Breaking News

Islam

Politik

Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Mei 2017

Membela Ahok = Membela Islam


Islam adalah agama yang bertumpu pada keadilan dan kemanusiaan. Islam adalah agama yang menjunjung tingggi pada pembelaan terhadap orang/kelompok yang menjadi korban persekongkolan elit. Islam adalah agama yang pro terhadap kelompok tertindas. Islam adalah agama yang memperjuangkan kelompok minoritas, baik minoritas politik, etnis, ekonomi, maupun agama, yang menjadi korban kejahatan sindikat elit.
Ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis Nabi bertebaran mengenai pentingnya memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan di masyarakat.


Kenapa Islam adalah agama yang pro-keadilan dan kemanusiaan serta anti terhadap penindasan dan diskriminasi? Jawabnya karena Islam adalah "agama rakyat", "agama wong cilik", agama yang merepresentasikan kelompok-kelompok minoritas yang tertindas dan dizalimi oleh sistem politik-ekonomi Makah pada waktu itu di abad ke-6/7 M yang sangat elitis, korup, hegemonik, dan sektarian. Islam lahir "dari bawah", bukan "dari atas" (kaum bangsawan atau kerajaan).

Nabi Muhammad bukanlah Siddhartha Gautama (Gautama Buddha) atau Confucius yang berasal dari kelompok elit masyarakat dan kaum cerdik-pandai (filosof, pendidik, politisi, sastrawan, dlsb). Nabi Muhammad adalah orang miskin yatim-piatu. Meskipun Nabi Muhammad berasal dari keluarga yang cukup terhormat dari sisi keagamaan dan spiritualitas, tetapi ia tidak memiliki otoritas politik-ekonomi memadai sehingga selalu menjadi bulan-bulanan para elit politik dan penguasa ekonomi Makah.

Nabi Muhammad dimusuhi oleh para penggede Makah dan elit sontoloyo itu sejatinya bukan karena ia telah "menawarkan Tuhan baru" tetapi lebih pada karena ia membawa dan menawarkan ajaran agama (Islam) yang bertumpu pada doktrin persamaan (egalitarianisme), keadilan, dan kemanusiaan, yang dipandang bisa membahayakan sistem, tatanan, dan sendi-sendi politik-ekonomi yang mereka kuasai selama ini.
Kaum elit politik-ekonomi Makah waktu itu (dan dimana saja pada umumnya) adalah "kaum oportunis-pragmatis" yang tidak mempedulikan agama dan sistem teologi apapun sepanjang bisa diajak kompromi dan membawa keuntungan. Nah, sayangnya ajaran-ajaran Islam itu tidak pro-elit tetapi pro-rakyat bawah sehingga harus dimusnahkan.

Demikianlah Nabi Muhammad dan para pengikut awal Islam di Makah selalu menjadi bulan-bulanan sindikat elit politik-ekonomi-agama: dikejar-kejar, diteror, difitnah, dicaci-maki, diancam bunuh sampai mengungsi ke Abyssinia (Ethiopia) dan Yatsrib (Madinah).

Situasi yang dialami oleh Nabi Muhammad pada abad ke-7 M itu persis menimpa pada diri Ahok di abad ke-21 sekarang. Seperti Nabi Muhammad, Ahok juga dicaci-maki, difitnah, didiskriminasi, diteror, dan diancam bunuh. Seperti Nabi Muhammad, Ahok juga menjadi korban sindikat kaum elit politik, ekonomi, dan agama, yang merasa terancam dengan kehadiran Ahok: terancam karir politiknya (bagi politisi), terancam bisnisnya (bagi pengusaha), serta terancam sulit mengembangkan jenis keislaman konservatif-radikal (bagi "elit Islamis").

Apakah sejumlah ormas Islam tengil yang hobi memobilisasi massa untuk demo dengan mengatasnamakan Islam itu betul-betul membela Islam karena agama ini "telah dinistakan" misalnya? Jelas tidak. Buktinya, mereka tidak pernah mendemo Rizieq Shihab dan gerombolannya, meskipun mereka telah berkali-kali menghina, melecehkan, dan merendahkan martabat Islam sebagai agama yang mulia, dengan perkataan dan tindakan mereka yang bahlul, intoleran, rasis, dan penuh kekerasan. Apakah asi-aksi mereka demi membela Ulama? Juga tidak. Sudah berapa kali mereka menghina dan melecehkan ulama tapi tidak ada yang memobilisasi massa untuk demo.

Jadi, membela Ahok jelas sama dengan membela Islam karena agama ini sangat menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan serta anti-diskriminasi, anti-ketidakadilan, dan berbagai perbuatan yang merendahkan martabat kemanusiaan.

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Kamis, 11 Mei 2017

SEKALI LAGI, JAGA ANAK-ANAKMU!


Kemarin seorang teman, pengajar di sebuah kota kecil daerah Jawa Timur, memberi informasi. Sekolahnya mendapat sebuah proposal dari HTI, yang mengajak bekerjasama untuk mengiisi acara Ramadhan. Tentu saja dalam proosal itu, disebutkan untuk dakwah.
Pimpinan sekolah, yang mungkin kurang informasi, tadinya berniat menyetujui kerjasama itu. Ini ada organisasi dakwah, mau ngajar murid dengan gratis. Menambah keimnanan saat Ramadhan. Mungkin begitu fikirnya.


