Breaking News

Islam

Politik

Tampilkan postingan dengan label Air Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Air Hidup. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 April 2017

SECANGKIR ILMU PAHAM


Tingkat terbawah dalam ilmu itu adalah *"paham".*
Ini wilayah kejernihan logika berfikir dan kerendahan hati. Ilmu tidak membutakannya, malah menjadikannya kaya.
Tingkat ke dua terbawah adalah *"kurang paham".*
Orang kurang paham akan terus belajar sampai dia paham.., dia akan terus bertanya untuk mendapatkan simpul2 pemahaman yang benar...!

Naik setingkat lagi adalah mereka yang *salah paham.* Salah paham itu biasanya karena emosi dikedepankan, sehingga dia tidak sempat berfikir jernih. Dan ketika mereka akhirnya paham, mereka biasanya meminta maaf atas kesalah-pahamnya. Jika tidak, dia akan naik ke tingkat tertinggi dari ilmu.
Nah, tingkat tertinggi dari ilmu itu adalah *gagal paham.* Gagal paham ini biasanya lebih karena *kesombongan.*

Karena merasa berilmu, dia sudah tidak mau lagi menerima ilmu dari orang lain.
Tidak mau lagi menerima masukan dari siapapun (baik itu nasehat dll ), atau pilih-pilih hanya mau menerima ilmu (nasehat) dari yang dia suka saja..., bukan ilmu yg disampaikan, tapi siapa yang menyampaikan..?
Tertutup hatinya.
Tertutup akal pikirannya.
Tertutup pendengarannya.
Tertutup logikanya.
*_Ia selalu merasa cukup dengan pendapatnya sendiri._*
*Parahnya lagi...,*
Dia tidak menyadari bahwa pemahamannya yang gagal itu, menjadi bahan tertawaan orang yang paham.
Dia tetap dengan dirinya,
dan dia bangga dengan
*ke-gagal paham-annya...*
"Kok paham ada di tingkat terbawah dan gagal paham di tingkat yang paling tinggi ? Apa tidak terbalik ?"
"Orang semakin paham akan semakin membumi, menunduk, merendah.
Dia menjadi bijaksana, karena akhirnya dia tahu, bahwa sebenarnya banyak sekali ilmu yang belum dia ketahui, dia merasa se-akan2 dia tidak tahu apa-apa...
Dia terus mau menerima ilmu, darimana-pun ilmu itu datangnya.
Dia tidak melihat siapa yang bicara, tetapi dia melihat.., apa yang disampaikan..!

Dia paham..,
*ilmu itu seperti air, dan air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.*
Semakin dia merendahkan hatinya, semakin tercurah ilmu kepadanya.
Sedangkan gagal paham itu ilmu tingkat tinggi.
*dia seperti balon gas* yang berada di atas awan.
Dia terbang tinggi dengan kesombongannya..,
Memandang rendah ke-ilmuan lain yang tak sepaham dengannya,
*Dan merasa akulah kebenaran...!*
Masalahnya.., dia tidak mempunyai pijakan yang kuat, sehingga mudah ditiup angin, tanpa mampu menolak.
Sering berubah arah, tanpa kejelasan yang pasti.
Akhirnya dia terbawa ke-mana2 sampai terlupa jalan pulang.., dia tersesat dengan pemahamannya dan lambat laun akan dibinasakan oleh kesombongannya...
Dia akan mengakui ke-gagal paham-annya.., dengan penyesalan yang amat sangat dalam.

"Jadi yang perlu diingat..,
akal akan berfungsi dengan benar, ketika hatimu merendah....
Ketika hatimu meninggi.., maka ilmu juga-lah yang akan membutakan si pemilik akal.."
Ternyata di situlah kuncinya.
*"Ilmu itu open ending"*
Makin digali makin terasa dangkal.
Jadi kalau ada orang yang merasa sudah tahu segalanya, berarti dia tidak tahu apa2...!"

SEMOGA BERMANFAAT ... Selamat beraktifitas...

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Minggu, 04 September 2016

TANPA BATAS


"Sebab bagi kami tidak ada tempat yang membatasi kami untuk tidak menghadap-Nya pada waktunya."

Foto 1 di hutan pantai Ciletuh, Sukabumi selatan - Jawa Barat, 2 Juni 2014



Foto 2 di bantaran endapan Sungai Tamiang, Aceh selatan - Sumatra, 31 Mei 2016




pada saat saya menemani mereka -para geosaintis berjalan di lapangan memahami sebagian fenomena geologi Indonesia.

Meskipun saya berbeda iman dengan mereka, saya selalu mengagumi mereka -yang menjalankan syariat agamanya dengan benar -bukan untuk memamerkan ketaatannya, apalagi mengadili orang lain, tetapi untuk mendekatkan dirinya dengan Penciptanya.

Semoga Sholat Lima Waktu mereka bermanfaat untuk hidup mereka hari ini di sini di Bumi, dan hari kemudian di sana - Akhirat, kelak. Amin.

Sebab kita -manusia harus berkomunikasi secara teratur dengan Pencipta kita.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Senin, 29 Agustus 2016

PERANG.PEMISAH BENAR DAN SALAH


Pada intinya, media sosial itu sebenarnya medan perang propaganda.
Kedua pihak, baik kebenaran dan kesalahan, memainkan senjata propagandanya masing2 untuk membentuk barisan. Kedua pihak mengaku berada pada sisi kebenaran, tetapi hanya satu pihak yang berada pada sisi yang benar.


Bagaimana memahami mana sisi yang benar dan mana sisi yang salah ?
Situasi ini pernah ditanyakan seseorang pada Imam Ali as waktu perang Jamal dimana terjadi kebingungan mana barisan yang benar, karena individu2 di kedua pihak yang berlawanan adalah individu2 yang dulu pernah berperang bersama Nabi Muhammad Saw.

"Wahai Imam, manakah menurutmu yang paling benar ? Di sisi musuh ada bunda Aisyah ( istri Nabi Muhammad Saw ), Thalhah dan Zubair sahabat Nabi.

Lalu di sisi berlawanan ada dirimu dan juga sahabat Nabi lainnya. Manakah menurutmu yang paling benar ?"
Imam Ali as yang pada waktu itu menjabat sebagai khalifah ( beliau dipaksa oleh penduduk untuk menjabat pasca terbunuhnya khalifah ke tiga Utsman bin Affan ) dengan tenang menjawab, "Kamu salah. Kamu mengukur manusia2nya lalu mengukur kebenaran. Manusia bukanlah ukuran kebenaran.
Kenalilah kebenaran itu sendiri, pasti engkau akan mengenali siapa manusia di belakangnya.. "
Kebenaran itu sejatinya seperti secangkir kopi.

Kita tidak menghukuminya dari warnanya yang hitam. Kita mengenal kenikmatannya dulu melalui prosesnya, baru bisa mengatakan bahwa ia adalah kenikmatan.

Seruput...

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Sabtu, 13 Agustus 2016

KETIKA POKEMON MENJADI MESIN PERANG


"Memangnya seberapa bahaya sih game Pokemon Go, sehingga banyak di larang di berbagai negara ?"
Temanku yang memang ahli IT tersenyum. Kami ngopi bersama sore itu.
"Sebelum ke Pokemon Go, kita harus pahami dulu cara kerja perusahaan2 besar seperti Google, Facebook dan lain2. Kita menganggapnya sebagai sebuah fasilitas, tetapi sebenarnya aplikasi itu adalah sebuah program mata2.."


Surprise juga mendengar jawabannya. Ternyata tidak sesederhana yang kupikirkan.
"Seperti Google. Kita menganggap Google itu hanya mesin pencari. Tetapi sesungguhnya dia menjebak kita dalam sebuah kotak. Kotak dimana kita tidak bisa keluar dari sana. Kita berkomunikasi melalui email, kita berbelanja bahkan sekedar mencari peta dengan google..."

Dia menyeruput kopinya dan melanjutkan, " Kita seperti berada di dunia luas ketika melakukan segala aktifitas melalui Google, padahal sesungguhnya kita berada di kotak kecil dari luasnya alam maya ini.
Seperti di sebuah galaksi, kita menganggap galaksi kita paling besar padahal sesungguhnya kita hanya berada pada satu galaksi diantara miliaran galaksi yg ada..."
Aku mencoba memahami perkataannya...

"Ketika kita melakukan segala aktifitas di dunia Google, maka mesin intelijen mereka bekerja menyerap seluruh aktifitas kita. Dia tahu kemana kita pergi, dia tahu apa yang kita suka, tahu apa yang kita cari. Dia akhirnya tahu seluruh kebiasaan kita, kebiasaan masyarakat di suatu negara.
Dengan data2 itu mereka memahami dimana kelemahan kita, apa yang kita benci, bagaimana membenturkan kita, dan banyak data yang mereka jadikan pegangan ketika mereka harus melakukan infiltrasi ke negara kita...

Aku menarik nafas. Temanku tersenyum, " Dan ingat, aplikasi seperti Google dan Facebook itu tidak akan bisa menjadi aplikasi mendunia tanpa dana yang sangat besar. Nah percayalah pemilik dana terbesar dalam sahamnya adalah badan2 intelijen milik pemerintah yang disembunyikan dalam nama perusahaan.
Karena itu, negara besar seperti China menutup dirinya dari aplikasi intelijen seperti itu. Mereka membangun sendiri modelnya dengan nama Baidu. Mereka me-manage sendiri penduduknya yg jumlahnya miliaran itu.."
" Apa Pokemon Go seperti itu juga ?"

"Tentulah... Dengan mengaktifkan GPS dan kamera, mesin intelijen mereka bekerja menyerap data kita dalam bentuk gambar. Jadi mereka berharap permainan itu dimainkan di dalam gedung pemerintahan yang punya posisi posisi strategis dan rahasia. Tujuan game itu adalah mengumpulkan data, selanjutnya mereka olah di pusat mereka untuk kepentingan kelanjutan mereka... "
Temanku ketawa sambil menyeruput kopinya. "Buat mereka yang disana itu, tidak ada hal yang sia2. Semua di perhitungkan dengan sangat cermat, sangat detail. Kita aja yang tidak paham dan menganggapnya hiburan semata..

Cantik ya model perangnya ? Ingat, siapa yang menguasai informasi dialah yang akan menguasai dunia..."
Bukan cantik lagi, tapi mengagumkan. Bahkan kopiku kehilangan pesonanya sehingga ia menjadi dingin tanpa tersentuh.

"Kejahatan yang terorganisir, akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.." Imam Ali as.

