalan dengan aman dan tentram...
Apa bedanya dengan "menjual nasi" di bulan Ramadhan ?

Sama2 melayani orang makan.... Sama2 mengejar lebaran.
Hanya yang satu melakukannya dengan terang2an, satunya lagi dengan diam2.... Satunya di razia, satunya semoga tidak di razia satu saat oleh KPK...

Semoga...

Semoga tidak seperti kata pepatah, " Gajah di pelupuk mata tidak tampak, cowok di seberang jendela kelihatan..."

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Senin, 13 Juni 2016

Murid Saudi-ku yang Spesial

Di antara sekian ratus murid-murid Arabku semester ini, ada beberapa yang cukup spesial seperti dalam foto ini. Yang satu dari suku Badui, satunya lagi dari suku al-Faifi (atau al-Fifa). Kedua suku ini sangat unik di Saudi. Nama "Badui" (English: Bedouin) berasal dari kata "badawi" dalam Bahasa Arab yang berarti "penduduk padang pasir". Kata "badawi" sendiri berasal dari akar kata "badiyah" yang berarti "daratan padang pasir". Sebutan "badui" sebetulnya dari orang lain. Mereka sendiri menyebutnya sebagai "Arab".
Suku Badui masa kini yang pecah menjadi berbagai suku dan klan ('asya'ir) merupakan keturunan para nomads yang tinggal dan hidup berpindah-pindah di daerah gurun Arabia dan Suriah. Kini mereka tinggal di berbagai wilayah gurun di Afrika Utara dan Timur Tengah. Dalam sejarahnya, mereka tinggal di tenda-tenda dan selalu pindah tempat tergantung musim dan cuaca. Ciri lain dari kelompok ini adalah penggembala onta dan kambing.


Masyarakat Badui dikenal sangat sederhana, ramah, pemurah, dan sangat menghormati tamu. Seperti ditunjukkan dalam berbagai studi antropologi, konon jika ada tamu atau orang asing datang atau mampir, orang-orang Badui akan minta para tamu untuk menginap di tenda-tenda mereka sambil menikmati hidangan ala kadarnya, khususnya "teh Arabia" yang aduhai rasanya. Bukan hanya itu, mereka juga akan memotong kambing atau domba untuk dihidangkan kepada sang tamu tadi, meskipun sebetulnya mereka sangat membutuhkan domba / kambing itu. Bagi mereka, yang penting tamu kenyang meskipun mereka lapar.
Meski cukup banyak dari komunitas Badui yang sudah mengalami "transformasi gaya hidup" dalam hal berpakaian (seperti muridku ini yang mengenakan pakaian formal khas Saudi) dengan tinggal di kota-kota, mereka masih memelihara dan mempraktekkan tradisi dan warisan kebudayaan Baduwi seperti berpuisi / berpantun, musik tradisional, "tarian pedang" dlsb. Mereka juga menggelar aneka "festifal Badui" di berbagai daerah.


Selain Suku Badui, Suku Al-Fifi juga unik. Mereka hidup dan tinggal di pegunungan berbatu atau dataran tinggi yang sangat terjal dan sulit dijangkau di wilayah Jizan, Saudi. Karena medan darat yang sangat sulit untuk transportasi, akhirnya mereka mengembangkan "transportasi udara" yang antik (seperti dalam foto ini). Sangking tingginya daerah dimana suku ini tinggal, maka daerah ini sering disebut sebagai "tetangga bulan" atau "surga bumi". Suku Faifi ini memiliki kostum / busana, makanan, adat, tradisi & kebudayaan sendiri. Mereka juga memiliki Bahasa Arab sendiri yang tidak bisa dipahami oleh masyarakat Arab lain. Hanya yang orang-orang yang bermental baja (seperti muridku ini) yang mau berkelana mencari ilmu dan berani berkompetisi dengan suku-suku lain. Melihat mereka berdua, saya seperti melihat diriku sendiri: orang gunung dan mantan penggembala kambing...

Jabal Dhahran, Arab Saudi

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Jumat, 03 Juni 2016

KEMESRAAN SAUDI ISRAEL


Setelah puluhan tahun bermain kucing kucingan agar hubungan akrab mereka tetap menjadi rahasia, akhirnya kini kakak beradik Israel dan Saudi secara terbuka bermesraan di hadapan publik dunia.
Semestinya mereka pun merangkul Iran menjadi saudara agar pertahanan mereka lebih kokoh di Timur Tengah, tetapi mereka malah memusuhinya.

SAUDI ISRAEL

Lagipula, apakah Iran bersedia dirangkul kemudian bersama berleha leha dengan sejumlah wanita cantik yang dipasok oleh Paman Sam ??

Saya tidak yakin hal itu akan terjadi.

Iran bukanlah type pria klemat klemet seperti peran Commudus dalam film Gladiator walaupun dia sudah mengenakan pakaian perang tapi tetap saja terlihat kemayu.
Iran lebih berperan sebagai seorang Maximus yang tanpa busana pangeran pun jelas tampak seorang Ksatria Maco Jantan.

