Breaking News

Islam

Politik

Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 November 2017

Antara Trump dan Anies


Dalam beberapa hal gaya Trump itu mirip-mirip dengan Anies. Banyak yang bilang keduanya "rasis": Trump anti non-pribumi Amerika, sedang Anies anti non-pribumi Indonesia. Padahal, keduanya sama-sama pendatang.

Warga pribumi Amerika itu ya, antara lain, suku-suku Indian (sekarang disebut "native Americans"). Emang Trump keturunan suku-suku Indian? Orang-orang kulit putih di Amerika seperti Trump kan keturunan kaum migran, pengungsi, dan pendatang dari Eropa. Sama seperti para bule Australia. Semua migran.

Anies juga sama. Ia keturunan migran Arab-Yaman (khususnya dari daerah Hadramaut di Yaman selatan) yang dulu berbondong-bondong berlayar ke Nusantara karena di negerinya dilanda perang dan paceklik berkepanjangan. Jadi orang Arab-Yaman ke Nusantara itu dulu untuk jualan dan mencari makan. Ada beberapa kelompok migran Arab-Yaman di Nusantara: sadah, irshadi dan qabail. Baswedan masuk grup irshadi yang di Yaman masuk kelompok sosial sedang-sedang saja: elit bukan, gembel juga bukan.
Jika yang dimaksud Trump dengan "non-pribumi Amerika" itu khususnya kaum Latinos, Blacks, dan Arabs. Maka, yang dimaksud dengan "non-pribumi Indonesia" itu khususnya adalah Cina (Tionghoa).


Apakah Trump dan Anies tidak tahu atau tidak sadar kalau mereka sebetulnya juga bukan pribumi Amerika dan Indonesia? Mereka berdua jelas tahu betul dan sadar benar kalau pendatang! Emangnya mereka berdua itu Mamat yang nggak tahu-tahu dan gak sadar-sadar tapi malah bangga dengan ketidaktahuannya dan ketidaksadarannya he he?
Meskipun banyak yang bilang kalau Trump dan Anies itu "rasis". Tapi bagiku mereka itu tidak rasis. Mereka hanya memanfaatkan sentimen rasisme yang sudah tumbuh-berkembang di sebagian kelompok masyarakat. Mereka hanya "mengfasilitasi" atau mewadahi kemauan para gerombolan bigot dan rasis di kedua negara. Dengan kata lain, mereka berdua hanya sebagai "corong" dan "echo" para Mamat-Mimin-Momon di kedua negara.

Mereka berdua menggunakan sentimen rasisme dan isu "pri-nonpri" itu hanya sebagai "alat jualan" dalam kampanye politik untuk mendulang suara dan meraup dukungan. Itu saja. Pidato berapi-api Mr. Trump yang mengatakan "non-pribumi sering menyantap makan siang jatah orang pribumi Amerika" atau Anies yang bilang "Kini saatnya pribumi memimpin" hanyalah retorika belaka yang tujuan utamanya hanya untuk menyenangkan para pendukungnya, terutama kaum Mamat-Mimin-Momon itu.

Apakah Trump anti-Arab dan Muslim? Tidak. Bagaimana mungkin anti-Arab dan Muslim wong dia itu berauliya dengan para tokoh dan pengusaha Arab dan Muslim. Trump misalnya dikenal sebagai sahabat dekat Prince Alwaleed bin Talal yang dulu pernah membeli Yacht mewah milik Mr. Donald bernama "Trump Princess" disaat Trump dillit utang karena perusahaan real estate-nya bangkrut. Kini yacht itu bernama Kingdom 5KR.

Anies juga bukan anti-China. Bagaimana mungkin anti-China wong dia dan Uno itu justru dikelilingi dan "diberkati" oleh para tokoh dan pengusaha China, khususnya para tokoh dan pengusaha China yang anti-Ahok he he. Nih lihat foto ini, bagaimana "30 naga" mengelilingi dan "memberkati" Anies he he. Saatnya pribumi memimpin? Preetttt...

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Senin, 15 Mei 2017

TUHAN DALAM SECANGKIR KOPI


"Saya selalu menganalogikan hidup ini seperti sebuah game, permainan elektronik.."
Temanku membuka percakapan dengan gayanya yang - seperti biasa - lugas, waktu kami sedang nongkrong di warung kopi sore hari. Ia selalu bisa menyederhanakan penjelasan dengan perumpamaan2 dalam gaya bahasa awam dan mudah dimengerti karena membawa contoh sesuatu yang dikenal.
"Kita manusia ini sejatinya hidup mencari poin-poin bonus yang akan membawa kita pada level-level permainan yang lebih tinggi.


Kita yang harus mencari dimana poin-poin itu. Ada yang terlihat di depan mata dan ada yang tersembunyi di batu bata yang harus disundul supaya poinnya keluar..

Kerjaan kita dalam hidup ini hanya mengumpulkan poin-poin itu saja, tidak lebih. Dan ketika poin itu terkumpul, maka level baru akan terbuka.

Level baru ini tingkat kesulitannya lebih tinggi, tetapi nilai poinnya pun lebih banyak. Dan disetiap level kita akan menemukan musuh-musuh baru yang semakin lama semakin kuat.
Ada musuh yang cukup kita hindari saja, tetapi ada juga musuh yang harus kita lawan sebagai pembuka pintu level selanjutnya.."
Aku mendengarkannya dengan penuh perhatian. Menarik sekali penjelasannya sehingga aku mengabaikan kopiku yang tadinya panas mendingin dengan sendirinya.

Tidak sabar aku pun bertanya, "Dalam kehidupan nyata, poin-poin itu diartikan sebagai apa ?"
Temanku tersenyum. Ia menyeruput kopinya dengan tenang. Tampak kestabilan dalam dirinya karena ia memahami apa sejatinya manusia itu dan fungsinya di dunia.
"Poin-poin itu adalah amal. Banyak manusia yang salah mengira bahwa ia di dunia tugasnya mengumpulkan harta. Kesalahan pandangannya itu dampak dari ia mengukur dirinya dan orang lain dengan materi. Sehingga ia pun menjadi penilai dan selalu menilai manusia lain dengan materi juga..

Orang-orang yang selalu memandang dunia ini dengan materi, lupa bahwa ia harus mengumpulkan poin-poin amal dalam hidupnya. Ia - di dalam kehidupannya - menjadi manusia yang merugi, karena hartanya akan lenyap bersamaan dengan ketiadaan dirinya di dunia ini.

Sedangkan musuh-musuh yang muncul dalam setiap level adalah nafsunya sendiri. Nafsu yang harus ia hindari dan yang harus ia perangi. Ketika ia tidak berhasil mengalahkan nafsunya sendiri, sesungguhnya ia terus berada dalam level yang itu-itu saja tapi ia tidak sadar diri.
Dan ketika ia berhasil mengalahkan nafsunya di level yang lebih rendah, maka di level selanjutnya ia akan bertarung dengan level nafsunya yang semakin kuat.."

Temanku berhasil menghadirkan tentang nilai-nilai sejati yang harus dicari manusia di dunia ini. Bukan materi, tetapi nilai dalam bentuk amal yang tidak mempunyai wujud di alam materi ini.
Aku mengerti sekarang. Betapa mudah sebenarnya ketika kita mengenal apa, siapa dan bagaimana kita di dunia ini. Mengenal diri kita dengan memahaminya, sejatinya adalah pengetahuan manusia yang tertinggi.
"Lalu apa gunanya poin-poin amal yang kita kumpulkan itu ?" Tanyaku penasaran.

Temanku menatapku. "Kamu tahu bahwa sesudah alam materi ini, ada alam lain yang akan kita jalani ? Alam non materi yang berupa perjalanan kedua kita sebelum menghadapi hari pengadilan nanti.
Disanalah poin-poin amal itu berfungsi. Poin amal itu adalah bekal kita, penyelamat kita sehingga kita tidak buta dan tersesat di alam yang tidak kita ketahui.

Poin amal itu menjadi kompas, menjadi pelita, menjadi penyelamat kita saat kita menghadapi kesulitan. Bayangkan, ketika kita tidak punya bekal di alam itu nanti..."

Ah, begitu rupanya. Sebuah rahasia terbuka. Sederhana seharusnya, tetapi banyak dari kita yang lupa bahwa ada perjalanan kedua nanti. Perjalanan di dunia yang tidak kita ketahui..

Sore itu hujan gerimis. Terbuka lagi satu bab dalam kehidupan ini. Kopiku jadi terasa nikmat sekali..
"Kenapa dunia ini dinamakan dunia ? Karena ia paling rendah dari segala sesuatu.." Imam Ali as.

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Senin, 17 April 2017

MEREKA MENISTA MASJID


Takmir dan penggurus mesjid Al-Atiq di Tebet, Jakarta Selatan mengusir Djarot Saiful Hidayat saat sholat Jumat tadi siang. Padahal Djarot datang untuk sholat Jumat, bukan buat kampanye. Dia datang sebagai jemaah, bukan sebagai Cawagub.
Peristiwa-peristiwa seperti ini yang membuat saya makin ngotot membela mereka yang ditindas. Atas nama agama, mereka mempermalukan Pak Djarot. Dia adalah seorang muslim yang berhak sholat Jumat di masjid mana saja. Rumah Allah terbuka untuk semua muslim.


