Breaking News

Islam

Politik

Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juli 2016

Lebaran, Ketupat, Sungkem, dan Halal Bihalal

Semua postinganku sebetulnya bertujuan untuk mendidik publik masyarakat agar bersikap cerdas dan dewasa dalam menyikapi isu-isu sosial-kemanusiaan-keagamaan. Menggugah masyarakat akan pentingnya makna toleransi dan pluralisme dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa, dan bernegara. Menyadarkan akan bahaya "etnosentrisme" dan pentingnya "relativisme budaya" dalam menyikapi kemajemukan umat manusia. Menghargai tradisi sendiri, budaya sendiri, bahasa sendiri, bangsa sendiri, dan negara sendiri diatas tradisi, budaya, bahasa, bangsa, dan negara lain tanpa harus merendahkan tradisi, budaya, bahasa, bangsa, dan negara lain itu.



Lebaran berarti "lebar" atau "selesai". Bisa juga berarti "lebur" yang berarti "hangus" atau "lenyap". Tentu saja lenyap segala kesalahan dengan jalan saling memaafkan satu sama lain. Konon tradisi ini pertama kali digagas oleh Sunan Bonang yang bertujuan untuk "menyempurnakan" bulan suci Ramadan. Jika dengan puasa, Tuhan mengampuni dosa-dosa kita dengan-Nya, maka dengan saling meminta maaf kepada sesama, lenyaplah dosa-dosa dan kesalahan kita dengan sesama umat manusia. Denagn demikian, dosa dengan Tuhan lebur, dosa dengan sesama manusia juga lebur.
Lambang dari pengampunan kesalahan dan permintaan maaf itu disimbolkan dengan ketupat atau kupat dalam Bahasa Jawa yang berarti "ngaku lepat" atau mengakui kesalahan atau kekhilafan. Tradisi makan kupat ini konon pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijogo, satu-satunya anggota Walisongo yang "njawani" dan gemar nguri-uri atau merawat tradisi dan kebudayaan lokal.
Selain makan ketupat, Lebaran juga diiringi dengan tradisi "sungkeman", sebuah tradisi Jawa yang konon dimulai dari Pangeran Samber Nyowo atau KGPA Arya Mangkunegara I dari Keraton Kartasura. Sungkem adalah sebuah tradisi permintaan maaf dan sekaligus permintaan berkah dari orang tua atau orang yang dituakan.

Terakhir adalah halal bihalal. Nah ini sejarahnya agak rumit dan banyak versi. Tetapi diantara sekian versi, saya menganut versi yang mengatakan bahwa nama "halal bihalal" itu diperkenalkan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), salah satu pendiri NU. Konon dulu, Presiden Sukarno minta nasehat Mbah Wahab untuk mengatasi perselisihan, ketegangan, dan konflik para elit poltik di awal-awal kemerdekaan RI. Mbah Wahab kemudian mengusulkan kepada Bung Karno untuk mengundang semua elit politik dari berbagai etnis dan agama dalam sebuah acara silaturahmi akbar di "istana" yang dinamakan "Halal Bihalal" tujuannya supaya saling "menghalalkan" dan "memaafkan" kesalahan, tidak ribut melulu dan saling "mengharamkan" dan "menyalahkan".

Demikian sekilas "santapan rohani" dari Negeri Singa. Insya Allah, besuk mudik kampung untuk ikut merayakan Lebaran, makan kupat, sungkeman, dan halal bihalal.

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Jumat, 20 Mei 2016

RENUNGAN JUMAT


Setiap menghadiri upacara kematian, saya sering mendengar doa. "Semoga Allah menempatkan almarhum sesuai dengan amal ibadahnya."
Saat mendengar doa itu, saya selalu menggigil. Tidak usah memakai hitungan Allah. Saya sendiri bisa menghitung amal ibadah saya, dan ah, amat sedikit. Amat secuil.


Saya memakai sedikit kebaikan, untuk menutupi aib yang segudang. Saya memakai sejumput keindahan untuk mengelabui keburukan yang tersembunyi.
Allah pasti adil. Dia mengenal manusia sampai ke lubuk hatinya. Bagaimana mungkin saya tenang dalam kematian jika doa itu disampaikan kepada saya?
Jika amal ibadah dan keburukan jadi syarat dimana posisi manusia kelak di tempatkan. Saya tahu pasti, dimana posisi saya.

Bahkan kebaikan yang saya lakukan, belum tentu jadi kebaikan. Ibadah yang saya kerjakan, belum tentu bernilai ibadah.

Saya beribadah sangat sedikit. Tapi perasaan lebih shaleh dari orang lain sering muncul.
Jika menolong orang, saya merasa sudah lebih hebat dari yang ditolong.
Jika berbuat secuil kebaikan, saya merasa sudah melampaui keburukan.
Baru belajar sedikit, merasa punya hak menuding-nuding orang lain.

Padahal perasaan-perasaan yang tumbuh itu menarik semua nilai kebaikan ke titik nol. Menjadi tidak berarti.
Sementara begitu banyak keburukan yang tersembunyi maupun yang terang-terangan saya lakukan.
Saya percaya Allah Maha Adil. Mengitung setiap kebaikan dan keburukan manusia. Tapi, saya berharap keadilanNya tidak dihadirkan kepada saya. Sebab saya cuma bisa membawa kantong kresek kosong untuk bekal menghadapnya.

Saya hanya bisa memelas belas kasih. Saya hanya berharap kasih sayang Allah mendahului keadilanNya.
Jika terlampau banyak keburukan, saya menanti syafaat Nabi dan para imam memercik sedikit saja. Membalas cinta saya, yang kadang juga tidak sunggu-sungguh.

Sebab di hadapan Allah, saya cuma mahluk yang minta dikasihani. Di hadapan Nabi dan para imam, saya cuma memohon tidak diusir dari barisannya. Meskipun cuma jadi anak bawang...

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Sabtu, 30 April 2016

KEPEDULIAN

Tiga foto terlampir saya ambil gambarnya tadi pagi dari perjalanan Jakarta-Bogor, seperti biasa menggunakan angkutan masal KRL.


Ada foto dua wanita duduk di salah satu pilar peron sebuah stasiun di Jakarta menunggu kereta datang. Mereka asyik melihat sebuah dunia kecil dalam genggaman bernama gadget, sementara mereka nampaknya tidak mempedulikan lingkungan sekelilingnya termasuk saya yang mengambil gambarnya dari jarak dekat.
Ada foto dua pria di dalam gerbong kereta saat melintas seusai stasiun Bojonggede. Keduanya melakukan hal yang sama, yaitu menyumbat kedua telinganya dengan earphone yang dihubungkan ke gadget di genggamannya yang juga tengah diamatinya dengan raut muka kadang-kadang memberengut, kadang-kadang tersenyum.


Mereka asyik dengan dunia kecil di genggamannya, tidak mempedulikan lingkungan sekelilingnya termasuk saya -seorang observer yang mengambil gambarnya dari jarak dekat. Saya berpikir kedua orang ini nampaknya tengah menutup kedua inderanya bagi dunia sekelilingnya, yaitu mata dan telinga. Matanya hanya mengamati dunia kecil gadget, telinganya tertutup oleh musik yang keluar dari alat ajaib itu.
Serentak saya teringat beberapa korban tabrak KRL adalah para penyeberang rel yang tengah menutup kedua inderanya itu oleh gadget. Pikiran dan mata mereka tengah terfokus ke layar dunia kecil mereka, dan telingannya tak mendengar peluit kereta yang meraung sebab musik yang hingar bingar mungkin tengah didengarnya. Dan mereka pun tertabrak, terlempar, atau terseret...

Ketidakpedulian akan dunia sekeliling, maaf saja, saya menyebut kedua foto itu begitu. Maaf juga buat keempat orang di dalam foto tersebut bila saya posting. Banyak orang melakukan seperti begitu, mungkin termasuk saya juga.

Sampai di Stasiun Bogor, juga di setiap stasiun yang saya singgahi di mana pun di Jabodetabek, di dekat pintu masuk sekaligus keluar saya selalu melihat satu atau dua kursi roda yang tengah terlipat siap untuk digunakan. Kursi roda ini dijaga petugas. Dan sekali dua kali saya melihat penumpang renta atau disabilitas tengah didorong oleh petugas stasiun menuju pintu keluar atau menuju gerbong kereta. Kursi roda begini semula hanya saya lihat ada di bandara-bandara untuk membawa penumpang renta atau disabilitas ke/dari pesawat terbang. Sekarang, di setiap stasiun ada, pun di stasiun kecil. Hebat.


Saya menyebut foto kursi roda itu kepedulian akan dunia sekeliling.
Ketidakpedulian dan kepedulian akan dunia sekeliling selalu ada dan terjadi setiap hari.
Saya memilih untuk peduli, sekecil apa pun yang saya lakukan untuk sekeliling saya. Kalau saya tak peduli, saya tak akan menulis, mengajar, menemani kawan-kawan ke lapangan, memberikan nasihat dan pencerahan, menjawab banyak sekali pertanyaan dari penanya yang saya tak kenal, dan lain-lain.