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Sabtu, 25 Juni 2016

SELAMAT MENANTIKAN BERBUKA PUASA

Setiap orang beriman akan berpasrah diri hanya kepada Allah. Kitapun percaya bahwa Allah yang memberi dan Allah pula yang akan mengambilnya termasuk urusan nyawa.
Bencana alam, kelaparan, korban kejahatan dan segala hal musibah dapat terjadi pada diri manusia setiap saat tanpa direncanakan.

Kita sering membaca berita bayi yang sudah terkubur reruntuhan selama berhari hari ternyata masih hidup. Banyak pula orang yang mengalami nyaris tewas namun masih hidup.
Sedangkan di sisi lain, bangkai manusia terkapar akibat kelaparan dan bencana alam termasuk akibat aksi brutal kejahatan.

Seringkali kita berpikir kenapa Allah memberikan bencana kepada ciptaan-NYA. Sebagian dari kita menyayangkan dan menyalahkan si Pemberi Kehidupan.


Dunia ini hanyalah tempat sementara kita untuk hidup sebelum kita semua menuju kehidupan yang abadi.
Allah belum "memanggil" kita karena kita masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki hidup kita dan menjadi berkat bagi orang lain, yang kalau orang Manado bilang Si Tou Timou Tumou Tou, manusia hidup untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Dengan otak kita yang kecil dan segala keterbatasan kita tidak perlu terlalu jauh berpikir kenapa Allah membiarkan manusia hidup dalam kesengsaraan bahkan saat meninggalpun dengan cara yang sengsara.
Lihatlah apa yang sudah kita perbuat kemarin, hari ini dan rencana kita esok hari.
Sudahkah kita melakukan kebaikan terhadap sesama ciptaan Allah ataukah kejahatan dan kebusukan lah yang justru kita lakukan ???

Perbanyaklah amal dan ber zakat fitrah di bulan Ramadhan ini walaupun tanpa perlu dipertunjukan / dipertontontan kepada orang lain. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Allah Maha Tau.
Selamat menantikan saatnya berbuka puasa. Semoga puasa kita hari ini dapat menjadi berkat bagi diri kita maupun orang lain.

Salam sejahtera dan sehat selalu dari kami sekeluarga.

Penulis: Raymond Liauw
Read more ...

Selasa, 01 Maret 2016

KEBUTUHAN PRIMER ATAU SEKUNDER?

Free Charging - Sejumlah stop kontak disediakan di tempat-tempat fasilitas umum seperti stasiun (foto terlampir di Stasiun Bogor), bandara, restoran, atau fasilitas umum lainnya tempat orang-orang menancapkan charger-nya untuk mengisi batere gadgetnya (HP, ipad, tablet, dll.): adalah pemandangan biasa pada saat ini. Selalu ada orang yang memanfaatkan fasilitas gratis ini, mungkin mereka tidak membawa atau tidak punya gadget pengisi daya: power bank.
Di beberapa warung makan di kampung yang kebetulan pernah saya singgahi pun ada fasilitas ini meskipun tidak khusus disediakan, yaitu stop kontak yang ada di warung itu sendiri. Boleh dipinjam untuk menancapkan charger, ada yang gratis, ada yang mesti bayar. Ada warung yang menulis di selembar kertas: charger/ ngecas Rp 5000.

Free Charging


Di ruang rapat kantor, saya juga mengamati para peserta rapat kalau bisa memilih duduk yang tak jauh dari tempat stop kontak, bersiap baik untuk keperluan charging laptop maupun gadgetnya. Mereka suka berkata, "Saya tak mau jauh-jauh dari sumberdaya."
Saya kalau sedang mengajar kursus di hotel, ruang rapat yang diubah menjadi kelas selama lima hari biasanya dilengkapi dengan begitu banyak extension stop kontak di setiap meja peserta kursus, kabel-kabel extension jalin-menjalin berestafet dari pangkal ke ujung ditutupi plester lakban agar aman tak terantuk kaki.
Di bus Damri bandara, bus jarak jauh, dan kereta api, juga di pesawat-pesawat tertentu kelas bisnis jarak jauh, semuanya dilengkapi stop kontak yang dipasang tak jauh dari setiap tempat duduk.

----------------

Nah, dari warung kampung sampai tempat duduk kelas bisnis di pesawat selalu disediakan stop kontak untuk charging gadget. Gejala apa ini?
Saya pikir kita tahu jawabannya: akibat kemajuan zaman, ekses zaman, zaman kemajuan elektronika, komunikasi, informatika. Budaya menggunakan gadget kini sudah jadi bagian kehidupan manusia, baik di kota maupun di kampung, meskipun tentu masih banyak juga orang-orang yang tak menggunakannya di daerah-daerah terpencil yang tak terjangkau sinyal komunikasi atau gaya hidup masyarakat yang sangat tradisional.
Namun di kota-kota, anak-anak SD sampai abang becak yang sedang santai bergulung di dalam becaknya pun menggunakan gadget, dari gadget yang sangat sederhana sampai yang paling canggih.
Apakah gadget itu, khususnya di kota, sudah jadi kebutuhan primer? Relatif. Mungkin sekarang ada orang yang lebih stres bila HP-nya ketinggalan daripada perutnya lapar. Padahal makan itu kebutuhan primer. Relatif, sebab bagi satu orang gadget itu begitu pentingnya, bagi yang lain biasa-biasa saja.
Secara ilmu ekonomi, mungkin gadget itu kebutuhan sekunder yang definisinya adalah kebutuhan yang sifatnya melengkapi kebutuhan primer dan kebutuhan ini baru terpenuhi setelah kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan ini bukan berarti tidak penting, karena sebagai manusia yang berbudaya, yang hidup bermasyarakat sangat memerlukan berbagai hal lain yang lebih luas dan sempurna, baik mengenai mutu, jumlah, dan jenisnya. Contoh kebutuhan sekunder antara lain televisi, kulkas, sepeda motor, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang mendukung kebutuhan primer.

Kebutuhan primer sendiri adalah kebutuhan utama yang harus dipenuhi untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia secara wajar. Menurut ILO (International Labour Organization) bahwa kebutuhan primer adalah kebutuhan fisik minimal masyarakat, berkaitan dengan kecukupan kebutuhan pokok setiap masyarakat, baik masyarakat kaya maupun miskin.

Begitu kira-kira, tetapi yang dulu kebutuhan sekunder kini bisa menjadi kebutuhan primer. Relatif.
Anda sendiri bagaimana merasakan kebutuhan akan gadget itu? Saya sendiri merasakannya penting, penting sekali bahkan - baik untuk komunikasi biasa dan penting-sangat penting, sampai urusan pekerjaan. Tetapi, tetap di bawah kebutuhan pokok: pangan, sandang, papan.
Dan hati-hatilah menggunakan gadget Anda, bijaklah, jangan menulis di media sosial atau mengirimkan pesan via sms, BBM, WA, Instagram, Line, dll yang isinya mengancam, memojokkan, mencemooh, memfitnah, dan sejenisnya sebab perbuatan itu kini ada sanksi hukumnya dan bisa diadukan. Lalu hati-hatilah menjaga gadget Anda sebab itu benda berharga dan pribadi.

Gadget adalah seperti pisau, bisa menolongmu, bisa menusukmu.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Jumat, 26 Februari 2016

TENTANG MAKAN SIANG DENGAN PRESIDEN ITU

Hanya sebaris pesan pribadi, isinya singkat: "Saya mendapat tugas untuk menyampaikan, Bapak Presiden mengundang Mas Tomi Lebang, bla-bla-bla.... ". Lalu diikuti telepon dari kantor presiden, esok harinya.
Maka, Rabu siang kemarin, saya pun datang ke istana. Debar jantung saya biasa saja, sudah terlalu sering saya terjebak macet di jalan seberang istana hehe... (di seberang lho ya). Ada juga belasan orang lain. Di pelataran, sebelum masuk ruangan, saya bertemu kawan lama, Johan Budi.
Lalu Presiden Jokowi pun datang. Kami duduk di depan meja panjang -- meja makan besar -- dengan kursi yang serupa dan ketinggian yang sama, di ruang berlangit-langit tinggi, lampu-lampu gantung kristal dan ditunjang pilar-pilar putih.

Tak ada kata pengantar, tak ada moderator. Perbincangan berlangsung sembari makan dan sesudahnya, seperti obrolan siang di rumah-rumah. Kami bercakap hampir dua jam lamanya.
Presiden di tengah, diapit dua lelaki yang wajahnya karib sejak dulu, dua pentolan lembaga dan gerakan antikorupsi yang kini sehari-hari bersamanya: Johan Budi dan Teten Masduki. Ada pula dua staf khusus, Ari Dwipayana dan Sukardi Rinakit.

Tak ada yang istimewa.
Dan ini yang membesarkan hati saya untuk duduk di sini: saya mendengar cerita tentang Indonesia, rupa-rupa kabar tentang orang-orang di pemerintahan, informasi di balik peristiwa terorisme, harga-harga dan lain-lain, langsung dari tangan pertama -- dari mulut seorang presiden.
Saya berbicara, orang lain berbicara, bercanda dan ada yang mencela, tentang apa saja yang mengendap di pikiran. Juga konfirmasi tentang kebenaran kabar-kabar yang berseliweran, sebagian hanya hoax, langsung ke presiden.

Hanya itu. Dan sesungguhnya, semula saya tak ingin menuliskan kabar kongkow siang saya dengan presiden, Rabu kemarin. Tapi sejumlah tautan melintas pula di linimasa, dengan berita yang sudah menggelembung bahwa: kecebong ke istana, ini hasil dari puja-puji di media sosial, bla-bla-bla...

Dan saya tak perlu menjawabnya. 
Di negeri ini, masih begitu banyak orang memandang dunia di luar dirinya hanya dengan takaran diri-sendiri. Masih mengukur baju sendiri di badan orang lain. Ia sedang mencari pekerjaan, dianggapnya semua orang juga pencari kerja. Ia mungkin sungguh lapar, dipandangnya semua orang lain sedang butuh makan. Ia sungguh tamak, dan setiap orang dianggapnya serakah. Dan mungkin di benaknya, kenikmatan hidup itu baru datang bila beroleh kesempatan untuk menghamba pada penguasa.

Begitulah. Saya datang ke istana, Rabu kemarin, mengobrol dengan Jokowi, dan pulang dengan gembira karena saya mendengar bual-bual tentang Indonesia langsung dari tangan pertama. Dari mulut sang pemilik tahta, Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo


Oya, satu kabar saja dari saya, sodara-sodara. Ia masih berbadan kurus, wajahnya tetap tirus, dan kulitnya masih tak mulus-mulus. Setahun di singgasana, dengan makanan berlimpah, ia tetap tak gemuk-gemuk juga.
Selamat pagi, Indonesia..