Tapi kampret-kampret di masjid itu mengotori rumah Allah dengan provokasi. Mereka mencaci. Mereka memaki. Menggunakan speaker masjid, untuk menista muslim lainnya. Menggunakan fasilitas umat, untuk menista seorang umat lainnya.
Pak Djarot dan seluruh muslim punya hak sholat Jumat di masjid mana saja. Dia berhak bersujud di musholla manapun. Sebab masjid sesungguhnya adalah tempat bersujud. Tempat manusia menempelkan keningnya ke lantai, menundukkan egonya berhadapan dengan Yang Maha Besar.
Masjid didirikan untuk menandakan kerendahan hati manusia di hadapan sang Khalik. Bukan sarana untuk petantang-petenteng, merasa sok kuasa. Masjid bukan sarana untuk melampiaskan ego. Apalagi cuma karena alasan beda pilihan politik.

Kita menyaksikan kekurangajaran itu. Kita menyaksikan masjid-masjid kita dikotori oleh kejahilan. Kita juga mendengar mimbar-mimbar Jumat berubah jadi ajang kampanye. Semakin lama, semakin memuakkan.
Dulu orang masuk masjid untuk mencari kedamaian. Kini masjid justru dipenuhi provokasi. Di manakah mihrab-mihrab suci itu, tempat manusia dari manapun asalnya bermesra-mesra dengan Tuhannya.
Di depan mata kita, kesucian masjid sedang dilumuri kebebalan. Di depan mata kita, agama cuma diposisikan sebagai slogan politik yang makin hari semakin norak.
Kini masjid KH Hasyim Asyari di Daan Mogot juga difitnah. Mereka menyebarkan isu masjid itu ada lambang salib. Ini benar-benar memuakkan. Para kampret itu selalu mengumbar cerita-cerita busuk untuk merusak persatuan.

Kita tahu, semua ini sengaja dilakukan agar orang-orang yang masih menjaga akal sehatnya menjadi muak. Lalu apatis. Kemudian mereka berkuasa. Dan dengan kekuasaan di tangan, mereka bisa berbuat lebih memuakkan lagi.

Tidak. Demi akal sehat, kita akan terus menghadapi para perusak ini. Sebab jika prinsip yang waras mengalah, bangsa ini akan dimangsa orang-orang 'gila' seperti mereka.
Semoga Pilkada ini cepat berlalu. Agar masjid-masjid kita bisa kembali pada fungsinya sebagai tempat bersujud. Tempat seluruh muslim menyatakan kerendahan dirinya berhadapan dengan Tuhan semesta alam. Apapun pilihan politiknya.

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Rabu, 29 Maret 2017

SELAMAT MENJALANKAN NYEPI, SAUDARAKU DI BALI

Hari itu kuajak anak lelakiku ke Borobudur..

Bukan untuk sekedar mengagumi bangunannya dan presisi pembuatannya, apalagi sekedar jadi turis foto-foto tidak berguna, tapi untuk mengajarkannya filosofi yang tertuang di setiap tingkatannya..

Aku mengajarkannya tentang tingkat terbawah yaitu Kamadathu, tempat manusia materi yang masih dikuasai hawa nafsunya. Kenudian di tingkat kedua adalah Rupadathu, dunia antara dimana manusia meninggalkan sisi materinya menuju dunia spiritual.





Dan yang ketiga, Arupadathu. Inilah dunia non materi, tempat segala sesuatu meninggalkan urusan duniawinya..

Dan dari situ dia belajar bahwa materi selalu berada pada tingkatan paling bawah dalam kehidupan sebenarnya. Seperti kata Imam Ali as, "Kenapa dunia ( adna ) dinamakan dunia ? Karena ia lebih rendah dari segala sesuatu.."

Ia juga belajar untuk tidak mendewakan materi dalam ukuran kesuksesan. Karena menjadi manusia yang berfungsi kepada manusia lainnya adalah hal yang paling utama..

Begitu juga filosofi Nyepi..

Nyepi dalam tingkat pemahaman yang lebih tinggi, bukan sekedar ritual. Tetapi bagian dari merobek bungkus keduniawian dengan kesadaran penuh.

Dan untuk itu diperlukan keheningan. Waktu untuk berbicara pada diri sendiri, "siapakah aku ?" ,"untuk apa aku disini ?", "apa fungsiku ?".

Nyepi adalah pengingat, bahwa kita adalah manusia maka kembalilah menjadi manusia. Jangan sampai kita berwujud manusia dengan sifat binatang hanya karena penghambaan terhadap dunia..

Beginilah seharusnya agama. Agama mengajarkan kita mencapai tingkatan-tingkatan tertinggi dalam kehidupan. Memberi petunjuk apa yang boleh dan apa yang dilarang. Bukan sebagai baju yang dibanggakan dan diteriakkan kemana-mana..

Semoga kamu belajar banyak, jagoan. Kalau sudah besar, kuceritakan semua fase dalam kehidupan sebagai bekal ketika engkau dalam kesulitan..

Sambil ngopi antar sesama orang dewasa...

Dan selamat menjalankan Nyepi, saudara-saudaraku yang beragama Hindu terutama yang ada di Bali.

Semoga esok kalian sudah bisa mencapai tahap yang lebih tinggi dari yang sebelumnya. Saya pun akan berusaha seperti kalian dalam bulan Ramadhan nantinya..

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Sabtu, 19 November 2016

KITA SEMUA BERSAUDARA


Saya dulu sering membahas pola yang sama bagaimana Indonesia ini bisa menjadi the new Suriah...
Pertama, bangkitkan superioritas salah satu agama di wilayah itu. Agama dibandingkan secara statistik, dengan angka, bukan dari nilai2 luhurnya.


Dengan konsep mayoritas dan minoritas, maka diharapkan ada efek yang berkelanjutan.
Mayoritas - diwakili oleh Islam - diangkat kebanggaannya sehingga mereka merasa berhak atas wilayah. Sedangkan minoritas - diwakili Kristen -dimunculkan kecemburuannya, sehingga mereka akan bangkit melawan.

Kristen yang mayoritas di satu wilayah akan membalas dendam kepada Islam yang minoritas di satu wilayah.
Bisa jadi ada aksi susulan di satu wilayah dimana Kristen yang mayoritas, akan disusupi orang2 bayaran yang menekan si Islam yang minoritas.

Dan ketika itu terjadi, maka Islam yang merasa mayoritas secara keseluruhan akan membalas dendam karena kembali "kebanggaannya" sebagai mayoritas terhina.
Terus begitu, sehingga perlahan2 kebencian pun akan tumbuh, di tambah provokasi2 melalui media2 seperti ini. Dan perang Ambon juga Poso di masa lalu, akan kembali digulirkan.

Pecahlah negara kita dengan perang saudara...
Tentu kita tidak mau seperti itu, kan ?

Karena itu saudara2ku yang Kristen, bersabarlah dan rapatkan barisan sehingga tidak ada provokator yang menyusup di internal kalian. Biarkan aparat yang akan menyelidiki media provokator seperti ini yang mengatas-namakan Islam tapi sesungguhnya bukan.

Dan percayalah, mayoritas muslim di negara tercinta kita ini tetaplah Nahdlatul Ulama. Mereka diam bukan berarti tidak waspada, tetapi terus mengamati situasinya..
Indonesia kita jaga dengan terus berpegang tangan dan meyakini bahwa kita adalah saudara dan saling melindungi..

Kalian sakit, kami juga merasakannya.
Semoga secangkir kopi bisa menjaga kewarasan kita bersama.. Seruput, brothers ?

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Minggu, 13 November 2016

NU, AKU JATUH HATI PADAMU


Saya selalu senang dengan sikap NU...
NU itu seperti organisasi Hezbullah di Lebanon. Hezbullah meski sebagai organisasi besar dan kuat di Lebanon, tidak mau mencampuri urusan dalam negeri Lebanon.
Lebanon itu negara demokratis parlementer. Sesudah perang saudara 15 tahun, mereka membangun sistem khusus di negaranya yang bernama konfesionalisme untuk menghindari kembali terjadinya perang sektarian.
Disana, Presidennya haruslah mereka yang dari Kristen Maronit, PM-nya dari muslim sunni, Wakil PM-nya dari kristen ortodoks dan ketua parlemennya dr muslim syiah. Ini kesepakatan diantara mereka sendiri.
Hezbullah sendiri adalah organisasi syiah. Mereka tugasnya melindungi Lebanon dari serangan negara luar, Israel khususnya.


NU persis seperti itu..
Mereka tidak mencampuri urusan politik dalam negeri dan membiarkan sistem berjalan dgn demokratis. Mereka hanya bersiap, seandainya mereka dibutuhkan oleh pemerintah untuk turun tangan. Karena itu Banser dan Anshor meningkatkan perekrutan dimana2.

Cara mereka menengahi masalah terhadap situasi yang terjadi pun sangat menarik..
Seperti ketika mereka mengetahui bahwa ada oknum2 yang berkepentingan menunggangi kasus Ahok dengan isu SARA. Pengurus NU langsung melakukan koordinasi dengan Menkopolhukam Wiranto.
Sesudah pertemuan, keluarlah statement Kyai Said Agil bahwa Ahok seharusnya di proses secara hukum. NU memposisikan diri berada di pihak yang tidak bertentangan dengan mereka yang menamakan diri "umat muslim" yang demo itu, karena itu berpotensi menimbulkan bentrokan.

Meski begitu NU tahu, bahwa tidak ada indikasi penistaan agama disana, tapi mereka harus mengeluarkan statemen sebagai pencegah teradunya NU dengan saudara2 sebangsanya sendiri..
Cara perang yang elegan. Dekatlah dengan temanmu, tapi lebih dekatlah kepada musuhmu...
Ini persis dengan situasi Pilpres, ketika Kyai Said Agil secara terbuka menyatakan diri berada di barisan Prabowo tepat saat Demokrat mencabut batas pemisah antara 2 kekuatan besar dengan alasan "netral". NU langsung membelah diri dan berada di dua sisi untuk mengamankan benturan.
NU teruslah menjadi perekat bangsa. Nasionalisme kalian sudah teruji sejak masa negara ini belum merdeka..