Puluhan tahun terkena sanksi embargo bukannya memohon ampun apalagi mengemis ngemis, melainkan Iran semakin giat membangun kekuatan yang lebih dahsyat dari sebelum sebelumnya.
Iran layaknya singa jantan yang tak akan berubah menjadi seekor kelinci. Iran tidak pernah takut akan ketinggalan zaman hanya karena diasingkan dan dikucilkan. Iran tau bahwa semuanya itu hanyalah fatamorgana dunia.

(berpalinglah dari apa yang menakjubkanmu di dunia ini karena hanya sedikit darinya yang bersahabat denganmu - Imam Ali bin Abi Thalib).

Penulis: Raymond Liauw
Read more ...

Sabtu, 30 April 2016

KEPEDULIAN

Tiga foto terlampir saya ambil gambarnya tadi pagi dari perjalanan Jakarta-Bogor, seperti biasa menggunakan angkutan masal KRL.


Ada foto dua wanita duduk di salah satu pilar peron sebuah stasiun di Jakarta menunggu kereta datang. Mereka asyik melihat sebuah dunia kecil dalam genggaman bernama gadget, sementara mereka nampaknya tidak mempedulikan lingkungan sekelilingnya termasuk saya yang mengambil gambarnya dari jarak dekat.
Ada foto dua pria di dalam gerbong kereta saat melintas seusai stasiun Bojonggede. Keduanya melakukan hal yang sama, yaitu menyumbat kedua telinganya dengan earphone yang dihubungkan ke gadget di genggamannya yang juga tengah diamatinya dengan raut muka kadang-kadang memberengut, kadang-kadang tersenyum.


Mereka asyik dengan dunia kecil di genggamannya, tidak mempedulikan lingkungan sekelilingnya termasuk saya -seorang observer yang mengambil gambarnya dari jarak dekat. Saya berpikir kedua orang ini nampaknya tengah menutup kedua inderanya bagi dunia sekelilingnya, yaitu mata dan telinga. Matanya hanya mengamati dunia kecil gadget, telinganya tertutup oleh musik yang keluar dari alat ajaib itu.
Serentak saya teringat beberapa korban tabrak KRL adalah para penyeberang rel yang tengah menutup kedua inderanya itu oleh gadget. Pikiran dan mata mereka tengah terfokus ke layar dunia kecil mereka, dan telingannya tak mendengar peluit kereta yang meraung sebab musik yang hingar bingar mungkin tengah didengarnya. Dan mereka pun tertabrak, terlempar, atau terseret...

Ketidakpedulian akan dunia sekeliling, maaf saja, saya menyebut kedua foto itu begitu. Maaf juga buat keempat orang di dalam foto tersebut bila saya posting. Banyak orang melakukan seperti begitu, mungkin termasuk saya juga.

Sampai di Stasiun Bogor, juga di setiap stasiun yang saya singgahi di mana pun di Jabodetabek, di dekat pintu masuk sekaligus keluar saya selalu melihat satu atau dua kursi roda yang tengah terlipat siap untuk digunakan. Kursi roda ini dijaga petugas. Dan sekali dua kali saya melihat penumpang renta atau disabilitas tengah didorong oleh petugas stasiun menuju pintu keluar atau menuju gerbong kereta. Kursi roda begini semula hanya saya lihat ada di bandara-bandara untuk membawa penumpang renta atau disabilitas ke/dari pesawat terbang. Sekarang, di setiap stasiun ada, pun di stasiun kecil. Hebat.


Saya menyebut foto kursi roda itu kepedulian akan dunia sekeliling.
Ketidakpedulian dan kepedulian akan dunia sekeliling selalu ada dan terjadi setiap hari.
Saya memilih untuk peduli, sekecil apa pun yang saya lakukan untuk sekeliling saya. Kalau saya tak peduli, saya tak akan menulis, mengajar, menemani kawan-kawan ke lapangan, memberikan nasihat dan pencerahan, menjawab banyak sekali pertanyaan dari penanya yang saya tak kenal, dan lain-lain.

Manusia adalah Homo socius, jangan menutup inderamu terhadap sekeliling...paling tidak untuk dirimu sendiri, tetap waspadalah sebab tak sedikit nyawa telah melayang oleh sebab terlalu asyik dengan gadget..Gadget itu sangat penting saat ini, tetapi bukan segalanya.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Senin, 18 April 2016

PADA SUATU HARI DI SADAHURIP, GARUT

Sebuah kampung terpencil bernama Sadahurip di Kabupaten Garut, Jawa Barat pada tahun 2011-2012 mendadak terkenal secara nasional. Sebuah bukit berbentuk limas atau seperti piramid di wilayah kampung itu menjadi penyebabnya.

Ada sekelompok organisasi masyarakat yang tidak tinggal di kampung itu, tetapi jauh di kota tiba-tiba mengklaim bahwa bukit itu bukan bukit volkanik, tetapi sebuah piramida ala Mesir yang sengaja dikubur masyarakat prasejarah. Isu ini pun dalam era media modern begini menggelinding dengan cepatnya kemana-mana dan isu semakin besar bak bola salju saja.

Lalu mulailah perdebatan-perdebatan yang pasti pro dan kontra atas isu itu terjadi, juga melibatkan para ahli, para peneliti. Isu ini pun senafas dengan Gunung Lalakon di Kabupaten Bandung dan Gunung Padang di Kabupaten Cianjur yang jauh lebih panas.