Penulis: Tomi Lebang
Read more ...

Senin, 08 Februari 2016

ANTICLOKWISE

Sambil berjalan kaki atau jogging memutari Lapangan Sempur Bogor di tepi Sungai Ciliwung tadi pagi, ada yang saya pikirkan. Yaitu, mengapa orang berjalan kaki, jogging, atau lomba lari selalu berputar di lapangan melawan arah jarum jam (anticlockwise)? Semua orang yang berolah raga di lapangan tadi pagi juga begitu.

Lalu selintasan pikiran datang, dari sejak saya anak-anak berolah raga dengan sekolah atau sendirian di beberapa lapangan di Bandung juga selalu begitu. Lalu saya juga ingat bahwa orang-orang Muslim saat melakukan thawaf (memutari Ka'bah) juga begitu. Mengapa? Sampai saya pulang dari lapangan tadi saya tak memperoleh jawaban yang rasanya memuaskan.

Di rumah akhirnya saya mendapatkan jawaban yang mungkin memuaskan meskipun harus diuji kebenarannya. Konon karena pada kebanyakan orang kaki kanannya sedikit lebih panjang daripada kaki kirinya. Sehingga, sisi kanan badan bila berjalan atau berlari akan membutuhkan lintasan yang lebih panjang daripada sisi kirinya. Nah ini hanya dipenuhi bila kita berlari memutar lapangan melawan arah jarum jam sebab kaki kanan ada di sisi lintasan luar (lebih panjang). Bila kita berlari searah jarum jam, maka kaki kanan ada di lintasan dalam (lebih pendek), ini akan membuat kesetimbangan tubuh terganggu. Selain itu tidak nyaman juga berlari menentang arus begitu, bahkan mungkin mengganggu pejalan atau pe-jogging lain.

Anticlockwise
Mengapa kaki kanan lebih panjang daripada kaki kiri, ya itu karena kita lebih sering saja menggunakan kaki kanan sehingga pertumbuhannya lebih banyak daripada kaki kiri, seperti tangan kanan yang cenderung lebih besar daripada tangan kiri. Mengapa orang cenderung menggunakan sisi kanan badannya daripada sisi kirinya, konon karena sel-sel dalam tubuh kita didominasi asam amino "spin kiri" -yang memutar berlawanan dengan arah jarum jam dan spin - putaran itu memberikan sisi kanan tubuh sebagai prioritas.

Demikian, kapan-kapan kalau Anda ke lapangan coba amati bahwa hampir semua orang berjalan dan berlari memutar lapangan melawan arah jarum jam.***

Penulis: Awang Satyana
Read more ...

Minggu, 17 Januari 2016

TEROMPET PAK MUNIR

Malam mendekati tahun baru ini hujan deras sekali. Pak munir tertunduk sedih. Yang pasti dagangan terompet tahun barunya tidak akan laku. Ia membeli semuanya dengan uang terakhir yang dimilikinya. Ia berani mempertaruhkan semua uangnya, karena ia berharap pada momen ini. Momen yang akan membawa keuntungan baginya.

Seharusnya malam ini ia bisa membawa pulang nasi goreng kesayangan anaknya. Entah sudah berapa lama ia tidak mampu menyenangkan hati mereka, karena kesulitan ekonomi yang seakan tidak pernah selesai. Kebahagiannya hanya ketika sampai di rumah, ia melihat anaknya yang tumbuh dengan semua cerita lucu yang diomelkannya dengan lidah yang tertatih.

Seharusnya malam ini ia membawakan istrinya sepasang baju rumah. Ia sudah tidak tahan melihat baju istrinya yang dari ke hari itu saja. Lusuh, sobek dimana-mana, tetapi ia tidak mengeluhkannya. Ia ingin melihat orang yang mendampinginya sekali-sekali berbinar matanya. Hanya itu kebahagiaannya.

Tetapi malam ini semua sia-sia. Ia bersandar di pojok sebuah mall, menatap hujan yang seakan tidak bersahabat dengannya. Ia menyelimuti dagangannya dengan plastik, melindunginya karena itu adalah barang paling berharga miliknya.

Diambilnya sebuah terompet. Ia memeluknya. Tidak terasa airmatanya menitik mengingat bahwa untuk kali inipun ia gagal membahagiakan orang-orang yang dicintainya.

Tanpa sadar matanya tertumbuk pada bungkus terompet baru itu. Sebilang huruf yang sangat dikenalnya. Kaligrafi indah yang tertumpuk diantara kertas lainnya. Ia tidak mampu membaca apa artinya, tetapi ia tahu bahwa itu adalah bagian dari kitab suci, sebuah sampul.

Memorinya sejenak terbang ke masa lalu ketika hidupnya begitu tenang. Masa kecil tanpa beban. Ketika ia beramai-ramai sembahyang di mushola kecil di kampungnya dan tumpukan Alquran berjejer menanti dibacakan mereka.

Ia semakin menangis. Teringat betapa semua itu sudah lama ditinggalkannya. Teringat betapa ia sibuk memenuhi semua hidupnya dengan kebutuhan duniawi. Baru disadarinya, betapa kosong sekarang jiwanya. Ia tidak lagi pernah berdoa, tidak pernah mendekat kepada-Nya.

Hujan semakin deras, pak Munir tenggelam dalam isaknya. “Tuhan, ampuni aku yang telah melupakan-Mu..” Ia merintih mengingat betapa ia mencari kebahagiaan yang hakiki, yang tidak pernah ditemukannya dalam setiap langkah kakinya. Ia merintih ketika sebuah terompet mengingatkannya, menohok relung hatinya.

Tiba2 segerombolan manusia berjubah datang. Warnanya putih, matanya merah membara. Terompetnya dirampas, ia dimaki. Ia mempertahankan hak miliknya, tetapi ia ditendang. Sayup-sayup ia mendengar kata “Penghinaan…” Entah apa yang membuat mereka merasa terhina sampai begitu marahnya.

Terompet Tahun Baru
Pak Munir tersedan, ia teringat anaknya, teringat istrinya, teringat masa kecilnya, teringat Tuhan yang telah lama dilupakannya, ia teringat segalanya. Hanya satu yang ia lupa, kenapa manusia bisa begitu kejamnya?

Pak munir mengayuh sepeda dengan gontai. Tuhan sekejap datang padanya, dan kini hilang sudah ditelan malam.

Selamat tahun baru, wahai manusia yang hidupnya sempurna.

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Jumat, 01 Januari 2016

IBU TEMANKU

Perempuan itu duduk di hadapan saya. Sore itu, kami menikmati kopi di sebuah kedai pusat perbelanjaan di tengah kota Jakarta. Pakaiannya necis. Pergelangan tangannya dihiasai gelang indah dan beberapa jarinya melingkar cincin permata. Bau parfum yang lembut tercium. Teman saya ini memang wanita sukses. Karirnya di perusahaan asing melonjak. Dia menikah dengan pengusaha mebel, dikarunia dua orang anak yang lucu. Kebetulan saya cukup kenal dengan keluarganya.

Obrolan kami melayang ke mana-mana. Mulai dari berita-berita di koran, hal-hal bisnis, sampai ke masalah kecil semisal bagaimana anak-anak kami tumbuh. Saya sempat berkisah mengenai masa kecil saya, Juga cerita soal mama saya. Bagaimana rasa masakannya, kesabaran yang luar biasa, juga kekaguman dan rasa hormat saya kepada perempuan tercantik di dunia itu. Saya besar di perkampungan padat Jakarta dengan segala kompleksitasnya. Tapi, saya memiliki mama yang luar biasa. Bersama dengusan nafas dan semangatnya saya berkembang.

”Mamaku sekarang menjadi volunteer untuk memandikan jejazah," kisahku kepadanya. Sambil bercerita, saya membayangkan mama yang dulu dengan kasih sayang memandikan anaknya. Selesai mandi, sebelum saya berpakaian, biasanya mama mendudukan saya di atas meja kemudian mengoleskan koreng yang banyak bertaburan di kaki saya.
Seingat saya karena pemahaman kesehatan yang minim, mama sering mencampur isi kapsul (entah berisi obat apa) dengan minyak tawon untuk dioleskan di koreng-koreng saya. Memang ada antibiotik luar Sulfanilamide, (sekarang sudah tidak beredar) yang cara kerjanya dioleskan. Tetapi kemudian orang mengganggap semua isi kapsul memiliki daya menyembuh seperti itu. Akhirnya, kapsul berisi obat apapun dicampurkan dengan minyak tawon untuk dioleskan ke bekas luka. Untung saja koreng-koreng saya penuh pemakluman. Koreng itu sembuh meski tidak mungkin karena olesan isi kapsul antah berantah itu.
Mendengar kisah saya yang naif itu teman saya tersenyum. ”Yang menyembuhkan koreng kamu bukan isi kapsul. Obat sebenarnya adalah kasih sayang mamamu,” ujarnya pendek. Saya mengangguk setuju. ”Begitulah seorang ibu bekerja untuk anaknya,” sambungnya lagi. ”Aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku pada ibuku.”

Ibu


Lalu dia berkisah.
Ketika kecil aku seringkali malu bila teman-teman ke rumah. Jika mereka terpaksa harus ke mampir biasanya aku menahan ibuku untuk tidak menemui mereka. Ibuku seolah juga paham perasaan anaknya. Dia tidak pernah menampakkan diri di depan teman-temanku. Apalagi setelah ayahku meninggal, ibu seperti menarik diri dalam dunianya yang sunyi. Untung saja bapakku mewarisi tanah yang cukup luas. Tanah itu diusahakan pamanku dan kami hidup dari sana.

Ketika kakakku pacaran, dia bingung ketika teman prianya bermaksud sowa ke rumah. Aku tahu, kakak juga punya perasaan yang sama dengan aku. Ibuku seolah memahami permasalahan anaknya dan meminta tanteku untuk menemani kakakku berkenalan dengan teman prianya. Aku tahu, diam-diam dari ruang makan, ibuku mengintip. Dia tersenyum kecil melihat putrinya yang kini beranjak dewasa.
Hal yang sama ketika aku berpacaran, ibuku selalu mengindar bertemu dengan pacarku. Dia akan duduk di dalam kamarnya saja. Entah kenapa aku merasa sikap itu lebih baik ketimbang aku harus menjelaskan kepada pacarku tentang kondisi ibuku. Aku tahu itu bukanlah perbuatan yang baik. Tetapi, kalaupun aku paksa keluar, ibuku akan tetap bertahan di kamarnya. Dengan bahasa isyarat, dia seperti ingin mengatakan, jangan sampai kondisinya menjadi penghalang kebahagian aku.