Senang melihat kyai2 kalian yang memang layak mendapat predikat ulama. Sarungan, rokok, kopi, kopiah dan sikap kalian yang memandang semua masalah dengan humor cerdas adalah ciri khas bangsa ini sesungguhnya.

Bravo NU.. Saya angkat secangkir kopi malam ini untuk kalian.

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Minggu, 30 Oktober 2016

Pluralisme Kafir


Karena sedang “hangat” dan ramai dibicarakan, saya ingin mengulas sedikit tentang sejarah dan implementasi kata “kafir” agar tidak disalahpahami dan digunakan untuk hal-hal yang bukan-bukan. Kata “k-f-r” dan padanannya (kafir, kufr, kuffar, takfir, kafirah, kafirun, dst) ini memiliki makna yang sangat plural, majemuk, dan kompleks.

Dari aspek sejarah dan perkembangan bahasa, kata k-f-r juga sangat fluktuatif dan tidak stabil penggunaannya. Perlu pemahaman dan pengetahuan yang dalam, luas, dan utuh untuk memahami akar kata dan sejarah penggunaan kata “k-f-r” ini yang dimaksudkan agar kita tidak mudah bilang “kopar-kapir” terhadap seseorang dan kelompok tertentu.


Meski jelas kata “kafir” adalah Bahasa Arab, tetapi kata ini jelas berakar dari Bahasa Hebrew (“kipper” atau “kofer”) atau Persia (“gaur” atau “gabr”) atau Aram (“gabra”) yang jauh lebih tua ketimbang Bahasa Arab. Menarik untuk disimak, dalam bahasa kuno India, Sanskrit, juga disebut kata “kapish” atau “kapis” yang maknanya kurang lebih sama dengan “kafir”. Dalam Bahasa Hebrew, kata “kipper” atau “kofer” memiliki sejumlah makna seperti menolak, menutupi, melenyapkan, merepresentasikan, mengtransfer, atau bahkan menebus atau tebusan, dlsb. Hal yang sama juga dalam Islam seperti nanti saya jelaskan.
Kata “k-f-r” juga memiliki padanan di berbagai bahasa seperti Turki (“gavur”), Albania (“kaur”), dan “Kafiristan” yang kini berubah menjadi Provinsi Nuristan di Afganistan. Masyarakat Muslim di Nuristan, menyebutnya “kapir” (seperti dalam Bahasa “Indonesia gaul”). Kata “kapir” di Nuristan ditujukan kepada “masyarakat pribumi” Kalash yang tinggal di kawasan pegunungan Hindu Kush yang memiliki agama, kepercayaan, dan kebudayaan berbeda dengan mayarakat Islam di daerah itu.

Rezim Turki Usmani (Ottoman) dulu menggunakan kata “giaour” atau “gawur” yang juga bermakna “kafir”. Kata ini khususnya ditujukan untuk masyarakat Kristen Ortodoks di Balkans, tapi bukan untuk kelompok non-Muslim lain (termasuk non-Kristen Ortodoks). Kata “giaour” ini diambil dari nama sosok “manusia monster” dalam novel Vathek: an Arabian Tale, karya William Beckford (terbit pada 1782), mungkin seperti “Tuan Takur” dalam film India.

Menariknya, Saudi dulu menyebut rezim Turki Usmani yang Muslim sebagai “kafir” penjajah Arabia, sementara Inggris yang “jelas-jelas kafir” malah tidak dikafirkan. Sama seperti Imam Khomaini atau Ahmadinajad yang mengafirkan Israel dan Amerika tapi tidak pada Uni Soviet / Russia maupun China. Kemudian, di Persi (“pre-modern Iran”), kata “gaur” atau “gabr” merujuk pada penganut Zoroastrianisme (atau Majusi dalam Islam). Di Afrika dulu lain lagi, kata “kafir” ditujukan untuk untuk masyarakat suku asli (native) seperti pernah ditulis oleh Dudley Kid, The Essential Kafir.

Sementara itu di era Kerajaan Sasani, kata “gabr” ditujukan untuk masyarakat petani di Mesopotamia. Menarik juga untuk disimak, salah satu arti kata “kafir” dalam Bahasa Arab adalah juga “petani”. Hal ini masih tercermin dalam Al-Qur’an, misalnya Surat Al-Hadid ayat 20: “Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani…”. Disini Al-Qur’an menyebut “kuffar” (jamak dari “kafir”) untuk “para petani”. Bukan “petani kafir” tapi kata “kafir” disini memang berarti “petani”. Jadi memang kata “k-f-r” ini sangat plural dan memiliki makna dan “konteks sosial” yang sangat kompleks dan beragam. Jadi, mulai sekarang, jangan suka sembarangan “mengafirkan” orang lain ya, entar dimarahi abi-umi lo?

Bagaimana penjelasan selanjutnya tentang “pluralisme kafir” dalam Islam, jangan kemana-mana, panteng terus di Facebook ini (bersambung).

Jabal Dhahran, Arabia

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Kamis, 20 Oktober 2016

Ayam Datang, Babi Hilang


Ini lanjutan kuliah virtual tentang "Bab Perbabian" yang sempat tertunda. Untuk sementara lanjutan pembahasan "Bab Perkafiran" saya tunda dulu sebentar. Seperti pernah saya singgung sebelumnya (silakan review postinganku sebelumnya), ada sejumlah teori yang dikemukakan oleh sejumlah pakar (sejarawan, arkeolog, antropolog) tentang fenomena punahnya babi dari mayoritas kawasan Timur Tengah (meski tidak semuanya).


Salah satu teori yang belum sempat saya kemukakan adalah tentang hadirnya ayam sebagai bagian penting dalam "subsistence system" masyarakat Arab dan Timur Tengah. Teori ini dikemukakan oleh Richard Redding, misalnya dalam tulisannya, "The Pig and the Chicken in the Middle East". Menurutnya, berdasarkan kajian antropologi sejarah dan didukung oleh sejumlah data arkeologis, "kehadiran" ayam menjadi faktor fundamental bagi lenyapnya hewan babi di Arab dan Timur Tengah pada umumnya.

Asal-usul ayam tentu saja bukan dari Timur Tengah tapi dari Asia Tenggara. Hewan khas Timur Tengah waktu itu adalah keledai, onta, domba, termasuk babi yang menjadi primadona masyarakat di kawasan ini. Kaum nomad dan pelayar / pelaut Asia Tenggara (termasuk "Indonesia" tentunya) yang memperkenalkan mahluk bernama ayam ke kawasan Arab/Timur Tengah ini melalui jalur dan jaringan perdagangan dan pelayaran Samudera Hindia.

Kehadiran ayam disambut dengan riang-gembira oleh masyarakat suku Timur Tengah di daerah pedesaan, sub-urban, dan Arab nomad (pastoral nomads atau nomadic pastoralists) yang hidupnya mobile, berpinda-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada sejumlah alasan kenapa mereka lebih jatuh hati pada ayam daripada babi.

Pertama, ayam dipandang sebagai sumber protein yang jauh lebih efisien dari sisi ekonomi daripada babi. Tidak seperti babi yang yang boros makanan dan minuman yang juga dibutuhkan oleh manusia, ayam, karena perutnya kecil, hanya perlu sedikit makanan.

Kedua, ayam menghasilkan "sumber sekunder protein", yaitu telur. Ini tentu jauh lebih efisien. Ibaratnya: sambil menyelam minum air, sambil makan daging ayam, makan pula telurnya. Apalagi bulu ayam juga bisa dipakai untuk "korek kuping" he he.

Ketiga, ukuran ayam jauh lebih kecil ketimbang babi (kecuali "ayam kampus" lo ya yang mungkin ada yang bongsor he he) sehingga efektif dan efisien untuk dikonsumsi oleh keluarga dalam 24 jam kapan saja kalau lapar. Masaknya juga gampang, tidak perlu banyak alat. Kalau menyembelih babi repot karena dagingnya terlalu banyak dan belum ada kulkas untuk menyimpan. Kalau mereka menyembelih babi, sebagian daging harus ditukar dengan barang-barang lain (dalam antropologi istilahnya "reciprocal exchange") supaya tidak mubazir.

Keempat, ayam gampang diangkut kemana-mana (biasanya ditaruh di belakang punggung keledai atau onta) sesuai dengan kultur masyarakat nomad, sedangkan babi terlalu gembrot dan gak bisa jalan jauh berpindah-pindah. Babi juga tidak bisa dipakai sebagai alat transportasi seperti onta atau keledai. Jadi, fungsi babi seperti ayam, yaitu sebagai sumber protein saja. Oleh karena itu daripada memelihara babi yang boros dan ngrepotin, ya diceraikan saja si babi, lalu pindah ke ayam yang lebih "langsing" dan oke.

Sejumlah kajian antropologi juga menunjukkan suku-suku nomads di Arab dan Timur Tengah (seperti Beduin, Bahktiari, Luri, Qashqai, dlsb) memang memelihara ayam di tenda-tenda mereka. Mau percaya atau tidak dengan teori ini, terserah saja, emang gue pikirin? he he (bersambung)

Jabal Dhahran, Arabia

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Minggu, 16 Oktober 2016

TUHANKU MUNGKIN BUKAN TUHANMU


Tuhanku tidak bodoh..
Tuhanku selalu menyuruh hambaNya yang bodoh untuk menggunakan akalnya, karena disanalah keistimewaan manusia dibandingkan mahluk hidup lainnya.

