Breaking News

Islam

Politik

Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 November 2017

PESAN TERPENTING


Terlampir adalah pesan-pesan untuk saya yang dikirimkan kedua anak saya melalui line pada hari saya berulang tahun -kemarin. Ini adalah pesan-pesan terpenting bagi saya.
Mereka tahu ayahnya banyak berkarya bagi geologi Indonesia, mereka tahu passion ayahnya, tetapi mereka juga tahu kesulitan-kesulitan yang dihadapi ayahnya baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.


Maka anak yang besar tetap menyemangati ayahnya agar tak putus berkarya bagi Indonesia meskipun fisik menua dan umur pensiun mendekat. Dan adiknya mengingatkan ayahnya untuk tetap berusaha bahagia meskipun banyak kesulitan yang dihadapi.

---


Ya Hans dan Io, ayahmu akan tetap berkarya bagi geologi Indonesia, sekalipun fisik menua - hanya kehilangan semangat yang mengeringkan tulang, menuakan orang itu. Dan ayahmu akan tetap berkarya sekalipun kesulitan-kesulitan berjalan bersamanya. Cinta ayahmu akan terbukti justru pada saat kesulitan, bukan pada saat kemudahan. Semua orang akan mencintai pada saat ia senang dan mudah, belum tentu begitu bila pada saat sedih dan sulit.

Dari ayahmu lebih muda dari kalian sekarang ia telah membangun dirinya oleh kesulitan demi kesulitan. Dan ia memasukkan "dua gen" ini ke dalam dirinya:

1. Doloris sopitam recreant vulnera viva animam -luka yang hebat dari duka derita membangunkan kemampuan jiwa yang layap-layap tertidur
2. Lebih baik menyusul dengan diam-diam daripada membuang waktu dengan iri hati kepada orang yang berjalan di depan.

Kedua "gen" itu yang menemani ayahmu selama ini. Kedua "gen" ini tak bisa ayahmu turunkan kepada kalian meskipun kalian anak-anaknya, sebab ini masalah mental. Tetapi kalian bisa tanamkan ke dalam diri kalian melalui usaha dan pengingatan akan ayahmu -teladan dari ayahmu, sebagaimana ayahmu ini selalu mengingat teladan kerja keras dan kesederhanaan dari kakekmu (alm).
Terima kasih anak-anakku, pesan-pesan terpenting buat ayahmu.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Sabtu, 13 Mei 2017

MAHASISWA


Setiap mahasiswa dari ilmu tertentu mempunyai karakternya masing-masing yang mau tak mau dipengaruhi ilmu dan gaya kuliahnya itu.
---
Mahasiswa kedokteran, seperti anak-anak saya, mereka harus tepat waktu datang kuliah, terlambat lebih dari tiga kali tak boleh ikut ujian. Mereka harus berpakaian rapih, formal, tak boleh kasual - tak ada jeans, tak ada polo shirt berkerah pun, yang laki-laki harus bercelana panjang kain bukan bahan jeans, baju kemeja. Rambut tentu harus rapih. Aturan-aturan ini demi membuat mereka terbiasa agar kelak bisa menjadi dokter dengan sikap yang baik. Dokter yang terlambat datang dan jorok, bisa saja menyebabkan nyawa orang lain melayang.
Dan mereka adalah jenis mahasiswa yang paling tak tahu gosip kampus sebab mereka hampir tak punya waktu untuk santai apalagi bergosip, selain belajar, belajar, belajar, laboratorium, klinik dan rumah sakit. Keriaan masa muda hilang, ucap orang-orang. Anak-anak saya bila berlibur pulang ke Bogor, di ransel-ranselnya tak pernah absen buku-buku teks kedokteran, dan mereka juga belajar setiap hari saat liburan. Pada awal kuliah mereka bahkan suka membawa steteskop di ranselnya.
---
Mahasiswa geologi, yang saya lihat tadi pagi di depan stasiun Bogor punya gaya lain lagi. Mereka didominasi laki-laki meskipun perempuannya kini semakin banyak dalam proporsi.
Mereka menggunakan jaket kampus yang menyolok warnanya, kebanyakan kuning, orange, atau merah. Jaket lapangan - warna ngejreng begitu agar bila mereka tengah di lapangan lebih mudah dikenali atau dicari bila mereka hilang. Hilang? Ya...mereka bisa tersesat di lapangan atau kena musibah di lapangan.
Tadi anak-anak mahasiswa berjaket lapangan warna merah ini memenuhi lima angkot jurusan Bubulak. Mungkin mereka mau pergi ke Gunung Cibodas, Ciampea - singkapan batugamping Miosen terkenal di sebelah barat-baratlaut Bogor. Ransel-ransel mereka besar-besar, mungkin mereka mau melakukan field camp beberapa hari. "Geologi Universitas Indonesia", saya baca di belakang jaketnya.
Ransel dan gulungan peta memenuhi bagian belakang setiap angkot. Tadi saat saya datang di stasiun, beberapa anak mahasiswa ini duduk-duduk di badan jalan membuka bekalnya, sarapan. Cuek saja, yang penting sarapan agar perjalanan terasa nyaman.
Sewa angkot rame-rame saja, yang penting tiba di lokasi, kalau ada truk tentara ya ikut truk tentara. Begitulah mereka. Bila ada yang terlalu ribet dengan urusan angkutan, makanan, akomodasi, pakaian - mereka akan dijuluki geolog salon. Juga bagi mereka yang di lapangan sedikit-sedikit mengenakan krem anti sinar Matahari di mukanya.
---
Begitulah, mahasiswa kedokteran dan geologi.
Mahasiswa kedokteran hampir selalu bisa dikenal dari penampilan dan gerak tubuhnya - cenderung hospital/medical lab.-looking, membawa steteskop.
Mahasiswa geologi juga bisa dibaca dari penampilannya dan gerak tubuhnya - cenderung field-looking, bahkan mereka membawa palu.
---


Saya pernah mengalami keduanya pada tahun 1983-1989: menjadi mahasiswa kedokteran (lalu drop out karena biaya) dan mahasiswa geologi.
Maka dalam diri saya berkumpul dua karakter itu: banyak membaca, analitis, diagnosis ala mahasiswa kedokteran dan bersahaja, apa adanya, kekuatan berjalan ala mahasiswa geologi.
Itu semasa mahasiswa. Kini, setelah 28 tahun menjadi seorang geolog Indonesia yang aktif berkiprah dalam profesi dan ilmunya, saya tahu bahwa mahasiswa apa pun harus rajin membaca, bersahaja, siap dalam segala medan, dan berusaha terus untuk sehat.
Anak-anak mahasiswa, isilah masa mudamu dengan kegiatan berguna, kelak kalian akan merasakan gunanya. Saya telah melalui keduanya. Masa kini kita dibentuk oleh masa lalu kita. Masa kini kita membentuk masa depan kita.
The past, the present, the future -semuanya saling berhubungan, yang satu mempengaruhi yang lain. Be wise with your time today, students!***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Kamis, 11 Mei 2017

SEKALI LAGI, JAGA ANAK-ANAKMU!


Kemarin seorang teman, pengajar di sebuah kota kecil daerah Jawa Timur, memberi informasi. Sekolahnya mendapat sebuah proposal dari HTI, yang mengajak bekerjasama untuk mengiisi acara Ramadhan. Tentu saja dalam proosal itu, disebutkan untuk dakwah.
Pimpinan sekolah, yang mungkin kurang informasi, tadinya berniat menyetujui kerjasama itu. Ini ada organisasi dakwah, mau ngajar murid dengan gratis. Menambah keimnanan saat Ramadhan. Mungkin begitu fikirnya.


Untung saja teman itu cepat memberi masukan kepada pimpinan di sekolah itu. Dia menjelaskan mahluk jenis apa HTI. Bagaimana organisasi politik transnasional yang dibungkus dakwah ini meracuni anak-anak muslim. Tujuan HTI mendirikan pemerintahan khilafah dunia, otomatis juga menghapus Indonesia. "Kita tidak mau anak-anak diajarkan bagaimana merusak bangsanya sendiri, kan, pak?" Akhirnya mereka sepakat membatalkan proposal itu.

