Breaking News

Islam

Politik

Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 November 2017

Antara Trump dan Anies


Dalam beberapa hal gaya Trump itu mirip-mirip dengan Anies. Banyak yang bilang keduanya "rasis": Trump anti non-pribumi Amerika, sedang Anies anti non-pribumi Indonesia. Padahal, keduanya sama-sama pendatang.

Warga pribumi Amerika itu ya, antara lain, suku-suku Indian (sekarang disebut "native Americans"). Emang Trump keturunan suku-suku Indian? Orang-orang kulit putih di Amerika seperti Trump kan keturunan kaum migran, pengungsi, dan pendatang dari Eropa. Sama seperti para bule Australia. Semua migran.

Anies juga sama. Ia keturunan migran Arab-Yaman (khususnya dari daerah Hadramaut di Yaman selatan) yang dulu berbondong-bondong berlayar ke Nusantara karena di negerinya dilanda perang dan paceklik berkepanjangan. Jadi orang Arab-Yaman ke Nusantara itu dulu untuk jualan dan mencari makan. Ada beberapa kelompok migran Arab-Yaman di Nusantara: sadah, irshadi dan qabail. Baswedan masuk grup irshadi yang di Yaman masuk kelompok sosial sedang-sedang saja: elit bukan, gembel juga bukan.
Jika yang dimaksud Trump dengan "non-pribumi Amerika" itu khususnya kaum Latinos, Blacks, dan Arabs. Maka, yang dimaksud dengan "non-pribumi Indonesia" itu khususnya adalah Cina (Tionghoa).


Apakah Trump dan Anies tidak tahu atau tidak sadar kalau mereka sebetulnya juga bukan pribumi Amerika dan Indonesia? Mereka berdua jelas tahu betul dan sadar benar kalau pendatang! Emangnya mereka berdua itu Mamat yang nggak tahu-tahu dan gak sadar-sadar tapi malah bangga dengan ketidaktahuannya dan ketidaksadarannya he he?
Meskipun banyak yang bilang kalau Trump dan Anies itu "rasis". Tapi bagiku mereka itu tidak rasis. Mereka hanya memanfaatkan sentimen rasisme yang sudah tumbuh-berkembang di sebagian kelompok masyarakat. Mereka hanya "mengfasilitasi" atau mewadahi kemauan para gerombolan bigot dan rasis di kedua negara. Dengan kata lain, mereka berdua hanya sebagai "corong" dan "echo" para Mamat-Mimin-Momon di kedua negara.

Mereka berdua menggunakan sentimen rasisme dan isu "pri-nonpri" itu hanya sebagai "alat jualan" dalam kampanye politik untuk mendulang suara dan meraup dukungan. Itu saja. Pidato berapi-api Mr. Trump yang mengatakan "non-pribumi sering menyantap makan siang jatah orang pribumi Amerika" atau Anies yang bilang "Kini saatnya pribumi memimpin" hanyalah retorika belaka yang tujuan utamanya hanya untuk menyenangkan para pendukungnya, terutama kaum Mamat-Mimin-Momon itu.

Apakah Trump anti-Arab dan Muslim? Tidak. Bagaimana mungkin anti-Arab dan Muslim wong dia itu berauliya dengan para tokoh dan pengusaha Arab dan Muslim. Trump misalnya dikenal sebagai sahabat dekat Prince Alwaleed bin Talal yang dulu pernah membeli Yacht mewah milik Mr. Donald bernama "Trump Princess" disaat Trump dillit utang karena perusahaan real estate-nya bangkrut. Kini yacht itu bernama Kingdom 5KR.

Anies juga bukan anti-China. Bagaimana mungkin anti-China wong dia dan Uno itu justru dikelilingi dan "diberkati" oleh para tokoh dan pengusaha China, khususnya para tokoh dan pengusaha China yang anti-Ahok he he. Nih lihat foto ini, bagaimana "30 naga" mengelilingi dan "memberkati" Anies he he. Saatnya pribumi memimpin? Preetttt...

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Rabu, 01 November 2017

ISU PRIBUMI MENEMBAK JOKOWI


Karl Marx membangkitkan revolusi sosial dengan membenturkan kaum proletar dan borjuis. Dasarnya adalah kecemburuan ekonomi. Dengan cara itulah diharapkan terjadi kemarahan proletar yang merasa tertindas untuk mengambil alih kekuasaan.

Di Indonesia seruan Karl Marx tampaknya ingin dicobakan lagi. Kali ini isu yang dipakai adalah soal pribumi yang mewakili proletar dan non-pribumi yang diasumsikan mewakili kelompok borjuis. Dasar argumennya sama, membakar kecemburuan sosial dan ekonomi.

Problem kesenjangan adalah masalah laten di Indonesia. Jaman Orde Baru yang menggenjot pembangunan ke arah pertumbuhan ekonomi ternyata gagal menghadirkan trickle down effect dalam bentuk pemerataan. Kesenjangan melebar, terbaca dari rasio gini yang tinggi.

Isu seperti inilah yang dibakar pada saat tragedi 1998. Kebencian rasial yang dibungkus kecemburuan sosial berhasil membakar Jakarta. Apinya menjalar keseluruh Indonesia. Latar belakang itulah dan trauma kerusuhan yang mendasari dibuatnya UU pelarangan penggunaan idiom pribumi dan nonpri.


Jokowi sadar dengan masalah kesenjangan ini. Dia fokus membangun infrastuktur di pelosok yang diharapkan nantinya akan berdampak pada pertumbuhan di daerah. Dengan cara itu diharapkan terjadi distribusi pertumbuhan ekonomi yang ujung-ujungnya akan mempersempit kesenjangan.
Tapi seperti juga sebuah proses, hasil pembangunan membutuhkan waktu untuk merasakan dampaknya. Meski ada penurunan sedikit indeks koefesien gini saat ini, masalah kesenjangan sosial dan ekonomi tetap menjadi problem laten di Indonesia.

Setiap isu soal kesenjangan sosial dan ekonomi telunjuk kita selalu mengarah pada pemerintah. Jika perdebatan soal pribumi dibingkai dengan latar belakang ini kita tahu kemana mana laras senjata sedang diarahkan.

Saya sih membayangkan, sejak pelantikan Gubernur Jakarta, persaingan Pilpres sudah dimulai.