Karena itulah dalam menafsirkan firman2Nya, manusia dituntut untuk paham bukan sekedar meriwayatkan. Mengikuti tafsiran manusia lain atas firmanNya pun membutuhkan pendalaman lagi karena manusia itu tempatnya salah dan dosa, meskipun ia dilabeli ulama.
Tuhanku tidak rasis..

Tuhanku bahkan berfirman bahwa Ia bisa saja menciptakan satu jenis manusia, tetapi Ia malah menciptakan golongan2 dan ras2 berbeda, untuk apa ? Tentu supaya kita saling belajar menghargai, menghormati dan menyayangi satu sama lainnya.
Tuhanku tidak kecil..

Tuhanku Maha, Ia tidak perlu dibela dengan baju agama. Agama adalah petunjukNya, yang Ia turunkan kepada manusia melalui utusan suciNya. Lalu untuk apa Tuhanku dibela oleh petunjuk yang diturunkanNya sendiri ?


Tuhanku ingin hambaNya membela dirinya sendiri dari nafsunya, dari emosinya, dari kesombongannya dan dari sifat2 hewaninya...

Tuhanku Maha adil..
Tuhanku bahkan berfirman bahwa semua kepercayaan tidak perlu takut dengan keimanannya karena sejatinya manusia menyembahNya, hanya caranya saja yang berbeda2.
Sembahlah Ia dengan sukacita, bukan menyembahNya dengan angkara murka..

Tuhanku Maha tahu..
Bahwa banyak manusia yang mengklaim namaNya, memanfaatkan kebaikanNya, menjual firman2Nya dengan tujuan nafsu kepentingannya dan golongannya sendiri.
Manusia munafik yang rela melakukan apa saja meski melacurkan diri. Tidak tahu malu meski hati nuraninya mengakui bahwa apa yang dilakukannya akan menyiksanya nanti..

Tuhanku Maha penyayang..
Karena itu Tuhanku tidak menetapkan perhitungan langsung di dunia kepada mereka yang menipuNya, karena dunia ini adalah ladang amal tempat hambaNya mencari pahala.
Tetapi Tuhanku akan memperhitungkanNya di dunia lain dimana disana yang ada hanyalah perhitungan, sampai amal yang pernah dikumpulkan habis tak bersisa..

Itu Tuhanku... Bagaimana dengan Tuhanmu ?

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Selasa, 06 September 2016

Babi, Ayam, dan Agama Semit (Bag 2)

Sambungan dari  Babi, Ayam, dan Agama Semit (Bag 1)

Kuliah virtual ini masih tentang "Pasal Perbabian". Pengharaman atau pengtabuan babi (bukan "baby" atau "babe" lo ya?) yang termaktub di dalam sejumlah Kitab Suci, khususnya dalam tradisi Yahudi maupun Islam ini, jarang sekali dibahas secara akademik-ilmiah. Alasan yang paling umum dan sering didengar adalah bahwa dasar pengharaman babi itu karena perintah Tuhan (baik "Tuhan"-nya Muslim maupun "Tuhan"-nya Yahudi). Titik. Jadi, tidak perlu diotak-atik dan tanya macam-macam. Memang sudah dari sononya begitu bahwa "babi itu pamali."


Seperti saya jelaskan sebelumnya, memang bukan hanya Al-Qur'an yang secara eksplisit mengtabukan babi. Jauh ribuan tahun sebelum Al-Qur'an hadir di Jazirah Arab, Kitab Taurat atau Torah atau Pentateuch-nya Yahudi sudah lebih dahulu mengharamkan si babi ini. Jadi sebetulnya, kaum Muslim ini meniru Yahudi.
Ada beberapa alasan atas pengharaman babi ini seperti disebut dalam sejumlah surat dalam Kitab Suci Yahudi (misalnya dalam Deuteronomy maupun Leviticus) yang sudah saya jelaskan dalam postingan sebelumnya, maupun yang termaktub dalam kitab-kitab klasik keislaman, khususnya tentang Hukum Islam (fiqh).

Yang jelas ada sejumlah teori tentang bahaya mengonsumsi daging babi bagi kesehatan tubuh yang kemudian dijadikan sebagai "legitimasi tambahan" mengenai status pengharaman mengosumsi daging babi. Salah satunya mengenai "teori cacing pita" (trichinosis), yakni bahwa binatang "mamalia omnivora" ini mengandung cacing pita yang sangat membahayakan bagi kesehatan manusia. Ada pula "teori kromosom" (chromosome), yakni bahwa mengonsumsi daging babi berpotensi bagi manusia akan meniru perilaku babi karena manusia dan babi memiliki kromosom yang, katanya, 11-12.

"Manusia modern" boleh saja berteori, tetapi ribuan tahun lalu ketika Bangsa Israel kuno atau disebut "Israel Alkitab" atau Israelite mengharamkan babi ini jelas tidak mengenal "teori cacing pita" maupun "teori kromosom" ataupun "teori DNA." Kedua teori ini baru lahir belakangan seiring dengan penemuan "teknologi medis" yang kemudian oleh sejumlah kelompok agama tertentu dijadikan sebagai "data tambahan" untuk memperkuat argumen pengharaman babi.

Jika memang seperti disebutkan dalam teks-teks keagamaan bahwa daging babi itu kotor dan tidak higienis bagi kesehatan manusia, lalu kenapa si babi diharamkan? Bukankah seharusnya yang diharamkan itu cara memasak daging babi, bukan babinya? Bukankah logikanya, kalau cara memasaknya oke, mengonsumsi daging babi pun juga oke? Maka, seperti pernah disinggung oleh antropolog Marvin Harris, jika memang pengharaman babi itu merupakan "ordinasi atau peraturan kesehatan yang diinspirasi nilai-nilai ketuhanan", maka ini kasus "malpraktek medis" tertua yang pernah dicatat dalam sejarah kemanusiaan.

Jika dikaji secara seksama, sebetulnya bukan hanya babi yang membahayakan, jika cara masaknya tidak benar. Semua "hewan domestik" (sapi, kambing, domba, dlsb) adalah berpotensi membahayakan kesehatan manusia jika cara memasaknya tidak benar. Daging sapi, misalnya, jika masaknya tidak beres, juga bisa memunculkan cacing (tapeworm) yang bisa memicu sejumlah penyakit. Sapi, kambing dan domba konon juga bisa menyebarkan "penyakit bakteri" yang dikenal dengan nama "brucellosis".

Jelasnya, tidak ada hewan yang betul-betul higienis dan bebas-penyakit. Lalu, kenapa si babi yang menjadi korban dan "dibabihitamkan"? Ada apa dengan situasi-kondisi di Timur Tengah waktu itu sehingga sampai-sampai penduduk Israel, Arab Muslim, dan sejumlah "suku nomad" di padang pasir mengharamkan babi?
Padahal pada zaman duhulu kala di Timur Tengah (Mesopotamia maupun Mesir), masyarakat pernah mengternak babi. Para arkeolog menemukan bukti-bukti tentang ini khususnya masyarakat yang tinggal di kawasan pantai Tigris dan Eufrat. Masyarakat daerah Ur, sebuah negara-kota di Sumeria di zaman Mesopotamia kuno juga mengonsumsi daging babi. Sampai kira-kira zaman Raja Hammurabi (sekitar 1900 BC) di Kerajaan Babilonia, masyarakat Timur Tengah masih mengternak babi dan memakan dagingnya.
Lalu, sejak kapan babi ditabukan? Adakah faktor-faktor ekonomi-ekologi yang menyebabkan babi kemudian pelan-pelan tersingkir dari sebagian masyarakat di Timur Tengah? Lalu, bagaimana ceritanya Islam bisa, ujug-ujug, mengharamkan babi? Bagaimana pula kisah sekelompok Muslim Berber di Pegunungan Atlas di Maroko yang mentradisikan mengternak dan memakan babi? Entar aja deh lanjutannya, capek nih tangan ane nulis terus dari tadi sampai gempor. Yang sabar ya bos?

Kent Vale, Singapore

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Jumat, 02 September 2016

Babi, Ayam, dan Agama Semit (Bag 1)


Sudah lama saya tergelitik dengan status keharaman daging babi dalam Islam. Jangan salah, bukan hanya Islam yang mengharamkan mengonsumsi daging babi. Agama Yahudi sudah sejak lama mengharamkannya jauh sebelum Islam lahir di Arabia. Dalam hal "perbabian" ini, Islam saya kira "njiplak" doang dari agama Yahudi. Bukan hanya soal babi ini saja, banyak doktrin atau ajaran Islam yang diambil, diserap, atau dimodifikasi dari tradisi Yahudi seperti sunat, hijab, puasa, haji, pokoknya banyak deh.
Dalam Hukum Yahudi (halakha), semua makanan yang dikonsumsi manusia harus sehat dan halal (di Barat disebut kosher). Menurut "undang-undang makanan" agama Yahudi, hewan-hewan kotor dan menjijikkan seperti babi, shellfish, atau serangga, atau makanan campuran daging dan susu, misalnya, semua haram dikonsumsi.


Jadi, sebetulnya agama Yahudi jauh lebih ketat dalam hal "tata boga" karena itu jika kebetulan akhi/ukhti sedang jalan-jalan atau plesiran di negara-negara Barat, kalau Anda khawatir makan makanan haram di "warung sekuler", maka jangan sungkan-sungkan makan saja di warung-warung milik Yahudi. Dijamin 100% halal tanpa harus mencantumkan label atau "papan halal" dari MUI.