Manusia adalah Homo socius, jangan menutup inderamu terhadap sekeliling...paling tidak untuk dirimu sendiri, tetap waspadalah sebab tak sedikit nyawa telah melayang oleh sebab terlalu asyik dengan gadget..Gadget itu sangat penting saat ini, tetapi bukan segalanya.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Minggu, 28 Februari 2016

NGOBROL CINTA DENGAN HABIBIE

Dalam aktifitas sebagai konsultan komunikasi sebuah LSM, saya berkesempatan berjumpa dengan BJ Habibie di rumahnya. Kami menunggu di ruang perpustakaan yang teduh. Tidak lama menunggu, Pak Habibie muncul. Saya mengamati geraknya tetap energik. Gaya bicaranya masih memancarkan antusiasme.
Tapi usia memang tidak dapat dibohongi. Menjumpai Pak Habibie saat itu tetap saja saya melihat seorang lelaki yang telah melewati masa jayanya. Ada rasa lelah. Meski dia berusaha terus memompa semangat, tampaknya Habibie yang saya temui sore itu adalah seorang lelaki yang sadar, bahwa sebagai manusia dia sudah memasuki masa-masa istirahat. "Saya lebih suka dipanggil eyang," ujarnya kepada kami. Sebuah refleksi kesadaran tentang usia.

Kami duduk mengitari meja panjang. Obrolan mengalir. Muai dari kondisi pemerintahan sampai suasana masyarakat Indonesia. Juga sedikit soal teknologi pesawat. Dia bicara dengan gayanya. Tapi tetap saja, saya merasa energinya sudah tidak seperti Habibhie yang dulu. Habibie yang penuh gelora.
Obrolan kami kemudian menyerempet mengenai Bu Ainun. Mulai dari buku "Habibier & Ainun' yang ditulisnya sampai film yang menguras air mata itu. Saat itulah saya merasakan energi yang berbeda. Sinar matanya tiba-tiba menyala cerah. Senyumnya melebar. Bahasanya deras seperti air. Dan gerak tubuhnya lebih bersemangat. Ini seperti lelaki yang sedikit berbeda dibanding beberapa menit yang lalu.

Setiap kali menyebut nama Ainun, saya merasakan ada getaran yang luar biasa dari tekanan suaranya. Sepanjang bercerita, saya hanya mendengar kekaguman seorang pria terhadap sesosok wanita.
Bagi Anda yang pernah membaca buku 'Habibie dan Ainun' atau pernah menyaksikan filmnya, mungkin akan merasakan getaran yang sama. Buku dan film itu, melulu berisi ekspresi cinta seorang lelaki, seoran jenius teknologi pada jamannya, seorang mantan pejabat tinggi negara, dan seorang mantan presiden Indonesia terhadap sosok wanita.

Tapi begitu mendengar tuturan Pak Habibie secara langsung, getaran itu jelas lebih terasa. Menceritakan kenangan tentang Bu Ainun, saya mendapat kesan bahwa Habibie adalah seorang pecinta sejati. Bahkan hanya dengan menyebut nama Ainun saja energi lelaki itu seperti tumbuh kembali.

Sejak dulu saya kagum dengan Pak Habibie karena kejeniusannya. Bahkan Iwan Fals mengabadikan kecerdasan seorang Habibie dalam lagu Oemar Bakrie. Sebagai ilmuan Habibie sudah berada pada level puncak. Karyanya sampai sekarang tetap menjadi tonggak pengembangan teknologi pesawat terbang.
Saya juga kagum padanya karena berhasil mencapai karir tertinggi dalam politik, sebagai Presiden RI. Tapi sore itu, saya mengagumi Habibie sebagai seorang lelaki. Sejak perjumpaan dengan Bu Ainun puluhan tahun lalu, sampai sekarang --setelah beberapa tahun istrinya wafat-- dia tetap berhasil memelihara api cintanya.
"Saya sudah 77 tahun. Entah berapa lama lagi saya bisa bertemu ibu Ainun," begitu ucapnya. Enteng. Mungkin diucapkan dengan perasaan rindu yang menggelora.

Ngobrol Cinta Dengan Habibie

Tampaknya untuk urusan mencintai pasangan dengan hati yang penuh dan terus hidup, bisa dikatakan Pak Habibie adalah juaranya.

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Selasa, 16 Februari 2016

KETIKA KATA CINTA MENINJU-MU

Sebenarnya apa itu cinta ?

Cinta itu bukan hanya perasaan emosional yang menderu-deru dalam diri. Cinta itu luas. Ia mencakup tanggung-jawab, pengorbanan dan bakti.
Cinta itu juga bukan rasa memiliki. Karena, bagaimana bisa seseorang memiliki sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya ? Karena tidak ada sesuatupun di dunia ini yang bisa di miliki. Mereka datang kepada kita sebagai kesenangan sekaligus sebuah ujian.
Jadi, temanku sayang.. Ketika engkau berada pada posisi sebagai seorang istri yang kecewa terhadap suami dan merasa cintamu telah mati, tanyakan pada dirimu benarkah yang mati itu adalah cinta ? Ataukah kamu yang mematikan dirimu sendiri ?

Apa Itu Cinta

Pada dasarnya, manusia memiliki ujiannya masing2. Dan disitulah hebatnya Tuhan. Ujian selalu mengambil titik terlemah dari manusia. Ada yang cinta harta, diuji dengan kelaparan. Ada yang cinta pada dirinya sendiri, diuji kesehatan. Ada yang cinta pada anaknya, diuji dengan ketakutan. Ada yang mencintai keluarga yang bahagia, diuji dengan kesendirian.
Hidup di dunia hanya sebentar. Kita berada di tempat dimana begitu banyak poin amal tanpa perhitungan. Karena poin amal itu bukan hanya ritual. Poin amal itu juga adalah spiritual. Bukankah pengorbanan itu adalah spiritual ?

Lihatlah bunda theresa mengorbankan kenyamanan dirinya untuk berbuat kepada kaum papa. Lihatlah Mahatma Gandhi membuka baju duniawinya untuk kaum marjinal. Mereka itu - yang dulu hidup dengan nyaman - paham bahwa kenyamanan bukanlah tangga menuju surga. Mereka mencari eskalator menuju kebahagiaan diri melalui pengorbanan.
Duduklah sebentar. Redakan emosi dan kalutmu. Jangan turuti nafsumu dengan bercerai. Apakah perceraian itu lebih baik ? Ataukah membawamu ke tempat yang lebih buruk ? Ingat, keputusanmu dulu yang menjadikan pasanganmu sebagai pendamping, berbuah resiko yang sekarang kau hadapi. 
Dan dari keputusanmu lahirlah anak-anakmu. Apakah kau ingin mengkhianati keputusanmu sendiri ? Bukankah manusia seharusnya bertanggung-jawab terhadap apa yang ia putuskan ?

Mari letakkan pola pikirmu pada sisi ini. Bahwa baktimu kepada keluargamu, kepada suamimu yang kau rasa mengecewakanmu, adalah bagian dari pengorbanan hidupmu untuk mengumpulkan poin-poin amal di dunia ini. Tuhan menyediakan tanggamu menuju surga tepat di depanmu, di hadapanmu. Naiki-lah.
Rubahlah wajah masam-mu setiap pagi dengan keceriaan. Mereka, keluargamu, adalah perantara2 yang dikirimkan untuk membahagiakan ruh-mu nanti, meski sekarang kau merasa jasadmu menderita.
Apakah kamu sudah mulai paham ?

Jika belum, renungkan kembali kata-kataku ini. Tujuanmu bukan disini, di dunia ini. Tujuan perjalanan manusia sebenarnya adalah di akhirat nanti.

Jika sudah, tuangkan aku secangkir kopi. Pahitnya selalu menyadarkanku bahwa apa yang tampak manis di dunia, sebenarnya adalah kepahitan yang nyata.

Begitu juga sebaliknya.

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Senin, 25 Januari 2016

KELAHIRAN YESUS KRISTUS DALAM SEJARAH DUNIA

Natal yang dirayakan umat Kristiani di seluruh dunia hari ini adalah peringatan kelahiran Yesus Kristus. Umat Kristiani (Kristen dan Katolik) adalah umat pengikut Yesus Kristus. Yesus Kristus juga dikenal dalam Islam dengan nama Isa Almasih.

Ada istilah lain, yaitu Masehi. Masehi adalah istilah yang berasal dari bahasa Arab, berarti Kristen atau Nasrani. Dengan istilah Masehi, kita selalu mengaitkannya ke perhitungan waktu, misalnya SM - Sebelum Masehi dan Tahun Masehi. Dalam bahasa Inggris, SM itu adalah BC atau Before Christ, sementara Tahun Masehi adalah AD atau Anno Domini - Tahun Tuhan Kita.
Sejarah Kelahiran Yesus Kristus
Apa maksud semua ini? Maksud semua ini akan jelas dengan mengetahui bahwa kelahiran Yesus Kristus itu dijadikan patokan perhitungan waktu sejarah. SM atau BC artinya tahun-tahun sebelum Yesus lahir, sementara Tahun Masehi atau AD adalah tahun-tahun setelah Yesus lahir. Misalnya masa hidup Aristoteles, filsuf Yunani ternama itu adalah 384-322 SM/BC, artinya Aristoteles hidup antara tahun 384-322 sebelum Yesus lahir. Sementara, kota Roma terbakar atau dibakar pada 60 M/AD, itu artinya kota Roma terbakar/dibakar pada tahun 60 setelah Yesus lahir.