Apakah itu cuma satu-satunya proposal HTI yang masuk ke sekolah? Saya tidak tahu. Tapi, inilah gerakan politik transasional yang berselubung dakwah. Mereka mensasar segala lini. Anak-anak kita yang polos, yang kemarin menyanyikan lagu 'Halo-Halo Bandung' dengan teriakan lantang, mungkin besok hari akan berfikir, bagaimana menjadikan Bandung lautan api sekali lagi. Bagaimana meluluhlantakan bangsanya sendiri.

HTI bukan saja menelusup ke sekolah, juga makin lantang memasuki Kampus. Mahasiswa yang puber agama dicekokin mimpi khilafah, dibetot kembali ke abad pertengahan. PNS, pegawai BUMN dan rakyat kebanyakan juga dimasuki. Bahkan pengalaman di Pakistan HTI menelusup ke tubuh militer.
Sebetulnya HTI bukan organisasi dakwah. Dia organisasi politik yang menjadikan Islam sebagai kendaraan. Tujuannya membangun khilafah dunia. Masalahnya ada berbagai organisasi ekstrim yang juga mengusung khilafah. Cuma khilafahnya gak sama dengan HTI.

ISIS punya Abu Bakar Al Baghdadhi, Al Qaedah dulu punya Osama bin Laden. Taliban lain lagi. Jadi kalau pun mereka berhasil menguasai Indonesia, pasti akan bertempur dengan organisasi lainberebut kursi khilafah. Ini terjadi di Syuriah dan Irak. Mereka saling menggigit satu sama lain.

Jadi, ide khilafah saat ini memang tidak bakal ada ujungnya. Sampai kehancuran bangsa Indonesia. Anak-anak yang disusupi ide konyol ini akan punya semangat berperang untuk menghancurkan. Bukan untuk meneggakkan sesuatu. Itu sudah terjadi di Suriah atau Afganistan.

Saya pernah bertemu dengan mantan simpatisan HTI di Depok. Alhamdulillah, dia sadar bahwa doktrin HTI itu sebenarnya konyol. "Masa semua persoalan selesai dengan khilafah. Lha, khilafahnya belum tahu seperti apa bentuknya," kisahnya di suatu siang.

Apalagi karena dilihat cukup sukses secara ekonomi, dia merasa dikerjar-kejar dengan kewajiban infaq organisasi yang katanya untuk perjuangan. "Ngejarnya kayak orang nagih utang," ujarnya singkat.
Di Indonesia memang sedang marak politik yang dibungkus jargon agama. Mereka ingin mendapatkan kekuasaan dengan menjual ayat-ayat Tuhan. Sialnya, seolah mereka paling suci sendiri. Berani mengkafirkan, berani menuding sesat, berani bilang Indonesia negara toghout (setan).

Politik atas nama agama ini yang membuat anak-anak Suriah mati kelaparan. Yang membuat perempuan Yazidi diperdagangkan bak keledai, digunakan sebagai budak seks, diperkosa beramai-ramai sebelum ditebas kepalanya.

Lalu mereka mau susupi ideologi penghancur ini ke sekolah-sekolah kita? Mau membuat anak-anak kita yang manis berubah jadi algojo yang tumbuh tanpa nilai kemanusiaan? Mereka mau menjadikan umat Islam seperti zombie --tanpa rasa, kasar, intoleran dan tanpa keadilan.

Lagipula sampai sekarang belum ada contoh negara sukses menerapkan khilafah. Yang ada malah hancur-hancuran. Enak aja ngajarin anak-anak kita pepesan kosong seperti ini. "Buat anak kok, coba-coba. Emangnya minyak telon?"

Kalau gitu giliran saya mau nanya : khilafahmu itu kalau makan bubur ayam diaduk apa gak? Kalau kamu belum bisa menjawab, jangan ngomong soal konsep khilafah dulu, deh...

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Rabu, 26 Oktober 2016

KEEP PRAYING & FIGHTING


Berdiri di atas lensa batugamping yang memuncaki bukit volkanik Old Andesite di pantai selatan Lombok - Formasi Pengulung berumur Oligo-Miosen, merupakan bagian jalur volkanik bawahlaut terusan dari selatan Pulau Jawa.


Dulu sekali, sekitar 20 juta tahun yang lalu, batuan ini ada di bawah samudera, kini muncul di atas Samudera Hindia. Tenaga geologi mengangkatnya secara perlahan, namun pasti. Geologi itu mengajarkan: kesabaran, ketekunan, konsistensi, dan kesetiaan.

Pagi itu adalah 24 September 2016, Sabtu minggu lalu, hari istimewa buat saya, genap berumur 52 tahun. Saya berdiri di atas Old Andesite, menunjukkan bahwa saya tetap seorang Geolog Indonesia, dan ingin begitu terus selama Dia memberikan nyawa.

-----

Masih banyak yang ingin saya teliti dan kerjakan, masih banyak yang ingin saya publikasikan, masih ada lapangan-lapangan minyak atau gas yang harus saya dkk. temukan, masih banyak pemikiran geologi yang ingin saya sumbangkan buat Negeri yang berdiri di atas pertemuan tiga lempeng dan benturan belasan terranes ini, masih banyak ilmu yang harus saya turunkan kepada para murid, dan masih banyak para geolog muda yang harus saya didik, bangkitkan semangat dan keberaniannya.
Dan masih ada kewajiban saya sebagai seorang ayah, sebagai seorang warga masyarakat, sebagai seorang Indonesia, dan sebagai makhluk yang menyembah Khaliknya.

Lalu masih ada perjuangan fisik dan mental. Menjaga kesehatan, menjaga hati. Hidup bagi saya adalah: belajar, bekerja, berkarya, berjuang, berbagi, dan bersyukur menikmatinya. Mencintai dan dicintai.
Hidup juga telah dipenuhi pergantian antara kebenaran dan kesalahan masa lalu. Kebenarannya meyakinkan saya, kesalahannya mendidik saya meskipun pahit. Hadapilah yang dibawa hidup kepada kita dengan berani, semanis sepahit apa pun.

Dari pantai selatan Lombok di atas Old Andesite Formasi Pengulung berumur 20 juta tahun, di antara Samudera Hindia biru tua dan langit biru muda, saya syukuri kegenapan tambahan umur ini. Hanya kehilangan semangat yang menuakan orang itu, bukan tambahan umurnya. Umur menua akan memperlambat gerakan saya, bukan hati dan pikiran saya yang bertahun-tahun ditenagai oleh: cinta, ketekunan, konsistensi, dan keberanian.

-----

Keep praying and fighting!

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Rabu, 15 Juni 2016

MELAYANI MASYARAKAT

Pemuda di tepi kiri, berbaju hitam yang sedang memeriksa tekanan darah seorang wanita itu adalah anak kedua saya: Mario Joel Satyana. Itu sebuah bakti sosial para mahasiswa kedokteran Universitas Kristen Maranatha -Bandung di acara car free day Jl Ir. H. Juanda, Bandung pada hari Minggu pagi kemarin. Sekaligus mereka berkampanye untuk mengurangi konsumsi gula demi mengurangi kecenderungan peningkatan penyakit diabetes.
Mereka mengecek tekanan darah, memeriksa kadar gula darah sesaat, dan memberikan konsultasi kesehatan bagi masyarakat yang berminat. Tentu semuanya gratis.


---------
Bila ke Bandung, seperti kemarin saya tentu sekalian menengok kedua anak saya. Mereka tinggal di Bandung, kota kelahiran ayahnya karena memilih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha (UKM). Tiga puluh tiga tahun yang lalu, 1983 ayahnya tercatat juga sebagai mahasiswa kedokteran di tempat yang sama, sekaligus sebagai mahasiswa geologi di Universitas Padjadjaran. Apa daya karena kurang biaya, akhirnya cita-cita menjadi dokter yang telah disiapkan sangat serius dari SD-SMA sebelumnya, termasuk membeli textbooks bekas kedokteran dari tukang loak, mesti dikubur. Jadilah saya sebagai seorang geolog, bukan dokter.