Bagaimana dengan Kristen? Meskipun banyak atau bahkan mayoritas umat Kristen membolehkan mengonsumsi daging babi tetapi ada juga yang mengharamkannya seperti kaum Advent (Seventh-day Adventist Church atau Gereja Advent Hari Ketujuh). Gereja Ortodoks Etiopia juga mengharamkan mengonsumsi daging babi. Sebagian pengikut Gereja Koptik di Aleksandria, Mesir, juga mengharamkannya. Perlu diingat, meskipun Kristen "meng-ok-kan" daging babi, banyak umat Kristen yang tidak mau memakannya dengan alasan lain-lain.

Bukan hanya dalam rumpun agama Semit saja sebetulnya. Konon mengternak dan memakan daging babi juga ditabukan di peradaban kuno Suriah dan beberapa kawasan di Timur Tengah.
Pertanyaannya sekarang? Kenapa babi diharamkan? Apa sih sebetulnya alasan pelarangan babi? Kenapa Islam atau Al-Qur'an hanya secara eksplisit mengharamkan babi? Kenapa hewan-hewan lain yang perilaku dan pola-hidupnya agak mirip-mirip dengan babi (misalnya kuda nil, buaya, atau apa saja silakan cari contoh sendiri), tidak ditegaskan dalam Islam?

Sejumlah teks keagamaan (baik dalam Islam maupun Yahudi) yang sering kita dengar adalah bahwa pengharaman mengonsumsi daging babi itu karena daging babi mengandung banyak penyakit sehingga tidak sehat dan membahayakan. Pertanyaanya, kalau memang tidak sehat dan penuh penyakit, kenapa orang-orang Kristen yang memakan daging babi kok sehat-sehat dan segar-bugar? Kalau memang alasannya karena membahayakan tubuh atau bikin tubuh sakit, kan tinggal masakknya saja diperbaikin. Zaman modern sekarang sudah sangat canggih dalam mengolah makanan supaya sehat wal afiat.
Alasan lain yang muncul dalam teks-teks keislaman dan keyahudian adalah karena babi itu hewan kotor dan menjijikkan? Kalau soal hewan yang "kotor" dan "menjijikkan" kan banyak: kuda nil, buaya, ubur-ubur, monyet dlsb. Tapi kenapa babi yang disebut?

Lalu, alasan teologi-keagamaan lain, karena babi memiliki "telapak kaki dengan kuku terbelah". Ah, yang ini sih lebih tidak masuk akal lagi sebagai dasar pengharaman.

Menurutku, alasan yang lebih "masuk akal" tentang larangan babi ini dalam konteks Arab dan Timur Tengah lebih pada persoalan ekologi-ekonomi. Dalam kajian arkeologis-kesejarahan, merosotnya perkembangan babi dari Timur Tengah itu (padahal dulu pernah menjadi trend) seiring dengan munculnya ayam sebagai hewan ternak yang efektif, efisien, bergizi, dan ramah lingkungan. Bagaimana penjelasan selanjutnya? Panteng terus di FB ini...

Kent Vale, Singapore

Berlanjut ke  Babi, Ayam, dan Agama Semit (Bag 2)

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Sabtu, 27 Agustus 2016

Bila Muslim Turut Merawat Kelenteng


Pagi itu, ditemani oleh sahabatku Dr. Zainuddin Prasojo dan para santrinya, saya meluncur menyusuri sungai dan Selat Karimata di sebuah kampung nelayan dengan “perahu kelotok” (sebutan warga setempat untuk perahu motor). Tujuan kami adalah mengunjungi sebuah kelenteng unik yang lokasinya berada di tengah laut di daerah Muara Kakap, Kalimantan Barat, sekitar 25 km dari Pontianak. Konon 80% warga Muara Kakap adalah keturunan Cina khususnya Tiociu (dari Guangdong) dan Khek atau Hakka (dari Fujian). Kelenteng itu bernama Kelenteng Timbul atau Pekong Laut (seperti tampak dalam foto ini. Courtesy: National Geographic). Di beranda kelenteng itu tersemat papan nama beraksara Cina: Xiao Yi Shen Tang atau Kelenteng Dharma Bhakti. Saya sendiri tidak paham betul apakah tempat ibadah ini milik umat Konghucu atau pengikut Taoisme.


Di saat kita sedang dikejutkan oleh tragedi pembakaran sejumlah kelenteng dan wihara di Tanjung Balai, Sumatra Utara, dan amuk massa oleh sejumlah kelompok Muslim yang memilukan dan memalukan, saya melihat pemandangan lain dan menyejukkan di kelenteng ini. Masyarakat Muslim setempat yang umumnya berprofesi sebagai nelayan bukannya merusak kelenteng dan segala pernik-perniknya karena dianggap rumah ibadah orang kafir misalnya. Mereka bahkan justru turut menjaga dan merawatnya. Mereka juga ikut memelihara beragam pernak-pernik sarana ibadah di kelenteng yang konon dibangun pada 1960-an ini, bukan merusak atau membuang pernak-pernik itu ke laut. Meskipun itu gampang sekali mereka lakukan jika mau.

Selain itu, kelenteng ini juga berfungsi sebagai tempat berkumpul para “mancing mania”. Lokasinya yang di tengah laut memang membuat kelenteng ini sangat cocok dan strategis untuk memancing. Bukan hanya untuk memancing, mereka juga istirahat, tidur, makan-minum, dan menunaikan salat di kelenteng itu. Lo, kok bisa? Pak Edi, warga Muslim asli Bandung yang sudah bertahun-tahun menjadi “penjaga kelenteng” dan menetap di daerah Muara Kakap itu menuturkan: “Yang penting niat saya salat adalah untuk menyembah Allah SWT. Jadi dimanapun saya salat, termasuk di kelenteng ini, tidak masalah karena hati dan pikiranku hanya tertuju pada Allah SWT itu.” Saya hanya manggut-manggut saja mendengarkan penuturan Pak Edi yang waktu itu hanya mengenakan celana kolor pendek warna hitam saja tanpa sehelai kaos atau baju.

Pak Edi menuturkan, kelenteng itu dibangun di tengah laut supaya tidak diketahui oleh aparat pemerintah Orde Baru dulu yang memang pernah melarang atau “mengilegalkan” atau mencoret Konghucu dari daftar “agama resmi” negara. Meski lokasinya di tengah laut, banyak warga Cina dari berbagai daerah, termasuk Jakarta, yang beribadah di kelenteng ini. Menurut Pak Edi, di dalam kelenteng sudah dilengkapi dengan dapur dan peralatan memasak serta tempat tidur sehigga warga yang jauh dari luar kota bisa beristirahat dan tinggal nyaman beberapa hari di kelenteng.

Kelenteng, sebagaimana tempat ibadah umat agama lain (masjid, gereja, sinagog, kuil, wihara, atau apapun namanya) hanyalah sebuah “bangunan profan-sekuler”. Manusialah yang membuat bangunan-bangunan itu “suci-religius” dan bahkan “keramat”. Manusialah yang membuat, menjadikan, mengangap, dan mengklaim aneka bangunan itu sebagai “rumah Tuhan.”

Terlepas dari perdebatan mengenai “konsep rumah Tuhan” ini, yang jelas sikap toleran dan terbuka seperti yang dipraktekkan oleh Pak Edi beserta teman-teman dan warga sekitar di Muara Kakap perlu “dikloning” dimana-mana. Apalagi sekarang ini dimana banyak umat beragama sedang mengidap “penyakit hiperfanatisme” yang mudah tersinggung, gampang marah, dan hobi ngamukan meskipun kadang-kadang hanya dipicu persoalan yang sangat sepele yang tidak ada sangkut-pautnya dengan nilai-nilai fundamental sebuah agama (contohnya adalah “toa masjid”). Toa itu jelas “barang sekuler” dan bahkan “bid’ah” karena Nabi Muhammad jelas tidak pernah memakai “mahluk” yang bernama toa. Tanpa toa pun, Tuhan bisa mendengar suara selirih apapun bahkan bisikan hati hamba-hamba-Nya.

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Kamis, 11 Agustus 2016

YAHUDI DAN ZIONIS


Di Surabaya ada satu tempat di pusat kota, tepatnya jalan Kayon, pernah berdiri sebuah Sinagog, tempat beribadah umat Yahudi.
Ketika masih kuliah saya pernah melihatnya. Sepi.

Alkisah, ketika itu ada protes mahasiswa krn pendudukan Israel di Palestina, sampai bakar2 bendera. Akhirnya karena digeruduk mahasiswa, sinagog itu disegel oleh pemkot Surabaya.
Sinagog yang akhirnya diruntuhkan entah oleh siapa, dulu adalah bekas bangunan Belanda dan dialih-fungsikan sebagai rumah ibadah agama Yahudi. Sebagai catatan sejarah, hak Yahudi dulu pernah disamakan dgn agama lain oleh keputusan Menteri Agraria thn 1961. Dan seorang Yahudi Surabaya, Charles Mussry saat 10 November bahu membahu membantu arek Suroboyo untuk mengusir Belanda.
Apa yang bisa kita pelajari di sini ?

Bahwa kita terbiasa meng-generalisasi tanpa pengetahuan yang memadai. Bahwa semua Yahudi itu zionis. Padahal Yahudi itu ada 2 komunitas, yaitu Yahudi sebagai agama ( Judaism ) dan Yahudi yang berpolitik kembali ke bukit zion ( Zionism ). Tapi karena banyak yang bego - saya dulu juga begitu - akhirnya semua di samakan, bahwa Yahudi itu pasti zionis.


Kelompok yang aktif menentang penggunaan agama Yahudi sebagai alat untuk kepentingan zionis bernama Naturei Karta. Mereka adalah kesatuan rabbi2 Yahudi dengan jaringan internasional menolak penyamaan persepsi bahwa Judaism adalah Zionism. Bahkan di Palestina sendiri mereka berjuang bersama agama lain menentang pendudukan Israel terhadap Palestina.