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Kamis, 26 Oktober 2017

TERIMA KASIH PAK ANIES, PAK SANDI


Terimakasih pak Anies Sandi
Ternyata saya baru tahu kenapa warga Jakarta lebih banyak memilih anda untuk memimpin kota ini daripada Ahok..
Ketika Ahok memimpin, bawaannya tegang mulu. Selalu ada amarah dan bentakan. Warga Jakarta kurang enjoy dengan semua itu, karena hidup mereka sudah sulit.
Mana panas, macet dimana2, kalau hujan banjir. Mereka tegang setiap hari, dan Ahok malah menambah ketegangan mereka..
Tapi zaman bapak Anis Sandi beda, beda banget..
Bapak berdua sungguh menghibur. Ada saja lawakan yang diberikan kepada kami supaya kami tertawa. Ada saja perilaku bapak berdua yang membuat kami rileks dan bersenda ria.
Waktu bapak ngomong pribumi, sontak banyak meme yang bicara pribumi. Apalagi waktu bapak Anies klarifikasi bahwa itu maksudnya pribumi di masa kolonial Belanda yang hanya ada di Jakarta, semua langsung kreatif membikin kata-kata kocak, "Belanda ngapain ke Bandung ? Beli peyempuan..."


Belum tingkah pak Sandi yang suka mbanyol. Gaya bangaunya itu lhoo... membuat kami terpingkal. "Kok bisa ya wagub bisa sekonyol itu ? Gak jaim orangnya, asik juga.." Sungguh menbuat kami merasa menjadi generasi milenial kembali..
Kami juga jadi asik waktu bapak barengan naik motor. Mesra sekali, seperti Ropik dan Juleha. Kemana-mana berdua. Duh, jomblo mana yang gak kepengen seperti itu ? Gubernur aja gandengan, masak kamu nggak ?
Kami tahu kok, masalah janji bapak untuk menutup Alexis itu becanda kaaaan ? Kami tahu kok, pak.. Reklamasi juga. Bapak bisaan becandanya..
Dan asiknya lagi, 5 tahun ini akan penuh dengan canda ria. Serasa Warkop DKI, Srimulat, Bagito ma Kwartet S tampil sepanggung kembali. Rame pastinya dengan tingkah dan kelucuan spontan yang tercipta.

Inilah yang gak dipunyai Ahok, yang bawaannya tegang terus. DPR beli UPS, ribut. DPR bikin anggaran seenak udelnya, ribut lagi. Sumpah, gada lucu-lucunya zaman Ahok..
Sebagai Gubernur zaman now, tentu Pak Anies Sandi paham sekali bagaimana bisa membuat warga Jakarta lupa akan masalahnya sehari-hari. Kita kurang hiburan, hibur kami pak, tolong hibur kami...
Saya yakin semua itu gak dibuat-buat. Spontan dan mengalir saja. Seperti ada bakat ngelawaknya bapak berdua. Terimakasih, Tuhan.. Engkau sudah menghadiahkan kami penimpin yang bisa menghibur kepenatan kami..

Saya aja, setiap kali bapak berdua muncul di media langsung ketawa kebahak-bahak. Pasti ada aja ulahnya, sampe kopi saya tumpah saking gak kuat nahan geli.. Terbaik, terbaik...
Terimakasih bapak, nanti kapan-kapan saya terbitkan buku "Mati ketawa cara Anies Sandi".
Katanya, menghibur orang itu ada pahalanya loh pak. Sungguh... Gak percaya ? Yah, Percaya cukur, gak percaya gondrong...

Semoga Tuhan membalas kebaikan pak Anies Sandi selama memimpin dengan gaya berbeda...
Salam seruput kopi, pak...

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Minggu, 22 Oktober 2017

SARA DAN RASIS DI PELANTIKAN GUBERNUR JAKARTA


Mereka bilang kemenangan Anies-Sandi bukan karena politisasi agama. Nah, sekarang spanduk pelantikannya saja seperti provokasi gesekan antar agama. Mengklaim kebangkitan pribumi muslim, katanya.


Apa mereka mau rayakan kemenangan dengan terus menerus meneriakkan kebencian agama dan rasial? Mau jadi apa Jakarta?

Jika begini cara Anies-Sandi dan pendukungnya meminta publik Jakarta menerima Gubernur baru, ini adalah cara paling norak dan bodoh.

Bagaimana akan didukung seluruh rakyat jika mereka sendiri menistakan keberagaman rakyat Jakarta.

Apa kategorisasi muslim dan pribumi masih pantas diteriakkan oleh pendukung seorang Gubernur terpilih? Apa mereka hanya akan memungut pajak dan retribusi dari segolongan rakyat saja? Apa mereka akan melayani segolongan yang satu dan menistakan golongan lainnya?

Lalu apa yang bisa diharapkan rakyat Jakarta yang plural ini dari perilaku para pendukung Gubernur baru yang model begini?

Kemenangan Anies-Sandi bukan kemenagan kaum muslim. Bukan kemenangan pribumi. Itu cuma kemenangan PKS dan Gerindra. Slogan muslim dan pribumi cuma dijadikan tunggangan untuk terus mengobarkan perpecahan.


Shame on you, Mr Governor!

Penulis: Eko Kuntadhi 
Read more ...

Rabu, 03 Mei 2017

PAK JK, MARI SERUPUT KOPI PAHIT DENGAN SAYA


Bantahan pak Jusuf Kalla terhadap media asing yang memuat tulisan bahwa Jakarta dimenangkan oleh Islam garis keras atau radikal, jadi aneh buat saya...
Pak JK seperti menutup mata bahwa meskipun pemilihannya demokratis, tetapi cara-cara menujunya sangat tidak demokratis.