Tuhan tentu tahu cita-cita saya itu. Anak saya pertama, Hans, tiga puluh tahun kemudian setelah ayahnya drop out dari kuliah kedokteran memutuskan memilih kedokteran kuliah di tempat ayahnya dulu drop out, lalu tiga tahun kemudian adiknya mengikuti jejak langkah kakaknya kuliah di tempat yang sama.
Tuhan memanggil ayahnya untuk menjadi seorang geolog bagi Indonesia. Dan saya berjanji sejak drop out dari kedokteran itu untuk menjadi seorang geolog yang baik, bagi Indonesia. Maka jadilah saya seorang geolog yang tetap geolog "garis keras" , meskipun telah 33 tahun berlalu sejak saya kuliah geologi.
Sebagai gantinya, Tuhan memberikan saya sekaligus dua calon dokter -kakak beradik...Amin...yang memilih dan memutuskan sendiri jalan hidup mereka. Orang tuanya memberikan kebebasan dan menghormati serta mendukung yang mereka pilih dan putuskan.

"Jadilah kalian dokter yang baik yang berhati kemanusiaan yang melayani masyarakat Indonesia, kalian adalah rekan sekerja Tuhan, perpanjangan Tangan Tuhan untuk menyelamatkan nyawa manusia yang dikehendakiNya masih hidup. Setiap pilihan dan keputusan selalu ada risikonya, jangan kuatir orang tuamu pasti selalu mendukungmu. Tugas kalian hanyalah berkuliah dengan sebaik kalian bisa. Biaya yang dulu menghentikan ayahmu dari kuliah kedokteran tidak akan jadi masalahmu. Tuhan beserta kita. Yakinlah. Amin", begitu ucap saya kepada anak-anak saya saat mereka diterima di Fakultas Kedokteran Maranatha.
Lalu waktu pun berjalan. Hans, yang sulung, kini telah menyelesaikan semua tugas kuliahnya dan tengah menunggu waktu untuk memulai ko-ass, praktik calon dokter di RS sambil menjadi asisten dosen di kampusnya.



Mario, adiknya, baru memulai kuliahnya setahun berjalan. Dia aktif di senat mahasiswa fakultasnya, termasuk ikut dalam bakti-bakti sosial. Walaupun anak kedua saya ini belum genap setahun kuliah di kedokteran, baguslah dia sudah melibatkan dirinya dalam pelayanan nyata kepada masyarakat. Saya menyarankannya agar dia sering mengikuti bakti-bakti sosial supaya dia kelak saat menjadi dokter lebih punya hati untuk melayani sesamanya.

Dan anak-anakku, kelak jadilah kalian para dokter yang baik yang melayani masyarakat Indonesia seperti juga ayahmu berusaha keras menjadi geolog yang baik untuk Indonesia. Untuk semua pekerjaan baik yang kita lakukan, yakinlah Tuhan selalu memberikan kita kekuatan untuk menjalaninya. Amin.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Sabtu, 28 Mei 2016

Binatang Homo

Fenomena homoseksual atau "perilaku dan orientasi seksual sesama jenis" bukan hanya terjadi di komunitas manusia saja ("human primates", menurut antropolog) tetapi juga di komunitas binatang. Seorang biolog Kanada Bruce Bagemihl, penulis buku keren dan populer Biological Exuberance: Animal Homosexuality and Natural Diversity, "pluralitas seks" di kalangan binatang jauh lebih banyak dan lebih kompleks ketimbang di kalangan manusia.

Pada tahun 1999, para biolog dan ilmuwan mendokumentasikan sekitar 500 spesies binatang adalah homo, kemudian pada tahun 2006, jumlah binatang homo ini meningkat menjadi 1.500 spesies. Daftar binatang homo ini hampir merata di semua jenis: mamalia, burung, ikan, reptil, ampibi, serangga, dlsb. Bison, anjing, serigala, pinguin, bebek, gajah, jerapah, kucing, rakun, koala, kuda, ayam, emu, salmon, baboon, domba, dlsb ada "kelompok homo"-nya. 


Riset tentang kaum binatang homo ini baru berkembang sejak awal 1990-an. Sebelumnya belum populer karena sikap sosial masyarakat Barat, khususnya kaum agamis-moralis, yang sangat keras dan anti-pati terhadap isu-isu homoseksual atau LGBT yang mereka anggap sebagai tabu, haram, "tidak Kristeniani" dsb.
Penemuan dan fakta-fakta tentang binatang homo yang disajikan oleh para biolog dan ilmuwan itu, terutama karya-karya monumental Bruce Bagemihl dan Joan Roughgarden, kemudian dijadikan sebagai basis penyelenggaraan eksibisi berjudul "Against Nature?" di sejumlah negara Eropa yang menampilkan aneka gambar, binatang, dan model spesies yang mengalami homoseksual. Eksibisi yang diprakarsai oleh Natural History Museum, University of Oslo, ini bertujuan untuk meruntuhkan persepsi, anggapan, keyakinan, dan "mitos" tentang orientasi dan perilaku homoseksual yang dipercayai oleh kelompok agama dan "kaum moralis" sebagai "pelanggaran terhadap alam" dan "kodrat Tuhan".

Argumen dasarnya kira-kira: jika memang perilaku dan orientasi homoseksual itu "melawan kodrat" dan "kehendak alam", kenapa fenomena ini terjadi pada komunitas binatang? Bukankah fenomena "binatang homo" ini alami, bukan rekasayasa? Terlepas dari pro-kontra tentang homoseksual di kalangan umat manusia, yang jelas fenomena "binatang homo" ini tampak lebih damai dan toleran. Para binatang atau "jamaah hewan" tidak ribut dan saling mengharamkan dan mengafir-sesatkan. "Binatang hetero" tidak menuduh teman-temannya, "binatang homo", sebagai penghuni neraka atau makhluk yang dilaknat Tuhan hanya gara-gara memiliki perilaku dan orientasi seks terhadap sesama jenis. Sepertinya mereka saling memaklumi kalau kaum "binatang hetero" maupun "binatang homo" adalah sama-sama alamiah dan "kodrat ilahi". Selamat berakhir pekan.

Jabal Dhahran, Arab Saudi

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Rabu, 18 Mei 2016

Tragedi Sarapan di Makah

Suatu hari, belum lama ini, saya dan keluarga (anak-istri) bermalam di sebuah hotel dekat Masjidil Haram. Selain umrah, saya juga riset kecil-kecilan tentang pelajar, mahasiswa, dan sekolah Indonesia di Makah serta observasi sejumlah situs bersejarah Islam. Hotel cukup bagus dan bersih. Interiornya juga oke. Sangat kontras dengan tahun sebelumnya yang tinggal di "losmen ala kadarnya" karena ikut rombongan bus umroh dari Bangladesh.

Saat jadwal sarapan tiba, maka bergegaslah kami ke ruang makan. Maklum kami kecapekan dan kelaparan karena malamnya umroh sampai larut malam. Sesampai di ruang makan, betapa terkejutnya kami karena makanan sudah tidak ada, tempat semrawut acak-acakan, sisa-sisa makanan dan piring berserakan di meja-meja makan. Kami tanya ke petugas, lalu mereka menyetok nasi dan "ikan naget" (fishstick). Kata mereka, cuma itu saja makanan yang disediakan di "ruangan spesial" yang mirip asrama itu. 


Waktu itu saya berpikir, ini hotel apaan sih? Restorannya kok kayak gini? Karena penasaran, saya "selidiki" sebab-musababnya. Ternyata ruangan khusus itu untuk penghuni hotel dari Indonesia yang sedang umroh. Memang saya lihat cukup banyak orang-orang Indonesia yang makan di ruangan itu. Saya memang warga Indonesia tetapi saya bukan "rombongan umroh" dan kami datang dari Saudi bukan Indonesia. Kami kemudian keluar ruangan, dan ternyata di sebelah "ruangan spesial untuk Indonesia" ini terdapat restoran yang dijaga oleh petugas, seorang Arab-Mesir.