Bila begitu mestinya Yesus Kristus itu lahir pada tahun 1 Masehi agar kelahiranNya jadi patokan perhitungan antara SM dan Masehi atau antara BC dan AD. Sayangnya tidak. Yesus lahir diperkirakan pada sekitar tahun 6 SM, dan bukan pada 25 Desember pula. Kata siapa dan tahu dari mana? Kitab Suci Matius dan Lukas menunjukkan itu secara implisit serta dokumen sejarah yang ditulis pada awal tahun Masehi.

-----------------------------------------

Kitab Suci Matius dan Lukas bukanlah buku sejarah, tetapi buku iman dan teologia. Namun karena kedua buku ini juga bertutur tentang kejadian- kejadian pada masa lalu, maka keterangan tentang sejarah ada di dalamnya.

Untuk soal kelahiran Yesus Kristus Kitab Matius dan Lukas menulis fakta sejarah untuk mengawaliya. "Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, ..." (Matius 2:1). "Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia....Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan." (Lukas 2: 1, 6, 7).

Yesus Kristus dilahirkan pada zaman Kaisar Agustus dan zaman Raja Herodes. Apakah kedua orang ini pernah ada dalam sejarah? Tentu saja. Kaisar Agustus/Augustus adalah seorang kaisar Kekaisaran Romawi yang memerintah selama 41 tahun pada tahun 27 SM - 14 M. Sementara Raja Herodes adalah raja di Kekaisaran Romawi yang memerintah wilayah Yudea dari tahun 37 SM - 4 SM.

Raja Herodes inilah yang erat kaitannya dengan kronologi kelahiran Yesus. Dokumen sejarah paling tua tentang ini ditulis Flavius Josephus seorang ahli sejarah yang hidup pada tahun 37 M- 100 M. Josephus menulis bahwa Raja Herodes itu (Herodes I, Herodes Agung, Herod the Great) hidup antara tahun 74/73 SM - tahun 4 SM.

Dalam Kitab Matius 2 diceritakan bahwa Raja Herodes ini ingin membunuh Yesus Kristus yang dijuluki Raja Orang Yahudi, Herodes sendiri adalah Raja Yudea di tanah orang Yahudi. Jadi Herodes tak menginginkan adanya seorang pesaing. Ia mengumpulkan para ahli Yahudi dan berdasarkan penelusuran Kitab-Kitab mereka mengatakan bahwa Raja Orang Yahudi itu dilahirkan di Bethlehem, masih di tanah Yudea di wilayah kekuasaan Horodes.

Saat orang Majus (para bangsawan sekaligus astrolog Babilonia - Irak/Iran sekarang) datang dari timur ke Tanah Yudea untuk menyembah raja kecil yang baru dilahirkan itu seperti ditunjukkan oleh sebuah bintang yang mereka tafsirkan sebagai pertanda kelahiran seorang Raja, Herodes berpesan kepada para Majusi itu agar tempat kediaman Raja yang baru lahir itu di mana tepatnya di Bethlehem diberitahukan kepadanya agar ia bisa menyembah Raja itu juga (padahal raja baru itu mau dibunuhnya).

Akhirnya, para Majusi itu dapat menemukan tempat kediaman Yusuf, Maria, dan Yesus Kristus yang saat itu diperkirakan baru berumur dua tahun (jadi orang Majus itu tidak menyembah Yesus saat Yesus baru dilahirkan, tidak bersamaan dengan para gembala dari padang Efrata yang menyembah Yesus saat Dia baru dilahirkan). Karena petunjuk Allah melalui mimpi, para Majusi ini mengambil jalan pulang melalui jalan lain menghindari memberi tahu Herodes.

Herodes sangat marah saat ia tahu para Majusi itu telah kembali ke negeri mereka tanpa memberitahu dirinya di mana Yesus Kristus berada. Dan seperti diberitakan Kitab Matius Raja Herodes memerintahkan untuk membunuh semua anak di bawah dua tahun di Bethlehem. "Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu." (Matius 2:16).

Tetapi Yesus Kristus selamat dari pembunuhan massal itu sebab Allah sudah memberi tahu Yusuf agar ia melarikan Yesus ke Mesir. Dan Yusuf, Maria, Yesus kecil kembali ke Yudea setelah Herodes mati pada tahun 4 SM sesuai dengan perintah Allah melalui malaikatnya yang datang dalam mimpi Yusuf.

-----------------------------------------

Maka berdasarkan hal itu, Yesus Kristus kemungkinan besar dilahirkan pada dua tahun sebelum 4 SM, atau pada 6 SM mengacu kepada kunjungan para Majusi dan pembunuhan anak-anak di bawah umur dua tahun oleh Herodes, dan catatan ahli sejarah Josephus bahwa Herodes mati pada tahun 4SM.

Dan 25 Desember pun mestinya bukan hari kelahiran Yesus Kristus sebab bulan Desember di Yudea adalah musim dingin, mungkin turun salju juga. Tak mungkin berita yang ditulis dalam Lukas 2:8 ("Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.") terjadi pada musim dingin di bulan Desember, para gembala dan ternaknya akan sangat menderita kedinginan luar biasa bila tetap berada di luar pada malam bulan Desember.

Klemens dari Alexandria menghitung bahwa Yesus dilahirkan pada 25 Pachon (20 Mei), tetapi ini juga bukan suatu kepastian. Gereja pada masa awal tahun-tahun Masehi tidak pernah merayakan peringatan hari kelahiran Yesus. Peringatan hari kelahiran Yesus pada 25 Desember berasal dari akhir abad ke-4 oleh Gereja di Roma. Tanggal 25 Desember dipilih dari hari peringatan umum saat itu saat Matahari mulai bergerak semu kembali ke arah utara setelah mencapai titik paling selatannya pada 22 Desember.

----------------------------------------

Tulisan ini hanya sebuah usaha untuk menganalisis kronologi kelahiran Yesus Kristus. Kapan tepatnya Yesus dilahirkan kita tidak akan tahu. Berbagai pendekatan yang pernah dilakukan kebanyakan adalah seperti yang tertulis di atas, yaitu dua atau tiga tahun sebelum 4 SM/BC, dan kemungkinan besar bukan pada Desember saat musim dingin terjadi di Yudea.

Dan kelahiran Yesus tidak ada hubungannya dengan pohon natal, salju atau Santa Claus. Semua itu hanya tradisi memeringati Natal, tetapi tidak berhubungan secara substansi dengan kelahiran Yesus Kristus.

Yang terpenting adalah bahwa Yesus Kristus bukanlah sebuah dongeng, Ia adalah tokoh sejarah, yang kelahiranNya di tengah peristiwa sejarah dunia, satu kronologi dengan Kaisar Agustus, satu kronologi dengan Raja Herodes. Sekalipun demikian, Ia tidak berakhir dalam sejarah. Sebab Ia Telah Ada, Ia Sedang Ada, dan Ia Akan Ada - Maranatha - Dia akan datang kembali.

"Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir." -Wahyu 22:13

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Sabtu, 23 Januari 2016

TETAP BELAJAR

Dua anak kakak beradik ini kembali ke kota yang membesarkannya, Bogor. Libur dua minggu menjelang Natal dan Tahun Baru. Mereka kini tinggal di Bandung -kota yang membesarkan ayahnya dulu, mereka berjuang berat mengikuti berbagai program ketat kuliah kedokteran umum di Universitas Kristen Maranatha.

Mahasiswa kedokteran umum selalu berbeda dari para mahasiswa lain, termasuk geologi - kuliah saya dulu. Mereka mesti membaca banyak sekali bahan kuliah, berbagai praktik laboratorium dan keahlian medis.

Bahan kuliah yang begitu banyak dan berbagai praktik laboratorium dan keahlian medis mesti dikebut dalam waktu 3,5 tahun. Lalu selama dua tahun berikutnya mereka akan praktik di RS sebagai ko-as, calon dokter yang sedang belajar di RS di bawah bimbingan para dokter senior. Setelah itu mereka akan mengikuti ujian kompetensi dokter Indonesia (UKDI). Setelah UKDI, lalu mereka diwisuda dan diambil sumpahnya sebagai dokter. Dan setahun berikutnya mereka akan praktik wajib kerja sarjana sebagai dokter umum di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Di setahun terakhir itulah kompetensi dan ketrampilan mereka sebagai dokter akan teruji.

Still Learn
Setelah itu, mereka bisa praktik sebagai dokter umum atau melanjutkan sekolahnya untuk keahlian dokter spesialis. Tidak berakhir di situ, lalu selama kariernya sebagai dokter kepada mereka akan ada harapan, permintaan, atau bahkan tuntutan masyarakat atas profesi kemanusiaan yang diembannya, sebab para dokter adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk menyelamatkan nyawa manusia. Tidak jarang masyarakat yang kecewa kepada mereka lalu menuntut para dokter ke pengadilan, misalnya dalam kasus malpraktik.

Para sarjana lain tentu bisa salah, dan diabaikan, tidak ada tuntutan hukum, termasuk kepada seorang geolog seperti saya. Namun dokter yang salah memberikan diagnosis, lalu salah memberikan resep, maka akan fatal bagi pasiennya, apa yang kemudian akan terjadi?