Apakah demo berangka dengan mengerahkan ribuan massa dari luar daerah ke Jakarta itu bukan perbuatan radikal ? Apakah tidak menshalatkan jenazah bagi pemilih berbeda itu bukan tindakan radikal ? Atau ceramah2 bernada keras memaksa dan memaki dalam shalat Jumat itu tidak masuk dalam kategori radikal ?
Saya sendiri tidak bisa menemukan kata yang tepat selain Islam Radikal. "Islam" karena baju yang dipakainya memang agama. Dan "Radikal" karena cara-caranya yang cenderung keras, kasar dan menghalalkan segala cara untuk menang.
Buat saya, apa yang ditulis media asing bahwa Jakarta dimenangkan oleh Islam garis keras, sebenarnya adalah bentuk kewaspadaan mereka. Ada ketakutan bahwa apa yang terjadi di Jakarta akan berdampak meluas ke seluruh Indonesia. Dan ini lampu kuning untuk pemerintahan negara tetangga semisal Malaysia, Singapura dan Australia.
Jadi melihat apa yang terjadi di Jakarta sebenarnya sedang melihat apa yang kelak akan terjadi di Indonesia.
Konsep khilafah - atau menjadikan Indonesia bersyariah - tidak lagi menjadi tren untuk digaungkan di jalan2. Tapi cukup dengan menunggangi tokoh politik yang ambisius dan menghalalkan segala cara supaya memenangkan pemilihan.
Sesudah berkuasa, baru disanalah mereka mengontrol pemimpin yang takut kehilangan suara. Mereka akan mendoktrin dan memaksakan kehendak sekaligus dibangun setahap demi setahap konsep khilafah atau menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.
Jadi ketika pak JK membantah liputan media asing bahwa Jakarta dimenangkan oleh Islam Radikal, itu malah meremehkan apa yang sedang terjadi sekarang. Gelombang ini sedang menuju kesana.
Ini bukan permasalahan Ahok menang atau kalah, karena kalah menang itu biasa. Tetapi bagaimana proses kemenangannya dilakukan dengan cara kekerasan dan penuh intimidasi dengan baju agama.
Apa masih kurang terbuka mata ketika melihat pembaiatan pake Alquran dan golok yang diacungkan ??
Pak JK harusnya sadar, gerakan yang sama akan mereka ulangi pada Pilpres 2019 nanti. Tujuan mereka mendongkel Jokowi karena tidak mau kompromi dengan mereka. Hanya isu yang dipakai bukan lagi "Islam vs Penista Agama", tetapi lebih luas dan lebih kasar, ISLAM VS PKI.
Mungkin bagi sebagian orang tidak sadar akan hal ini, mereka melihat hal ini hanya pada masalah kemenangan atas kekuasaan. Bagi sebagian besar lainnya, mereka terpedaya oleh kata "perjuangan umat Islam". Mereka bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang memegang dan memainkan bola api yang kelak akan membakar mereka sendiri...
Pak JK mungkin tidak sadar ini - atau memang sengaja menutup mata ?
Mungkin seharusnya pak JK dan banyak lagi lainnya belajar membaca peta politik global bagaimana pola dan proses yang mereka lakukan di banyak negara di dunia untuk menguasai wilayah..
Masih kurang apa pelajaran dari Libya, Mesir, Irak dan Suriah ? Atau kita harus tambah nama INDONESIA dalam catatan sejarah dunia ?
Coba seruput secangkir kopi pahit dulu, pak JK. Karena pahit itu biasanya membukakan pandangan yang buta.
Kita sedang menuju kesana, akui itu dengan gagah dan pikirkan bagaimana cara yang terbaik untuk melawan mereka daripada bersikeras mengingkari situasi yang ada...
Read more ...

Jumat, 28 April 2017

AHOK TIDAK MENISTA AGAMA


Ahok tidak dituntut dengan pasal menistakan agama. Asumsi itu tidak terbukti dan Jaksa sendiri tidak berani mengajukan pasal penodaan agama dalam tuntutannya. Ahok hanya dituntut pasal penodaan pada kelompok keagamaan.
Tuntutan ini membuktikan, bahwa Ahok memang tidak pernah menodai agama. Tidak menodai Islam dan Al Quran. Dia hanya menyinggung orang yang menggunakan ayat Al Maidah 51 untuk kepentingan politiknya.
Tapi apakah orang akan bisa memaknai ini dengan baik? Saya tidak yakin, setelah semua kehebohan ini. Saya rasa mereka yang membenci akan lebih suka memaki Ahok sebagai penista agama. Walaupun dituntut sebagai penista agama saja belum pernah.

 
Jaksa menuntut Ahok dengan tuntutan penjara 1 tahun, dwngan masa percobaan 2 tahun. Itu maknanya Ahok akan dikenakan hukuman penjara 1 tahun, apabila dia melakukan tindak pidana dalam 2 tahun masa percobannya. Jika dalam 2 tahun tidak ada tindakan pidana yang dilakukan, Ahok tidak perlu masuk penjara. Jadi kemungkinan besar memang Ahok tidak akan dipenjara.
Tapi bukan soal Ahok dipenjara atau tidak yang penting disini. Keputusan hakimlah yang penting. Palu hakim itu akan menentukan masa depan politik seorang Ahok.
Jika Ahok diputuskan bersalah oleh majelis hakim, meski tidak dipenjara, maka para pembenci Ahok akan terus menstigma dia sebagai penista agama. Walaupun tuntutan JPU tidak mengatakan Ahok sebagai menista agama.

Stigma itu akan dipakai ketika dibutuhkan untuk memojokkan Ahok. Artinya keputusan Ahok bersalah atau tidak, bisa berfungsi sebagai lonceng kematian karir politik seorang Ahok. Setidaknya karirnya dalam politik elektoral.

Jika nanti Ahok berniat maju dalam sebuah kontestasi politik, baik untuk jabatan eksekutif maupun legislatif, kita yakin stigma ini akan dimunculkan lawan-lawan politiknya kembali. Keputusan hakim akan digunakan sebagai legitimasi bahwa Ahok menista agama. Walaupun faktanya bukan itu.
Kita mungkin akan melupakan urusan Pilkada Jakarta. Ahok mungkin bisa saja memilih karir lain di luar politik. Tampaknya tidak sulit baginya untuk menjalani hidup 'normal' : cari nafkah, leyeh-leyeh dengan keluarga, menikmati hidup seperti kebanyakan kita.
Dia tidak perlu lagi pusing memikirkan bagaimana ikut berperan untuk mensejahterakan rakyat. Tidak perlu lagi memikirkan bagaimana mengadministrasi keadilan sosial. Dia tidak perlu lagi menitikkan air mata melihat seorang renta terbaring di kamarnya dalam keadaan sakit.

Bahkan di masa akhir jabatannya, Ahok membuka diri kepada Gubernur terpilih untuk mengirimkan tim anggarannya membahas bersama penyusunan anggaran. "Biar Pak Anies lebih cepat menunaikan janji-janji kampanyenya," ujar Ahok.

Palu hakim akan menghentikan gairah itu dalam diri seorang Ahok. Dan bagi sebagian kita, setelah keputusan ini nanti, semuanya akan berjalan biasa saja.

Tapi, dengan tingkat kepuasan publik Jakarta mencapai 76% terhadap kinerjanya, hilangnya kesempatan Ahok untuk kembali menjalani karir politik elektoral, justru yang paling dirugikan adalah rakyat.
Kita akan kehilangan kesempatan menikmati seorang yang begitu bergairah dalam melayani kebutuhan publik. Orang yang meluangkan waktu, tenaga dan biaya untuk mau menyelesaika ratusan keluhan masyarakat setiap pagi.

Oktober nanti, Ahok seperti menjalani nubuat yang dinyanyikan John Lennon beberapa puluh tahun lalu. Dia kembali menjadi rakyat.

"Ahok someday you'll join us..."

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Sabtu, 22 April 2017

PERAYAAN KEKALAHAN AHOK

Aku baru datang ketika mereka berlima sudah berkumpul di sebuah kafe. Sore tadi, seorang kawan menelepon. "Bro, datang, ya. Ke tempat biasa. Kita rayakan kekalahan, Ahok," ujarnya. Aku cuma bisa menjawab, "Ok, gue usahain, ya..."