Seminar demi seminar pun digelar, meskipun sampai kini belum ada fakta terlihat nyata dengan mata semua orang ada apa di bawah Gunung Lalakon, Gunung Sadahurip dan Gunung Padang itu. Gunung Padang jelas adalah sebuah situs megalitik di atasnya, di dalam gunung inilah yang jadi perdebatannya. Di atas Gunung Sadahurip tak ada apa-apa selain sebuah lubang bekas galian yang sepertinya urung diteruskan, di kaki dan lerengnya adalah ladang tempat penduduk Sadahurip bertani dari zaman dahulu.

SADAHURIP GARUT

------------

Sebagai sebuah komunitas pecinta warisan geo-histori Nusantara, Geotrek Indonesia menangkap isu-isu ini dengan mendatangi langsung baik Gunung Padang maupun Gunung Sadahurip bersama para peserta yang berminat, mereka berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi. Kami mendatangi Sadahurip pada Januari 2012.

Tentang Sadahurip, Geotrek Indonesia tidak berpendapat apakah itu hanya bukit volkanik atau piramida, tetapi saya sebagai gurunya menunjukkan kepada para peserta bagaimana membedakan antara fakta, interpretasi, dan spekulasi di lapangan. Batuan-batuan volkanik jelas tersingkap, bekas galian batu skala besar jelas ada, pun bekas runtuhan tebing secara alamiah juga ada. Lalu saya menerangkan bagaimana interpretasinya, dan bagaimana bila orang lalu berspekulasi.

SADAHURIP GARUT

------------

Tetapi yang ingin saya ceritakan kali ini bukanlah tentang Sadahurip itu sendiri, tetapi tentang antusiasme masyarakat Kampung Sadahurip mengikuti "kuliah" saya di depan sebuah rumah di kampung mereka.
Setelah meminta izin menempel poster di dinding rumah, saya pun mulai berceramah menggunakan bahasa sederhana yang bisa dipahami setiap orang. Ceramah saya sebenarnya untuk para peserta Geotrek Sadahurip. Tetapi karena ini kuliah di tempat terbuka maka mulailah masyarakat pun berkumpul, semakin lama semakin banyak, dan akhirnya memenuhi jalan di depan rumah itu, lebih banyak dari para peserta geotrek sendiri.

Ada anak-anak, ada ibu-ibu yang sambil menggendong bayinya, ada bapak-bapak yang baru pulang membawa lalaban, dan banyak lagi. Saya pun mengantisipasi para peserta kuliah penduduk lokal ini dengan makin menyederhanakan bahasa saya, termasuk menggunakan bahasa Sunda ala Garut, kebetulan kakek saya lahir di Garut juga..he2...

Usai kuliah di depan rumah, lalu kami mendaki Gunung Sadahurip yang lintasannya pendek saja namun sangat terjal. Ternyata masyarakat Kampung Sadahurip, terutama anak-anaknya, masih mengikuti kami sampai ke puncaknya. "Pa, pangmawakeun ku abdi kertasna...", kata seorang anak menyapa saya menawarkan jasa baik membawakan poster-poster saya. Saya pun memberikannya.

SADAHURIP GARUT

"Bejana aya piramid di gunung ieu, ari piramid teh naon?", begitu antara lain yang saya dengar dari masyarakat Sadahurip peserta kuliah. Ya mereka harus tahu mengapa kampungnya yang semula tenang tiba-tiba didatangi banyak orang dari kota. Namun isu hanyalah isu, cepat datangnya cepat pula hilangnya....
Saya juga tak punya pendapat soal Sadahurip sebab saya belum melakukan penelitian detail pribadi atasnya, saya hanya mengajarkan kepada para peserta bagaimana di lapangan membedakan fakta, interpretasi, dan spekulasi.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Rabu, 23 Maret 2016

Jamaah Salat Jum'at di Masjid Dhahran

Masjid Dhahran adalah nama sebutan untuk "masjid jami'" di kampusku. Sepertinya ada puluhan masjid di area kampus ini. Itu belum termasuk mushala-mushala kecil yang hampir ada di setiap gedung di kampus. Masjid Jami' adalah sebutan untuk "masjid raya" tempat untuk berkumpulnya salat-salat tertentu seperti salat Jum'at, salat Idul Fitri & salat Idul Adha. Meskipun banyak masjid, hanya di Masjid Dhahran ini untuk Jumatan.

Karena penduduk kampus dari berbagai suku-bangsa, negara, dan mazhab Islam, maka kebayang kan bagaimana warna-warninya para peserta Jumatan: pakaiannya, tata-cara salatnya. Dari segi busana misalnya, ada yang memakai jubah Saudi, jubah Sudan, gamis Pakistan (shalwar kameez), sarong Yaman, jeans, baju, kaos, training, bahkan celana pendek atau kolor yang hanya menutup lutut. Memang sih "aurat" laki-laki cuma sampai lutut jadi secara teori, salat tidak masalah asal lutut tertutup. Penutup kepalanya juga beraneka ragam. 