Saya salah menafsirkan data seismik, lalu perusahaan saya mengebor struktur yang salah saya tafsirkan itu, dengan ongkos misalnya 70 juta USD, dan kering tak menemukan minyak, gas, hanya batu -kepada saya tak akan ada tuntutan pertanggungjawaban. Apalagi saya bisa berkilah dengan 1001 cara. Bagaimana halnya dengan seorang dokter, yang pasiennya mati setelah diobatinya?

Namun para dokter juga mendapatkan penghargaan, penghormatan yang lebih daripada profesi lain pada umumnya. Keberadaan mereka di masyarakat akan lebih dihargai, daripada keberadaan sarjana lainnya. Itu namanya kekuatan para dokter, yang harus diakui. Tetapi seperti yang pernah saya tulis, juga ditulis di atas, semakin kuat seseorang semakin besar kewajiban dan tanggung jawabnya.

--------------------------------------------

Karena itu semua, anak-anak saya meskipun tengah berlibur di ranselnya masing-masing membawa diktat kuliah dan buku teks kedokteran. Dan saya melihat mereka membuka itu, mempelajarinya, tak masalah di sela-sela sambil bermain game dari tablet atau nonton TV program musik dan kartun kesenangannya. Dan mereka tidur pun bersama diktat kuliah dan tabletnya - sebagian materi kuliah disimpan dan diakses melalui tablet.

Tidak ada waktu jeda untuk total tidak belajar buat para mahasiswa kedokteran. Profesi dan tuntutan atas mereka berat dan besar. Selagi mahasiswa mereka harus belajar dengan rajin dan tekun -lebih rajin, lebih tekun daripada mahasiswa pada umumnya.

Semoga kalian, anak-anakku, bertahan dan maju melalui hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun yang berat dalam menyelesaikan pendidikan yang kalian telah pilih sendiri. Orang tuamu selalu mendukungmu dengan penuh, selalu mendoakanmu setiap hari. Semoga kalian kelak menjadi para pekerja Tuhan yang baik, yang cerdas dan punya hati, untuk menyelamatkan nyawa manusia yang dikehendaki-Nya masih hidup.

Berjuanglah, anak-anakku.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Minggu, 17 Januari 2016

TEROMPET PAK MUNIR

Malam mendekati tahun baru ini hujan deras sekali. Pak munir tertunduk sedih. Yang pasti dagangan terompet tahun barunya tidak akan laku. Ia membeli semuanya dengan uang terakhir yang dimilikinya. Ia berani mempertaruhkan semua uangnya, karena ia berharap pada momen ini. Momen yang akan membawa keuntungan baginya.

Seharusnya malam ini ia bisa membawa pulang nasi goreng kesayangan anaknya. Entah sudah berapa lama ia tidak mampu menyenangkan hati mereka, karena kesulitan ekonomi yang seakan tidak pernah selesai. Kebahagiannya hanya ketika sampai di rumah, ia melihat anaknya yang tumbuh dengan semua cerita lucu yang diomelkannya dengan lidah yang tertatih.

Seharusnya malam ini ia membawakan istrinya sepasang baju rumah. Ia sudah tidak tahan melihat baju istrinya yang dari ke hari itu saja. Lusuh, sobek dimana-mana, tetapi ia tidak mengeluhkannya. Ia ingin melihat orang yang mendampinginya sekali-sekali berbinar matanya. Hanya itu kebahagiaannya.

Tetapi malam ini semua sia-sia. Ia bersandar di pojok sebuah mall, menatap hujan yang seakan tidak bersahabat dengannya. Ia menyelimuti dagangannya dengan plastik, melindunginya karena itu adalah barang paling berharga miliknya.

Diambilnya sebuah terompet. Ia memeluknya. Tidak terasa airmatanya menitik mengingat bahwa untuk kali inipun ia gagal membahagiakan orang-orang yang dicintainya.

Tanpa sadar matanya tertumbuk pada bungkus terompet baru itu. Sebilang huruf yang sangat dikenalnya. Kaligrafi indah yang tertumpuk diantara kertas lainnya. Ia tidak mampu membaca apa artinya, tetapi ia tahu bahwa itu adalah bagian dari kitab suci, sebuah sampul.

Memorinya sejenak terbang ke masa lalu ketika hidupnya begitu tenang. Masa kecil tanpa beban. Ketika ia beramai-ramai sembahyang di mushola kecil di kampungnya dan tumpukan Alquran berjejer menanti dibacakan mereka.

Ia semakin menangis. Teringat betapa semua itu sudah lama ditinggalkannya. Teringat betapa ia sibuk memenuhi semua hidupnya dengan kebutuhan duniawi. Baru disadarinya, betapa kosong sekarang jiwanya. Ia tidak lagi pernah berdoa, tidak pernah mendekat kepada-Nya.

Hujan semakin deras, pak Munir tenggelam dalam isaknya. “Tuhan, ampuni aku yang telah melupakan-Mu..” Ia merintih mengingat betapa ia mencari kebahagiaan yang hakiki, yang tidak pernah ditemukannya dalam setiap langkah kakinya. Ia merintih ketika sebuah terompet mengingatkannya, menohok relung hatinya.

Tiba2 segerombolan manusia berjubah datang. Warnanya putih, matanya merah membara. Terompetnya dirampas, ia dimaki. Ia mempertahankan hak miliknya, tetapi ia ditendang. Sayup-sayup ia mendengar kata “Penghinaan…” Entah apa yang membuat mereka merasa terhina sampai begitu marahnya.

Terompet Tahun Baru
Pak Munir tersedan, ia teringat anaknya, teringat istrinya, teringat masa kecilnya, teringat Tuhan yang telah lama dilupakannya, ia teringat segalanya. Hanya satu yang ia lupa, kenapa manusia bisa begitu kejamnya?

Pak munir mengayuh sepeda dengan gontai. Tuhan sekejap datang padanya, dan kini hilang sudah ditelan malam.

Selamat tahun baru, wahai manusia yang hidupnya sempurna.

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Jumat, 01 Januari 2016

IBU TEMANKU

Perempuan itu duduk di hadapan saya. Sore itu, kami menikmati kopi di sebuah kedai pusat perbelanjaan di tengah kota Jakarta. Pakaiannya necis. Pergelangan tangannya dihiasai gelang indah dan beberapa jarinya melingkar cincin permata. Bau parfum yang lembut tercium. Teman saya ini memang wanita sukses. Karirnya di perusahaan asing melonjak. Dia menikah dengan pengusaha mebel, dikarunia dua orang anak yang lucu. Kebetulan saya cukup kenal dengan keluarganya.

Obrolan kami melayang ke mana-mana. Mulai dari berita-berita di koran, hal-hal bisnis, sampai ke masalah kecil semisal bagaimana anak-anak kami tumbuh. Saya sempat berkisah mengenai masa kecil saya, Juga cerita soal mama saya. Bagaimana rasa masakannya, kesabaran yang luar biasa, juga kekaguman dan rasa hormat saya kepada perempuan tercantik di dunia itu. Saya besar di perkampungan padat Jakarta dengan segala kompleksitasnya. Tapi, saya memiliki mama yang luar biasa. Bersama dengusan nafas dan semangatnya saya berkembang.

”Mamaku sekarang menjadi volunteer untuk memandikan jejazah," kisahku kepadanya. Sambil bercerita, saya membayangkan mama yang dulu dengan kasih sayang memandikan anaknya. Selesai mandi, sebelum saya berpakaian, biasanya mama mendudukan saya di atas meja kemudian mengoleskan koreng yang banyak bertaburan di kaki saya.
Seingat saya karena pemahaman kesehatan yang minim, mama sering mencampur isi kapsul (entah berisi obat apa) dengan minyak tawon untuk dioleskan di koreng-koreng saya. Memang ada antibiotik luar Sulfanilamide, (sekarang sudah tidak beredar) yang cara kerjanya dioleskan. Tetapi kemudian orang mengganggap semua isi kapsul memiliki daya menyembuh seperti itu. Akhirnya, kapsul berisi obat apapun dicampurkan dengan minyak tawon untuk dioleskan ke bekas luka. Untung saja koreng-koreng saya penuh pemakluman. Koreng itu sembuh meski tidak mungkin karena olesan isi kapsul antah berantah itu.
Mendengar kisah saya yang naif itu teman saya tersenyum. ”Yang menyembuhkan koreng kamu bukan isi kapsul. Obat sebenarnya adalah kasih sayang mamamu,” ujarnya pendek. Saya mengangguk setuju. ”Begitulah seorang ibu bekerja untuk anaknya,” sambungnya lagi. ”Aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku pada ibuku.”

Ibu


Lalu dia berkisah.
Ketika kecil aku seringkali malu bila teman-teman ke rumah. Jika mereka terpaksa harus ke mampir biasanya aku menahan ibuku untuk tidak menemui mereka. Ibuku seolah juga paham perasaan anaknya. Dia tidak pernah menampakkan diri di depan teman-temanku. Apalagi setelah ayahku meninggal, ibu seperti menarik diri dalam dunianya yang sunyi. Untung saja bapakku mewarisi tanah yang cukup luas. Tanah itu diusahakan pamanku dan kami hidup dari sana.