Jadi, mulailah adil sejak dalam pemikiran bahwa ulah suatu oknum bukanlah kesalahan suatu kaum. Kita juga menolak bahwa Islam disamakan dengan terorisme kan ? Begitu juga mereka.
Saya yakin agama Yahudi masih ada di Indonesia, hanya mereka beribadah secara sembumyi2 akibat stigma yang terlanjur dilekatkan kepada mereka. Kesalahan cara pandang kita yang sempit dan dangkal, menjadikan mereka korban dari ketidak-adilan persepsi sekian lama.

Saya bisa dituding sebagai Yahudi yang menyusup sesudah posting ini, meski gelar saya sudah cukup panjang mulai dari Syiah, jemaat HKBP,JIL, JIN dan JUN dan entah apalagi. Gelar tertinggi yang disematkan masih iblis berwujud manusia, sebuah prestasi yang membuat iblis langsung rendah diri ketika berpapasan dengan saya.

Karena itulah saya sarankan untuk minum kopi jika sempat. Kafeinnya membuka cakrawala berfikir bahwa dunia itu luas tidak sebatas syahwat bahwa sunnah itu beristri empat. Dengkul lemas otak bisa mampat..
Seruput dulu ah...

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Selasa, 09 Agustus 2016

Hijab Yahudi


Hijab itu bukan hanya "sangat Islami" tetapi juga "sangat Yahudi". Bukan hanya Al-Qur'an yang berisi anjuran berhijab, Kitab Talmud Yahudi yang sudah ada berabad-abad sebelum Al-Qur'an juga memuat pesan tentang hijab. Karena itu bukanlah sebuah keanehan jika ada sejumlah umat Yahudi yang bersikukuh untuk berhijab.
Foto di bawah ini hanyalah sekelumit contoh kecil dimana sekelompok perempuan Yahudi Sekte Lev Tahor di Kanada (di Ontario dan Quebec) lengkap dengan "busana Muslimah", eh salah maap, "busana Yahudi" maksud ane. Coba perhatikan dengan seksama, mirip kan para saudari-saudari Yahudi ini dengan "ukhti-ukhti" Muslimah? Lev Tahor yang dalam Bahasa Hebrew berarti "hati yang suci" merupakan salah satu sekte ultra ortodoks Yahudi pimpinan Rabbi Shlomo Helbrans yang gencar menentang Zionisme dan aneksasi Israel atas Palestina.


Dalam kehidupan sehari-hari, pengikut sekte Lev Tahor ini juga sangat sederhana dan "apa adanya" dalam menjalani hidup serta jauh dari hiruk-pikuk kemewahan duniawi, sebuah praktek keagamaan yang mengingatkan saya pada komunitas Kristen Amish dan Old Order Mennonites di Amerika.
Beberapa kelompok Yahudi ortodoks memandang berhijab merupakan "panggilan ilahi" yang harus ditaati oleh semua umat Yahudi. Bruria Keren, seorang tokoh dan pemimpin agama Yahudi ortodoks di Israel bahkan mengklaim asal-usul "tradisi hijab" berasal dari Yahudi dan karena itu bagi siapa saja yang mengenakan hijab berarti telah meniru-niru Yahudi. Ia menyerukan semua umat perempuan Yahudi untuk berhijab bukan hanya demi memenuhi "panggilan ilahi" tetapi juga sebagai lambang kesederhanaan serta proteksi dari kemungkinan kejahatan atas kaum perempuan.

Di Israel juga terdapat sekelompok Yahudi yang bernama Sekte Burqa Heredi yang bahkan lebih ketat dalam berhijab. Jika kaum perempuan Yahudi Lev Tahor masih membuka wajah mereka, maka kaum perempuan Yahudi Heredi Burqa menutup rapat wajah mereka dengan "frumka" persis seperti perempuan Saudi yang mengenakan burqa atau niqab. Karena mengenakan busana yang ekstrim ini, maka sejumlah media menyebut mereka "Yahudi Taliban".
Sejumlah tokoh Yahudi dari sekte Heredi ini seperti Rabbi Yitzchok Tuvia Weiss menyatakan bahwa penggunaan tata busana ini dalam rangka untuk menegakkan "syariat Yahudi" sekaligus kembali ke ajaran orisinal Talmud tentang wasiat berhijab sebagai simbol kesahajaan bagi perempuan. Menarik untuk diperhatikan, sebagaimana Sekte Lev Tahor, sekte Heredi Burqa ini juga menentang keras gerakan Zionisme dan upaya kekerasan Israel atas Palestina.

Jika diperhatikan dengan seksama, ada perbedaan mendasar antara "hijab Yahudi" dengan tren "hijab Muslimah". Jika gerakan "hijab Yahudi" itu sangat sederhana dan jauh dari kesan kemewahan, maka kaum "hijabers" Muslimah di kota-kota besar khususnya terkesan sangat modis dan mewah. Jika perintah hijab itu (baik dalam Yahudi maupun Islam) ide dasarnya adalah untuk kesahajaan, bukankah sebuah "penyimpangan ajaran" namanya jika berhijab hanya untuk pamer model mode, desain, dan busana teranyar? Alih-alih ingin mengikuti ajaran Islam, malah justru terjerembab ke dalam praktek-praktek yang jauh dari norma-norma keislaman dan "pesan moral" Al-Qur'an itu sendiri.

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Selasa, 26 Juli 2016

TERMINAL SUCI


" Bayangkan begini...

Ketika lahir, semua manusia itu sejatinya jiwa-nya dalam keadaan suci. Perjalanan panjang manusia di dunia-lah yang membuat jiwanya akhirnya kotor. Hawa nafsu kita yang membangun sifat2 hewan dalam diri kita, sehingga kita akhirnya terbentuk menjadi seekor serigala, hyena, kerbau, babi dan lain2.
Tetapi Tuhan itu Maha Penyayang..

Dalam perjalanan panjang hidup kita, Tuhan menyediakan banyak fasilitas untuk mencuci dosa2. Selain dalam bentuk kesulitan, sakit, kesedihan dan segala penderitaan lainnya, Tuhan menyediakan "tempat pemberhentian" untuk kita mandi, menyucikan diri dari kotoran2 hati yang selama ini kita kumpulkan.
Disanalah kita membersihkan diri, menggosok keras2 semua karat yang melekat.








Salah satu fasilitas yang disediakan Tuhan itu adalah bulan Ramadhan ini. Ini tempat pemberhentian panjang yang disediakan untuk kita beristirahat sejenak dan melepaskan semua lumpur yg mengikat.


Tetapi, seberapa bersih kita tentu berbanding lurus dengan seberapa keras kita berusaha menggosok jiwa kita sendiri. Seberapa suci kita ingin kembali tentu harus sebanding dengan seberapa mau kita ingin kembali.
Di sinilah yang disebut ke-Maha Adilan Tuhan.... Bahwa manusia diberikan kehendak bebas dan Tuhan hanya memberikan fasilitas-Nya saja, tidak mencampuri apa yang manusia pilih dalam hidupnya.
Hanya kadang manusia ini seperti anak kecil. Ketika disediakan fasilitas tanpa perintah, belum tentu fasilitas itu mereka gunakan. Karena itu diperintah-kanlah untuk segera men-sucikan diri mumpung ada di bulan ini. Itulah sebab turun perintah berpuasa, karena dengan berpuasa maka manusia akan lebih mudah membersihkan dirinya dari kotoran2.

Dengan berpuasa, manusia mengekang nafsunya sendiri. Dan ketika nafsu itu mampu mereka kekang, maka proses pembersihannya pasti akan lebih mudah...

Dengan semua fasilitas yang diberikan Tuhan kepada kita, supaya nanti di hari pengadilan tidak berat timbangan dosa, maka wajar saja Tuhan berfirman, "Nikmat mana dari-Ku yang kalian dustakan, wahai manusia ?"

Temanku menyeruput kopinya. Lumayan menu berbuka hari ini. Tongseng kambing pedas dan segelas es teh manis dengan kopi sebagai penutupnya.

Duh, habis makan kambing gada lawannya gini....

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Senin, 18 Juli 2016

Agama di Dunia Maya


Pernah saya berdiskusi dengan seorang ustaz di rumah saya. Saya sampaikan hal-hal yang menjadi pertanyaan saya tentang Islam. Setelah itu kami salat berjamaah, dan saya persilakan dia untuk menjadi imam. Usai salat dia bercerita. “Waktu diskusi tadi sebenarnya saya sedang berusaha keras menahan emosi. Hampir saja Pak Hasan saya terjang dan saya pukuli, kalau saya tidak berpikir panjang,” katanya.
“Kenapa begitu?” tanya saya.

“Apa yang Bapak pertanyakan, apa yang Bapak kritikkan itu adalah hal-hal yang selama ini saya baca di internet. Setiap kali saya baca, saya sangat marah, rasanya ingin saya tinju monitor komputer saya. Nah, kini hal-hal yang saya baca itu saya dengar langsung dari orangnya sendiri, hadir di depan muka saya,” jelasnya. Saya memang menanyakan, tepatnya mempertanyakan banyak hal dalam Islam secara kritis. Untungnya di akhir diskusi dia akhirnya paham bahwa saya tidak sedang menghina Islam, melainkan sedang berusaha memahami. Di akhir cerita, dia menyarankan saya untuk berdiskusi dengan ulama lain, yang dia anggap lebih mumpuni. “Doktor harus dihadapkan dengan doktor,” kata dia. Saya datangi ulama yang dia sarankan, tapi diskusi tidak berkembang baik. Ulama itu menjawab singkat,”Saya tidak pernah berpikir tentang hal itu.” Selesai.