Karena kaum Muslim di kampus berasal dari berbagai mazhab dalam Islam, tata-cara salatnya pun warna-warni: takbirnya, sedakepnya, rukuknya, takhiyatnya, duduknya, gerakan kepalanya, bahkan cara ngacung jari telunjuk juga berlainan (ada yang diam-lurus, ada yang utak-utik, ada yang mlungker dlsb).
Meskipun berbeda-beda tetapi rukun tidak saling mengklaim kebenaran tafsir dan "kemurnian" pakaian dan tata-cara salat. Masuk masjid sama-sama, keluar masjid pun sama-sama uyel-uyelan. Indahnya sebuah kebersamaan dan saling pengertian, bukan? Kita boleh saja meyakini "tafsir agama" kita setengah mati tetapi jangan paksakan tafsir kita itu kepada orang lain. Banyak orang sebetulnya mempraktekkan dan membela mati-matian sebuah "tafsir agama", bukan agama itu sendiri, tafsir tentang Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.

Sumanto Al Qurtuby
[Catatan; ini "postingan perdana" setelah FB-ku koma sekian lama diserbu oleh para "zealot agama"]

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Minggu, 13 Maret 2016

HIJAB TIMUR TENGAH

Melanjutkan postingan saya sebelumnya. Sudah saya jelaskan bahwa tradisi pemakaian hijab bukanlah bermula dari Islam. Pula, bukan dimulai dari "saudara tua" islam, yakni "kakak kesatu" Yahudi maupun "kakak kedua" Kristen. Praktek berhijab ini sudah ada dalam kebudayaan manusia jauh sebelum "agama-agama Semit" ini lahir di dunia.

Sejarah mencatat setidaknya sejak tahun 2,500 SM sudah ditemukan tradisi hijab ini, misalnya saja dalam kebudayaan Mesopotamia kuno atau Assyria dimana sang rezim sudah membuat peraturan atau undang-undang tata-cara berbusana bagi perempuan. Disitu jelas disebutkan bahwa hijab adalah sebagai mekanisme pembeda antara "perempuan elit" dengan "perempuan rendahan", antara "perempuan terhormat" dengan "perempuan kurang terhormat". Para budak perempuan, pekerja rendahan, dan perempuan tak berkasta dilarang memakai hijab. Bahkan dikenai hukuman berat jika ketahuan memakainya. Hanya perempuan dari "kelas elit" yang boleh mengenakan hijab. 

Hijab

Tradisi Mesopotamia (kini Irak) ini kemudian diteruskan oleh berbagai imperium kuno: Mesir, Yunani, Persia, Byzantium, Romawi yang sama-sama memandang pemakaian hijab itu sebagai "simbol kehormatan", prestise, dan "high status". Agama-agama Semit (Yahudi, Kristen, dan Islam) di Timur Tengah lahir dalam pengaruh peradaban2 besar ini, dan oleh karena itu tidak mengherankan jika ketiga agama "warisan" Ibrahim atau Abraham ini mengadopsi tradisi hijab. Berhijab bagi perempuan (seperti disebutkan dalam kitab-kitab suci mereka) adalah lambang kesederhanaan dan kepantasan. Karena itu tidak heran jika kelompok perempuan Yahudi dan Kristen awal (sebagian berlanjut sampai sekarang) mengenakan hijab. Bahkan tidak hanya berhijab, perempuan Yahudi awal juga memakai niqab.

Sejarah juga menunjukkan, tradisi perempuan Arab tidak berhijab apalagi berniqab & berburqa. Emperium Byzantium-lah yang memperkenalkan tradisi hijab ini ke kawasan Arab. Pada waktu Islam lahir, dunia Arab dan Timur Tengah memang dikepung oleh emperium ini, sehingga masyarakat Kristen dan Yahudi mendominasi kawasan ini. Jadi, sangat "unyu" jika mendapatkan masyarakat Yahudi dan Kristen kontemporer yang anti-hijab sama "unyunya" dengan sejumlah kaum Muslim yang mengklaim hijab sebagai "properti Islam" saja.

Penulis: Sumanto Al Qutuby
Read more ...

Senin, 07 Maret 2016

TULISAN ARAB

Sejak beberapa Minggu lalu, saya perhatikan di setiap toilet di kampus, King Fahd University, khususnya di fakultasku, ada sebuah "pengumuman" bertuliskan dengan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang berisi tentang himbauan untuk tidak membuang tisu/sampah di toilet, menyiram / meng-flush toilet setelah buang air, dan membersihkan tempat duduk / kloset setelah memakainya. Karena tertarik saya foto saja: jepret...

Maaf ya "man-teman" Muslim di Indonesia, hadirin & hadirat jama'ah fesbukiah yang budiman, jangan buru2 marah, erosi eh emosi, ngamuk, dan menghujat orang2 Saudi sebagai orang2 yang melecehkan Al-Qur'an. Ini Bahasa Arab lo, bukan Al-Qur'an. Kalian tahu kan bedanya antara Bahasa Arab & Al-Qur'an? Pengumuman ini juga tidak ada sangkut-pautnya dengan pelecehan terhadap agama Islam lo, apalagi terhadap Allah SWT. Masak orang Saudi kok melecehkan Al-Qur'an, Islam, dan Allah SWT?