Kami tahu kami menyayangi ibu. Dan ibu juga tahu sikap kami itu. Ketika di rumah kami adalah anak yang berusaha membuat ibu bahagia. Tetapi saat harus berinteraksi dengan orang lain ibu seperti memahami kegalauan anaknya. Dia memilih menghindar ketimbang harus membuat anak-anaknya tidak nyaman.
Kami sepertinya tumbuh sendiri. Ketika aku gundah, tidak ada yang dapat aku adukan kepada ibuku. Tidak ada nasihat yang keluar dari mulutnya. Aku hanya bisa tidur dipangkuannya, menikmati belaian tangannya. ”Ibuku bisu-tuli sejak kecil. Dia menghindar dari teman-teman kami mungkin agar kami tidak harus menanggung perasaan malu,” saya lihat mata teman saya berkabut.

Ketika ibu meninggal, waktu itu aku masih kuliah. Aku pulang mendapati jenazah ibuku. Aku menangis, tetapi tidak tahu untuk apa. Aku menangis untuk seorang ibu, orang yang selama ini duduk di kamarnya sendiri, ketika anak-anaknya sedang merajut kebahagiaan. Tapi sepertinya aku juga merasa lepas. Waktu itu aku lebih bisa menceritakan ibuku yang telah tiada ketimbang harus mengisahkan ibuku yang bisu-tuli. ”Mungkin aku berdosa. Tapi aku menyayangi ibuku. Aku juga tahu dia sangat menyanyangi kami. Dan karena kasih sayangnya itu, dia bersedia menghindar dari kehidupan sosial kami.”
Ketika kamu cerita, bahwa mama kamu sekarang jadi volunteer memandikan jejazah, aku ingat ibuku. Saat dia meninggal kami diminta untuk ikut mengguyurkan air pemandian ke jenazah ibuku. Sebelum aku mengguyur air ke wajahnya yang kini pias, aku sempat berbisik ke telinganya, ”Maafkan aku, bu. Maafkan.. Dan, setelah itu aku jatuh pingsan."

Selesai bercerita, saya merasakan nafasnya naik-turun. Wajahnya kelabu diterpa cahaya lampu...

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Jumat, 25 Desember 2015

MEREKA YG SELESAI DGN DIRINYA

Dalam peristiwa Freeport ini, ada satu momen menarik yg banyak terlewatkan karena kericuhannya.
Momen itu adalah pernyataan pak Luhut Panjaitan, Menkopolhukam. Ia berkata, "Saya sudah minta izin kepada istri saya utk menjadi menteri. Saya berjanji tidak akan melacurkan diri. Saya sudah selesai dengan diri saya. Tidak ada lagi kepentingan.."
Sebenarnya, apa yang dimaksud pak Luhut bahwa ia sudah selesai dengan dirinya ?
Yang harus kita paham, bahwa kita sebagai manusia selalu terbungkus oleh nafsu. Nafsu ini adalah binatang liar di dalam diri yang tidak mudah ditundukkan. Orientasi manusia selalu berbeda sehingga model nafsunya pun berbeda.


Luhut Panjaitan

Ada yg nafsu terhadap harta sehingga terus menerus mengumpulkan harta dalam hidupnya. Ada yg terkungkung nafsu thd lawan jenisnya, sehingga selalu berfikir bagaimana bs menaklukkan mereka. Bahkan ada yg menggunakan nafsu dalam ilmunya, sehingga ia terus menerus berdebat dan mencari lawan dalam setiap langkahnya.

Pergulatan manusia dalam memerangi nafsunya adalah peperangan terbesar sepanjang zaman. Ada yang menang, tetapi lebih banyak lagi yang kalah. Ketika mereka kalah, nafsu akan menguasai dirinya sehingga secara tidak sadar ia sudah kehilangan dirinya sendiri. Ketika nafsu sudah membungkus penuh manusia, manusia bisa menjadi hewan berkaki dua. Mungkin itu jg salah satu maksud Tuhan menciptakan hewan, menunjukkan bagaimana jika seorang manusia sudah kehilangan hartanya yg paling berharga yaitu akal.
Orang yang sudah selesai dengan dirinya, menunjukkan bahwa ia sudah muak dgn apa yg selalu dikejarnya, dibanggakannya. Ia sudah tidak lagi mencari ukuran dari pandangan manusia lain. Ia lebih cenderung mencari sisi spiritualnya yg sudah lama hilang.

Dalam kasus Luhut Panjaitan, harta sudah bukan lagi menjadi ukurannya karena orientasi beliau memang kesana. Ia sudah mempunyai perusahaan2 besar dgn asset ratusan miliaran rupiah. Ia sudah sangat terbiasa dgn semua itu dan sudah mencapai titik jenuhnya. Ia ingin mencari sesuatu yang lain, mencari dirinya sendiri yg sudah lama hilang. Dan pada tahapan seperti ini, orang condong melakukan kegiatan sosial.
Kegiatan sosialnya BIll Gates adalah mendirikan badan amal utk kanker. Sedangkan Warren Buffet lebih senang jalan bersama cucunya. Anton Medan sudah muak dgn dunia hitamnya, sehingga kini ia merasa punya kewajiban utk berbicara kpd anak muda spy jangan terjerumus ke tempat yg sama. Mereka sudah selesai dengan dirinya dan sedang mencari kegunaannya kepada manusia lain.

Apakah berarti pemuka agama adalah orang yg sudah selesai dgn dirinya ? Belum tentu, karena lebih banyak pemuka agama yang kuat di ritual tetapi miskin di spiritual. Mereka2 ini silau dgn gemerlapnya dunia, dan selalu membungkus dirinya dgn ayat, dgn firman, bukan untuk menghadirkan Tuhan dalam dirinya tetapi utk dimanfaatkan dalam mencari dunia. Dan Tuhan selalu menguji mereka unttuk menunjukkan kepada manusia lain yg berfikir dan bisa mengambil pelajaran darinya.

Biasanya mereka yg sudah selesai dgn dirinya, sudah banyak meninggalkan sisi kemateriannya. Nafsunya sudah meninggalkan dirinya karena ia sudah sangat kenyang akan pengalaman. Ia ingin membuat dirinya menjadi lebih berarti bagi manusia lain, bukan utk dirinya lagi. Jika mereka tidak ada di tempat2 sepi, mereka selalu terlibat dalam kegiatan sosial.
Apa yg saya cari lagi di dunia ini ? Semua sudah saya rasakan. Dan saya bahkan tidak menemukan apa2 di dalamnya. Lalu, apa yg selalu saya kejar selama ini jika jiwaku tetap saja kosong ? Begitulah kira2 pertanyaan2 dalam benaknya yang menariknya kebawah, ke dasar bumi, setelah selama ini ia berada di awan.

Hanya memang lebih banyak manusia yg tidak pernah puas dalam hidupnya. Ia selalu haus akan materi. Haus akan sanjungan. Dan memang Tuhan sudah mencabut nikmat akalnya, sehingga ia berjalan spt orang buta, kehilangan dirinya. Sudah tidak punya rasa malu meski ia ditelanjangi begitu rupa karena ia selalu mencari pembenaran dalam semua aksinya.

Sudah dikasi kekayaan begitu banyak, masih saja mencari kekayaan lebih dengan cita2 memiliki jet pribadi. Nanti sdh dapat jet pribadi, ingin punya pulau pribadi. Bahkan kalau bisa, ia akan memesan kamar VVIP di surga dan mengatur Tuhan seakan2 ia punya saham disana.

Luhut Panjaitan dan Fadli Zon
Mungkin ketika matinya, penghuni kubur akan ribut karena ada Papa Minta Surga.

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Jumat, 11 Desember 2015

SEPOTONG CINTA DI KARBALA

Peringatan perjalanan 40 hari keluarga Imam Hussain as pasca gugurnya beliau dan pengikutnya di padang Karbala atau yang biasa dinamakan Arbain, selalu meninggalkan kesan yg mendalam buat saya.
Bukan ritualnya yang menohok hati, tetapi nilai spiritualitasnya yang tinggi.

Perjalanan sejauh 80 km dari makam Imam Ali as di Najaf ke makam Imam Hussain as di Karbala Irak, bisa disebut sebagai prosesi ziarah terbesar di dunia. Bayangkan saja, total 20 juta orang berjalan kaki dengan perasaan mengharu biru mengingat peristiwa penting dalam sejarah umat Islam. Sebagai perbandingan, musim haji saja otoritas haji hanya sanggup menampung 2 juta orang.
Sisi spiritual yang tinggi bukan hanya dalam perjalanannya saja, tetapi juga di sepanjang jalan. Ribuan masyarakat Irak, bahkan dari luar Irak, berlomba2 menyediakan apa yg bisa mereka sediakan untuk para peziarah. Ada yang menyediakan tenda, ada yang menyediakan pijat kaki dan banyak lagi yang menyediakan makanan.
Dan semua itu gratis.

Ini ruang dan waktu dimana materi tidak berlaku. Mereka berlomba-lomba mencari dan memperbanyak pahala dari apa yg mereka mampu. Mereka akan meminta para penziarah untuk mengambil apa yang mereka tawarkan dan mereka akan sangat berterima-kasih untuk itu. Karena mereka akhirnya berfungsi sebagai pelayan dari tamu-tamu agung yang datang dari seluruh dunia.
Begitu banyak sisi humanis yang bisa dipotret dalam satu peristiwa ziarah. Membuat bahkan mendengar ceritanya saja, diri ini merasa rendah. Bagaimana diri ini merasa lebih mulya dari seorang papa yang mampu menyisihkan apa yg dia punya untuk diberikan kepada para penziarah ? Mereka bahkan mengemis supaya diterima. Mereka luar biasa kaya.

Karbala

Tidak berlebihan ketika seorang teman pernah bercerita bahwa untuk membersihkan toilet di makam Imam Hussain as, banyak yang menunggu antrian selama sekian tahun lamanya. Dan mereka malah bukan dari kalangan papa, tetapi para pejabat, para pengusaha sampai para ulama.
Apa yang mereka cari sebenarnya ?
Pada tingkatan keimanan seperti mereka, manusia materi tidak akan pernah mengerti bahwa mereka menganggap materi ini semua sampah belaka. Dunia ini lebih rendah dari segala sesuatu, karena itulah ia dinamakan dunia. Mereka mencari materi bukan untuk menjadi budaknya, tetapi untuk berguna bagi manusia lainnya.
Karbala - Cinta
Seorang teman pernah bertanya, kapan saya akan ziarah kesana ?
Saya hanya tersenyum dan menjawab, apakah tidak cukup jiwa saya yang selalu berada disana ? Saya begitu larut dalam kisah tragis itu, sehingga saya masih belum merasa kuat untuk berada disana.
Saya takut, bahkan ketika kaki baru saja menginjak tanah di bandara, airmata saya langsung deras berderai tiada hentinya.