Ketika kakakku pacaran, dia bingung ketika teman prianya bermaksud sowa ke rumah. Aku tahu, kakak juga punya perasaan yang sama dengan aku. Ibuku seolah memahami permasalahan anaknya dan meminta tanteku untuk menemani kakakku berkenalan dengan teman prianya. Aku tahu, diam-diam dari ruang makan, ibuku mengintip. Dia tersenyum kecil melihat putrinya yang kini beranjak dewasa.
Hal yang sama ketika aku berpacaran, ibuku selalu mengindar bertemu dengan pacarku. Dia akan duduk di dalam kamarnya saja. Entah kenapa aku merasa sikap itu lebih baik ketimbang aku harus menjelaskan kepada pacarku tentang kondisi ibuku. Aku tahu itu bukanlah perbuatan yang baik. Tetapi, kalaupun aku paksa keluar, ibuku akan tetap bertahan di kamarnya. Dengan bahasa isyarat, dia seperti ingin mengatakan, jangan sampai kondisinya menjadi penghalang kebahagian aku.

Kami tahu kami menyayangi ibu. Dan ibu juga tahu sikap kami itu. Ketika di rumah kami adalah anak yang berusaha membuat ibu bahagia. Tetapi saat harus berinteraksi dengan orang lain ibu seperti memahami kegalauan anaknya. Dia memilih menghindar ketimbang harus membuat anak-anaknya tidak nyaman.
Kami sepertinya tumbuh sendiri. Ketika aku gundah, tidak ada yang dapat aku adukan kepada ibuku. Tidak ada nasihat yang keluar dari mulutnya. Aku hanya bisa tidur dipangkuannya, menikmati belaian tangannya. ”Ibuku bisu-tuli sejak kecil. Dia menghindar dari teman-teman kami mungkin agar kami tidak harus menanggung perasaan malu,” saya lihat mata teman saya berkabut.

Ketika ibu meninggal, waktu itu aku masih kuliah. Aku pulang mendapati jenazah ibuku. Aku menangis, tetapi tidak tahu untuk apa. Aku menangis untuk seorang ibu, orang yang selama ini duduk di kamarnya sendiri, ketika anak-anaknya sedang merajut kebahagiaan. Tapi sepertinya aku juga merasa lepas. Waktu itu aku lebih bisa menceritakan ibuku yang telah tiada ketimbang harus mengisahkan ibuku yang bisu-tuli. ”Mungkin aku berdosa. Tapi aku menyayangi ibuku. Aku juga tahu dia sangat menyanyangi kami. Dan karena kasih sayangnya itu, dia bersedia menghindar dari kehidupan sosial kami.”
Ketika kamu cerita, bahwa mama kamu sekarang jadi volunteer memandikan jejazah, aku ingat ibuku. Saat dia meninggal kami diminta untuk ikut mengguyurkan air pemandian ke jenazah ibuku. Sebelum aku mengguyur air ke wajahnya yang kini pias, aku sempat berbisik ke telinganya, ”Maafkan aku, bu. Maafkan.. Dan, setelah itu aku jatuh pingsan."

Selesai bercerita, saya merasakan nafasnya naik-turun. Wajahnya kelabu diterpa cahaya lampu...

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Jumat, 11 Desember 2015

SEPOTONG CINTA DI KARBALA

Peringatan perjalanan 40 hari keluarga Imam Hussain as pasca gugurnya beliau dan pengikutnya di padang Karbala atau yang biasa dinamakan Arbain, selalu meninggalkan kesan yg mendalam buat saya.
Bukan ritualnya yang menohok hati, tetapi nilai spiritualitasnya yang tinggi.

Perjalanan sejauh 80 km dari makam Imam Ali as di Najaf ke makam Imam Hussain as di Karbala Irak, bisa disebut sebagai prosesi ziarah terbesar di dunia. Bayangkan saja, total 20 juta orang berjalan kaki dengan perasaan mengharu biru mengingat peristiwa penting dalam sejarah umat Islam. Sebagai perbandingan, musim haji saja otoritas haji hanya sanggup menampung 2 juta orang.
Sisi spiritual yang tinggi bukan hanya dalam perjalanannya saja, tetapi juga di sepanjang jalan. Ribuan masyarakat Irak, bahkan dari luar Irak, berlomba2 menyediakan apa yg bisa mereka sediakan untuk para peziarah. Ada yang menyediakan tenda, ada yang menyediakan pijat kaki dan banyak lagi yang menyediakan makanan.
Dan semua itu gratis.

Ini ruang dan waktu dimana materi tidak berlaku. Mereka berlomba-lomba mencari dan memperbanyak pahala dari apa yg mereka mampu. Mereka akan meminta para penziarah untuk mengambil apa yang mereka tawarkan dan mereka akan sangat berterima-kasih untuk itu. Karena mereka akhirnya berfungsi sebagai pelayan dari tamu-tamu agung yang datang dari seluruh dunia.
Begitu banyak sisi humanis yang bisa dipotret dalam satu peristiwa ziarah. Membuat bahkan mendengar ceritanya saja, diri ini merasa rendah. Bagaimana diri ini merasa lebih mulya dari seorang papa yang mampu menyisihkan apa yg dia punya untuk diberikan kepada para penziarah ? Mereka bahkan mengemis supaya diterima. Mereka luar biasa kaya.

Karbala

Tidak berlebihan ketika seorang teman pernah bercerita bahwa untuk membersihkan toilet di makam Imam Hussain as, banyak yang menunggu antrian selama sekian tahun lamanya. Dan mereka malah bukan dari kalangan papa, tetapi para pejabat, para pengusaha sampai para ulama.
Apa yang mereka cari sebenarnya ?
Pada tingkatan keimanan seperti mereka, manusia materi tidak akan pernah mengerti bahwa mereka menganggap materi ini semua sampah belaka. Dunia ini lebih rendah dari segala sesuatu, karena itulah ia dinamakan dunia. Mereka mencari materi bukan untuk menjadi budaknya, tetapi untuk berguna bagi manusia lainnya.
Karbala - Cinta
Seorang teman pernah bertanya, kapan saya akan ziarah kesana ?
Saya hanya tersenyum dan menjawab, apakah tidak cukup jiwa saya yang selalu berada disana ? Saya begitu larut dalam kisah tragis itu, sehingga saya masih belum merasa kuat untuk berada disana.
Saya takut, bahkan ketika kaki baru saja menginjak tanah di bandara, airmata saya langsung deras berderai tiada hentinya.

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Sabtu, 28 November 2015

Sang Guru - Catatan Kecil Mengenang Bapak

Oleh : Sigit B. Darmawan

Bapak saya adalah guru. Bapak menyelesaikan pendidikan tertingginya di PGSLP [ Pendidikan Guru Sekolah Lanjutam Pertama] dalam perjuangan yang tidak mudah. Ia harus "ngenger" [ istilah yang sering dipakai untuk seseorang yang hidup mengabdi kepada keluarga orang lain] sejak kecil hanya supaya bisa bersekolah. Namun perjuangan untuk "ngenger" itu membuat bapak paham bahwa pendidikan adalah segala-segalanya.

Bapak menjadi guru sejak tahun 1958 di sebuah Sekolah Rakyat di Purbalingga sampai akhirnya pensiun sebagai guru di SMP Negeri Miri di Sragen. Saya adalah 8 bersaudara. Impian bapak sangat sederhana. Bapak ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang sebaik mungkin. Sadar bahwa gaji seorang guru smp tidaklah cukup untuk membiayai 8 anak-anaknya, bapak memutuskan untuk mengajar tambahan di sekolah swasta pertama yang ada di kota kecamatan Gemolong Sragen.

Tidak cukup hanya itu, bapak juga membuka kursus bahasa Inggris di rumah. Bapak pernah mengikuti kursus bahasa Inggris di Oxford Solo, yang merupakan kursus bahasa inggris satu-satunya di kota Solo saat itu. Bapak sering pulang malam sampai ke rumah yang  di desa karena mengikuti kursus tersebut. Selesai mendapatkan sertifikat kursus tersebut, bapak mulai mengurus perijinan membuka kursus yang dicita-citakannya. Dan tidak perlu waktu lama, akhirnya sebuah papan iklan tegak berdiri di depan pagar rumah: "Kursus Bahasa Inggris untuk SMP dan SLTA".

Kursus itu dilakukan di ruang tamu rumah. Bapak mempersiapkan papan tulis dan bangku-bangku untuk para peserta kursus. Setiap sore saya bisa melihat bagaimana bapak mengajar di kursus yang dikelolanya. Kursus itu berkembang dengan baik, sehingga ruang tamu tidak cukup lagi menampung jumlah murid yang datang. Bapak memindahkan kursusnya di sekolah dasar yang tidak jauh dari rumah, setelah mendapatkan ijin dari kepala sekolahnya. Dan ketika respon semakin baik, akhirnya bapak memindahkan ruang kursus di kantor pendidikan dan kebudayaan di kecamatan dengan seijin kepala P&K. Setiap pagi sampai siang, bapak menjadi guru di smp. Sorenya mengajar di kursusnya.

Perintisan kursus bahasa Inggris yang dilakukan bapak ternyata menarik minat orang lain untuk membuat kursus-kursus serupa. Persaingan kursus itu membuat usaha kursus bapak mulai menurun, sampai akhirnya bapak menutup kursus bahasa inggris yang telah dirintisnya itu. Bapak kembali hanya fokus dengan panggilannya menjadi seorang guru smp sampai pensiun di tahun 1998.