Tulisan Arab

Eh tahu gak kalian, kalau Bahasa Arab itu juga ditulis di gereja-gereja Kristen & sinagok Yahudi di kawasan Arab dan dipakai dalam setiap khotbah Minggu di gereja. Bahasa Arab, selain Bahasa Aram di Suriah, juga digunakan untuk menulis Injil lo. Orang Arab Kristen ya, Kitab Injil-nya pakai Bahasa Arab, masak pakai Bahasa Jawa sih. "Arab-Jawa" kali he he. Jadi intinya, Bahasa Arab itu beda dengan Al-Qur'an ya, bukan pula "bahasa Islam", apalagi "bahasa Islami" makin gak nyambung lagi tuh. Bahasa itu dimana-mana sama derajatnya, tidak ada "bahasa superior" dan "bahasa inferior", karena semua itu bagian dari "kreativitas" dan budaya manusia yang aduhai ini. Paham kan?

Note: tentang lanjutan "kuliah viirtual" tata-busana besuk aja ya?

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Sabtu, 13 Februari 2016

JIWA SOSIAL DI HARI VALENTINE

Tidak sedikit kepala daerah di Indonesia yang mengeluarkan surat edaran melarang anak-anak di daerahnya merayakan Valentine. Tapi rupanya larangan itu tidak menyurutkan anak muda, untuk mengembangkan jiwa sosialnya.

Ini kisah menarik, tentang anak-anak muda dengan kepekaan sosial tnggi. Menyambut Valentine, beberapa anak muda punya ide unik. Mereka beramai-ramai mengumpulkan sumbangan. Setelah terkumpul, sebagian dana sumbangan dibelikan cokelat. Lalu dibagikan kepada cewek-cewek yang masih jomblo. "Biar mereka ikut merasakan kebahagiaan Valentine," begitu alasan anak-anak muda tersebut.
Sebuah empati yang luar biasa, bukan?

Bukan hanya cokelat. Sebagian dana yang masih tersisa dibagikan dalam bentuk uang. Ini dikhususkan buat lelaki jomblo. Diharapkan dengan bantuan tersebut, para lelaki memiliki keberanian untuk mengajak makan malam gebetannya. Sayangnya anak-anak itu tidak menjelaskan, apakah gebetan yang diajak makan malam harus perempuan?

"Kalaupun mereka gak punya gebetan, uang tersebut dapat digunakan untuk beli pulsa. Jadi mereka bisa mulai berusaha cari gebetan."

Say No To Valentine

Anak-anak muda itu memang punya jiwa sosial tinggi. Mereka sangat peka pada perasaan para jomblo. Mereka tidak merayakan Valentine dengan cara-cara seperti yang dituduhkan orang : segala seks bebaslah. Di tangan mereka, Valentine juga bisa dijadikan ajang berbagi, kepada mereka yang berhak menerimanya.
Minimal, sebagai ajang refleksi untuk merasakan penderitan para jomblo.

Mereka memang anak-anak muda yang berjiwa mulia... ‪#‎seputarvalentine‬

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Senin, 08 Februari 2016

ANTICLOKWISE

Sambil berjalan kaki atau jogging memutari Lapangan Sempur Bogor di tepi Sungai Ciliwung tadi pagi, ada yang saya pikirkan. Yaitu, mengapa orang berjalan kaki, jogging, atau lomba lari selalu berputar di lapangan melawan arah jarum jam (anticlockwise)? Semua orang yang berolah raga di lapangan tadi pagi juga begitu.

Lalu selintasan pikiran datang, dari sejak saya anak-anak berolah raga dengan sekolah atau sendirian di beberapa lapangan di Bandung juga selalu begitu. Lalu saya juga ingat bahwa orang-orang Muslim saat melakukan thawaf (memutari Ka'bah) juga begitu. Mengapa? Sampai saya pulang dari lapangan tadi saya tak memperoleh jawaban yang rasanya memuaskan.

Di rumah akhirnya saya mendapatkan jawaban yang mungkin memuaskan meskipun harus diuji kebenarannya. Konon karena pada kebanyakan orang kaki kanannya sedikit lebih panjang daripada kaki kirinya. Sehingga, sisi kanan badan bila berjalan atau berlari akan membutuhkan lintasan yang lebih panjang daripada sisi kirinya. Nah ini hanya dipenuhi bila kita berlari memutar lapangan melawan arah jarum jam sebab kaki kanan ada di sisi lintasan luar (lebih panjang). Bila kita berlari searah jarum jam, maka kaki kanan ada di lintasan dalam (lebih pendek), ini akan membuat kesetimbangan tubuh terganggu. Selain itu tidak nyaman juga berlari menentang arus begitu, bahkan mungkin mengganggu pejalan atau pe-jogging lain.

Anticlockwise
Mengapa kaki kanan lebih panjang daripada kaki kiri, ya itu karena kita lebih sering saja menggunakan kaki kanan sehingga pertumbuhannya lebih banyak daripada kaki kiri, seperti tangan kanan yang cenderung lebih besar daripada tangan kiri. Mengapa orang cenderung menggunakan sisi kanan badannya daripada sisi kirinya, konon karena sel-sel dalam tubuh kita didominasi asam amino "spin kiri" -yang memutar berlawanan dengan arah jarum jam dan spin - putaran itu memberikan sisi kanan tubuh sebagai prioritas.