Terjadilah dialog antara saya dan penjaga tadi. Ia ngotot kalau orang Indonesia harus makan di "ruangan khusus" tadi. Ia bilang, "Kamu orang Indonesia kan, kalian suka makan nasi dan ikan kan? Nah itu 'ruangan untuk kalian". Saya jawab, saya memang orang Indonesia tetapi saya bukan termasuk rombongan umroh dari Indonesia. Saya bayar sendiri, booking hotel sendiri, dan datang dari Saudi. Kenapa saya tidak boleh masuk restauran ini?

Setelah terjadi "perdebatan kecil", ia terpaksa membolehkan kami masuk restoran itu. Betapa terkejutnya saya karena restoran itu betul-betul kontras dengan "ruang makan khusus Indonesia" tadi. Pelayannya banyak dan ramah, ruangan adem ber-AC, sepi dan nyaman, meja-kursi makan sangat rapi dan elegan, stok makanan dan minuman sangat melimpah dan beraneka ragam layaknya hotel berbintang. Saya lihat sejumlah orang non-Indonesia sedang menyantap makanan di restoran itu. Karena sudah kehilangan selera makan, saya hanya mencicipi "makanan sampingan" saja dan menengguk segelas jus. Beberapa kali saya melihat penjaga tadi sibuk tidak membolehkan masuk restoran orang-orang yang "bertampang Indonesia"...

Jabal Dhahran, Arab Saudi

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Sabtu, 30 April 2016

KEPEDULIAN

Tiga foto terlampir saya ambil gambarnya tadi pagi dari perjalanan Jakarta-Bogor, seperti biasa menggunakan angkutan masal KRL.


Ada foto dua wanita duduk di salah satu pilar peron sebuah stasiun di Jakarta menunggu kereta datang. Mereka asyik melihat sebuah dunia kecil dalam genggaman bernama gadget, sementara mereka nampaknya tidak mempedulikan lingkungan sekelilingnya termasuk saya yang mengambil gambarnya dari jarak dekat.
Ada foto dua pria di dalam gerbong kereta saat melintas seusai stasiun Bojonggede. Keduanya melakukan hal yang sama, yaitu menyumbat kedua telinganya dengan earphone yang dihubungkan ke gadget di genggamannya yang juga tengah diamatinya dengan raut muka kadang-kadang memberengut, kadang-kadang tersenyum.


Mereka asyik dengan dunia kecil di genggamannya, tidak mempedulikan lingkungan sekelilingnya termasuk saya -seorang observer yang mengambil gambarnya dari jarak dekat. Saya berpikir kedua orang ini nampaknya tengah menutup kedua inderanya bagi dunia sekelilingnya, yaitu mata dan telinga. Matanya hanya mengamati dunia kecil gadget, telinganya tertutup oleh musik yang keluar dari alat ajaib itu.
Serentak saya teringat beberapa korban tabrak KRL adalah para penyeberang rel yang tengah menutup kedua inderanya itu oleh gadget. Pikiran dan mata mereka tengah terfokus ke layar dunia kecil mereka, dan telingannya tak mendengar peluit kereta yang meraung sebab musik yang hingar bingar mungkin tengah didengarnya. Dan mereka pun tertabrak, terlempar, atau terseret...

Ketidakpedulian akan dunia sekeliling, maaf saja, saya menyebut kedua foto itu begitu. Maaf juga buat keempat orang di dalam foto tersebut bila saya posting. Banyak orang melakukan seperti begitu, mungkin termasuk saya juga.

Sampai di Stasiun Bogor, juga di setiap stasiun yang saya singgahi di mana pun di Jabodetabek, di dekat pintu masuk sekaligus keluar saya selalu melihat satu atau dua kursi roda yang tengah terlipat siap untuk digunakan. Kursi roda ini dijaga petugas. Dan sekali dua kali saya melihat penumpang renta atau disabilitas tengah didorong oleh petugas stasiun menuju pintu keluar atau menuju gerbong kereta. Kursi roda begini semula hanya saya lihat ada di bandara-bandara untuk membawa penumpang renta atau disabilitas ke/dari pesawat terbang. Sekarang, di setiap stasiun ada, pun di stasiun kecil. Hebat.


Saya menyebut foto kursi roda itu kepedulian akan dunia sekeliling.
Ketidakpedulian dan kepedulian akan dunia sekeliling selalu ada dan terjadi setiap hari.
Saya memilih untuk peduli, sekecil apa pun yang saya lakukan untuk sekeliling saya. Kalau saya tak peduli, saya tak akan menulis, mengajar, menemani kawan-kawan ke lapangan, memberikan nasihat dan pencerahan, menjawab banyak sekali pertanyaan dari penanya yang saya tak kenal, dan lain-lain.

Manusia adalah Homo socius, jangan menutup inderamu terhadap sekeliling...paling tidak untuk dirimu sendiri, tetap waspadalah sebab tak sedikit nyawa telah melayang oleh sebab terlalu asyik dengan gadget..Gadget itu sangat penting saat ini, tetapi bukan segalanya.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Jumat, 25 Maret 2016

PENDEKAR TANPA WAJAH

Abang becak baik hati berpakaian lumayan gaya bertopi pendekar (begitu yang suka saya lihat di komik-komik -pendekar sakti dg wajah tersembunyi di balik topi tudung) ini sedang menolong sesama pengayuh becak lainnya ketika melintasi rel.

Empat rel sejajar di jalan ini membuat morfologi jalan sedemikian rupa dan besi-besi baja rel menonjol sehingga menyulitkan becak berpenumpang melintasinya. Di sini biasanya pengayuh becak pasti akan turun dari sadelnya lalu mendorong dari belakang, tetapi itu sering tak mulus malahan becak suka oleng hampir guling ketika roda becak menggilas rel dengan cara tak tepat. Bila itu susah, abang becak akan pindah menarik becaknya dari depan.

Dan usaha itu dilakukan dengan "stres" tertentu sebab kereta sudah terlihat mau lewat, ditimpali oleh bunyi riuh sirene kereta mau lewat. Belum lagi yang melintas itu banyak sekali: pejalan kaki, motor, becak, dan pasti 'crowded' sebab ini area pasar kaget. Saya kalau dalam kondisi begitu, akan turun saja dari becak dan ikut menghela becak dari depan.

Pendekar Tanpa Wajah

Maka ketika tadi pagi ada seorang "pendekar" tanpa wajah tiba-tiba melompat dan dengan sigap menarik becak dari depan membantu seorang penarik becak dengan usia sekitar 50-60 tahun yang tengah stress berusaha melintaskan becak berpenumpang menyeberangi empat rel, ini pemandangan yang nyaman dilihat.
Saling membantulah kalian sesama rekan seprofesi....

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Selasa, 01 Maret 2016

KEBUTUHAN PRIMER ATAU SEKUNDER?

Free Charging - Sejumlah stop kontak disediakan di tempat-tempat fasilitas umum seperti stasiun (foto terlampir di Stasiun Bogor), bandara, restoran, atau fasilitas umum lainnya tempat orang-orang menancapkan charger-nya untuk mengisi batere gadgetnya (HP, ipad, tablet, dll.): adalah pemandangan biasa pada saat ini. Selalu ada orang yang memanfaatkan fasilitas gratis ini, mungkin mereka tidak membawa atau tidak punya gadget pengisi daya: power bank.
Di beberapa warung makan di kampung yang kebetulan pernah saya singgahi pun ada fasilitas ini meskipun tidak khusus disediakan, yaitu stop kontak yang ada di warung itu sendiri. Boleh dipinjam untuk menancapkan charger, ada yang gratis, ada yang mesti bayar. Ada warung yang menulis di selembar kertas: charger/ ngecas Rp 5000.