"Jangan cuma ok-ok, bro. Lama-lama jadi Ok-Oc lagi... hahahahaha."
Kawan-kawan ini adalah para die hard Ahok. Mereka bertarung habis-habisan untuk memenangkan Ahok-Djarot. Lelaki yang duduk di depanku, sedang merokok, adalah seorang pengusaha rumah makan. Di sebalahnya duduk seorang perempuan, mantan wartawan majalah wanita. Tiga orang lainnya, seorang perempuan dan dua orang lelaki adalah karyawan. Saya tidak tahu mereka bekerja di perusahaan apa.
"Gue sampai di boikot di keluarga. Gue dikafir-kafirin, dibilang keluar dari Islam," kisah seorang mengenang perjuangannya. "Tapi gue gak peduli. Emang yang nentuin masuk surga mereka? Yang nentuin masuk surga kan, panitia seleksi... hahahahahha."

"Gue sih, gak masalah dikafir-akfirin. Udah biasa," celetuk temanku, mantan wartawan.
"Iya, lu udah biasa. Lu kan, kristen," timpal teman perempuan lainnya. Wartawati tadi tertawa renyah.
"Jangan-jangan, nanti malah elu yang masuk surga duluan," celutukku, ke arah wartawati tadi. Lalu kami tertawa, melepaskan senja yang pelan-pelan tergelincir.
"Waktu perhitungan Quick Count menandakan Ahok kalah, gue langsung matiin TV. Gue ajak anak-bini gue jalan ke mall. Gue nonton..."

"Sama. Gue juga lemes waktu tanda-tanda bakal kalah. Makan jadi gak enak. Ngopi kok, rasanya pahit. Gak tahunya, belum pake gula... hahahahahha"

"Gue sih, waktu tahu Ahok kalah, langsung buka FB. Mau baca tulisan lu," kata seorang teman perempuan ke arah saya. "Eh, busyet. udah kalah, tulisan lu masih ngeledek aja. Dasar, lu."
Saya cuma nyengir. Obrolan diteruskan. Lalu seorang memperlihatkan foto-foto Ahok dan Djarot sedang di tengah kerumunan massa dari tabletnya. Ada foto Ahok sedang dipeluk nenek-nenek. Ada yang sedang menggendong Balita. Ada juga ketika dia duduk bersila di kamar seorang lelaki renta yang sedang sakit.
Seorang lagi, memutarkan sidang pertama Ahok. "Saya dituduh menista agama Islam. Itu sama saja saya dituduh menista agama saudara angkat saya sendiri. Sama saja saya dituduh menista agama ibu angkat saya sendiri. Saya menghormati ibu angkat saya, mecintai keluarga angkat saya...," ujar Ahok, yang duduk di kursi pesakitan. Suaranya bergetar.

"Udah, ah, jangan video itu diputerin lagi," ujar kawan perempuan. Dia mengambil tisu dari meja. Menyeka matanya. Teman pengusaha restoran juga membuang muka. Lalu berjalan ke arah westafel.
Saya cuma memandang ke luar. Langit Jakarta yang memerah. Awan berarak-arakan seperti karnaval 17 Agustus. Matahari sore luruh perlahan. "Senja memang selalu menakjubkan," bathinku.
Tetiba terlintas sebait puisi Sapardi Djoko Damono di kepalaku. "Dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya..."

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Sabtu, 01 April 2017

BUBARKAN JAKARTA

Bagi Ahok, KJP hanya untuk anak yang mau sekolah. Sebab pemerintah berkepentingan untuk mensukseskan program belajar 12 tahun. Jika anak yang mau sekolah dan yang tidak mau sekolah mendapat insentif yang sama, ini namanya program tidak mendidik.



Toh sekolah gratis. Ongkos gratis. Alat-alat sekolah dibeli dari dana pemerintah. Bahkan dapat subsidi barang konsumsi. Dengan mereka sekolah sekaligus sudah mampu membantu kekuarganya.

Dengan KJP Ahok ingin mencerdaskan anak-anak Jakarta.

Sementara Anies lain lagi. Dia akan memberikan KJP buat semua anak. Baik yang sekolah maupun tidak. Sebab mungkin saja, dia merasa Pemda tidak harus mendukung program wajib belajar.

Saya rasa program ini lahir dari kekecewaanya dipecat dari menteri pendidikan. Jadi kesannya dia gak lagi penting mikirin pendisikan. Mau sekolah kek, mau gak kek. Sama saja.

Atau dasar fikirannya simpel. Dalam Pilkada orang yang sekolah maupun tidak, suaranya dihitung sama.

Dengan KJP Anies ingin meraup suara pemilih sebanyak mungkin.

Ahok ingin membangun banyak rumah susun. Sebab kebutuhan perumahan warga Jakarta besar sekali, tapi ketersediaan lahan tidak ada. Jikapun ada harganya sangat mahal. Tidak mungkin terjangkau pegawai rendahan.

"Jadi bagi mereka yang penghasilannya setara UMR, bisa tinggal di rumah susun. Biayanya cuma setara Rp 100 sd Rp 150 ribu sebulan. Istilahnya apartemen harga kos. Dengan begitu mereka bisa menabung untuk membeli rumah tapak di pingiran Jakarta."

Berbeda dengan Anies. Dia berfikir pemerintah bisa membantu masyarakat membeli rumah. Bukan dengan membangun rumah, tapi dengan DP disubsidi. Dari mana rumahnya? Dari masyarakat yang mau menjual rumah.

Sebelumnya dia mengatakan harga properti naiknya 20% setahun. Artinya jika pemerintah mau mensubsidi DP, angkanya juga akan naik 20% setiap tahunnya.

Di Jakarta banyak kok rumah yang harganya Rp 350 juta. Lihat saja di online. Kalau harganya segitu butuh DP Rp 52 juta. Nah, DP ini yang disubsisidi. Begitu kira-kira logika yang diajukan Anies.

Realitanya mencari rumah di Jakarta seharga Rp 350 juta, jauh lebih sulit dibanding mencari kutu di rambutnya Raisa.

Berapa kebutuhan perumahan warga Jakarta? Data menunjukan sekitar 1,3 juta. Sebagian besar dirasakan masyarakat penghasilan kecil. Artinya jika program ini mau diwujudkan Anies, pemerintah harus siapkan dana Rp 67 triliun.

Berapa besaran APBD Jakarta? Rp 70 triliun. Artinya jika Anies mau menjalankan program ini hampir seluruh uang Pemda habis cuma untuk subsidi rumah doang.

Dia harus memecat seluruh karyawan Pemda. Membubarkan Kecamatan, Kelurahan, Puskesmas dan seluruh Dinas. Juga menbubarkan DPRD. Membiarkan sampah, kali kotor, menghapus KJP, dan menghentikan pembangunan.

Sebab pemerintah gak punya duit lagi untuk membayar gaji dan aktifitas lainnya.

Dengan kata lain, jika Anies jadi Gubernur, Jakarta otomatis bubar.

Program ini seperti ingin mengubah bumi bulat menjadi datar.