Demikian, kapan-kapan kalau Anda ke lapangan coba amati bahwa hampir semua orang berjalan dan berlari memutar lapangan melawan arah jarum jam.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Kamis, 07 Januari 2016

MORNING'S CHAOS

Suatu peraturan mungkin baik, tetapi itu belum tentu cocok dengan situasi dan kondisi yang ada.

Sekitar dua pertiga penumpang KRL dari Bogor, Bekasi, Tangerang turun di Stasiun Sudirman. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya dominan menggunakan metromini, kopaja, atau bus kota ke berbagai tujuan akhir tempat bekerja mereka. Saya pun begitu.

Dari gerbang stasiun ke halte terdekat berjarak sekitar 150 meter. Ada jalan trotoar dari stasiun ke halte, yang diberi pagar dan bak-bak tanaman agar orang tak masuk ke jalan. Dekat jarak ke halte itu, tetapi bayangkan bila ratusan- seribu orang berjalan di situ, saya hitung ada 10 menit sendiri waktu terbuang. Lalu sampai di halte, bayangkan penumpukan yang terjadi. Lalu ketika metromini, kopaja, bus kota datang, yang selanjutnya terjadi adalah perebutan antar penumpang untuk naik ke angkutan. Makin lama angkutan datang, makin menumpuk. Bahaya pun mengintip di mana-mana, yaitu penumpang yang berebut angkutan terjatuh. Copet mendapatkan tempat 'basah'.

Morning's Chaos
Dalam sekitar tiga tahun ini telah berkali-kali pagar trotoar itu dirusak entah oleh siapa, tetapi yang jelas itu memudahkan para penumpang untuk segera mendapatkan angkutan yang juga tidak berhenti di halte demi melihat banyak penumpang menunggunya. Lalu pagar dibaiki lagi oleh Pemkot dan dijaga aparat/ petugas. Tetapi selalu ada yang melompati pagar, dan selalu ada yang ditegur, dan selalu ada perang mulut setiap pagi antara aparat dan calon penumpang angkot, juga sopir angkot. Juga selalu ada angkutan2 yang digebuki aparat karena tidak berhenti di halte, atau diambil surat-surat mobilnya. Inilah morning's chaos...

Saya mengamati semuanya, juga mengikuti trend massa, termasuk lompat pagar (meskipun saya harus memperhitungkan dulu sebab kuatir nyangkut di pagar, maklum badan saya besar dan suka dengan besi - kebiasaan angkat besi sih, he2...).

Bila keributan dan chaos terjadi setiap pagi mestinya peraturan ditinjau lagi. Betapa mudah solusinya sebenarnya. Buka semua pagar trotoar, biarkan metromini, kopaja, bus kota berhenti tak jauh dari gerbang stasiun, ini area yang lapang kok, tak mengganggu laju lalin di Jl. Sudirman. Justru penumpukan penumpang yang akhirnya menghambat laju lalin itu. Bila itu dilakukan pasti tak akan ada morning's chaos seperti itu. Para petugas keamanan pun yang jumlahnya tak sedikit itu tak perlu berjaga-jaga setiap pagi dan ribut dengan penumpang atau sopir angkot.

Yang membuat peraturan seringnya bukan yang kena peraturan, di situ masalahnya, dan mereka tidak belajar dari kenyataan.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Minggu, 03 Januari 2016

TERIMAKASIH PARA DERMAWAN


Siapakah orang yang paling dermawan di malam tahun baru? Merekalah para pembeli petasan dan kembang api. Mereka membayar mahal, lalu membakarnya, dan siapa saja boleh ikut menikmati cahaya dan suara ledakannya.

Seandainya mereka pelit, mungkin mereka akan membakar petasan dan kembang api di dalam kamar. Lalu menikmati suara ledakannya sendirian. Tidak rela berbagi dengan orang lain.
Atau ketika membakar petasan, mereka akan menghardik orang yang tidak menutup telinga. "Kalau mau dengar suara petasan, beli sendiri dong! Jangan maunya gratisan terus."



Untung saja dunia ini dipenuhi oleh orang-orang dermawan. Hingga malam pergantian tahun selalu riuh dan indah.

Terimakasih wahai para dermawan. Hepi nyu yir...

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Jumat, 25 Desember 2015

MEREKA YG SELESAI DGN DIRINYA

Dalam peristiwa Freeport ini, ada satu momen menarik yg banyak terlewatkan karena kericuhannya.
Momen itu adalah pernyataan pak Luhut Panjaitan, Menkopolhukam. Ia berkata, "Saya sudah minta izin kepada istri saya utk menjadi menteri. Saya berjanji tidak akan melacurkan diri. Saya sudah selesai dengan diri saya. Tidak ada lagi kepentingan.."
Sebenarnya, apa yang dimaksud pak Luhut bahwa ia sudah selesai dengan dirinya ?
Yang harus kita paham, bahwa kita sebagai manusia selalu terbungkus oleh nafsu. Nafsu ini adalah binatang liar di dalam diri yang tidak mudah ditundukkan. Orientasi manusia selalu berbeda sehingga model nafsunya pun berbeda.