Hari Guru
*********

Dalam kesehariannya, bapak menjadi guru bagi saya. Bapak sangat peduli dengan budaya. Dan cara bapak menularkan budaya kepada saya adalah dengan mengajarkan tembang-tembang yang memiliki filsafat kehidupan yang agung. Setiao malam selepas belajar, bapak selalu menghampiri saya untuk mengajarkan berbagai tembang jawa, khususnya tembang-tembang macapat. Beberapa tembang macapat masih saya ingat sampai sekarang. [Saya pernah dengan bangga menyanyikan salah satu tembang macapat yang diajarkan bapak di sebuah persekutuan gabungan alumni Jabodetabek yang mengusung tema budaya].

Sebagai guru, bapak tidak pernah bosan mencintai negeri ini. Rasa cintanya Itu dibuktikannya dengan kesetiaannya untuk selalu mendorong saya dan saudara saya lainnya berpartisipasi dalam pemilu. Bahkan dalam pemilu 2014 yang lalu, meski dalam kondisi sakit, bapak tetap mengingatkan saya untuk tidak lupa ikut mencoblos di pemilu.  Bagi bapak, itulah cara kita mencintai negeri ini. Itulah cara untuk merubah negeri dengan memilih pemimpin-pemimpin yang baik.

Sebagai guru, bapak dekat dengan masyarakat. Dan karenanya , bapak terpilih selama beberapa periode menjadi ketua RT. Tidaklah mengherankan, karena di desa profesi guru sangatlah mendapat tempat yang terhormat. Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat desa sering memanggil para guru dengan sebutan "mas guru". [Ibu saya yang berprofesi sebagai guru juga dipanggil dengan sebutan "mas guru"].

Kalau berkunjung ke rumah di Bekasi, bapak akan selalu bertanya apakah keterlibatan saya di lingkungan dan masyarakat. Nasehat tanpa bosan dari bapak itulah yang membuat saya tidak kuasa menolak ketika masyarakat dimana saya tinggal meminta saya sebagai pengurus RT.

Bapak tidak hanya menjadi guru di sekolah dan guru di masyarakat. Bapak juga telah menjadi "guru" di gereja kristen jawa Gemolong sebuah gereja yang dirintis pertama kali di daerah saya. Kehidupannya di kemajelisan gereja dalam waktu yang panjang menegaskan perannya sebagai seorang guru bagi masyarakat [jemaat] gereja.

Saya telah menyaksikan dalam hidup saya bagaimana bapak menghidupi perannya sebagai guru. Guru bagi saya, guru bagi keluarga, "guru" bagi gereja dan guru bagi masyarakat.

Hari ini hari Guru. Saya tersentak dalam kenangan kepada bapak, sang guru, yang telah pergi menghadap Tuhan 3 bulan lalu. Sang guru itu meninggalkan kenangan yang amat mendalam dalam diri saya. Sang guru itu telah mengajarkan kepada saya tentang panggilan untuk "memberi hidup" dalam peran-peran yang dilakoninya.

Selamat hari guru.

Tanah Bekasi, 25 November 2015
Read more ...

Sabtu, 21 November 2015

Perasaan Cinta dan Bau Badan

Perasaan cinta kalau sudah tumbuh seringkali mengikat begitu kuat. Perasaan itu mendorong untuk bisa bersama dan bersatu. Dan ketika terjadi kesatuan dan kebersamaan hati orang akan bersukacita.

Akan tetapi ketika dua orang mulai bersatu. Kesatuan itu bisa goncang oleh berbagai hal.Perasaan cinta tidak cukup. Perasaan cinta bahkan bisa mulai redup karena kesatuan itu ternyata tidak indah.

Perasaan cinta mula-mula berangkat dari satu atau dua hal yang menarik, lalu perasaan cinta itu meluap dan merasa bahwa orang itulah yang paling tepat. Ketika perasaan meluap, tidak lagi bisa berpikir bahwa perasaan itu berangkat dari satu atau dua hal yang menarik. Dan satu atau dua hal itupun seringkali bukan didapat dari pengamatan yang mendalam akan tetapi dari penglihatan semata. Karena itu ketika benar-benar bersatu dan di dalam kesatuan itu terdapat banyak hal lain yang menjadi penentu ikatan , perasaan cinta mulai redup atau mulai diwarnai koflik. Kesatuan tidak seindah yang dipikirkan dulu. Bahkan bisa jadi kesatuan itu malah membuat ketidakenakan.

Perasaan Cinta dan Bau Badan

Jadi ada hal-hal lain yang bisa menggoncangkan kesatuan. Salah satu aspek yang bisa menggoncangkan kesatuan adalah bau badan.

Perasaan cinta mendekatkan 2 orang secara fisik.Maka mau tidak mau akan membaui bau badan yang keluar dari calon pasangan. Dan bau badan ini bisa menggoncangkan kesatuan itu.

BAU KERINGAT

Keringat seseorang yang bercampur bakteri akan menimbulkan bau tertentu. Dan bau itu bisa sangat tidak sedap. Bau tidak sedap ini bisa muncul dari orang yang sangat ganteng, pintar, dan gagah atau juga dari wanita yang sangat cantik, lembut, dan pintar. Keringat ada hukumnya sendiri. Karena itu jika seseorang terpesona kepada orang lain karena matanya yang indah, belum tentu nanti bisa menikmati keindahan itu terus, jika ternyata pemilik mata indah itu keringatnya berbau tidak sedap dan menyengat.

Kalau seseorang tidak rajin membersihkan diri dan tidak pedulian, maka sangat mungkin bau keringatnya sangat menyengat. Dan pasti itu akan membuat tidak nyaman .

Beberapa orang yang keringatnya bau ada yang menutupinya dengan parfum badan atau deodoran, akan tetapi pemilihan parfum dan deodoran yang salah malah akan membuat bau keringatnya tambah menyengat.

Kalau dua orang bersatu maka berharap akan bersama selama hidupnya. Karena itu urusan bau keringat ini sangat penting untuk diperhatikan. Kalau keringatnya sangat bau, maka hal itu akan dinikmati seterusnya. Dan itu berarti akan menikmati ketidaknyamanan selamanya.

Namun ketika perasaan cinta meluap, bau keringat seolah tidak menjadi hal penting. Bau keringat bukan faktor yang perlu diperhitungkan. Akan tetapi apabila nanti sudah bersama bau keringat tidak bisa diremehkan. Apalagi kalau sudah menikah akan tidur dalam satu ranjang serta berada dalam satu kamar, bau itu akan menjadi aroma harian yang dinikmati.Betapa tidak enaknya menikmati aroma yang menyengat dari orang yagn selalu dekat.

Kesatuan itu bisa terancam oleh bau keringat.

BAU MULUT

Selain bau badan, ada orang yang memiliki bau mulut yang menyengat. Wanita yang mulutnya indah, belum tentu bau mulutnya sedap. Bisa jadi bau mulutnya tidak enak. Seorang pria yang begitu pandai bicara, bisa jadi mulutnya mengeluarkan bau tak sedap.

Ketika perasaan cinta yang meluap membawa ke dalam relasi, maka segera akan berhadapan dengan bau mulut. Calon pasangan hidup itu akan berhadapan, akan berbicara secara berdekatan. Dan pembicaraan yang intim akan menjadi penentu keindahan relasi. Lalu bagaimana kalau ternyata salah satu mulutnya berbau?

Apalagi kalau sudah menikah, bukan hanya berdekatan, tetapi juga berciuman. Ciuman adalah ekpresi cinta. Maka keindahan relasi karena ciuman akan hilang. Unsur yang penting dalam kenikmatan pasangan lenyap. Dengan demikian kesatuan akan terancam.

Perasaan cinta yang menggelora akan redup dan bahkan bisa menjadi kemarahan ketika sudah berelasi dan ternyata salah satu mulutnye mengeluarkan bau tidak enak..

Perasaan cinta saja tidak cukup menyatukan, bau mulutpun sangat penting.


BAU KENTUT

Bau tubuh yang lain dan tidak bisa dihindari adalah bau kentut. Kentut bisa tidak berbau, tetapi tetap orang akan tetap mengeluarkan juga kentut yang berbau, sebab mau tidak mau pasti akan makan makanan yang menghasilkan bau.

Ada orang-orang yang sudah punya kebiasaan jika kentut akan menjauh, tetapi ada orang yang kentut di sembarang tempat. Ia tidak menganggap kentut sebagai pengganggu berhubungan dengan orang lain, sekalipun kentutnya berbau.

Bagaimana kalau seseorang perasaannya bernyala-nyala kepada seseorang yang cantik, anggun, cerdas, akan tetapi kentutnya sering bau dan punya kebiasaan kentut di sembarang tempat? Apakah nanti bisa menikmati kebersamaan? Bisa jadi akan terjadi konflik yang hebat.

Maka jika kentut ini tidak diselesaikan , kesatuan yang terbangun akan terganggu. Karena itu perasaan cinta tidak cukup. Pengeloaan kentut juga penting untuk diperhatikan. Kecantikan , kegantengan, kepandaian, tidak selalu diikuti manajemen kentut yang tepat.