Internet membuat dunia menjadi seakan tanpa batas. Media sosial membongkar batas-batas yang selama ini masih tersisa di dunia internet, menjadi benar-benar tanpa batas. Kita yang biasanya bergaul dengan orang dari kalangan yang sangat terbatas, kini dicampurkan dalam suatu bak besar bernama media sosial. Topik-topik sensitif yang biasanya enggan kita bahas di ruang nyata, menjadi hal yang tak lagi tabu dibahas di ruang maya. Interaksi yang memuat kejutan seperti yang terjadi antara saya dengan ustaz tadi, berlangsung hampir setiap menit di ruang maya.

Yang terjadi di dunia maya adalah manusia-manusia yang nyaris tanpa profil, saling berinteraksi. Manusia-manusia yang tak saling kenal satu sama lain, berbicara tanpa batas. Lebih pelik lagi, jalur komunikasi yang dipakai adalah bahasa tulis, yang sering kali gagal menyampaikan maksud secara utuh. Maka media sosial adalah dunia yang sangat rawan konflik.

Tidak hanya itu. Dunia sosial juga menghilangkan strata sosial dan segmen usia. Seorang cendekia dengan posisi terhormat di dunia nyata, bisa berinteraksi dengan anak SMP, atau buruh kasar di proyek konstruksi. Kiyai besar dengan ilmu mendalam, bisa berinteraksi dengan anak kemarin sore yang baru belajar agama lewat majelis halaqah. Perbedaan status sosial, level pengetahuan, dan sebagainya juga bisa menimbulkan konflik.

Pernah saya ungkapkan suatu fakta sejarah tentang rumah tangga nabi, yaitu konflik antara nabi dengan istri-istri beliau terkait kehadiran Maria Qibtiyah. Fakta itu sebenarnya tertulis di kitab-kitab tafsir, sesuatu yang biasa didiskusikan. Masalahnya, sangat banyak orang yang berislam tanpa belajar. Mereka hanya mendengar secuil doktrin, dan mempercayainya tanpa periksa. Kontan mereka marah dengan fakta yang saya ungkap tadi, dan menuduh saya memfitnah dan menghina nabi.

Semua itu menjadi tambah panas bisa bercampur dengan kepentingan politik. Politik kita masih sebatas politik emosi. Laksana penonton bola, publik kita melihat politik dengan bingkai nalar “yang penting pihak saya menang”, bukan atas kepentingan-kepentingan yang lebih mendasar seperti terpenuhinya hak-hak dia sebagai warga negara. Akibatnya, semangat untuk menang lebih mendominasi pola komunikasi.
Ketika pikiran kita sudah dipenuhi oleh keberpihakan berbasis emosi, maka tidak ada lagi objektivitas. Tadi saya membaca posting orang yang memuat kritik saya terhadap Aa Gym, soal anjing pelacak di bandara. Ia menuduh saya bersikap kurang ajar. Kata-kata saya dia anggap kurang ajar. Tapi persis di bawah posting itu, ia memuat posting yang memaki-maki Ahok. Padahal kritik saya terhadap Aa Gym hanya berupa sindiran satire, tanpa makian. Bahkan, menurut teman saya yang berteman dengan dia, orang ini sebenarnya biasa memaki orang lain.

Apakah saya selalu objektif? Saya tidak berani mengklaim begitu. Yang bisa saya klaim adalah saya berusaha untuk selalu objektif. Obejektivitas, sayangnya, sering ditetapkan secara subjektif. Itulah peliknya.
Jadi bagaimana? Saya menetapkan platform dalam bermedia sosial, agar tidak larut dalam konflik, meski konflik sering kali memang tidak bisa dihindari. Pertama, saya menjunjung tinggi kemerdekaan berpikir dan berekspresi. Dalam hal ini saya bahkan terpaksa berbenturan dengan admin Facebook sendiri, apa boleh buat. Kedua, saya bermedia dengan basis pengetahuan dan fakta. Sering saya merevisi atau menghapus sebuah posting yang kemudian saya sadari tidak kuat basis faktanya. Ketiga, saya tidak berminat mengubah pandangan orang-orang yang memang sudah diametral pertentangannya dengan saya. Yang bisa saya lakukan hanya membuka dialog untuk saling memahami. Bila pun itu tidak tercapai, minimal saya memberi kepercayaan diri kepada orang-orang yang sepaham dengan saya. Banyak orang yang punya pendirian tertentu tapi tidak tahu cara mempertahankan pendiriannya itu dengan argumen yang akurat. Saya menyediakan itu bagi mereka.

Facebook bagi saya hanyalah media untuk bertaaruf dengan jujur. Inilah saya. Sosok saya, atau apa yang saya pikirkan tidak selalu menyenangkan bagi orang lain. Dalam dunia nyata pun sebenarnya demikian. Hanya saja, saya tidak berinteraksi di dunia nyata sebanyak interaksi saya di dunia maya.

Penulis: Hasanudin Abdurakhman
Read more ...

Kamis, 23 Juni 2016

PUASA, KEMBALI KE PERUT


Makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang. Begitu nasihat kanjeng Nabi. Ukuran makan, bagi Nabi adalah perut. Sebuah tempat dalam tubuh manusia yang punya ukuran. Punya kapasitas.
Makan dengan ukuran perut ada waktunya untuk kenyang. Ada saatnya untuk berhenti. Daya tampungnya terbatas.

Tapi toh, soal makan bukan hanya mengisi perut. Makan juga untuk memanjakan lidah. Bagi perut makanan apapun bukan masalah. Bagi lidah, ini berkenaan dengan selera. Dengan rasa. Ada makanan yang dipilih. Nah, perkara lidah ini yang tidak ada ukurannya. Tidak ada batasnya. Lidah tidak kenal kenyang.
Maka orang bisa serakah. Bisa jadi koruptor meski sudah memiliki kekayaan segudang. Bisa berlaku curang. Bisa bermewah-mewah atau menimbun-nimbun aset. Sebab, mungkin saja dia mengikuti ukuran lidah. Batasnya hanya makam.


Makan dengan ukuran perut kapasitasnya cuma sepiring dua piring. Makan dengan ukuran lidah tidak ada batas akhirnya. Seluruh APBD masuk ke kantongnya juga belum tentu kenyang. Seluruh hutan dan kekayaan laut masuk ke mulutnya tidak akan cukup.

Alat transportasi itu ukuran perut, tapi mobil-mobil mewah maunya lidah. Tempat berteduh dan berlindung yang layak adalah ukuran perut, tapi rumah bertingkat yang gemerlap adalah selera lidah.
Benarlah kata Gandhi. "Dunia ini cukup untuk memberi makan semua manusia. Tapi sangat kurang untuk memenuhi keserakahan segelintir orang."

Ada nasihat berkenaan dengan puasa. Berapa banyak orang berpuasa yang didapatkan hanya lapar dan haus. Mungkin nasihat itu karena kita sering hanya berpuasa untuk perut. Kita tidak mempuasakan lidah. Tidak mempuasakan ekspektasi dan angan-angan. Tidak mempuasakan keserakahan.
Maka gema nasihat Nabi tadi jadi pas, berhentilah makan sebelum kenyang. Atau kembalilah ke ukuran perut yang punya batas dan kapasitas.

Dan puasa, pada akhirnya mengajak kita untuk hidup mengikuti perut.

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Senin, 16 Mei 2016

UMAT BUIH DI LAUTAN

Mungkin bagi sebagian orang ini akan sangat menyakitkan..

Tetapi sejarah sudah membuktikan, bahwa firman2 Tuhan dalam kitab suci banyak ditafsirkan sesuai dengan kepentingan atau nafsu kelompoknya sendiri, bahkan berlanjut sampai masa sekarang. Ketidak-mengertian tentang tafsir di banyak orang di manfaatkan betul oleh mereka yang mengerti untuk membelokkan pemahaman sesuai pesanan.
Karena saya muslim, maka saya berbicara tentang Islam karena saya tidak memahami sejarah pada agama lain. Di Islam sendiri, pasca Nabi Muhammad Saw wafat, maka terjadilah banyak penafsiran2 sesuai nafsu mereka sendiri terhadap ayat2 dalam Al-quran.


Riwayat paling jelas yang tercatat adalah saat terjadinya perang antara Imam Ali as saat mempertahankan kekhalifahan ketika diserang Muawwiyah. Ini perang sesama muslim lho, bukan dengan agama lain.
Ketika itu, beberapa orang dalam pasukan Imam Ali as memaksa beliau untuk melakukan perjanjian dengan Muawwiyah. Mereka mendasarkan pada surat Yusuf ayat 67, "Hukum hanya berasal dari Allah.." Imam Ali as geleng2 kepala, karena beliau sejak kecil mengikuti Nabi Muhammad Saw dan tercatat sebagai orang pertama yang masuk Islam, maka beliau sangat paham kandungan Al-quran. Imam Ali as berkata, "Ucapan yang benar, tapi dengan MAKSUD yang bathil.."

Orang2 yang memaksa Imam Ali as ini dikenal dengan nama kaum khawarij. Mereka pula-lah yang kemudian berbalik memerangi Imam Ali as, khalifah mereka sendiri, dan terkenal dengan nama perang Nahrawan. Mereka berpatokan pada Al-quran, tapi dengan tafsir mereka sendiri.
Dan catat, kaum khawarij itu orang2 yang shalatnya selalu tepat waktu, puasanya kuat, bacaan Al-qurannya merdu, pokoknya top dah.. Tapi gagal paham. Dan mau tahu ciri mereka ? Mereka berkepala gundul, jenggot lebat dan jidat kapalan. Mereka bahkan sudah ada sejak zaman Nabi.