Luhut Panjaitan

Ada yg nafsu terhadap harta sehingga terus menerus mengumpulkan harta dalam hidupnya. Ada yg terkungkung nafsu thd lawan jenisnya, sehingga selalu berfikir bagaimana bs menaklukkan mereka. Bahkan ada yg menggunakan nafsu dalam ilmunya, sehingga ia terus menerus berdebat dan mencari lawan dalam setiap langkahnya.

Pergulatan manusia dalam memerangi nafsunya adalah peperangan terbesar sepanjang zaman. Ada yang menang, tetapi lebih banyak lagi yang kalah. Ketika mereka kalah, nafsu akan menguasai dirinya sehingga secara tidak sadar ia sudah kehilangan dirinya sendiri. Ketika nafsu sudah membungkus penuh manusia, manusia bisa menjadi hewan berkaki dua. Mungkin itu jg salah satu maksud Tuhan menciptakan hewan, menunjukkan bagaimana jika seorang manusia sudah kehilangan hartanya yg paling berharga yaitu akal.
Orang yang sudah selesai dengan dirinya, menunjukkan bahwa ia sudah muak dgn apa yg selalu dikejarnya, dibanggakannya. Ia sudah tidak lagi mencari ukuran dari pandangan manusia lain. Ia lebih cenderung mencari sisi spiritualnya yg sudah lama hilang.

Dalam kasus Luhut Panjaitan, harta sudah bukan lagi menjadi ukurannya karena orientasi beliau memang kesana. Ia sudah mempunyai perusahaan2 besar dgn asset ratusan miliaran rupiah. Ia sudah sangat terbiasa dgn semua itu dan sudah mencapai titik jenuhnya. Ia ingin mencari sesuatu yang lain, mencari dirinya sendiri yg sudah lama hilang. Dan pada tahapan seperti ini, orang condong melakukan kegiatan sosial.
Kegiatan sosialnya BIll Gates adalah mendirikan badan amal utk kanker. Sedangkan Warren Buffet lebih senang jalan bersama cucunya. Anton Medan sudah muak dgn dunia hitamnya, sehingga kini ia merasa punya kewajiban utk berbicara kpd anak muda spy jangan terjerumus ke tempat yg sama. Mereka sudah selesai dengan dirinya dan sedang mencari kegunaannya kepada manusia lain.

Apakah berarti pemuka agama adalah orang yg sudah selesai dgn dirinya ? Belum tentu, karena lebih banyak pemuka agama yang kuat di ritual tetapi miskin di spiritual. Mereka2 ini silau dgn gemerlapnya dunia, dan selalu membungkus dirinya dgn ayat, dgn firman, bukan untuk menghadirkan Tuhan dalam dirinya tetapi utk dimanfaatkan dalam mencari dunia. Dan Tuhan selalu menguji mereka unttuk menunjukkan kepada manusia lain yg berfikir dan bisa mengambil pelajaran darinya.

Biasanya mereka yg sudah selesai dgn dirinya, sudah banyak meninggalkan sisi kemateriannya. Nafsunya sudah meninggalkan dirinya karena ia sudah sangat kenyang akan pengalaman. Ia ingin membuat dirinya menjadi lebih berarti bagi manusia lain, bukan utk dirinya lagi. Jika mereka tidak ada di tempat2 sepi, mereka selalu terlibat dalam kegiatan sosial.
Apa yg saya cari lagi di dunia ini ? Semua sudah saya rasakan. Dan saya bahkan tidak menemukan apa2 di dalamnya. Lalu, apa yg selalu saya kejar selama ini jika jiwaku tetap saja kosong ? Begitulah kira2 pertanyaan2 dalam benaknya yang menariknya kebawah, ke dasar bumi, setelah selama ini ia berada di awan.

Hanya memang lebih banyak manusia yg tidak pernah puas dalam hidupnya. Ia selalu haus akan materi. Haus akan sanjungan. Dan memang Tuhan sudah mencabut nikmat akalnya, sehingga ia berjalan spt orang buta, kehilangan dirinya. Sudah tidak punya rasa malu meski ia ditelanjangi begitu rupa karena ia selalu mencari pembenaran dalam semua aksinya.

Sudah dikasi kekayaan begitu banyak, masih saja mencari kekayaan lebih dengan cita2 memiliki jet pribadi. Nanti sdh dapat jet pribadi, ingin punya pulau pribadi. Bahkan kalau bisa, ia akan memesan kamar VVIP di surga dan mengatur Tuhan seakan2 ia punya saham disana.

Luhut Panjaitan dan Fadli Zon
Mungkin ketika matinya, penghuni kubur akan ribut karena ada Papa Minta Surga.

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Senin, 23 November 2015

PEMUDA & POLITIK

Selama 15 tahun Lebanon pecah perang saudara, yang dilatar belakangi agama.

4 tahun Suriah berantakan karena isu agama. Libya sampai sekarang hancur menjadi negara gagal tempat bersarangnya teroris berbaju gamis sesudah pemersatu mereka, Muammar Qaddafi di kudeta. Irak setiap minggu terjadi minimal satu kali bom bunuh diri di pusat keramaian dan tempat ibadah yang menewaskan banyak orang.

Belajar dari situasi mereka, saya menjadi paham bahwa keragaman itu sangat mahal harganya. Mereka dulu awalnya seperti kita, persis seperti kita sekarang.