Free Charging


Di ruang rapat kantor, saya juga mengamati para peserta rapat kalau bisa memilih duduk yang tak jauh dari tempat stop kontak, bersiap baik untuk keperluan charging laptop maupun gadgetnya. Mereka suka berkata, "Saya tak mau jauh-jauh dari sumberdaya."
Saya kalau sedang mengajar kursus di hotel, ruang rapat yang diubah menjadi kelas selama lima hari biasanya dilengkapi dengan begitu banyak extension stop kontak di setiap meja peserta kursus, kabel-kabel extension jalin-menjalin berestafet dari pangkal ke ujung ditutupi plester lakban agar aman tak terantuk kaki.
Di bus Damri bandara, bus jarak jauh, dan kereta api, juga di pesawat-pesawat tertentu kelas bisnis jarak jauh, semuanya dilengkapi stop kontak yang dipasang tak jauh dari setiap tempat duduk.

----------------

Nah, dari warung kampung sampai tempat duduk kelas bisnis di pesawat selalu disediakan stop kontak untuk charging gadget. Gejala apa ini?
Saya pikir kita tahu jawabannya: akibat kemajuan zaman, ekses zaman, zaman kemajuan elektronika, komunikasi, informatika. Budaya menggunakan gadget kini sudah jadi bagian kehidupan manusia, baik di kota maupun di kampung, meskipun tentu masih banyak juga orang-orang yang tak menggunakannya di daerah-daerah terpencil yang tak terjangkau sinyal komunikasi atau gaya hidup masyarakat yang sangat tradisional.
Namun di kota-kota, anak-anak SD sampai abang becak yang sedang santai bergulung di dalam becaknya pun menggunakan gadget, dari gadget yang sangat sederhana sampai yang paling canggih.
Apakah gadget itu, khususnya di kota, sudah jadi kebutuhan primer? Relatif. Mungkin sekarang ada orang yang lebih stres bila HP-nya ketinggalan daripada perutnya lapar. Padahal makan itu kebutuhan primer. Relatif, sebab bagi satu orang gadget itu begitu pentingnya, bagi yang lain biasa-biasa saja.
Secara ilmu ekonomi, mungkin gadget itu kebutuhan sekunder yang definisinya adalah kebutuhan yang sifatnya melengkapi kebutuhan primer dan kebutuhan ini baru terpenuhi setelah kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan ini bukan berarti tidak penting, karena sebagai manusia yang berbudaya, yang hidup bermasyarakat sangat memerlukan berbagai hal lain yang lebih luas dan sempurna, baik mengenai mutu, jumlah, dan jenisnya. Contoh kebutuhan sekunder antara lain televisi, kulkas, sepeda motor, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang mendukung kebutuhan primer.

Kebutuhan primer sendiri adalah kebutuhan utama yang harus dipenuhi untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia secara wajar. Menurut ILO (International Labour Organization) bahwa kebutuhan primer adalah kebutuhan fisik minimal masyarakat, berkaitan dengan kecukupan kebutuhan pokok setiap masyarakat, baik masyarakat kaya maupun miskin.

Begitu kira-kira, tetapi yang dulu kebutuhan sekunder kini bisa menjadi kebutuhan primer. Relatif.
Anda sendiri bagaimana merasakan kebutuhan akan gadget itu? Saya sendiri merasakannya penting, penting sekali bahkan - baik untuk komunikasi biasa dan penting-sangat penting, sampai urusan pekerjaan. Tetapi, tetap di bawah kebutuhan pokok: pangan, sandang, papan.
Dan hati-hatilah menggunakan gadget Anda, bijaklah, jangan menulis di media sosial atau mengirimkan pesan via sms, BBM, WA, Instagram, Line, dll yang isinya mengancam, memojokkan, mencemooh, memfitnah, dan sejenisnya sebab perbuatan itu kini ada sanksi hukumnya dan bisa diadukan. Lalu hati-hatilah menjaga gadget Anda sebab itu benda berharga dan pribadi.

Gadget adalah seperti pisau, bisa menolongmu, bisa menusukmu.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Rabu, 24 Februari 2016

GENERASI GEOLOG

Seorang teman seumuran saya, geolog juga, bingung ketika anaknya hendak melakukan TA (tugas akhir). Anaknya duduk di tingkat akhir jurusan geologi di sebuah perguruan tinggi. Sang bapak ingat saya dan mengirimkan sms tadi pagi menanyakan apa kiranya tema TA di sebuah daerah di Indonesia dengan kondisi geologi begini. Aku bapaknya anaknya tahu saya dari publikasi-publikasi saya, hanya belum berani bertemu saya langsung. Kebetulan bapaknya teman saya, jadi mungkin dimintalah bapaknya untuk bertanya kepada saya, he2... Saya memberikan beberapa alternatif tema TA yang disambut gembira sang bapak, tetapi saya bilang ke teman saya itu, "Temani anaknya bertemu saya dan bawa peta geologi published daerah itu, nanti saya akan tunjukkan tema TA yang pas dengan kondisi geologinya". Teman saya lalu meneruskan, "Asyik, semoga Pak Awang bisa membimbing anak saya." Hm...

Seorang teman, lebih senior dari saya, geologi juga latar belakang pendidikannya, akhir tahun lalu mengirimkan e-mail kepada saya berisi visi dan misi Puteri Indonesia. Saya heran pada awalnya, apa hubungan saya dengan Puteri Indonesia, tetapi lalu segera maklum. Anaknya, seorang geolog juga, mengikuti seleksi Puteri Indonesia 2016. Sebagai seorang geolog, dia ingin membawa aspek-aspek geologi dalam pengembangan pariwisata Indonesia, visi dan misinya sebagai calon Puteri Indonesia ingin dikaitkan dengan geologi. Bapaknya meminta saya mengecek visi misi itu buat sebuah seleksi wawancara. Bapaknya bilang, "Anak saya tahu Pak Awang, tetapi dia masih malu kalau bertemu langsung Pak Awang". Hm...dalam hati saya berkata..gagal deh bertemu calon puteri, he2... Lalu saya koreksi visi misinya dan mengirimkan kembali email kepada bapaknya bersama tiga artikel saya tentang geologi Indonesia. Sorenya sang bapak kirim sms kepada saya mengabarkan dengan gembira bahwa anaknya lolos seleksi wawancara visi misi Puteri Indonesia. Saya ikut gembira tetapi tak mengikuti lagi bagaimana kabarnya kini.



Seorang teman saya, seorang geolog juga, seumur saya, beberapa tahun lalu saat anak pertamanya mengikuti tes di sebuah perguruan tinggi yang ada geologinya, berkata kepada saya, "Awang, nanti tolong ya anak saya dibimbing kalau masuk geologi." Saya tak menjawabnya hanya tersenyum sambil berkata dalam hati - dia sendiri kan seorang geolog, bahkan kedua orang tuanya geolog, kok minta saya yang bimbing ya...

-------------------------------------

Itulah sekelumit tiga kisah dari banyak kisah nyata yang saya hadapi saat para orang tua yang geolog meminta saya membimbing para anak-anaknya para mahasiswa geologi. Agak aneh bagi saya para geolog kawan saya ini merasa kurang PD -percaya diri membimbing anak-anaknya sendiri. Tetapi saya sangat memakluminya sebab saya tetap memelihara diri saya agar menjadi hardcore geologist seumur-umur, sementara para kawan saya ini kebanyakan sudah tidak banyak menangani hardcore geology dengan meningkatnya karier mereka.

Dan saya juga melihat tak banyak para geolog hebat di Negeri ini menurunkan anak-anaknya yang memilih geologi, dan kemudian menjadi sehebat orang tuanya. Bahkan ada yang drop out dari geologi. Mungkin anak-anak ini dulu dipaksa orang tuanya masuk geologi?