Itu satu contoh saja betapa ayat2 Al-quran di tangan mereka yang menafsirkan sesuai nafsu birahi-nya sendiri, menjadi senjata yang mengerikan. Itu belum lagi, ketika ayat2 itu ditafsirkan untuk melindungi kepentingan para penguasa pada masa2 itu untuk melindungi kekuasaannya.
Jadi sebenarnya pemanfaatan ayat Al-quran sesuai dengan kepentingan pada masa ini, hanya pengulangan saja. Dulu kita dicekokkan dengan pemimpin wanita haram berdasarkan Al-quran, eh ternyata ada yang menjilat ludah sendiri. Sekarang kata "Awliya" diartikan pemimpin untuk menjegal mereka yang non muslim memimpin.

Kenapa tidak semua orang bisa menerima penjelasan sederhana ini ?
Karena sudah lekat doktrin tertancap di kepala mereka, tanpa mau berfikir sedikit-pun. Apa yang dikatakan ulamanya ditelan mentah2 tanpa mau merujuk pendapat lain. Mereka tidak mau menggunakan akal dan logika berfikirnya karena takut. Imani saja, kata mereka. Yang di imani perkataan ulamanya bukan Al-qurannya, yang sama2 tempatnya salah dan dosa.

Benar sekali perkataan Nabi Muhammad Saw, "Umatku pada akhir zaman banyak, tapi mereka seperti buih di lautan.." Terombang-ambing oleh kebodohan dan bangga dengannya.
Belajarlah dari sejarah untuk memahami.

Dan maaf, saya hanya menyampaikan ini untuk mereka yang pintar saja, karena kata Imam Ali as, "Meletakkan hujah di depan orang bodoh itu mudah, tetapi membuat mereka menerimanya itu yang susah.."
Untuk mereka yang berwawasan luas, berfikiran terbuka dengan hati yang rendah, ijinkan saya mengangkat secangkir kopi...

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Sabtu, 16 April 2016

Kenapa Banyak Umat Beragama Menjadi Egois? ANEH!!!

Ini pertanyaan serius: "Kenapa banyak kaum beragama yang justru menjadi egois atau selfish?" Karena didorong oleh keinginan kuat dan "nafsu membara" untuk masuk surga, banyak kaum Muslim yang justru terperangkap ke dalam perilaku egois, selfish yang mementingkan diri sendiri serta kurang peka terhadap masalah sosial-kemanusiaan-kemasyarakatan di sekitarnya

Lihat saja banyak kaum Muslim di Indonesia yang sampai berkali-kali "naik haji" (padahal yang diwajibkan cuma sekali seumur hidup) sehingga membuat daftar waiting list pendaftar haji semakin panjang mengular dan menganakonda. Padahal pemerintah Arab Saudi sendiri telah membatasi warganya yang sudah naik haji tidak boleh berhaji lagi selama 5 tahun.

Umat Beragama

Apa gerangan yang mereka kejar sampai haji berkali-kali? Apalagi kalau bukan dorongan agar dirinya mendapat pahala melimpah, bayangan surga yang aduhai, rezeki nomplok, jabatan langgeng, usaha lancar dlsb. Ada keyakinan bahwa berdoa di tempat suci di ka'bah dan Masjid Haram akan terkabul. Ada keyakinan bahwa sekali beribadah di tempat sakral ini senilai ratusan ribu kali ibadah di tempat-tempat lain.
Untuk menggapai semua impian ini dan guna menumpuk pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal kelak saat ajal menjemputnya, mereka pun rela mengeluarkan banyak uang & harta; sebagian mereka bahkan rela mendesak, menyikut, menyeruduk para jamaah haji / umrah lain saat thawaf, sai, melempar jumrah, dlsb--tidak peduli nasib jamaah lain, masa bodoh dengan kebodohan umat lain, persetan dengan kemelaratan orang lain, pokoknya yang penting dirinya kelak di alam akhirat bisa "heppiiii" menikmati surga dengan segala isinya. Egois kan?

Setiap kali mengunjungi Makah, Masjid Haram, dan ka'bah, saya selalu memperhatikan perilaku umat Islam yang "unik", "aneh", atau bahkan mungkin dianggap "gila" oleh kaum tertentu yang tidak familiar dengan tata-cara beribadah atau ritual kaum Muslim.

Di Masjidil Haram misalnya, kita akan menyaksikan aneka-ragam ekspresi ibadah ribuan kaum Muslim. Ada yang berebut uyel-uyelan (dan bahkan sikut2an) untuk memegang ka'bah & mencium si batu hitam keramat Hajar Aswad; ada yang menangis histeris; ada yang berdoa dengan khusyu di tempat2 sakral tertentu; ada yang muter-muter thawaf mengelilingi ka'bah berkali-kali sambil melafalkan berbagai kalimat pujian & doa; ada yang mengantri mengambil "air suci" zam zam yang dipercaya sangat mujarab untuk mengobati penyakit apa saja. Daftar "keanehan" dan keunikan ini bertambah saat musim haji, misalnya jutaan umat Islam melempari "setan" dengan batu-batu kecil...

Sebagaimana umumnya umat Islam, saya juga tidak merasa unik, aneh, apalagi gila dengan berbagai ritual-keagamaan ini. Semuanya normal-normal saja. Jika kita memandang lumrah terhadap aneka ritual yang ita lakukan, maka begitulah umat beragama lain terhadap beragam ritual yang mereka lakukan. Jika kita menganggap ritual pengikut agama lain sebagai aneh & gila, maka begitulah mereka juga menganggap ritual yang kita kerjakan itu aneh & gila. Oleh karena itu hendaknya umat beragama harus saling menghormati ibadah ritual & budaya masing2, jangan malah saling mengklaim, meledek, menuduh, menghina, dan melecehkan tata-cara ritual masing2 agama.

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Selasa, 12 April 2016

BERAGAMA DENGAN AKAL

Sejak dahulu, meski tanpa pengetahuan yang memadai, saya tidak pernah percaya bahwa Nabi Muhammad Saw menyematkan kata "kafir" kepada non muslim.
Saya berpatokan bahwa Rasulullah adalah manusia suci dan ketika kesucian beliau bersumber dari sang Maha Suci, maka dirinya selalu berada dalam kebaikan. Beliau diturunkan bukan untuk meng-Islamkan manusia, tetapi memperbaiki ahlak dan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Jalan yang dibawanya adalah keselamatan atau Islam, sebagaimana Nabi2 yang lain juga membawa jalan keselamatan yg sama kepada umat manusia pada zamannya.
Dan ketika pengetahuan saya bertambah, saya menemukan banyak hal yang mendukung bahwa kata "kafir" itu disematkan kepada mereka yang perilakunya keluar dari tuntunan Tuhan dan Rasul-nya. Itu berlaku juga kepada umatnya sendiri.


"Janganlah kalian menjadi kafir sepeninggalku..." Perkataan ini bukan ditujukan kepada non muslim tetapi kepada umatnya dan secara spesifik kepada mereka yang meng-klaim sebagai sahabat2nya yang berjumlah puluhan ribu orang itu.

Begitu juga dengan bahasa "Jangan menjadikan Yahudi dan Nasrani.." bukan kepada mereka yang Yahudi dan Nasrani secara keseluruhan, tetapi kepada para pendeta2 dan pengikutnya yang dulu menentang dan memerangi beliau. Dalam ayat lain, Nabi Muhammad Saw juga menyampaikan firman Tuhan, bahwa Yahudi dan Nasrani tidak perlu bersusah hati karena Tuhan memberikan perlakuan yang sama kepada mereka.
Adapun ayat yang tidak membolehkan mengangkat Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah hal yang sangat wajar karena umat Islam harus dipimpin oleh Islam sendiri dalam wilayah ke-umat-an, seperti halnya umat Yahudi dan Nasrani dipimpin dari kalangan mereka sendiri. Jika agama di ibaratkan "manual book", maka jelaslah yg bisa menjelaskan petunjuk itu adalah dari kalangan sendiri.

Tetapi yang terjadi sekarang bahasanya selalu di-generalisasi, dibuat seolah2 keseluruhan, apalagi dibumbui oleh kepentingan. Padahal kalau kita pakai analogi sederhana ketika ada yang bilang, "Orang batak itu keras .. " Itu tidak berlaku bagi semua, tapi pandangan rata2. Buktinya saya yang batak ini berperangai halus, santun dan imut tak berkesudahan. ( Bentar, nyisir dulu.. )

Ketidak-mampuan mereka yang menerjemahkan sesuatu berdasarkan konteks "kapan", "dimana" dan "pada saat peristiwa apa" ayat dan hadis itu dikeluarkan, membuat banyak orang terjebak pada teks saja. Parahnya lagi banyak yang ho oh saja ketika ustadnya mengisi otak mereka. Yang penting si ustad berjenggot, jidat kapalan dan celana cingkrang, itu sudah patokan kebenaran.
Beragama itu sesungguhnya dituntut cerdas, karena itulah manusia disematkan akal untuk memahaminya. Jangan menjadi kerbau yang nurut saja ketika dibawa ke tempat pembantaian. Logika2 harus penuh dulu sebelum meng-imani sesuatu.

Beragamalah seperti secangkir kopi. Ia bisa berada di kalangan menengah bawah sampai atas, tapi ada satu hal yang tidak bisa lepas darinya, yaitu kenikmatan.

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Indonesia

Air Hidup

Advertise Here

Designed By VungTauZ.Com