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Sabtu, 28 November 2015

Sang Guru - Catatan Kecil Mengenang Bapak

Oleh : Sigit B. Darmawan

Bapak saya adalah guru. Bapak menyelesaikan pendidikan tertingginya di PGSLP [ Pendidikan Guru Sekolah Lanjutam Pertama] dalam perjuangan yang tidak mudah. Ia harus "ngenger" [ istilah yang sering dipakai untuk seseorang yang hidup mengabdi kepada keluarga orang lain] sejak kecil hanya supaya bisa bersekolah. Namun perjuangan untuk "ngenger" itu membuat bapak paham bahwa pendidikan adalah segala-segalanya.

Bapak menjadi guru sejak tahun 1958 di sebuah Sekolah Rakyat di Purbalingga sampai akhirnya pensiun sebagai guru di SMP Negeri Miri di Sragen. Saya adalah 8 bersaudara. Impian bapak sangat sederhana. Bapak ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang sebaik mungkin. Sadar bahwa gaji seorang guru smp tidaklah cukup untuk membiayai 8 anak-anaknya, bapak memutuskan untuk mengajar tambahan di sekolah swasta pertama yang ada di kota kecamatan Gemolong Sragen.

Tidak cukup hanya itu, bapak juga membuka kursus bahasa Inggris di rumah. Bapak pernah mengikuti kursus bahasa Inggris di Oxford Solo, yang merupakan kursus bahasa inggris satu-satunya di kota Solo saat itu. Bapak sering pulang malam sampai ke rumah yang  di desa karena mengikuti kursus tersebut. Selesai mendapatkan sertifikat kursus tersebut, bapak mulai mengurus perijinan membuka kursus yang dicita-citakannya. Dan tidak perlu waktu lama, akhirnya sebuah papan iklan tegak berdiri di depan pagar rumah: "Kursus Bahasa Inggris untuk SMP dan SLTA".

Kursus itu dilakukan di ruang tamu rumah. Bapak mempersiapkan papan tulis dan bangku-bangku untuk para peserta kursus. Setiap sore saya bisa melihat bagaimana bapak mengajar di kursus yang dikelolanya. Kursus itu berkembang dengan baik, sehingga ruang tamu tidak cukup lagi menampung jumlah murid yang datang. Bapak memindahkan kursusnya di sekolah dasar yang tidak jauh dari rumah, setelah mendapatkan ijin dari kepala sekolahnya. Dan ketika respon semakin baik, akhirnya bapak memindahkan ruang kursus di kantor pendidikan dan kebudayaan di kecamatan dengan seijin kepala P&K. Setiap pagi sampai siang, bapak menjadi guru di smp. Sorenya mengajar di kursusnya.

Perintisan kursus bahasa Inggris yang dilakukan bapak ternyata menarik minat orang lain untuk membuat kursus-kursus serupa. Persaingan kursus itu membuat usaha kursus bapak mulai menurun, sampai akhirnya bapak menutup kursus bahasa inggris yang telah dirintisnya itu. Bapak kembali hanya fokus dengan panggilannya menjadi seorang guru smp sampai pensiun di tahun 1998.

Hari Guru
*********

Dalam kesehariannya, bapak menjadi guru bagi saya. Bapak sangat peduli dengan budaya. Dan cara bapak menularkan budaya kepada saya adalah dengan mengajarkan tembang-tembang yang memiliki filsafat kehidupan yang agung. Setiao malam selepas belajar, bapak selalu menghampiri saya untuk mengajarkan berbagai tembang jawa, khususnya tembang-tembang macapat. Beberapa tembang macapat masih saya ingat sampai sekarang. [Saya pernah dengan bangga menyanyikan salah satu tembang macapat yang diajarkan bapak di sebuah persekutuan gabungan alumni Jabodetabek yang mengusung tema budaya].

Sebagai guru, bapak tidak pernah bosan mencintai negeri ini. Rasa cintanya Itu dibuktikannya dengan kesetiaannya untuk selalu mendorong saya dan saudara saya lainnya berpartisipasi dalam pemilu. Bahkan dalam pemilu 2014 yang lalu, meski dalam kondisi sakit, bapak tetap mengingatkan saya untuk tidak lupa ikut mencoblos di pemilu.  Bagi bapak, itulah cara kita mencintai negeri ini. Itulah cara untuk merubah negeri dengan memilih pemimpin-pemimpin yang baik.

Sebagai guru, bapak dekat dengan masyarakat. Dan karenanya , bapak terpilih selama beberapa periode menjadi ketua RT. Tidaklah mengherankan, karena di desa profesi guru sangatlah mendapat tempat yang terhormat. Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat desa sering memanggil para guru dengan sebutan "mas guru". [Ibu saya yang berprofesi sebagai guru juga dipanggil dengan sebutan "mas guru"].

Kalau berkunjung ke rumah di Bekasi, bapak akan selalu bertanya apakah keterlibatan saya di lingkungan dan masyarakat. Nasehat tanpa bosan dari bapak itulah yang membuat saya tidak kuasa menolak ketika masyarakat dimana saya tinggal meminta saya sebagai pengurus RT.

Bapak tidak hanya menjadi guru di sekolah dan guru di masyarakat. Bapak juga telah menjadi "guru" di gereja kristen jawa Gemolong sebuah gereja yang dirintis pertama kali di daerah saya. Kehidupannya di kemajelisan gereja dalam waktu yang panjang menegaskan perannya sebagai seorang guru bagi masyarakat [jemaat] gereja.

Saya telah menyaksikan dalam hidup saya bagaimana bapak menghidupi perannya sebagai guru. Guru bagi saya, guru bagi keluarga, "guru" bagi gereja dan guru bagi masyarakat.

Hari ini hari Guru. Saya tersentak dalam kenangan kepada bapak, sang guru, yang telah pergi menghadap Tuhan 3 bulan lalu. Sang guru itu meninggalkan kenangan yang amat mendalam dalam diri saya. Sang guru itu telah mengajarkan kepada saya tentang panggilan untuk "memberi hidup" dalam peran-peran yang dilakoninya.

Selamat hari guru.

Tanah Bekasi, 25 November 2015
Read more ...

Jumat, 27 November 2015

MANUSIA YANG GILA SURGA

Cukup lama saya meninggalkan debat sunni-syiah.

Sebenarnya tujuan debat pada waktu itu tidak lain adalah mencari kebenaran, dan pencarian itu tidak bisa dalam bentuk doktrin. Harus dibentur2kan supaya akal terlatih menganalisa dan memilah mana yg benar dan mana yg salah.

Semakin lama ternyata bukan ke arah yang semakin baik, malah hati diliputi keegoisan. Karena masing2 merasa benar sehingga banyak terjadi pertengkaran.

Hingga akhirnya saya mengundurkan diri dari perdebatan yg tidak ada habisnya itu, dan mulai berkaca, "Bagaimana sesuatu yg dianggap benar disampaikan dgn cara yang tidak benar ?"

Tetapi ternyata perdebatan itu meninggalkan beberapa hal. Ada yang menjadi ekstrim dengan meng-kafirkan saudaranya sendiri, baik dari yang syiah dan sunni. Yang syiah merasa berhak surga karena mereka ber-imam, yang sunni merasa berhak surga karena mereka-lah yang merasa paling mengikuti Nabi Muhammad Saw.

Syiah takfiri atau suka mengkafirkan masih ada sampai sekarang, bahkan beberapa waktu lalu mereka mengundang ulama garis keras ke Indonesia. Mereka berpatokan pada sejarah bahwa merekalah yang benar dan mereka bangga disebut rafidhi atau pembangkang. Kenapa begitu ? Karena mereka membangkang fatwa2 ulama besar syiah yang menyatakan siapapun yang menyalakan api permusuhan dgn saudara muslimnya, maka ia bagian dari zionis.

Semakin lama mereka semakin aneh, dan mulai melakukan tatbir atau melukai diri saat hari asyura. Biasanya mereka melukai kepala supaya bisa ditutupi. Bukan itu saja, mereka juga mencaci ulama2 besar Syiah yang mem-fatwakan persatuan dan membangun sikap permusuhan. Cara masuk surga yang aneh, menurut saya. Bagaimana surga yang suci bisa dimasuki oleh mereka yang gemar mencaci ?

Sunni ekstrim juga tidak kalah parahnya. Mereka pelan2 menjadi wahabi. Bukan hanya syiah, bahkan yang sunni sendiri-pun mereka kafirkan. Mereka selalu mempermasalahkan ritual ibadah yang dilakukan NU. Mulai dari kata syirik sampai juwita, mungkin juga Oki dan Nirmala, mereka lontarkan kepada orang2 NU.

Pada intinya buat saya sama saja, mau dia meng-klaim sebagai syiah maupun sunni. Ketika ahlak mereka jauh dari ke-syiahan dan ke-sunnian mereka, sama saja mereka juga menjauhi panutan mereka yaitu Nabi-nya. Mereka hanya merasa cukup memegang sejarah, tanpa mau sibuk mendalami perilaku dari junjungan mereka, padahal mereka selalu bilang kembalilah kepada Al-quran dan hadis. Apanya yang kembali ? Nyasar iya...

Bersujud
Iblis memang pintar bermain di ranah kesombongan dan iman. Begitu tipisnya sekat itu, sehingga tidak sadar mereka yang merasa beriman ternyata sebenarnya hanya memenuhi kesombongan mereka saja. Mereka sibuk memperebutkan surga, sedangkan konsep surga saja mereka tidak paham. Bukankah hidup damai dan toleran di tengah2 manusia tanpa dipenuhi rasa benci adalah sebagian dari surga ?

Surga itu di akal. Akal itu tempat Tuhan menurunkan siksa dan memberi nikmat. Ketika mereka mulai membenci, maka mereka menghilangkan nikmat mereka dan itu berarti kehilangan surga. Dan mereka tanpa sadar menyiksa dirinya sendiri dengan pikiran yang paranoid dan lama2 menjadi gila.

Menyiksa diri sendiri seperti yang dilakukan di kalangan syiah takfiri dan menyiksa orang lain seperti yang dilakukan wahabi, itu sudah masuk pada tingkat gila. Kalau di syiah ada yang ngamuk karena saya sebut gila, silahkan cari saya. Kalau yang wahabi mungkin dah bosen dengan tudingan saya.