Politik Timur Tengah

Duduk minum kopi setiap sore sambil ngobrol politik adalah kebiasaan orang2 timur tengah. Kehidupan mereka sangat biasa, layaknya kehidupan normal. Tidak ada yang mengira bahwa semua itu berubah 180 derajat.

Awalnya isu2 biasa yang dihembuskan. Kemudian terbentuk ormas2 militan. Lama2 semakin meluas dan meruncing ke arah sektarian. Dan kemudian masuklah orang2 asing yg bergabung bersama orang lokal untuk membangun keributan. Jangan salah, orang2 asing ini berbaju sama dgn yg lokal bahkan beragama sama. Mereka membaurkan diri ditengah2.

Titik2 api biasanya dimulai di perbatasan2 ( ingatkan dimana posisi Tolikara dan Singkil ? ). Ketika disana rusuh, maka terbukalah pintu perbatasan untuk masuknya para jihadis2 dari banyak negara. Mereka bukan tentara. Mereka sipil yang militan.

Sesudah chaos, pemerintahan goyang bahkan sampai jatuh, masuklah si polisi dunia dengan kendaraan NATO-nya. NATO ini kendaraan perang bagi koalisi negara yg punya kepentingan. Mereka masuk ke medan perang, seolah2 sebagai dewa penengah tapi sesungguhnya mereka membantu meluaskan wilayah perang. Mereka memasok amunisi dan senjata yg diterjunkan dr pesawat2 kepada para militan.

Para militan ini memang seperti pembuka jalan utk NATO. Dan ini sudah diakui langsung oleh Hillary Clinton, bahwa merekalah yang mendanai militan berbaju islam dgn paham wahabi itu. Awalnya AS ikut campur di afghanistan dgn membiayai mujahidin disana untuk memerangi Uni Sovyet.

Sesudah mujahidin menang dgn persenjataan yg dipasok mereka, AS akhirnya memanfaatkan mereka untuk meluaskan skalanya ke timur tengah dgn membentuk organisasi2 radikal spt alqaeda dan sekarang ISIS. Mereka berkoalisi dgn Saudi dan Qatar untuk ini. Ulama2 wahabi di negara itu dibayar untuk memfatwakan jihad dan surga kepada para militan. Fatwa mereka menyerang pimpinan negara yang dituju, entah dia akhirnya dituding syiah kafir seperti Bashar assad maupun sunni kafir spt Qaddafi.

Polanya sama dgn yang ada di Indonesia, meski modelnya disesuaikan dengan situasi di masing2 negara.

Apa yang tidak terjadi disini sekarang ? Ormas militan, mengkafir2kan ulama besar, isu syiah, gesekan dgn kristen, parade tauhid sbg unjuk kekuatan, pembentukan jaringan aliansi nasional anti syiah di seluruh Jawa dan banyak lagi yang seharusnya membuat mata kita terbuka situasi ini nanti akan mengerucut kemana.

Sedangkan aparat juga tidak bisa sembarangan menangkapi mereka jika perangkat hukumnya belum kuat. Salah langkah, akibatnya akan menguntungkan para radikal. Situasinya sdh beda dgn era Soeharto dimana pada waktu itu belum ada media sosial yang menghubungkan seluruh dunia dalam satu layar. Bisa2 pelarangan dan penangkapan para radikal tanpa alasan yang kuat seperti perusakan, menjadi ajang propaganda mereka karena dizolimi pemerintah. Mereka akan menyalakan semangat jihad kemana2 bahwa aparat bertindak otoriter. Bisa seperti Mesir negara kita berbulan2 dilanda kerusuhan.

Politik Timur Tengah

Membuka wawasan terhadap situasi yg berkembang di timur tengah dan mengamati persamaan polanya adalah bagian dari meningkatkan kewaspadaan. Sekarang ini kita masih pada tahap perang pemikiran di media sosial, tapi nanti ujungnya akan masuk pada perang fisik. Apalagi melihat pemerintah sudah mulai mengutik Freeport dan masalah royaltinya juga kontrak perpanjangannya yang menyalahi perjanjian. Apa AS akan diam saja ? Bukan begitu sifat asli mereka..

Momen sumpah pemuda ini seharusnya membuka kesadaran, terutama kepada para pemuda apapun latar belakangnya, bahwa wawasan politik sangat penting terutama pada situasi sekarang. Memahami akar masalah sudah menjadi keharusan. Memperingatkan potensi bahayanya kepada sekitar adalah kewajiban. Setidak2nya itulah senjata pemuda yang berpikiran cerdas dan berwawasan luas sekarang ini.

Jangan jadi pemuda alay, yang rambutnya disisir ke-korea2an, meski wajahnya hidung semua. Gerak geriknya kayak anak boyband, yang kalau liat celana warna terang trus girang dan kakinya menendang2 ke tanah kayak kambing kepanasan. Kalau ditanya situasi politik sekarang jawabannya terbata2 dan langsung mengalihkan topik salon mana yang menarik. Rambut di-cat pirang meski kulitnya hitam gelam. Kalau bicara , "cyiiinnn.. " Can cin can cin.. Muke lu kayak mocin...

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Indonesia

Air Hidup

Advertise Here

Designed By VungTauZ.Com