Anak-anak saya tidak memilih geologi sebagai profesi untuk hidupnya. Mereka memilih kedokteran. Bukan mereka takut kepada saya tidak bisa melebihi saya sebagai seorang geolog, atau takut saya bimbing dengan keras agar mereka bisa lebih baik dari saya. Tidak, kedokteran adalah pilihan mereka dengan segala konsekuensinya. Setahun saya membiarkan mereka berpikir, termasuk menerangkan geologi itu apa, profesinya bagaimana, bagaimana peranan saya bila mereka memilih geologi, dsb. Saya juga menerangkan kedokteran itu bagaimana, kuliahnya bagaimana, dsb. Kedokteran bukan barang asing bagi saya. Menjadi dokter adalah cita-cita saya dari kecil, dan saya pernah tercatat juga sebagai mahasiswa kedokteran.

Demikian... Tak masalah saya membimbing anak-anak para geolog, syarat saya hanyalah mereka harus rajin, kalau bisa rajin sekali.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Sabtu, 13 Februari 2016

JIWA SOSIAL DI HARI VALENTINE

Tidak sedikit kepala daerah di Indonesia yang mengeluarkan surat edaran melarang anak-anak di daerahnya merayakan Valentine. Tapi rupanya larangan itu tidak menyurutkan anak muda, untuk mengembangkan jiwa sosialnya.

Ini kisah menarik, tentang anak-anak muda dengan kepekaan sosial tnggi. Menyambut Valentine, beberapa anak muda punya ide unik. Mereka beramai-ramai mengumpulkan sumbangan. Setelah terkumpul, sebagian dana sumbangan dibelikan cokelat. Lalu dibagikan kepada cewek-cewek yang masih jomblo. "Biar mereka ikut merasakan kebahagiaan Valentine," begitu alasan anak-anak muda tersebut.
Sebuah empati yang luar biasa, bukan?

Bukan hanya cokelat. Sebagian dana yang masih tersisa dibagikan dalam bentuk uang. Ini dikhususkan buat lelaki jomblo. Diharapkan dengan bantuan tersebut, para lelaki memiliki keberanian untuk mengajak makan malam gebetannya. Sayangnya anak-anak itu tidak menjelaskan, apakah gebetan yang diajak makan malam harus perempuan?

"Kalaupun mereka gak punya gebetan, uang tersebut dapat digunakan untuk beli pulsa. Jadi mereka bisa mulai berusaha cari gebetan."

Say No To Valentine

Anak-anak muda itu memang punya jiwa sosial tinggi. Mereka sangat peka pada perasaan para jomblo. Mereka tidak merayakan Valentine dengan cara-cara seperti yang dituduhkan orang : segala seks bebaslah. Di tangan mereka, Valentine juga bisa dijadikan ajang berbagi, kepada mereka yang berhak menerimanya.
Minimal, sebagai ajang refleksi untuk merasakan penderitan para jomblo.

Mereka memang anak-anak muda yang berjiwa mulia... ‪#‎seputarvalentine‬

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Minggu, 03 Januari 2016

TERIMAKASIH PARA DERMAWAN


Siapakah orang yang paling dermawan di malam tahun baru? Merekalah para pembeli petasan dan kembang api. Mereka membayar mahal, lalu membakarnya, dan siapa saja boleh ikut menikmati cahaya dan suara ledakannya.

Seandainya mereka pelit, mungkin mereka akan membakar petasan dan kembang api di dalam kamar. Lalu menikmati suara ledakannya sendirian. Tidak rela berbagi dengan orang lain.
Atau ketika membakar petasan, mereka akan menghardik orang yang tidak menutup telinga. "Kalau mau dengar suara petasan, beli sendiri dong! Jangan maunya gratisan terus."



Untung saja dunia ini dipenuhi oleh orang-orang dermawan. Hingga malam pergantian tahun selalu riuh dan indah.

Terimakasih wahai para dermawan. Hepi nyu yir...

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Sabtu, 21 November 2015

Perasaan Cinta dan Bau Badan

Perasaan cinta kalau sudah tumbuh seringkali mengikat begitu kuat. Perasaan itu mendorong untuk bisa bersama dan bersatu. Dan ketika terjadi kesatuan dan kebersamaan hati orang akan bersukacita.

Akan tetapi ketika dua orang mulai bersatu. Kesatuan itu bisa goncang oleh berbagai hal.Perasaan cinta tidak cukup. Perasaan cinta bahkan bisa mulai redup karena kesatuan itu ternyata tidak indah.

Perasaan cinta mula-mula berangkat dari satu atau dua hal yang menarik, lalu perasaan cinta itu meluap dan merasa bahwa orang itulah yang paling tepat. Ketika perasaan meluap, tidak lagi bisa berpikir bahwa perasaan itu berangkat dari satu atau dua hal yang menarik. Dan satu atau dua hal itupun seringkali bukan didapat dari pengamatan yang mendalam akan tetapi dari penglihatan semata. Karena itu ketika benar-benar bersatu dan di dalam kesatuan itu terdapat banyak hal lain yang menjadi penentu ikatan , perasaan cinta mulai redup atau mulai diwarnai koflik. Kesatuan tidak seindah yang dipikirkan dulu. Bahkan bisa jadi kesatuan itu malah membuat ketidakenakan.

Perasaan Cinta dan Bau Badan

Jadi ada hal-hal lain yang bisa menggoncangkan kesatuan. Salah satu aspek yang bisa menggoncangkan kesatuan adalah bau badan.

Perasaan cinta mendekatkan 2 orang secara fisik.Maka mau tidak mau akan membaui bau badan yang keluar dari calon pasangan. Dan bau badan ini bisa menggoncangkan kesatuan itu.

BAU KERINGAT

Keringat seseorang yang bercampur bakteri akan menimbulkan bau tertentu. Dan bau itu bisa sangat tidak sedap. Bau tidak sedap ini bisa muncul dari orang yang sangat ganteng, pintar, dan gagah atau juga dari wanita yang sangat cantik, lembut, dan pintar. Keringat ada hukumnya sendiri. Karena itu jika seseorang terpesona kepada orang lain karena matanya yang indah, belum tentu nanti bisa menikmati keindahan itu terus, jika ternyata pemilik mata indah itu keringatnya berbau tidak sedap dan menyengat.

Kalau seseorang tidak rajin membersihkan diri dan tidak pedulian, maka sangat mungkin bau keringatnya sangat menyengat. Dan pasti itu akan membuat tidak nyaman .

Beberapa orang yang keringatnya bau ada yang menutupinya dengan parfum badan atau deodoran, akan tetapi pemilihan parfum dan deodoran yang salah malah akan membuat bau keringatnya tambah menyengat.

Kalau dua orang bersatu maka berharap akan bersama selama hidupnya. Karena itu urusan bau keringat ini sangat penting untuk diperhatikan. Kalau keringatnya sangat bau, maka hal itu akan dinikmati seterusnya. Dan itu berarti akan menikmati ketidaknyamanan selamanya.

Namun ketika perasaan cinta meluap, bau keringat seolah tidak menjadi hal penting. Bau keringat bukan faktor yang perlu diperhitungkan. Akan tetapi apabila nanti sudah bersama bau keringat tidak bisa diremehkan. Apalagi kalau sudah menikah akan tidur dalam satu ranjang serta berada dalam satu kamar, bau itu akan menjadi aroma harian yang dinikmati.Betapa tidak enaknya menikmati aroma yang menyengat dari orang yagn selalu dekat.

Kesatuan itu bisa terancam oleh bau keringat.

BAU MULUT

Selain bau badan, ada orang yang memiliki bau mulut yang menyengat. Wanita yang mulutnya indah, belum tentu bau mulutnya sedap. Bisa jadi bau mulutnya tidak enak. Seorang pria yang begitu pandai bicara, bisa jadi mulutnya mengeluarkan bau tak sedap.

Ketika perasaan cinta yang meluap membawa ke dalam relasi, maka segera akan berhadapan dengan bau mulut. Calon pasangan hidup itu akan berhadapan, akan berbicara secara berdekatan. Dan pembicaraan yang intim akan menjadi penentu keindahan relasi. Lalu bagaimana kalau ternyata salah satu mulutnya berbau?