Yang indah itu sebenarnya perasaan damai dan perasaan damai itu baru didapat ketika kita bersatu. Apa enaknya berkelompok ? Kenapa jadi seperti hewan yang suka berkelompok sesuai jenis dan sifatnya ? Tidak cukupkah Tuhan memberi contoh kepada kita melalui sifat alam ?

Seharusnya nasihat Imam Ali bin abu thalib as ini bisa menjadi tamparan telak :

"Orang yang paling bijak akalnya dan yang paling sempurna keutamaannya adalah yang mengisi hari-harinya dengan perdamaian, bergaul bersama saudara-saudaranya dengan rekonsiliasi, dan menerima kekurangan zaman. "

Tapi nasihat itu untuk mereka yang berfikir dan orang yang tidak mampu berfikir yah apalagi namanya kalau tidak gila. Gila surga...

Ngopi dulu biar gak gila, karena kewarasan hanya bisa didapat ketika pahit dan manis disatukan sehingga jiwa menjadi seimbang. Dan ketika kita mampu menjadi seimbang, kita berupaya menyeimbangkan sekitar.

Silahkan dimakan gorengan ban dalam isinya...

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Sabtu, 21 November 2015

Perasaan Cinta dan Bau Badan

Perasaan cinta kalau sudah tumbuh seringkali mengikat begitu kuat. Perasaan itu mendorong untuk bisa bersama dan bersatu. Dan ketika terjadi kesatuan dan kebersamaan hati orang akan bersukacita.

Akan tetapi ketika dua orang mulai bersatu. Kesatuan itu bisa goncang oleh berbagai hal.Perasaan cinta tidak cukup. Perasaan cinta bahkan bisa mulai redup karena kesatuan itu ternyata tidak indah.

Perasaan cinta mula-mula berangkat dari satu atau dua hal yang menarik, lalu perasaan cinta itu meluap dan merasa bahwa orang itulah yang paling tepat. Ketika perasaan meluap, tidak lagi bisa berpikir bahwa perasaan itu berangkat dari satu atau dua hal yang menarik. Dan satu atau dua hal itupun seringkali bukan didapat dari pengamatan yang mendalam akan tetapi dari penglihatan semata. Karena itu ketika benar-benar bersatu dan di dalam kesatuan itu terdapat banyak hal lain yang menjadi penentu ikatan , perasaan cinta mulai redup atau mulai diwarnai koflik. Kesatuan tidak seindah yang dipikirkan dulu. Bahkan bisa jadi kesatuan itu malah membuat ketidakenakan.

Perasaan Cinta dan Bau Badan

Jadi ada hal-hal lain yang bisa menggoncangkan kesatuan. Salah satu aspek yang bisa menggoncangkan kesatuan adalah bau badan.

Perasaan cinta mendekatkan 2 orang secara fisik.Maka mau tidak mau akan membaui bau badan yang keluar dari calon pasangan. Dan bau badan ini bisa menggoncangkan kesatuan itu.

BAU KERINGAT

Keringat seseorang yang bercampur bakteri akan menimbulkan bau tertentu. Dan bau itu bisa sangat tidak sedap. Bau tidak sedap ini bisa muncul dari orang yang sangat ganteng, pintar, dan gagah atau juga dari wanita yang sangat cantik, lembut, dan pintar. Keringat ada hukumnya sendiri. Karena itu jika seseorang terpesona kepada orang lain karena matanya yang indah, belum tentu nanti bisa menikmati keindahan itu terus, jika ternyata pemilik mata indah itu keringatnya berbau tidak sedap dan menyengat.

Kalau seseorang tidak rajin membersihkan diri dan tidak pedulian, maka sangat mungkin bau keringatnya sangat menyengat. Dan pasti itu akan membuat tidak nyaman .

Beberapa orang yang keringatnya bau ada yang menutupinya dengan parfum badan atau deodoran, akan tetapi pemilihan parfum dan deodoran yang salah malah akan membuat bau keringatnya tambah menyengat.

Kalau dua orang bersatu maka berharap akan bersama selama hidupnya. Karena itu urusan bau keringat ini sangat penting untuk diperhatikan. Kalau keringatnya sangat bau, maka hal itu akan dinikmati seterusnya. Dan itu berarti akan menikmati ketidaknyamanan selamanya.

Namun ketika perasaan cinta meluap, bau keringat seolah tidak menjadi hal penting. Bau keringat bukan faktor yang perlu diperhitungkan. Akan tetapi apabila nanti sudah bersama bau keringat tidak bisa diremehkan. Apalagi kalau sudah menikah akan tidur dalam satu ranjang serta berada dalam satu kamar, bau itu akan menjadi aroma harian yang dinikmati.Betapa tidak enaknya menikmati aroma yang menyengat dari orang yagn selalu dekat.

Kesatuan itu bisa terancam oleh bau keringat.

BAU MULUT

Selain bau badan, ada orang yang memiliki bau mulut yang menyengat. Wanita yang mulutnya indah, belum tentu bau mulutnya sedap. Bisa jadi bau mulutnya tidak enak. Seorang pria yang begitu pandai bicara, bisa jadi mulutnya mengeluarkan bau tak sedap.

Ketika perasaan cinta yang meluap membawa ke dalam relasi, maka segera akan berhadapan dengan bau mulut. Calon pasangan hidup itu akan berhadapan, akan berbicara secara berdekatan. Dan pembicaraan yang intim akan menjadi penentu keindahan relasi. Lalu bagaimana kalau ternyata salah satu mulutnya berbau?

Apalagi kalau sudah menikah, bukan hanya berdekatan, tetapi juga berciuman. Ciuman adalah ekpresi cinta. Maka keindahan relasi karena ciuman akan hilang. Unsur yang penting dalam kenikmatan pasangan lenyap. Dengan demikian kesatuan akan terancam.

Perasaan cinta yang menggelora akan redup dan bahkan bisa menjadi kemarahan ketika sudah berelasi dan ternyata salah satu mulutnye mengeluarkan bau tidak enak..

Perasaan cinta saja tidak cukup menyatukan, bau mulutpun sangat penting.


BAU KENTUT

Bau tubuh yang lain dan tidak bisa dihindari adalah bau kentut. Kentut bisa tidak berbau, tetapi tetap orang akan tetap mengeluarkan juga kentut yang berbau, sebab mau tidak mau pasti akan makan makanan yang menghasilkan bau.

Ada orang-orang yang sudah punya kebiasaan jika kentut akan menjauh, tetapi ada orang yang kentut di sembarang tempat. Ia tidak menganggap kentut sebagai pengganggu berhubungan dengan orang lain, sekalipun kentutnya berbau.

Bagaimana kalau seseorang perasaannya bernyala-nyala kepada seseorang yang cantik, anggun, cerdas, akan tetapi kentutnya sering bau dan punya kebiasaan kentut di sembarang tempat? Apakah nanti bisa menikmati kebersamaan? Bisa jadi akan terjadi konflik yang hebat.

Maka jika kentut ini tidak diselesaikan , kesatuan yang terbangun akan terganggu. Karena itu perasaan cinta tidak cukup. Pengeloaan kentut juga penting untuk diperhatikan. Kecantikan , kegantengan, kepandaian, tidak selalu diikuti manajemen kentut yang tepat.


Perasaan cinta tidak cukup untuk membangun relasi. Bau badan juga hal yang harus diperhitungkan. Itu artinya, banyak hal lain yang harus diperhitungkan.

Ketika perasaan bernyala-nyala dan keinginan jadian menghebat, pikirkanlah, banyak hal lain yang masih perlu diperhitungkan untuk menjalin relasi.

Penulis: Gunawan Sri Haryono
Read more ...

Rabu, 11 November 2015

Cinta Itu Tidak Buta

Kasus 1

Lidya tiba-tiba menjalin hubungan dengan pria tetangga rumah. Orang tuanya bingung sebab mereka mengenal pria tersebut dan orang tuanya, baik anak maupun orang tua bukanlah orang-orang yang “baik” . Ayah pria itu adalah teman orang tua Lidya. Ayah Lidya sudah mengenal sejak kecil, dan tahu bagaimana sifat dan cara hidupnya. Dan ternyata cara hidup yang tidak baik itu menurun ke anaknya.. Akan tetapi Lidya tidak bisa menerima pendapat itu. Lidya sangat cinta pria tersebut. Dia merasa tidak bisa lepas darinya. Karena orang tua Lidya merasa sayang kepada Lidya, maka mereka terus memberi nasihat untuk mempertimbangkan pilihan Lidya itu sambil menunjukkan hal-hal berkaitan dengan kepribadian pria tersebut. Namun Lidya tetap bersikukuh untuk terus dengannya. Bahkan ketika orang tua mengancam tidak akan memberi warisan kalau nanti menikah dengan pria tetangga itu, Lidya berani menjawab, tidak mendapat warisan juga tidak apa-apa.

Akhirnya Lidya menikah, bahkan sebelum menikah, saking cintanya, Lidya sudah menyerahkan kegadisannya. Pernikahan berjalan lancar, dan menurut kata orang Lidya berbahagia. Sebab beberapa waktu kemudian Lidya sudah mengandung dan kehidupan ekonomi mereka nampak cukup. Mereka nampak sering bersama, baik ke acara keluarga, sosial, maupun ibadah.



Akan tetapi lebih dari 20 tahun kemudian Lidya baru berbagi, bahwa selama 20 tahun pernikahannya dia tidak pernah berbahagia. Benar ayahnya, suaminya tidak bertanggung jawab. Suaminya relatif tidak mau bekerja. Hampir selama 20 tahun ,Lidya yang harus bekerja keras untuk membiayai semau kebutuhan. Dan benar pula ayahnya, suaminya tidak baik moralnya, Selama suaminya bekerja ( yang hanya beberapa waktu ) , suaminya selingkuh. Bahkan setelah tidak bekerjapun masih selingkuh. Suaminya selingkuh dengan beberapa wanita.

Dalam hubungan suami isteri Lydia hampir tidak menikmati kepuasan. Karena tingkah laku suaminya, Lidya menjadi dingin, dan melayani suami dengan terpaksa.

Semula menurut Lidya cinta itu segala-galanya, akan tetapi kehidupan rumah tangga telah membuktikan “perasaan cinta”tidak cukup untuk membawa kebahagiaan.