Perasaan cinta tidak cukup untuk membangun relasi. Bau badan juga hal yang harus diperhitungkan. Itu artinya, banyak hal lain yang harus diperhitungkan.

Ketika perasaan bernyala-nyala dan keinginan jadian menghebat, pikirkanlah, banyak hal lain yang masih perlu diperhitungkan untuk menjalin relasi.

Penulis: Gunawan Sri Haryono
Read more ...

Kamis, 19 November 2015

HIDUP BODOH, MATI BODOH

Sejak akal kita mencapai tahap kedewasaan, atau dikenal dengan nama baligh, Tuhan mengajarkan kita melalui begitu banyak peristiwa.

Akal kita menyerap dan merekam semua peristiwa2 itu sehingga pengetahuan kita pun bertambah, seiring banyaknya ilmu yang kita dapat dari melihat, mendengar sampai mengalami sendiri peristiwa2.

Seluruh peristiwa yang dihadirkan kepada kita, tujuannya supaya kita mengenal diri kita sendiri. Dan ketika mengenal diri kita, kita pasti mengenalNya.

Tetapi begitu banyak kita kehilangan momen untuk mengerti makna dari peristiwa2 yang datang. Terkadang peristiwa2 itu datang dan pergi tanpa sedikitpun kita mampu menemukan maknanya. Apalagi ketika kita sedang jatuh cinta kepada dunia dan dunia sangat mencintai kita. Semakin kuat rasa cinta itu, semakin tebal kabut di akal kita.

Hidup Bodoh, Mati Bodoh Tanpa Mengenal

Ketika semua unsur duniawi berdatangan, kita menganggapnya sebuah kesuksesan. Semakin tinggi penghargaan orang kpd kita, maka kita akan semakin merasa sukses. Lihat, begitu bodohnya kita. Mengukur kesuksesan dari ukuran dunia, dimana semua itu sebenarnya hanya sementara saja.

Ada yang kita lupa bahwa di dunia ini sebenarnya adalah kesempatan kita untuk mengumpulkan poin2 amal. Begitu banyak poin berserakan, tinggal kita pungut dan kita kumpulkan. Dan menariknya lagi, poin2 itu datang sendiri kepada kita tanpa perlu kita mencarinya dengan susah payah. Orang miskin, anak yatim, saudara yang kesusahan, teman yg butuh pencerahan dan ratusan poin lainnya yang datang, kadang dengan model dan bentuk yang berbeda. Persis seperti kita main game, dimana datang poin2 bonus yg kita kumpulkan supaya bisa masuk ke level yg lebih tinggi.

Tapi, pahamkah kita bahwa itu poin yang harus kita ambil ? Bodohnya lagi kita, kita selalu mengabaikannya. Kita tolak mereka yg datang meminta bantuan karena kita lebih mementingkan kenyamanan diri kita. Kita sibuk mengumpulkan dan mempertahankan harta, sehingga dalam hidup, kita malah tidak berbuat apa2.

Kita tahu bahwa satu waktu kita akan ditanya, tapi kita tidak pernah mempersiapkan jawabannya. Karena mau jawab apa ? Tidak ada yg kita lakukan di dunia selain memikirkan diri kita sendiri. Kita ada tetapi kita tidak ada. Orang lain tidak mendapatkan manfaat apapun dari keadaan kita. Mereka hanya kenal kita secara fisik, yang memorinya bertahan saat mereka mengantarkan kita ke liang kubur sesudah itu hilang. Mereka tidak mengenal kita secara ruh, dimana meskipun jasad kita sudah tidak ada, tetapi mereka merasakan kehadiran kita dengan apa yang kita tinggalkan semasa hidup.

Pertanyaan yang tajam akan menghunjam kelak, seperti apa yang kamu lakukan di dunia dengan semua ilmumu, hartamu dan ibadahmu ? Apakah semua itu berfungsi utk membantu sesamamu ?

Karena semasa hidup kita bodoh, maka matipun kita dalam kondisi bodoh. Tidak paham harus menjawab apa nantinya ketika diminta pertanggung-jawaban terhadap fungsi kita di dunia ini. Seperti seorang murid yang tahu bahwa sebentar lagi ada ujian kelulusan, tetapi ia tidak mau belajar meski ia tahu dengan begitu ia terancam tidak lulus. Ketika akhirnya berhadapan dengan kertas soal, satupun tidak ada yang mampu dijawabnya karena memang ia tidak mengerti. Dan begitu dia berharap akan lulus ?

Akal adalah mahluk paling mulya yang diciptakan Tuhan untuk mendampingi manusia. Tidak mudah memang untuk melangkah, tetapi setiap kita menahan langkah, satu poin llagi hilang terabaikan..

Secangkir kopi pagi ini rasanya renyah ketika sayup2 suara chris martin lewat menyapa telinga,

"Nobody said it was easy,
No one ever said it would be this hard..
Oh take me back to the start...."

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Rabu, 11 November 2015

Cinta Itu Tidak Buta

Kasus 1

Lidya tiba-tiba menjalin hubungan dengan pria tetangga rumah. Orang tuanya bingung sebab mereka mengenal pria tersebut dan orang tuanya, baik anak maupun orang tua bukanlah orang-orang yang “baik” . Ayah pria itu adalah teman orang tua Lidya. Ayah Lidya sudah mengenal sejak kecil, dan tahu bagaimana sifat dan cara hidupnya. Dan ternyata cara hidup yang tidak baik itu menurun ke anaknya.. Akan tetapi Lidya tidak bisa menerima pendapat itu. Lidya sangat cinta pria tersebut. Dia merasa tidak bisa lepas darinya. Karena orang tua Lidya merasa sayang kepada Lidya, maka mereka terus memberi nasihat untuk mempertimbangkan pilihan Lidya itu sambil menunjukkan hal-hal berkaitan dengan kepribadian pria tersebut. Namun Lidya tetap bersikukuh untuk terus dengannya. Bahkan ketika orang tua mengancam tidak akan memberi warisan kalau nanti menikah dengan pria tetangga itu, Lidya berani menjawab, tidak mendapat warisan juga tidak apa-apa.

Akhirnya Lidya menikah, bahkan sebelum menikah, saking cintanya, Lidya sudah menyerahkan kegadisannya. Pernikahan berjalan lancar, dan menurut kata orang Lidya berbahagia. Sebab beberapa waktu kemudian Lidya sudah mengandung dan kehidupan ekonomi mereka nampak cukup. Mereka nampak sering bersama, baik ke acara keluarga, sosial, maupun ibadah.



Akan tetapi lebih dari 20 tahun kemudian Lidya baru berbagi, bahwa selama 20 tahun pernikahannya dia tidak pernah berbahagia. Benar ayahnya, suaminya tidak bertanggung jawab. Suaminya relatif tidak mau bekerja. Hampir selama 20 tahun ,Lidya yang harus bekerja keras untuk membiayai semau kebutuhan. Dan benar pula ayahnya, suaminya tidak baik moralnya, Selama suaminya bekerja ( yang hanya beberapa waktu ) , suaminya selingkuh. Bahkan setelah tidak bekerjapun masih selingkuh. Suaminya selingkuh dengan beberapa wanita.

Dalam hubungan suami isteri Lydia hampir tidak menikmati kepuasan. Karena tingkah laku suaminya, Lidya menjadi dingin, dan melayani suami dengan terpaksa.

Semula menurut Lidya cinta itu segala-galanya, akan tetapi kehidupan rumah tangga telah membuktikan “perasaan cinta”tidak cukup untuk membawa kebahagiaan.


Kisah 2

Joko seorang mahasiswa yang cukup ganteng. Beberapa wanita tertarik kepada Joko. Akan tetapi ternyata Joko jatuh cinta kepada wanita tetangga rumah yang sepuluh tahun lebih tua darinya. Keluarga dan teman-teman memberitahu Joko bahwa pernikahan itu akan sulit, namun Joko mengatakan tidak sulit. Asal cinta maka semua bisa diatasi. Ada yang memberikan penilaian dari berbagai sudut pandang. Dari segi fisik , nanti istrinya sudah menopause, dia masih menyala-nyala. Dari segi ekonomi, istrinya sudah mapan, dia baru merintis. Dan lainya lagi. Namun semau pertimmbangan itu kalah dengan jawaban, cinta itu bisa menyelesaikan segala sesuatu. Asal ada cinta, semua bisa diatasi.

Selama berpacaran Joko juga sudah melakukan hubungan badan. Itu juga membuat Joko sulit untuk berpisah dengannya. Joko sangat menikmatinya.

Pernikahanpun terlaksana. Dan selang beberapa bulan, Joko merasakan hal-hal yang tidak diduga pada waktu dulu. Komunikasi ternyata sulit. Keuangan berbeda cara pandang. Bahkan hubungan badan pun tidak seindah dulu. Istirnya sangat dominan dalam segala hal. Dalam hal mengatur rumah, uang, bahkan dalam berhubungan suami isteri. Joko terpuruk sebagai laki-laki.

Cinta ternyata bukan segala-galanya.