Penulis:  Eko Kuntadhi
Read more ...

Senin, 21 November 2016

Kalau Takut Pilih Ahok, Ya Pilih Djarot Aja

Postingan ini khusus untuk umat Islam warga "Jakardah" yang ngefans dengan Koh Ahok tapi bingung menyikapi simpang-siur pendapat para ulama dan tokoh Muslim mengenai boleh-tidaknya memilih pemimpin non-Muslim.


Ulama dan fuqaha (ahli fiqih atau Hukum Islam) berbeda pendapat mengenai masalah keumatan itu sudah biasa terjadi sejak zaman bahula. Jadi tidak usah bingung. Kalau terjadi perbedaan pendapat tentang suatu masalah, maka Anda tinggal pilih saja mana pendapat yang menurut Anda "lebih mantab", "paling wokeh" dan paling membawa "manpaat" bagi kepentingan masyarakat banyak. 

Jadi umat Islam tidak usah bingungan. Yang penting madep mantep ikuti hati-nurani dan akal-sehatmu. Santai aja. Gitu aja kok bingung. Tapi kalau masih bingung dan ragu juga, maka saya sarankan jangan pilih Pak Ahok tapi pilih Pak Djarot saja. Beliau kan Muslim, jadi gak masalah milih dia. Dengan pilihan ini, maka Anda akan terhindar dari segala "jebakan teologis" dan perasaan berdosa.

Sekali lagi, ini hanya "berlaku" untuk kaum Muslim pendukung Ahok-Djarot saja lo. Kalau Anda mantepnya dengan Pak Anis juga silakan saja. Beliau orangnya juga baik, lemah-gemulai, tutur-katanya sopan, kata-katanya terstruktur rapi, persis seperti akademisi atau "wong kampusan" lah. Beliau ini khas seperti "dosen idaman" he he. Mau milih Mas Agus juga silakan. Dia juga orangnya (sepertinya) baik, sopan, gagah-perkasa, masih muda lagi. Kira-kira khas "perwira idaman" lah. Kalau Koh Ahok kan ya Anda tahu sendirilah, "khas gubernur idaman" gitu he he.

Anda boleh menjagokan siapa saja. Bebas mengidolakan siapa saja. Merdeka menjadi "cheerleader" kandidat siapa saja. Boleh memilih siapa saja. Yang penting rukun, jangan saling menghina, menjegal, dan mengolok-olok. Gak enak kan kalau didengar "tetangga sebelah" kalau kerjaanya berisik melulu kayak sopir bajaj. Menurut Cak Lontong: "Anda boleh setengah mati memuji istri/suami/pacarmu sendiri tapi jangan menjelek-jelekkan istri/suami/pacar orang lain."

Jabal Dhahran, Arabia

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Selasa, 15 November 2016

Waspadai Skenario Adu Domba di Jakarta!


PILKADA DKI telah berkembang ke arah yang cukup mengkhawatirkan. Bukan saja soal Cagub petahana, Basuka Tjahaya Purnama (Ahok) yang pernyataannya di Kepulauan Seribu yang memicu kontroversi, tapi juga respon sebagian kelompok yang sengaja memanfaatkan isu ini untuk tujuan-tujuan lain di luar Pilkada DKI.

Sebenarnya situasi pasca kontroversi pernyataan Ahok mengenai Surat al-Maidah sudah mulai mereda setelah Ahok minta maaf secara terbuka atas ucapannya yang dianggap menyinggung umat Islam. Tokoh-tokoh agama ternama juga menanggapi positif permintaan maaf itu. Semua itu menjadikan situasi yang semua penuh ketegangan mulai mereda.


Tapi belakangan situasi kembali memanas, terutama setelah MUI mengeluarkan pernyataan sikap yang pada intinya menyatakan Ahok telah melakukan penistaan agama. Situasi tambah semakin memanas karena sebuah stasiun TV swasta menggelar acara dialog secara live kurang lebih 4 jam, dengan tema “Setelah Ahok Minta Maaf”. Berkembang juga berita, besok pagi, Jumat 14 Oktober 2016 akan ada aksi besar yang dimulai dari Masjid Istiqlal, dengan tema “Tangkap Ahok Penista Agama”. Situasi ini menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran, sehingga Gereja Katedral yang letaknya di sebelah masjid Istiqlal merasa perlu membuat himbauan khusus kepada Jemaatnya agar besok hari itu tidak mendekat ke kawasan Katedral jika tidak ada keperluan mendesak.

Saya menduga ada kelompok-kelompok yang mengambil untung dari situasi untuk merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Hal ini dilakukan dengan mengadu domba antara umat Islam dan non-Islam, bahkan antar sesame umat Islam yang mempunyai halauan yang berbeda. Mereka akan menunggangi organisasi-organisasi keagamaan, untuk memuluskan agenda adu dombanya.

Siapakah kelompok itu? Sebenarnya tidak terlalu sulit dikenali. Mereka bukan saja benci pada Ahok, tapi juga benci tatanan Negara ini, benci pada Pancasila, benci pada NKRI dan seterusnya yang dianggap sebagai sistem Negara thagut. Anasir-anasir kelompok radikal akan berkumpul dengan memanfaatkan persoalan Ahok menjadi pintu masuknya. Namun, yang dituju bukan soal Ahok, tapi lebih besar dari itu.
Karena itu, waspada dengan skenario adu domba yang sudah mulai terasa. Bukan soal Ahok dan Pilkada DKI, tapi ini soal keutuhan bangsa.

Rumadi Ahmad
Ketua Lakpesdam PBNU

[Catatan: himbauan di atas dari temanku, Mas Rumadi Ahmad, yang juga Ketua Lakpesdam PBNU, Jakarta. Silakan disebarluaskan jika berkenan demi keutuhan bangsa dan negara].
Read more ...

Kamis, 03 November 2016

MEMBELA AHOK


Seorang teman pernah menegur saya untuk tidak selalu membela Ahok..

Saya senyum sendiri baca pesannya, dan saya jawab, "Jadi kalau ada sesuatu yang aneh dan gak masuk akal dari serangan yang diarahkan ke Ahok, saya harus diam saja, begitu ya ? "

Sebenarnya "membela" bukan kata yang tepat, karena untuk apa saya membela Ahok wong saya bukan apa2nya. Saya hanya menempatkan sisi saya, bagaimana jika saya sedang berada di sisi Ahok menghadapi serangan2 itu. Anggaplah melatih nalar berfikir yang sehat.

Dan memang kenyataannya serangan kepada Ahok ini menghina nalar berfikir, malah bisa dibilang tanpa nalar.