Kisah 2

Joko seorang mahasiswa yang cukup ganteng. Beberapa wanita tertarik kepada Joko. Akan tetapi ternyata Joko jatuh cinta kepada wanita tetangga rumah yang sepuluh tahun lebih tua darinya. Keluarga dan teman-teman memberitahu Joko bahwa pernikahan itu akan sulit, namun Joko mengatakan tidak sulit. Asal cinta maka semua bisa diatasi. Ada yang memberikan penilaian dari berbagai sudut pandang. Dari segi fisik , nanti istrinya sudah menopause, dia masih menyala-nyala. Dari segi ekonomi, istrinya sudah mapan, dia baru merintis. Dan lainya lagi. Namun semau pertimmbangan itu kalah dengan jawaban, cinta itu bisa menyelesaikan segala sesuatu. Asal ada cinta, semua bisa diatasi.

Selama berpacaran Joko juga sudah melakukan hubungan badan. Itu juga membuat Joko sulit untuk berpisah dengannya. Joko sangat menikmatinya.

Pernikahanpun terlaksana. Dan selang beberapa bulan, Joko merasakan hal-hal yang tidak diduga pada waktu dulu. Komunikasi ternyata sulit. Keuangan berbeda cara pandang. Bahkan hubungan badan pun tidak seindah dulu. Istirnya sangat dominan dalam segala hal. Dalam hal mengatur rumah, uang, bahkan dalam berhubungan suami isteri. Joko terpuruk sebagai laki-laki.

Cinta ternyata bukan segala-galanya.

Bukan hanya Lidya dan Joko yang beranggapan cinta adalah segala-galanya. Banyak orang berpendapat demikian. Cinta itu buta, demikian katanya. Cinta bisa mengatasi segala kesulitan. Cinta bisa menopang segala tantangan. Contoh-contoh tentang kerusakan hubungan dari orang-orang yang dulu nampak begitu mesra dan mengatakan cinta telah menyatukan segala perbedaan tetap saja tidak diterima sebagai satu peringatan.Bahkan ada penulis lagu yang menulis syair, “Terima kasih cinta” sementara cinta nya sendiri juga tidak berjalan baik.

Marilah kita perhatikan beberapa prinsip berikut.

Perasaan tertarik berbeda dengan cinta

Pada umumnya orang memiliki perasaan tertarik kepada lawan jenis. Namun perasaan tertarik itu berbeda dengan cinta. Perasaan tertarik ingin dipuaskan. Ketika tidak dipuaskan akan merasa merana, terluka, kesepian, dan lain-lain.

Perasaan bisa muncul dari berbagai faktor, karena masa kecil tidak mendapat pengasuhan yang baik, karena kehilangan ibu atau ayah yang begitu mengasihi, atau karena memiliki pasangan merupakan harga diri, atau bahkan bisa muncul karena adanya ikatan romantisme budaya. Karena itu perasaan bisa muncul kapan saja, dan kadang-kadang bisa tidak dimengerti alasannya.

Sewaktu SMA ketika saya berjalan di lorong sekolah, tiba-tiba saya berpapasan dengan seorang gadis. Hati saya berdebar. Gadis itu bersahaja, manis, dan jawa. Saya tertarik kepadanya. Dan itu tiba-tiba, sekalipun saya tidak tahu hidupnya seperti apa, latar belakangnya seperti apa. Perasaan itu muncul begitu saja. Namun itu bukan cinta. Seberapapun kuat perasaan itu.


Cinta itu lebih dari perasaan

Dalam cinta ada perasaan, namun cinta melebihi perasaan. Perasaan tertarik bisa menjadi awal memahami cinta, akan tetapi harus diteruksan dengan pemikiran yang matang.

Cinta itu harus melihat. Melihat berbagai hal. Jadi setelah tertarik, perlu diikuti dengan pertanyaan apakah saya bisa hidup bersama dengan nya? Juga apakah dia tertarik kepadaku dan bisa hidup bersamaku?

Cinta itu harus melihat kepribadian

Mencintai seseorang berarti mampu menerima kepribadiannya. Karena itu harus mengerti lebih dulu kepribadiannya. Rasa tertarik bisa muncul hanya dengan melihat wajah atau suara. Akan tetapi cinta akan dipastikan setelah memahami kepribadiannya dan ternyata mampu menerima kepribadian itu dan bahkan bisa menikmati hidup dengan kepribadian itu.

Bagian kepribadian yang penting untuk diperhatikan adalah : tata nilai, sifat-sifat, cara berpikir, bagaimana berelasi dengan orang, dan juga apa kesenangan-kesenangan ( serta ketidaksenangannya ).

Bagaimana tata nilainya tentang uang? Tentang kejujuran? Tentang pekerjaan? Apakah saya bisa hidup dengan orang yang memiliki sikap gila kerja? Apakah saya bisa hidup dengan seseorang yang mengejar uang karena pengalaman kemiskinan masa lalu?

Bagaimana sifat-sifat nya? Apakah saya bisa menerima orang yang suka menyendiri? Apakah saya bisa menikmati kebersamaan dengan orang yang suka berdamai sehingga cenderung kompromi? Apakah saya bisa hidup dengan orang yang dominan? Apakah saya bisa menjalani hidup dengan orang keras kata-katanya dan mungkin tindakannya?

Bagaimana cara berpikirnya ? Apakah saya bisa bersama-sama dengan orang lambat mengambil keputusan? Apakah saya bisa menikmati kebersamaan dengan orang yang praktis cara berpikirnya?

Kepribadian seseorang tidak selalu kelihatan. Perlu belajar memahami orang. Orang yagn sejak kecil diperlakukan dengan keras, lalu menyimpan kekerasan, bisa tersembunyi dalam wajahnya yang lembut. Atau orang yang memiliki dendam dengan kemiskinan dan akan mengejar uang sekeras-kerasnya akan tertutupi dengan cara belajarnya yang mengesankan selama kuliah.

Perasaan yang hebat akan musnah setelah menjalani hidup dengan orang yang kepribadiannya tidak bisa diterima.

Cinta harus melihat kepribadian, Cinta tidak buta.


Cinta itu melihat latar belakang.

Mata yang indah itu begitu menawan dan membuat berdebar-debar. Namun belum tentu seorang pria kemudian bisa hidup dengan seorang wanita dengan mata menawan. Pria tersebut harus hidup dengan keseluruhan wanitaitu. Dan keseluruhan orang tersebut mencakup latar belakangnya.

Cinta akan mampu menerima seseorang bersama latar belakangnya. Karena itu ketika tertarik orang perlu dilanjutkan dengan mengerti latar belakangnya, mencakup latar belakang keluarga, suku, pendidikan, teman-temannya. Setelah itu baru bisa menilai apakah rasa tertariknya diikuti dengan kemampuan untuk menerima dia dengan latar belakangnya atau tidak.

Apakah saya bisa hidup dengan seorang wanita cantik , namun memiliki orang tua yang menuntutnya untuk tetap tinggal di rumah? Apakah saya bisa menikmati kebersamaan dengan seorang wanita cerdas, namun orang tua nya tidak punya pendidikan dan hanya seorang sopir becak ? Apakah saya bisa hidup dengan seorang wanita seksi namun dulu telah sering tidur dengan beberapa pria? Apakah saya bisa menjalani kehidupan dengan seorang wanita dengan bibir menawan, namun ayahnya dipenjara karena korupsi ?

Demikian juga apakah saya bisa hidup bersama dengan seorang pria gagah, namun dominasi ibunya sangat kuat ? Apakah saya bisa hidup dengan pria lemah lembut, akan tetapi berbeda suku dengan tatacara hidup berbeda?

Cinta buta akan mengatakan saya bisa. Sebab tidak memahami bagaimana menjalani hidup dengan hal-hal seperti itu. Dipikir kalau perasaan begitu kuat, hal tersebut diatasi. Tidak. Menikah dengan pria yang ibunya begitu dominan akan membuat seorang wanita tidak bisa memiliki pria tersebut. Apa yang dimimpikan lenyap dalam pernikahan. Setiap latar belakang membutuhkan cara hidup tertentu untuk menjalani.

Karena itu harus belajar dengan seksama, lalu membuat perhitungan, apakah mampu menjalaninya. Karena cinta membuat pertimbangan dan menilai, lalu dengan penuh kesadaran menjalani.


Cinta melihat konsekuensi

Jadi cinta melihat konsekuensi dan sanggup menjalani konsekuensi itu. Orang yang mencintai tidak buta, pokoknya nanti pasti bisa asal kita jalani bersama. Orang yang demikian adalah orang yang asal jalan, tidak melihat kehidupan, dan akan terpuruk.

Ketika sudah membuat pertimbangan dan melihat resiko, lalu sanggup untuk menjalani, maka dia akan menjalani setiap keadaan dengan penuh tanggung jawab. Dia tidak marah, kecewa, namun akan menempuh kehidupan bersama saling mendukung, atau dia akan menopang. Perjalanan cinta itu akan menjadi perjalanan kehidupan yang bermakna. Sekalipun bisa jadi perjalanan itu tidak mudah.


Cinta itu melihat kebahagiaan pasangan

Cinta tidak mengatakan ,”Puaskanlah perasaanku “. Tetapi cinta memikirkan kebahagiaan orang lain. Karena itu, ketika perasaan tumbuh dan membuat pertimbangan lalu merasa bahwa kebersamaan itu justru akan menyulitkan pasangan, dia akan dengan kesadaran melepaskannya.

Cinta tidak memaksa. Cinta akan siap jika yang dicintai mengatakan tidak.

Karena itu ketika perasaan tertarik itu membawa ke dalam kesatuan, ia tidak semata-mata ingin mendapatkan kepuasan. Ia akan berjuang untuk membahagiakan pasangannya. Dan karena menyadari bahwa kesatuan cinta bukanlah sekedar memadu rasa, ia akan berjuang dalam hal ekonomi, menata rumah, mendidik anak, menghormati ke 2 orang tua, dsbnya.


Kedewasaan adalah kunci dasar kemampuan mencintai

Kunci seseorang mampu mencintai adalah kedewasaaan. Kedewasaan ini diukur dari kemampuan berpikir yang luas, tidak pendek dan sempit. Kedewasaan diukur dari kemapuan menerima perbedaan dan menghargainya. Kedewasaan diukur dengan kemampuan menanggung kesulitan-kesulitan dan mengutamakan orang lain. Kedewasaan juga diukur dari kemampuan berdaya juang untuk mencapai tujuan hidup.

Kedewasaan bisa menata gejolak perasaan-perasaannya tapi juga bisa menikmati keindahannya.

Jika sudah dewasa maka dia akan memiliki cinta yang melihat. Dan dia siap untuk mencintai

Penulis: Gunawan Sri Haryono (https://www.facebook.com/gunawan.haryono.7)
Read more ...