Apalagi kalau sudah menikah, bukan hanya berdekatan, tetapi juga berciuman. Ciuman adalah ekpresi cinta. Maka keindahan relasi karena ciuman akan hilang. Unsur yang penting dalam kenikmatan pasangan lenyap. Dengan demikian kesatuan akan terancam.

Perasaan cinta yang menggelora akan redup dan bahkan bisa menjadi kemarahan ketika sudah berelasi dan ternyata salah satu mulutnye mengeluarkan bau tidak enak..

Perasaan cinta saja tidak cukup menyatukan, bau mulutpun sangat penting.


BAU KENTUT

Bau tubuh yang lain dan tidak bisa dihindari adalah bau kentut. Kentut bisa tidak berbau, tetapi tetap orang akan tetap mengeluarkan juga kentut yang berbau, sebab mau tidak mau pasti akan makan makanan yang menghasilkan bau.

Ada orang-orang yang sudah punya kebiasaan jika kentut akan menjauh, tetapi ada orang yang kentut di sembarang tempat. Ia tidak menganggap kentut sebagai pengganggu berhubungan dengan orang lain, sekalipun kentutnya berbau.

Bagaimana kalau seseorang perasaannya bernyala-nyala kepada seseorang yang cantik, anggun, cerdas, akan tetapi kentutnya sering bau dan punya kebiasaan kentut di sembarang tempat? Apakah nanti bisa menikmati kebersamaan? Bisa jadi akan terjadi konflik yang hebat.

Maka jika kentut ini tidak diselesaikan , kesatuan yang terbangun akan terganggu. Karena itu perasaan cinta tidak cukup. Pengeloaan kentut juga penting untuk diperhatikan. Kecantikan , kegantengan, kepandaian, tidak selalu diikuti manajemen kentut yang tepat.


Perasaan cinta tidak cukup untuk membangun relasi. Bau badan juga hal yang harus diperhitungkan. Itu artinya, banyak hal lain yang harus diperhitungkan.

Ketika perasaan bernyala-nyala dan keinginan jadian menghebat, pikirkanlah, banyak hal lain yang masih perlu diperhitungkan untuk menjalin relasi.

Penulis: Gunawan Sri Haryono
Read more ...

Rabu, 11 November 2015

Cinta Itu Tidak Buta

Kasus 1

Lidya tiba-tiba menjalin hubungan dengan pria tetangga rumah. Orang tuanya bingung sebab mereka mengenal pria tersebut dan orang tuanya, baik anak maupun orang tua bukanlah orang-orang yang “baik” . Ayah pria itu adalah teman orang tua Lidya. Ayah Lidya sudah mengenal sejak kecil, dan tahu bagaimana sifat dan cara hidupnya. Dan ternyata cara hidup yang tidak baik itu menurun ke anaknya.. Akan tetapi Lidya tidak bisa menerima pendapat itu. Lidya sangat cinta pria tersebut. Dia merasa tidak bisa lepas darinya. Karena orang tua Lidya merasa sayang kepada Lidya, maka mereka terus memberi nasihat untuk mempertimbangkan pilihan Lidya itu sambil menunjukkan hal-hal berkaitan dengan kepribadian pria tersebut. Namun Lidya tetap bersikukuh untuk terus dengannya. Bahkan ketika orang tua mengancam tidak akan memberi warisan kalau nanti menikah dengan pria tetangga itu, Lidya berani menjawab, tidak mendapat warisan juga tidak apa-apa.

Akhirnya Lidya menikah, bahkan sebelum menikah, saking cintanya, Lidya sudah menyerahkan kegadisannya. Pernikahan berjalan lancar, dan menurut kata orang Lidya berbahagia. Sebab beberapa waktu kemudian Lidya sudah mengandung dan kehidupan ekonomi mereka nampak cukup. Mereka nampak sering bersama, baik ke acara keluarga, sosial, maupun ibadah.



Akan tetapi lebih dari 20 tahun kemudian Lidya baru berbagi, bahwa selama 20 tahun pernikahannya dia tidak pernah berbahagia. Benar ayahnya, suaminya tidak bertanggung jawab. Suaminya relatif tidak mau bekerja. Hampir selama 20 tahun ,Lidya yang harus bekerja keras untuk membiayai semau kebutuhan. Dan benar pula ayahnya, suaminya tidak baik moralnya, Selama suaminya bekerja ( yang hanya beberapa waktu ) , suaminya selingkuh. Bahkan setelah tidak bekerjapun masih selingkuh. Suaminya selingkuh dengan beberapa wanita.

Dalam hubungan suami isteri Lydia hampir tidak menikmati kepuasan. Karena tingkah laku suaminya, Lidya menjadi dingin, dan melayani suami dengan terpaksa.

Semula menurut Lidya cinta itu segala-galanya, akan tetapi kehidupan rumah tangga telah membuktikan “perasaan cinta”tidak cukup untuk membawa kebahagiaan.


Kisah 2

Joko seorang mahasiswa yang cukup ganteng. Beberapa wanita tertarik kepada Joko. Akan tetapi ternyata Joko jatuh cinta kepada wanita tetangga rumah yang sepuluh tahun lebih tua darinya. Keluarga dan teman-teman memberitahu Joko bahwa pernikahan itu akan sulit, namun Joko mengatakan tidak sulit. Asal cinta maka semua bisa diatasi. Ada yang memberikan penilaian dari berbagai sudut pandang. Dari segi fisik , nanti istrinya sudah menopause, dia masih menyala-nyala. Dari segi ekonomi, istrinya sudah mapan, dia baru merintis. Dan lainya lagi. Namun semau pertimmbangan itu kalah dengan jawaban, cinta itu bisa menyelesaikan segala sesuatu. Asal ada cinta, semua bisa diatasi.

Selama berpacaran Joko juga sudah melakukan hubungan badan. Itu juga membuat Joko sulit untuk berpisah dengannya. Joko sangat menikmatinya.

Pernikahanpun terlaksana. Dan selang beberapa bulan, Joko merasakan hal-hal yang tidak diduga pada waktu dulu. Komunikasi ternyata sulit. Keuangan berbeda cara pandang. Bahkan hubungan badan pun tidak seindah dulu. Istirnya sangat dominan dalam segala hal. Dalam hal mengatur rumah, uang, bahkan dalam berhubungan suami isteri. Joko terpuruk sebagai laki-laki.

Cinta ternyata bukan segala-galanya.

Bukan hanya Lidya dan Joko yang beranggapan cinta adalah segala-galanya. Banyak orang berpendapat demikian. Cinta itu buta, demikian katanya. Cinta bisa mengatasi segala kesulitan. Cinta bisa menopang segala tantangan. Contoh-contoh tentang kerusakan hubungan dari orang-orang yang dulu nampak begitu mesra dan mengatakan cinta telah menyatukan segala perbedaan tetap saja tidak diterima sebagai satu peringatan.Bahkan ada penulis lagu yang menulis syair, “Terima kasih cinta” sementara cinta nya sendiri juga tidak berjalan baik.

Marilah kita perhatikan beberapa prinsip berikut.

Perasaan tertarik berbeda dengan cinta

Pada umumnya orang memiliki perasaan tertarik kepada lawan jenis. Namun perasaan tertarik itu berbeda dengan cinta. Perasaan tertarik ingin dipuaskan. Ketika tidak dipuaskan akan merasa merana, terluka, kesepian, dan lain-lain.

Perasaan bisa muncul dari berbagai faktor, karena masa kecil tidak mendapat pengasuhan yang baik, karena kehilangan ibu atau ayah yang begitu mengasihi, atau karena memiliki pasangan merupakan harga diri, atau bahkan bisa muncul karena adanya ikatan romantisme budaya. Karena itu perasaan bisa muncul kapan saja, dan kadang-kadang bisa tidak dimengerti alasannya.