Seperti ada yang memaksa KPK supaya Ahok harus jadi tersangka di kasus sumber waras. Lha wong KPK aja susah nyari bukti bahwa Ahok korupsi. Sampai KPK harus mencari 'niat jahat" Ahok, tapi ya gak dapat2. Trus apanya yang harus dijadikan tersangka ? Bukankah memaksa sebuah lembaga untuk men-tersangkakan orang yang tidak punya bukti bersalah, itu bukti serangan yang tidak bernalar ?
Ada lagi pernyataan Adhie Massardi supaya KPU dan Banwaslu memeriksa kerjasama Ahok dan Google hanya karena nama ""foke" kalau digoogling berganti nama "ahok". Bukankah mengaminkan itu malah menjadikan saya tidak bernalar ?

Ketika saya menolak untuk tidak bernalar, lalu saya distempel selalu "membela" Ahok. Oh come on, saya ini orang berakal, bukan orang buta.
Banyak lagi kasus serangan kepada Ahok yang ketika saya teliti sama sekali jauh dari akal sehat.
Sebagai contoh, Ahok dilaporkan ke polisi karena dianggap menghina surat Al maidah 51 yang berbunyi, "Janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpinmu". Ahok berkata, jangan pilih saya jika meyakini surat Al Maidah 51.

Lalu salahnya Ahok dimana kok sampai harus di polisikan karena dianggap rasis dan mencatut kitab suci ? Ahok kan benar, kalau gak mau milih dia karena berdasarkan surat itu, ya gak usah pilih dia. Dimana sisi rasisnya ? Dia malah mengajak kepada orang yang mengaku sebagai "orang beriman" untuk tidak memilihnya.

Lagian orang yang memilih Ahok, itu karena dia memilih "administratur wilayah", bukannya pemimpin umat. Ahok tidak mengatur cara beragama seseorang, dia hanya mengatur administrasi di wilayahnya supaya tertib dan teratur.

Ketika saya menjelaskan itu, apakah berarti saya membela ? Demi Tante sonya, semoga Johan segera mendapat hidayah !
Sebenarnya ketika kita berbicara politik, bukan berarti kita sok tahu terhadap situasi politik, tetapi melatih nalar berfikir melalui tema politik. Supaya nalar kita sehat, jangan cuti terlalu lama.
Lalu kenapa abang tidak membela Anies ?

"Untuk apa ? Toh, Anies tidak ada yang menyerangnya. Dia sempurna. Seorang muslim ditengah negara yang mayoritas muslim. Santun, terdidik baik, mantan menteri, bijaksana karena sering mengeluarkan nasihat2 dan wajahnya ganteng. Lalu, apanya yang harus dibela ketika seseorang begitu sempurna ?"
Oke deh, bela mas Agus aja sekali2..

"Maaf, saya gak bisa melawan garis tangan mas agus yang katanya sudah men-takdirkannya menjadi pemimpin. Dengan garis tangan takdir Tuhan itu, mas agus gak perlu ngapa2in, gak perlu kampanye, gak perlu program, cukup duduk sama penjual bakwan, di foto wartawan, cekrek.. abrakadabra, sudah menjadi pemimpin.. Melawan takdir garis tangan sama dengan melawan Tuhan. Ingat itu !"

Rasanya perlu secangkir kopi lagi siang ini, biar nalarku bekerja kembali... Tuhan, betapa susahnya ternyata menjadi manusia..

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Selasa, 01 November 2016

NGOBROL DENGAN DONALD TRUMP


"Bro, Ahok itu kristen. Cina lagi. Sementara kita ini mayoritas muslim pribumi. Masa kita beri kesempatan yang minoritas untuk memimpin mayoritas. Indonesia itu negara demokrasi. Dan sejatrinya demokrasi adalah suara mayoritas, bro. Bukan suara minoritas." Teman saya tiba-tiba ngomong politik. Saya sedang malas membahas soal Ahok. Kali ini saya lebih tertarik bicara soal Pilpres di AS.
"Bosen ah, ngomongin Ahok terus. Mending ngomong soal Pilpres di AS. Ente dukung siapa, Hillary Clinton apa Donald Trump?"


"Mending Hilarry dong. Donald Trump memusuhi umat islam. Mentang-mentang di sana umat Islam minoritas..."

"Iya sih..."

"Trump itu juga rasis. Dia seperti mengagungkan supremasi kulit putih. Lihat saja, kaum imigran dan kulit berwarna menjadi musuhnya," teman saya agak berapi-api membahasnya.

"Jadi, ente sebel jika di AS, umat Islam yang minoritas dipojokan oleh Donald Trump?"
"Sebagai muslim, tersinggunglah..."

"Tapi Donald Trump pendukungnya banyak, mas bro."

"Itu kan di AS, masih banyak orang yang rasis dan anti-Islam. Mentang-mentang mereka mayoritas, mereka seenaknya mau menindas umat muslim yang minoritas..."

"Bener juga."

"Semestinya dalam negara yang adil dan demokratis kaum mayoritas gak boleh menindas yang minoritas. Harusnya malah jadi pelindung."
"Kalau nanti ada seorang muslim maju jadi Presiden di AS, bakal diganjel gak ya, oleh rakyat AS yang mayoritas non-muslim?"

"Kalau AS benar-benar mau menjunjung demokrasi, harusnya semua warganya, apapaun agamanya ya, diberi kesempatan dong. AS kan bukan negara agama seperti Vatikan atau Tibet. Kita juga wajib bersyukur jika nanti ada muslim yang maju sebagai Capres AS. Itu benar-benar kemajuan bagi kekuatan dunia Islam."
"Kalau publik AS menentang Capres muslim, gimana bro?"

"Jika masyarakat AS menentang karena agama Capresnya, berarti mereka masih hidup dalam peradaban kuno. Jangan ngomong demokrasi dan kemajuanlah, jika masih diskriminatif dengan umat muslim."
"Maksudnya, diskriminatif terhadap minoritas?"

"Iya. Muslim di AS kan, minoritas..."

"Kembali ke soal Ahok, mas bro. Ente setuju dia jadi Gubernur?"

"Ya, gaklah..."

"Kenapa?"

"Kan tadi udah ane kasih tahu, dia itu Kristen dan Cina. Masa mau jadi pemimpin di negara yang mayoritas muslim, sih..."

"Bro, ngomong-ngomong disini ada toilet gak ya?," kataku. Entah kenapa tibat-tiba perut saya mules...

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Sabtu, 22 Oktober 2016

CAGUB KEHABISAN BAHAN


Di sebuah lapangan saat kampanye Gubernur DKI.
"Kalau saya jadi Gubernur, saya akan membereskan banjir. Semua kali di Jakarta akan saya rapihkan. Bantaran kali akan saya tata, agar tidak ada lagi penduduk yang tinggal di sana dan kali menjadi lebih bersih. Ini akan mengurangi banjir."