Senin, 09 November 2015

KEINDAHAN HIDUP WANITA JAWA

Selama beberapa tahun setiap hari jumat saya biasa duduk di bangsal Wisomarto, di depan Kori Kamandungan Kraton Kasunanan Surakarta.
Di Bangsal Wisomarto setiap hari banyak orang duduk untuk menikmati suasana kraton atau sekedar melepas lelah. Saya termasuk di antara orang yang ingin menikmati suasana Kraton Surakarta.
Namun di situ saya menemukan banyak pelajaran kehidupan yang mentakjubkan. Berikut adalah salah satunya.

Wanita Jawa
Suatu hari sementara saya menikmati suasana di depan kraton, ada seorang ibu yang  menggendong tenggok besar, ikut duduk di bangsal Wisomarto. Ternyata ibu tersebut berjualan telor. Tenggoknya berisi telur ayam dan telur bebek. Hebat juga ibu tersebut, karena tenggok itu cukup besar. Lagi pula rumahnya juga cukup jauh, di daerah selatan Grogol, kira-kira 5 km dari kraton Surakarta.Ia berjalan kaki membawa telornya ke para pelanggan.
Ibu tersebut sangat ramah, sehingga kami bisa berbicara cukup banyak. Dan akhirnya beliau mau menceritakan kisah hidupnya.
“ Sudah lama jualan telor Bu?” tanya saya.
“ Sudah sejak gadi mas” jawabnya
“ Ooo..sudah lama sekali...lha putranya berapa sekarang?”
“ Anak saya 1,sudah bekerja. Bersyukur, sudah mapan mas”
“Wah, lha kalau anak sudah mapan, koq ibu masih bekerja?” tanya saya penasaran
“o, iya jangan mengharapkan anak to mas. Selama masih bisa bekerja, ya harus cari penghidupan sendiri. Supaya bisa memberi cucunya” jawabnya sambil tersenyum.
“ Kalau bapak bekerja dimana?”
Ibu itu diam sebentar, lalu jawabnya, “ Bapak tidak ada di rumah”
“ Maksud ibu”
“ ya, ini lelakon yang harus saya jalani”
“ Ada sesuatu terjadi bu?”
“ Iya, mas. Bapak sedang kena goda orang” jawabnya sambil senyum sedih.
“Apa yang terjadi Bu” tanya saya ingin tahu.
“ Bapak beberapa kali kecanthol wanita...” jawabnya dengan pelan
“ o, iya? Terus bagaimana?” saya lebih ingin tahu.
Ibu itu diam agak lama. Kemudian dengan suara berat ibu tersebut melanjutkan.
“ Bapak beberapa kali kecanthol wanita. Tapi dulu bapak selalu pulang. Namun itu berulang dan tidak kapok-kapok. Bapak masih merasa kuat, belum merasakan hukuman Tuhan. Tapi ya saya selalu terima kalau bapak pulang.”
“Wah, berat ya Bu..”
“Berat mas, tapi ya ini lelakon. Bagaimanapun saya harus menjalani dan tetap harus menerima Bapak. Bagaimanapun dia adalah suami saya dan ayah dari anak saya”
Saya terpesona dengan jawabannya yang indah. Karena itu saya ingin tahu lebih lanjut.
“ Kalau yang sekarang bagaimana?”
“ Ini juga sudah lama mas. Bapak bekerja di satu perusahaan. Lalu kecanthol dengan juragannya. Entah bagaimana juragannya cinta kepada bapak. Nah, setelah dengan perempuan ini bapak tidak peduli dengan keluarga.” Ibu itu menghela nafas berat.
“Oooo, bgt ya?”
“Pulangnya jarang, dan malah kemudian tidak pulang. Sampai hari ini tidak pulang.”
“ Wah, sejak kapan itu bu”
“ Sejak anak saya SD”
“oo, sudah lama sekali?”
“Iya mas. Anak saya marah sekali dengan ayahnya. Dia sering mengatakan kata-kata yang tidak baik. Tapi saya selalu berkata kepada anak saya untuk tidak mengatakan hal-hal buruk tentang ayahanya. Bagaimanapun dia adalah ayahnya. Anak harus tetap menghormati ayahnya. Sekarang ayahnya sedang gelap mata, tidak tahu mana yang benar. Namun anak tidak boleh berkata buruk tentang ayahnya dan tidak boleh tidak hormat kepada ayahnya. ”
Wah,  saya terpesona dengan ibu tersebut. Kagum sekali. Inilah wanita jawa sejati. Seseorang yagn mengerti hakekat hidup.
Lalu ibu itu melanjutkan,” Sebagai wanita saya pernah sakit hati mas. Tapi terus saya pupus. Ini adalah lelakon hidup. Suami saya sedang dalam kegelapan, saya tidak boleh ikut-ikutan. Satu waktu suami saya akan sadar. Mungkin setelah nanti menerima akibat dari kesalahannya. Sejak itu saya bertekad yang penting saya bekerja keras untuk menghidupi anak saya. Bersyukur anak saya sudah bisa mandiri”
“  Bagaimana kalau satu waktu bapak kembali Bu?”
“ Saya akan menerimanya mas. Saya adalah istrinya hingga hari ini. Saya akan menunggunya. Saya mengatakan kepada anak saya, saya akan menunggu bapakmu. Dan kalau nanti bapak pulang dalam kondisi menerima hukuman,saya siap merawatnya sampai sembuh ataupun sampai dipanggil yang maha kuasa...”
Saya terdiam. Saya seperti berada di depan seorang filsuf.Ini bukan sekedar penjual telor. Ini pemilik kehidupan.
Saya bertanya untuk menguatkan,” Ibu siap merawat Bapak, kalau seandainya bapak pulang, tapi dalam kondisi stroke atau mengalami keadaan lainnya?”
“ Ya, mas. Itu sudah tanggung jawab saya sebagai istri...Saya siap merawatnya...” jawabnya dengan penuh kesungguhan.
Wah, bagaimana mungkin orang bisa memiliki jiwa sebesar itu. Saya memujinya, tapi ibu itu berkata, itu hal  biasa. Itu sudah kewajiban hidup. Katanya lagi,” Orang lain yang sakit saja saya mau menolong , apalagi ini suami dan ayah dari anak saya”
Kami masih berbincang beberapa hal lagi, dan akhirnya ibu tersebut melanjutkan perjalanannya sambil menggendong tenggok di punggungnya.
Saya memandanginya. Saya belajar banyak dari wanita tersebut. Wanita jawa sederhana,tapi itulah wanita jawa sejati yang pernah saya kenal. Wanita yang memahami kehidupan sebagai orang jawa. Dia tidak belajar dari bangku sekolah atau dari agama, dia belajar dari leluhur melalui kehidupannya.
Saya kagum, tapi juga merasa malu dengan kekerdilan hidup saya.

Penulis: Gunawan Sri Haryono
Read more ...

Selasa, 03 November 2015

DIMANA BATAS SABAR

 Dulu saya pernah ditanya seorang teman, "Dimana batas sabar ?"

Saya terdiam. Buat saya sabar itu tidak ada batasnya, tapi bagaimana menjelaskannya kepada seseorang yang sedang dalam situasi kesulitan dan berharap mendapat sedikit pencerahan ?

Saya bukan tipikal orang yang suka berbicara klise tanpa makna. Karena ketika saya menyampaikan sesuatu dengan kosong, sama saja saya hanya menghibur diri sendiri tanpa sedikitpun saya belajar darinya.

Saya yakin Tuhan paham ketidak-mengertian saya, maka saya-pun diajari-Nya. Saya dijatuhkan dalam kesulitan yang dalam dan bertingkat2. Selesai satu masalah, masalah lain datang dgn kekuatan yang lebih hebat. Goyang semua dunia, gemetar seluruh anggota badan, luluh lantak kemampuan otak, saya lunglai tak berdaya. Pasrah.

From Allah To Allah
Situasinya seperti saya diterjunkan ke lautan luas sedangkan saya tidak bisa berenang. Tangan panik menggapai2 mencari pegangan, tapi pegangan apa ? Air dimana2.

Akhirnya tubuh tenggelam perlahan2. Dada sesak tertekan sekian ton air yang semakin dalam semakin kuat. Mau pecah rasanya.

Sampai pada titik kedalaman tertentu yang saya tidak paham, ternyata tubuh beradaptasi dengan situasi. Mata bisa melihat di kegelapan. Rongga paru melebar dan nafas pun teratur pelan2. Tubuh mulai bisa mengatur irama untuk bergerak dan mengalir.

Apa yang saya lihat di kedalaman ? Sungguh mengagumkan. Saya melihat ikan2 berwarna indah yang tidak pernah saya lihat di permukaan. Saya melihat kerang2 berisi mutiara yang menyilaukan yang bahkan tidak pernah terbayangkan. Saya menyusuri semua karang dengan pandangan terpesona dengan berpatokan pada nasihat2 keluarga Rasulullah.

Inikah yang dinamakan kebijaksanaan itu ? Dalam sekali maknanya. Jujur, saya sangat menikmatinya. Saya menjadi sedikit paham kenapa bunda Theresa begitu menikmatinya. Saya menjadi mengerti kenapa Mahatma Gandhi membuang baju duniawinya. Saya menyelami kedalaman pemikiran para Imam yang mengajarkan saya sedikit ilmunya.

Tahun demi tahun berlalu dan sedikit demi sedikit pengetahuan saya meningkat, wawasan saya terbuka. Saya banyak menguliti sifat keduniawian yang begitu bergantung pada materi meski belum semua. Pantas saja mereka yang berada di kedalaman, muak melihat kemunafikan yang ada di permukaan.

Saya belum pernah bertemu lagi teman saya yang dulu bertanya, "dimana batas sabar ?" Entah dia kemana. Tetapi saya langsung teringat padanya ketika seseorang yang baru saya kenal bertanya hal yang sama, "Bang, menurut abang dimana batas sabar ? Apa benar sabar tidak ada batasnya ?"

Saya tersenyum, "Sabar ada batasnya, yaitu syukur. Ketika kita bersyukur atas semua hal, maka sabar akan melebur dengan sendirinya... " Dan bla bla saya bercerita banyak kepadanya tanpa terasa sudah dua gelas kopi tuntas di meja.

Menakjubkan ketika kita akhirnya memahami makna kekayaan tidak terletak pada materi, karena materi itu adalah tingkat pemahaman terendah yang dimiliki manusia. Materi sangat mudah hilang, tetapi kebijaksanaan adalah harta karun yang menetap selamanya.

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Indonesia

Air Hidup

Advertise Here

Designed By VungTauZ.Com