Sewaktu SMA ketika saya berjalan di lorong sekolah, tiba-tiba saya berpapasan dengan seorang gadis. Hati saya berdebar. Gadis itu bersahaja, manis, dan jawa. Saya tertarik kepadanya. Dan itu tiba-tiba, sekalipun saya tidak tahu hidupnya seperti apa, latar belakangnya seperti apa. Perasaan itu muncul begitu saja. Namun itu bukan cinta. Seberapapun kuat perasaan itu.


Cinta itu lebih dari perasaan

Dalam cinta ada perasaan, namun cinta melebihi perasaan. Perasaan tertarik bisa menjadi awal memahami cinta, akan tetapi harus diteruksan dengan pemikiran yang matang.

Cinta itu harus melihat. Melihat berbagai hal. Jadi setelah tertarik, perlu diikuti dengan pertanyaan apakah saya bisa hidup bersama dengan nya? Juga apakah dia tertarik kepadaku dan bisa hidup bersamaku?

Cinta itu harus melihat kepribadian

Mencintai seseorang berarti mampu menerima kepribadiannya. Karena itu harus mengerti lebih dulu kepribadiannya. Rasa tertarik bisa muncul hanya dengan melihat wajah atau suara. Akan tetapi cinta akan dipastikan setelah memahami kepribadiannya dan ternyata mampu menerima kepribadian itu dan bahkan bisa menikmati hidup dengan kepribadian itu.

Bagian kepribadian yang penting untuk diperhatikan adalah : tata nilai, sifat-sifat, cara berpikir, bagaimana berelasi dengan orang, dan juga apa kesenangan-kesenangan ( serta ketidaksenangannya ).

Bagaimana tata nilainya tentang uang? Tentang kejujuran? Tentang pekerjaan? Apakah saya bisa hidup dengan orang yang memiliki sikap gila kerja? Apakah saya bisa hidup dengan seseorang yang mengejar uang karena pengalaman kemiskinan masa lalu?

Bagaimana sifat-sifat nya? Apakah saya bisa menerima orang yang suka menyendiri? Apakah saya bisa menikmati kebersamaan dengan orang yang suka berdamai sehingga cenderung kompromi? Apakah saya bisa hidup dengan orang yang dominan? Apakah saya bisa menjalani hidup dengan orang keras kata-katanya dan mungkin tindakannya?

Bagaimana cara berpikirnya ? Apakah saya bisa bersama-sama dengan orang lambat mengambil keputusan? Apakah saya bisa menikmati kebersamaan dengan orang yang praktis cara berpikirnya?

Kepribadian seseorang tidak selalu kelihatan. Perlu belajar memahami orang. Orang yagn sejak kecil diperlakukan dengan keras, lalu menyimpan kekerasan, bisa tersembunyi dalam wajahnya yang lembut. Atau orang yang memiliki dendam dengan kemiskinan dan akan mengejar uang sekeras-kerasnya akan tertutupi dengan cara belajarnya yang mengesankan selama kuliah.

Perasaan yang hebat akan musnah setelah menjalani hidup dengan orang yang kepribadiannya tidak bisa diterima.

Cinta harus melihat kepribadian, Cinta tidak buta.


Cinta itu melihat latar belakang.

Mata yang indah itu begitu menawan dan membuat berdebar-debar. Namun belum tentu seorang pria kemudian bisa hidup dengan seorang wanita dengan mata menawan. Pria tersebut harus hidup dengan keseluruhan wanitaitu. Dan keseluruhan orang tersebut mencakup latar belakangnya.

Cinta akan mampu menerima seseorang bersama latar belakangnya. Karena itu ketika tertarik orang perlu dilanjutkan dengan mengerti latar belakangnya, mencakup latar belakang keluarga, suku, pendidikan, teman-temannya. Setelah itu baru bisa menilai apakah rasa tertariknya diikuti dengan kemampuan untuk menerima dia dengan latar belakangnya atau tidak.

Apakah saya bisa hidup dengan seorang wanita cantik , namun memiliki orang tua yang menuntutnya untuk tetap tinggal di rumah? Apakah saya bisa menikmati kebersamaan dengan seorang wanita cerdas, namun orang tua nya tidak punya pendidikan dan hanya seorang sopir becak ? Apakah saya bisa hidup dengan seorang wanita seksi namun dulu telah sering tidur dengan beberapa pria? Apakah saya bisa menjalani kehidupan dengan seorang wanita dengan bibir menawan, namun ayahnya dipenjara karena korupsi ?

Demikian juga apakah saya bisa hidup bersama dengan seorang pria gagah, namun dominasi ibunya sangat kuat ? Apakah saya bisa hidup dengan pria lemah lembut, akan tetapi berbeda suku dengan tatacara hidup berbeda?

Cinta buta akan mengatakan saya bisa. Sebab tidak memahami bagaimana menjalani hidup dengan hal-hal seperti itu. Dipikir kalau perasaan begitu kuat, hal tersebut diatasi. Tidak. Menikah dengan pria yang ibunya begitu dominan akan membuat seorang wanita tidak bisa memiliki pria tersebut. Apa yang dimimpikan lenyap dalam pernikahan. Setiap latar belakang membutuhkan cara hidup tertentu untuk menjalani.

Karena itu harus belajar dengan seksama, lalu membuat perhitungan, apakah mampu menjalaninya. Karena cinta membuat pertimbangan dan menilai, lalu dengan penuh kesadaran menjalani.


Cinta melihat konsekuensi

Jadi cinta melihat konsekuensi dan sanggup menjalani konsekuensi itu. Orang yang mencintai tidak buta, pokoknya nanti pasti bisa asal kita jalani bersama. Orang yang demikian adalah orang yang asal jalan, tidak melihat kehidupan, dan akan terpuruk.

Ketika sudah membuat pertimbangan dan melihat resiko, lalu sanggup untuk menjalani, maka dia akan menjalani setiap keadaan dengan penuh tanggung jawab. Dia tidak marah, kecewa, namun akan menempuh kehidupan bersama saling mendukung, atau dia akan menopang. Perjalanan cinta itu akan menjadi perjalanan kehidupan yang bermakna. Sekalipun bisa jadi perjalanan itu tidak mudah.


Cinta itu melihat kebahagiaan pasangan

Cinta tidak mengatakan ,”Puaskanlah perasaanku “. Tetapi cinta memikirkan kebahagiaan orang lain. Karena itu, ketika perasaan tumbuh dan membuat pertimbangan lalu merasa bahwa kebersamaan itu justru akan menyulitkan pasangan, dia akan dengan kesadaran melepaskannya.

Cinta tidak memaksa. Cinta akan siap jika yang dicintai mengatakan tidak.

Karena itu ketika perasaan tertarik itu membawa ke dalam kesatuan, ia tidak semata-mata ingin mendapatkan kepuasan. Ia akan berjuang untuk membahagiakan pasangannya. Dan karena menyadari bahwa kesatuan cinta bukanlah sekedar memadu rasa, ia akan berjuang dalam hal ekonomi, menata rumah, mendidik anak, menghormati ke 2 orang tua, dsbnya.


Kedewasaan adalah kunci dasar kemampuan mencintai

Kunci seseorang mampu mencintai adalah kedewasaaan. Kedewasaan ini diukur dari kemampuan berpikir yang luas, tidak pendek dan sempit. Kedewasaan diukur dari kemapuan menerima perbedaan dan menghargainya. Kedewasaan diukur dengan kemampuan menanggung kesulitan-kesulitan dan mengutamakan orang lain. Kedewasaan juga diukur dari kemampuan berdaya juang untuk mencapai tujuan hidup.

Kedewasaan bisa menata gejolak perasaan-perasaannya tapi juga bisa menikmati keindahannya.

Jika sudah dewasa maka dia akan memiliki cinta yang melihat. Dan dia siap untuk mencintai

Penulis: Gunawan Sri Haryono (https://www.facebook.com/gunawan.haryono.7)
Read more ...

Indonesia

Air Hidup

Advertise Here

Designed By VungTauZ.Com