"Sudah, pak. Sudah," sahut suara rakyat peserta kampanye.
"Saya juga akan siapkan pasukan khusus agar cepat menangani jika di satu daerah terkena banjir. Mereka akan membereskan genangan dan saluran air yang tersumbat..."
"Sudah, pak! Jakarta sudah punya pasukan orange dan biru,"
"Ohh, sudah ya? Tapi gimana dengan pelayanan publik? Ini yang perlu dibenahi sejak dulu. Pegawai kelurahan dan Kecamatan tidak bisa lagi semaunya. Mereka harus melayani rakyat."
"Sudah, pak. Kelurahan dan kecamatan kita sudah bagus sekarang. Pelayanannya seperti kantor bank swasta!"

"Ohh, ok. Kalau itu juga sudah, bagus. Tapi dari sisi transportasi masih perlu diperbaiki. Saya akan bikin layanan bus jauh lebih baik. Juga monorail dan MRT perlu dikembangkan."
"Naik Trans Jakarta pak. Enak bangets ekarang. Nyaman dan murah. Monorail dan MRT juga sedang dibangun."

"Ok, kalau semuanya sudah dijalankan. Kita akan lebih memperhatikan sistem keuangan Jakarta. Agar tidak ada lagi kongkalikong proyek. Ini duit rakyat, harus dikelola dengan baik!"
"Info, pak. Sekarang sistem keuangannya di Pemda sudah pakai e-budgeting. Tidak ada lagi yang bisa main-main dengan proyek."
"Kalau semuanya sudah, saya lebih baik konsentrasi ke sektor pendidikan. Anak-anak Jakarta harus dipastikan sekolah semua!"

"Kami sudah punya KJP, pak. Bahkan sampai kuliah bisa gratis."
"Gimana dengan keluhan. Pemerintah harus cepat menanggapi keluhan warganya. Tugas Gubernur itu melayani rakyat."

"Wah, bapak gak tahu, ya? Kita sudah punya aplikasi QLUE. Tinggal foto dan kirim laporkannya. Responnya cepat."

Cagub tersebut bingung. Dia berbisik ke orang di sebelahnya. "Ahok ini benar-benar sialan. Masa semua kerjaan sudah digarap? Lalu apa yang disisain buat kita kampanye?"
Lelaki di sebelahnya membalas, juga dengan berbisik. Sepertinya memberi masukan. Sesaat kemudian, Cagub itu semangat lagi.

"Ok, ok. Ini program saya yang or8sinil Kalau saya jadi Gubernur, akan saya pastikan, di Jakarta tidak boleh lagi ada orang yang nyetel bokep di tempat umum! Apalagi di tengah jalan. Itu tidak islami. Itu melanggar syariat!"

"Setujuuuuuu, setujuuuu...."

Orasi selesai. Panggung kampanye kini diisi hiburan. Dangdut koplo. Semua peserta menikmati goyangan penyanyinya. Asyik.

Calon Gubernur kita pulang ke rumah, istirahat. Selonjoran di sofa. Kedua pelipisnya ditempeli koyo...


Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Senin, 10 Oktober 2016

ANIES NUNGGU PUTARAN KEDUA


Di Jakarta itu cuma ada dua kandidat Gubernur. Yang satu Ahok. Satunya lagi bukan Ahok. Itu yang difikirkan Anies Baswedan. Makanya belakangan dia rajin berkomentar miring dan rada aneh, agar persepsi publik memposisikan dia berdiri berhadapan dengan Ahok.

Ini gara-gara SBY yang kuckuk-kucluk mencalonkan Agus Harimurti. Jika tanpa Agus, publik dengan sendirinya sudah terbelah. Tinggal adu retorika, program dan strategi. Tapi kini ada Agus. Langkah pertama bagi Anies adalah bagaimana lolos ke putaran kedua. 




Caranya? Ya, dengan memposisikan diri berseberangan dengan Ahok. Anies sadar kuatnya brand Ahok berhasil membelah Jakarta jadi dua arus besar : yang suka dan membenci Ahok.

Nah, potensi yang membenci ini --karena rasis, alasan agama, kesantunan, kepentingan, dll -- jumlahnya lumayan. Apalagi jika sentimen agama terus dikoarkan. Jadi mereka harus dijaring dulu. Karena kebanyakan pembenci Ahok cara mikirnya aneh, wajar jika Anies terpaksa melontarkan ide-ide aneh. Biar nyambung. Segala becaklah, mau diaktifkan kembali.

Apakah Agus akan memainkan strategi serupa? Mungkin saja. Tapi kayaknya, Agus akan coba diposisikan sebagai kandidat jalan tengah. Dia ingin jadi figur alternatif jika pertempuran Ahok dan Bukan Ahok meningkat sampai bikin publik mules. Agus ingin berfungsi sebagai 'Entrostop', untuk menghentikan diare publik itu. Ini khas gaya SBY, posisinya abu-abu terus.

Sebelum kampanye secara dimukai, ada sebuah strategi menarik dari tim Anies-Uno. Kemarin tersiar kabar Jonru menyatakan diri menarik dukungan pada Anies. Ini tentu membuat kandidat lain deg-degan. Jangan-jangan Jonru nanti mengklaim jadi pendukungnya.

Yang paling mencemaskan, kabarnya Jonru berniat mendaftar jadi relawan Teman Ahok.

Nah. Rasain lu, koh!

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Sabtu, 08 Oktober 2016

TEST NALAR


Ketika anda melihat video ini, bagaimana penafsiran anda ?



A. Ahok mengatakan bahwa surat Al Maidah 51 adalah bohong dan membodohi umat Islam..

B. Ahok mengatakan bahwa surat Al Maidah 51 sering dipakai orang untuk membodohi dan membohongi umat Islam.

Demi Kanjeng Dimas dan Aa Gatot... Semoga nalar saya tidak seperti bu Marwah dan teteh Reza !
Read more ...

Sabtu, 02 Juli 2016

PUASA ITU PEDIH, JENDERAL


Saya juga heran ketika bapak kita tercinta, mantan Presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono merasa pedih kita merasakan lapar dan haus saat berpuasa...

Bulan Ramadhan itu adalah bulan suci bagi umat Islam, dimana selama sebulan itu Tuhan memberikan remisi bagi manusia untuk membersihkan jiwanya dari kotoran atau dosa2 yang selama ini melekat. Salah satu cara paling efektif supaya kotoran itu mudah dibersihkan adalah dengan mengekang nafsu, dan puasa menahan lapar dan haus itu adalah media untuk mengekang nafsu.


Lalu ketika menahan lapar dan haus itu media untuk membersihkan jiwa, kenapa menjadi pedih ? Seharusnya gembira ria, karena ini fasilitas yang disediakan untuk manusia pada bulan ini.
Pak SBY mungkin belum memahami makna bulan Ramadhan ini sesungguhnya, karena itu beliau hanya fokus pada kepedihan. Atau memang kebiasaan beliau berpedih -pedih dalam segala hal, terutama saat memimpin negara ini selama 10 tahun lamanya. Karena itu, wajar saja beliau selalu prihatin.