Bukan hanya Lidya dan Joko yang beranggapan cinta adalah segala-galanya. Banyak orang berpendapat demikian. Cinta itu buta, demikian katanya. Cinta bisa mengatasi segala kesulitan. Cinta bisa menopang segala tantangan. Contoh-contoh tentang kerusakan hubungan dari orang-orang yang dulu nampak begitu mesra dan mengatakan cinta telah menyatukan segala perbedaan tetap saja tidak diterima sebagai satu peringatan.Bahkan ada penulis lagu yang menulis syair, “Terima kasih cinta” sementara cinta nya sendiri juga tidak berjalan baik.

Marilah kita perhatikan beberapa prinsip berikut.

Perasaan tertarik berbeda dengan cinta

Pada umumnya orang memiliki perasaan tertarik kepada lawan jenis. Namun perasaan tertarik itu berbeda dengan cinta. Perasaan tertarik ingin dipuaskan. Ketika tidak dipuaskan akan merasa merana, terluka, kesepian, dan lain-lain.

Perasaan bisa muncul dari berbagai faktor, karena masa kecil tidak mendapat pengasuhan yang baik, karena kehilangan ibu atau ayah yang begitu mengasihi, atau karena memiliki pasangan merupakan harga diri, atau bahkan bisa muncul karena adanya ikatan romantisme budaya. Karena itu perasaan bisa muncul kapan saja, dan kadang-kadang bisa tidak dimengerti alasannya.

Sewaktu SMA ketika saya berjalan di lorong sekolah, tiba-tiba saya berpapasan dengan seorang gadis. Hati saya berdebar. Gadis itu bersahaja, manis, dan jawa. Saya tertarik kepadanya. Dan itu tiba-tiba, sekalipun saya tidak tahu hidupnya seperti apa, latar belakangnya seperti apa. Perasaan itu muncul begitu saja. Namun itu bukan cinta. Seberapapun kuat perasaan itu.


Cinta itu lebih dari perasaan

Dalam cinta ada perasaan, namun cinta melebihi perasaan. Perasaan tertarik bisa menjadi awal memahami cinta, akan tetapi harus diteruksan dengan pemikiran yang matang.

Cinta itu harus melihat. Melihat berbagai hal. Jadi setelah tertarik, perlu diikuti dengan pertanyaan apakah saya bisa hidup bersama dengan nya? Juga apakah dia tertarik kepadaku dan bisa hidup bersamaku?

Cinta itu harus melihat kepribadian

Mencintai seseorang berarti mampu menerima kepribadiannya. Karena itu harus mengerti lebih dulu kepribadiannya. Rasa tertarik bisa muncul hanya dengan melihat wajah atau suara. Akan tetapi cinta akan dipastikan setelah memahami kepribadiannya dan ternyata mampu menerima kepribadian itu dan bahkan bisa menikmati hidup dengan kepribadian itu.

Bagian kepribadian yang penting untuk diperhatikan adalah : tata nilai, sifat-sifat, cara berpikir, bagaimana berelasi dengan orang, dan juga apa kesenangan-kesenangan ( serta ketidaksenangannya ).

Bagaimana tata nilainya tentang uang? Tentang kejujuran? Tentang pekerjaan? Apakah saya bisa hidup dengan orang yang memiliki sikap gila kerja? Apakah saya bisa hidup dengan seseorang yang mengejar uang karena pengalaman kemiskinan masa lalu?

Bagaimana sifat-sifat nya? Apakah saya bisa menerima orang yang suka menyendiri? Apakah saya bisa menikmati kebersamaan dengan orang yang suka berdamai sehingga cenderung kompromi? Apakah saya bisa hidup dengan orang yang dominan? Apakah saya bisa menjalani hidup dengan orang keras kata-katanya dan mungkin tindakannya?

Bagaimana cara berpikirnya ? Apakah saya bisa bersama-sama dengan orang lambat mengambil keputusan? Apakah saya bisa menikmati kebersamaan dengan orang yang praktis cara berpikirnya?

Kepribadian seseorang tidak selalu kelihatan. Perlu belajar memahami orang. Orang yagn sejak kecil diperlakukan dengan keras, lalu menyimpan kekerasan, bisa tersembunyi dalam wajahnya yang lembut. Atau orang yang memiliki dendam dengan kemiskinan dan akan mengejar uang sekeras-kerasnya akan tertutupi dengan cara belajarnya yang mengesankan selama kuliah.

Perasaan yang hebat akan musnah setelah menjalani hidup dengan orang yang kepribadiannya tidak bisa diterima.

Cinta harus melihat kepribadian, Cinta tidak buta.


Cinta itu melihat latar belakang.

Mata yang indah itu begitu menawan dan membuat berdebar-debar. Namun belum tentu seorang pria kemudian bisa hidup dengan seorang wanita dengan mata menawan. Pria tersebut harus hidup dengan keseluruhan wanitaitu. Dan keseluruhan orang tersebut mencakup latar belakangnya.

Cinta akan mampu menerima seseorang bersama latar belakangnya. Karena itu ketika tertarik orang perlu dilanjutkan dengan mengerti latar belakangnya, mencakup latar belakang keluarga, suku, pendidikan, teman-temannya. Setelah itu baru bisa menilai apakah rasa tertariknya diikuti dengan kemampuan untuk menerima dia dengan latar belakangnya atau tidak.

Apakah saya bisa hidup dengan seorang wanita cantik , namun memiliki orang tua yang menuntutnya untuk tetap tinggal di rumah? Apakah saya bisa menikmati kebersamaan dengan seorang wanita cerdas, namun orang tua nya tidak punya pendidikan dan hanya seorang sopir becak ? Apakah saya bisa hidup dengan seorang wanita seksi namun dulu telah sering tidur dengan beberapa pria? Apakah saya bisa menjalani kehidupan dengan seorang wanita dengan bibir menawan, namun ayahnya dipenjara karena korupsi ?

Demikian juga apakah saya bisa hidup bersama dengan seorang pria gagah, namun dominasi ibunya sangat kuat ? Apakah saya bisa hidup dengan pria lemah lembut, akan tetapi berbeda suku dengan tatacara hidup berbeda?

Cinta buta akan mengatakan saya bisa. Sebab tidak memahami bagaimana menjalani hidup dengan hal-hal seperti itu. Dipikir kalau perasaan begitu kuat, hal tersebut diatasi. Tidak. Menikah dengan pria yang ibunya begitu dominan akan membuat seorang wanita tidak bisa memiliki pria tersebut. Apa yang dimimpikan lenyap dalam pernikahan. Setiap latar belakang membutuhkan cara hidup tertentu untuk menjalani.

Karena itu harus belajar dengan seksama, lalu membuat perhitungan, apakah mampu menjalaninya. Karena cinta membuat pertimbangan dan menilai, lalu dengan penuh kesadaran menjalani.


Cinta melihat konsekuensi

Jadi cinta melihat konsekuensi dan sanggup menjalani konsekuensi itu. Orang yang mencintai tidak buta, pokoknya nanti pasti bisa asal kita jalani bersama. Orang yang demikian adalah orang yang asal jalan, tidak melihat kehidupan, dan akan terpuruk.

Ketika sudah membuat pertimbangan dan melihat resiko, lalu sanggup untuk menjalani, maka dia akan menjalani setiap keadaan dengan penuh tanggung jawab. Dia tidak marah, kecewa, namun akan menempuh kehidupan bersama saling mendukung, atau dia akan menopang. Perjalanan cinta itu akan menjadi perjalanan kehidupan yang bermakna. Sekalipun bisa jadi perjalanan itu tidak mudah.


Cinta itu melihat kebahagiaan pasangan

Cinta tidak mengatakan ,”Puaskanlah perasaanku “. Tetapi cinta memikirkan kebahagiaan orang lain. Karena itu, ketika perasaan tumbuh dan membuat pertimbangan lalu merasa bahwa kebersamaan itu justru akan menyulitkan pasangan, dia akan dengan kesadaran melepaskannya.

Cinta tidak memaksa. Cinta akan siap jika yang dicintai mengatakan tidak.

Karena itu ketika perasaan tertarik itu membawa ke dalam kesatuan, ia tidak semata-mata ingin mendapatkan kepuasan. Ia akan berjuang untuk membahagiakan pasangannya. Dan karena menyadari bahwa kesatuan cinta bukanlah sekedar memadu rasa, ia akan berjuang dalam hal ekonomi, menata rumah, mendidik anak, menghormati ke 2 orang tua, dsbnya.


Kedewasaan adalah kunci dasar kemampuan mencintai

Kunci seseorang mampu mencintai adalah kedewasaaan. Kedewasaan ini diukur dari kemampuan berpikir yang luas, tidak pendek dan sempit. Kedewasaan diukur dari kemapuan menerima perbedaan dan menghargainya. Kedewasaan diukur dengan kemampuan menanggung kesulitan-kesulitan dan mengutamakan orang lain. Kedewasaan juga diukur dari kemampuan berdaya juang untuk mencapai tujuan hidup.

Kedewasaan bisa menata gejolak perasaan-perasaannya tapi juga bisa menikmati keindahannya.

Jika sudah dewasa maka dia akan memiliki cinta yang melihat. Dan dia siap untuk mencintai

Penulis: Gunawan Sri Haryono (https://www.facebook.com/gunawan.haryono.7)
Read more ...

Indonesia

Air Hidup

Advertise Here

Designed By VungTauZ.Com