Mungkin karena rasa pedih itu juga yang membuat beliau harus berhutang triliunan dari asing untuk mengucurkan Bantuan Langsung Tunai dan dibagikan kepada masyarakat supaya konsumtif. Daripada pedih, nih saya kasih duit ya.. Begitulah kira2.

Atau beliau pedih juga saat melihat banyak proyek mangkrak di masanya dan baru terlihat saat sudah pensiun. Pedih, kenapa baru tahu sekarang ? Seharusnya dulu aku bisa bla bla...
Pedihnya beliau juga mungkin sangat terasa ketika harus menghabiskan dana 40 miliar saat pernikahan anak kesayangannya. Pedih karena seharusnya uang sebesar itu bisa buat hal yang berguna, tapi gimana lagi, nanti bisa2 di lecehkan mosok anak Presiden pernikahannya sederhana. Seperti makan buah simalakama, di makan bapak pedih, gak dimakan emak yang pedih.

Jadi, tidak usah dipersoalkan lagi kepedihan pak SBY karena kita juga merasakan kepedihan yang begitu panjang, 10 tahun lamanya, ketika negara ini dikeruk habis2an dan dilemahkan sehingga tidak bisa berkembang bahkan untuk mengalahkan negara sekecil Singapura saja.
Mari kita jadikan Ramadhan ini bulan kepedihan mengenang betapa kita banyak membuang waktu untuk sekedar bangkit saja. Kita harus terus merangkak dalam waktu selama itu, menundukkan kepala ketika berada di negara lain, karena kita tidak punya kebanggaan terhadap negeri sendiri...

Kita berpuasa begitu lama dan itu sangat pedih...

Puasa itu pedih, Jenderal...

Sepedih Fahri Hamzah yang harus membela mati2an kedudukannya di DPR meski sudah dipecat.. Gimana gak pedih, lha trus ntar anak istrinya makan apa ?

Pedih, ada rokok gak ada korek.. Pedihhh..

Seperti judul buku Jonru. "Cowok di seberang jendela.." Itu cowok pedih banget. Ngapain juga dia di seberang jendela.. Kayak orang ngintip dan anunya kejepit..

Seruput dulu, pak Jenderal....

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Selasa, 28 Juni 2016

MERANGKUL UNTUK MENJEGAAL AHOK


Ngomong soal Ahok, ah.

Partai rupanya belum ikhlas jika mereka jadi anak bawang dalam Pilkada. Tidak bisa dipungkiri dalam Pilkada Jakarta isunya hanya berputar di sekitar Ahok.
Gubernur DKI ini memang sedang mendobrak semuanya. Pertama dia mengobrak-abrik kongkakikong anggaran DPRD dan pejabat Pemda. Reaksi keras muncul. Tapi perlawanan itu lunglai. Mereka kocar-kacir sekarang.
Kedua Ahok mengobrak-abrik model politik aliran. Orang-orang yang masih sibuk dengan isu agama dan kedaerahan gerah. Tapi toh, mereka cuma teriak sayup-sayup. Melawan Ahok dengan isu agama dan rasial, sama saja menempel sepatu yang haknya copot dengan nasi. Bloon.
Ketiga, Ahok mengobrak-abrik budaya politik. Selama ini kandidat mendatangi rakyat memohon untuk dipercaya omongannya. Tim kampanye seperti sales kecap yang jualan jagoannya. Jika rakyat belum tergiur, disiapkan sembako atau angpau buat menarik perhatian.

Ahok ingin mengubah paradigma bahwa urusan Pilkada melulu urusan kandidat dan politisi. Dia justru mengembalikan itu menjadi urusan rakyat. Teman Ahok sebagai tim, mencoba menggulirkan ide kerja bersama. Siapa saja bisa menjadi relawan. Artinya publik ditempatkan sebagai subjek. Bukan sekadar objek politk.

Ahok

Keempat, Ahok mengobrak-abrik dominasi partai politik. Meski bukan yang pertama maju via jalur independen tapi fenomena Ahok ini dianggap berbahaya. Rakyat yang pada dasarnya kehilangan kepercayaan pada parpol, seperti mendapat jurus perlawanan baru.
Maka isu deparpolisasi justru mencuat saat ini. Dan parpol sadar, melawan fenomena Ahok tidak bisa secara langsung. Orang ini harus dirangkul sambil dihalangi jalannya.

Caranya pada UU Pilkada yang baru, syarat lulus calon independen diperberat. Soal pembuktian dukungan salah satunya. Kini harus dilakukan dengan sensus. Didatangi satu-satu. Jika pas didatangi petugas, orang bersangkutan tidak ada di tempat, tim pasangan calon wajib menghadirkannya di KPU selang tiga hari.
Katakanlah ada 1 juta dukungan buat Ahok. Kebanyakan adalah warga yang sibuk kerja. Ketika petugas KPU datang ke rumahnya mereka sedang ke kantor. Misal 65% tidak bisa ditemui. Lalu untuk memastikan betul dia mendukung Ahok, tim Cagub kudu menghadirkan mereka ke KPU.
Bayangkan. Menghadirkan 650ribu orang secara serentak. Ini sama saja dengan memasang tembok untuk mencegah calon independen. Sebelumnya cukup verifikasi administrasi dengan pembuktian model sampling. Kini, wajib didatangi satu-satu.

Jika Ahok terus maju via jalur perseorangan, aturan ini bisa menjadi batu sandungan serius. Metode pembuktian dengan sensus banyak celah untuk dimainkan. Petugas di lapangan bisa didekati untuk membuat laporan fiktif. Akibatnya data yang masuk juga ngaco.
Ahok dijegal dengan aturan yang dibuat lartai-partai di Senayan. Tapi di lapangan Ahok justru dirangkul. PDIP misalnya, kini membuka kembali ruang buat Ahok untuk didukung partai. Akan dipasangkan dengan Djarot, wakilnya selama ini. Statemen Surya Paloh juga mengindikasikan kesana. "Nasdem akan tetap mendukung Ahok, jika dia maju lewat jakur partai," ujarnya.

Bagaimana dengan Teman Ahok? Mungkin nantinya akan dijadikan relawan kampanye. Bagaimana dengan Heru? Tampaknya beliau harus berbesar hati melihat fenomena konyol ini.
Dalam.politik semua memang bisa terjadi. Ini mungkin cara partai menyelamatkan diri dari dobrakan Ahok. Dan saya pikir, jika begini kondisinya, Ahok akhirnya akan akomodatif juga.
Partai seperti seorang petinju. Mereka merangkul, dan rangkulan itu sekaligus membatasi tangan Ahok untuk melepasksn jab.

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Indonesia

Air Hidup

Advertise Here

Designed By VungTauZ.Com