Untung saja teman itu cepat memberi masukan kepada pimpinan di sekolah itu. Dia menjelaskan mahluk jenis apa HTI. Bagaimana organisasi politik transnasional yang dibungkus dakwah ini meracuni anak-anak muslim. Tujuan HTI mendirikan pemerintahan khilafah dunia, otomatis juga menghapus Indonesia. "Kita tidak mau anak-anak diajarkan bagaimana merusak bangsanya sendiri, kan, pak?" Akhirnya mereka sepakat membatalkan proposal itu.

Apakah itu cuma satu-satunya proposal HTI yang masuk ke sekolah? Saya tidak tahu. Tapi, inilah gerakan politik transasional yang berselubung dakwah. Mereka mensasar segala lini. Anak-anak kita yang polos, yang kemarin menyanyikan lagu 'Halo-Halo Bandung' dengan teriakan lantang, mungkin besok hari akan berfikir, bagaimana menjadikan Bandung lautan api sekali lagi. Bagaimana meluluhlantakan bangsanya sendiri.

HTI bukan saja menelusup ke sekolah, juga makin lantang memasuki Kampus. Mahasiswa yang puber agama dicekokin mimpi khilafah, dibetot kembali ke abad pertengahan. PNS, pegawai BUMN dan rakyat kebanyakan juga dimasuki. Bahkan pengalaman di Pakistan HTI menelusup ke tubuh militer.
Sebetulnya HTI bukan organisasi dakwah. Dia organisasi politik yang menjadikan Islam sebagai kendaraan. Tujuannya membangun khilafah dunia. Masalahnya ada berbagai organisasi ekstrim yang juga mengusung khilafah. Cuma khilafahnya gak sama dengan HTI.

ISIS punya Abu Bakar Al Baghdadhi, Al Qaedah dulu punya Osama bin Laden. Taliban lain lagi. Jadi kalau pun mereka berhasil menguasai Indonesia, pasti akan bertempur dengan organisasi lainberebut kursi khilafah. Ini terjadi di Syuriah dan Irak. Mereka saling menggigit satu sama lain.

Jadi, ide khilafah saat ini memang tidak bakal ada ujungnya. Sampai kehancuran bangsa Indonesia. Anak-anak yang disusupi ide konyol ini akan punya semangat berperang untuk menghancurkan. Bukan untuk meneggakkan sesuatu. Itu sudah terjadi di Suriah atau Afganistan.

Saya pernah bertemu dengan mantan simpatisan HTI di Depok. Alhamdulillah, dia sadar bahwa doktrin HTI itu sebenarnya konyol. "Masa semua persoalan selesai dengan khilafah. Lha, khilafahnya belum tahu seperti apa bentuknya," kisahnya di suatu siang.

Apalagi karena dilihat cukup sukses secara ekonomi, dia merasa dikerjar-kejar dengan kewajiban infaq organisasi yang katanya untuk perjuangan. "Ngejarnya kayak orang nagih utang," ujarnya singkat.
Di Indonesia memang sedang marak politik yang dibungkus jargon agama. Mereka ingin mendapatkan kekuasaan dengan menjual ayat-ayat Tuhan. Sialnya, seolah mereka paling suci sendiri. Berani mengkafirkan, berani menuding sesat, berani bilang Indonesia negara toghout (setan).

Politik atas nama agama ini yang membuat anak-anak Suriah mati kelaparan. Yang membuat perempuan Yazidi diperdagangkan bak keledai, digunakan sebagai budak seks, diperkosa beramai-ramai sebelum ditebas kepalanya.

Lalu mereka mau susupi ideologi penghancur ini ke sekolah-sekolah kita? Mau membuat anak-anak kita yang manis berubah jadi algojo yang tumbuh tanpa nilai kemanusiaan? Mereka mau menjadikan umat Islam seperti zombie --tanpa rasa, kasar, intoleran dan tanpa keadilan.

Lagipula sampai sekarang belum ada contoh negara sukses menerapkan khilafah. Yang ada malah hancur-hancuran. Enak aja ngajarin anak-anak kita pepesan kosong seperti ini. "Buat anak kok, coba-coba. Emangnya minyak telon?"

Kalau gitu giliran saya mau nanya : khilafahmu itu kalau makan bubur ayam diaduk apa gak? Kalau kamu belum bisa menjawab, jangan ngomong soal konsep khilafah dulu, deh...

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Rabu, 03 Mei 2017

PAK JK, MARI SERUPUT KOPI PAHIT DENGAN SAYA


Bantahan pak Jusuf Kalla terhadap media asing yang memuat tulisan bahwa Jakarta dimenangkan oleh Islam garis keras atau radikal, jadi aneh buat saya...
Pak JK seperti menutup mata bahwa meskipun pemilihannya demokratis, tetapi cara-cara menujunya sangat tidak demokratis.


Apakah demo berangka dengan mengerahkan ribuan massa dari luar daerah ke Jakarta itu bukan perbuatan radikal ? Apakah tidak menshalatkan jenazah bagi pemilih berbeda itu bukan tindakan radikal ? Atau ceramah2 bernada keras memaksa dan memaki dalam shalat Jumat itu tidak masuk dalam kategori radikal ?
Saya sendiri tidak bisa menemukan kata yang tepat selain Islam Radikal. "Islam" karena baju yang dipakainya memang agama. Dan "Radikal" karena cara-caranya yang cenderung keras, kasar dan menghalalkan segala cara untuk menang.
Buat saya, apa yang ditulis media asing bahwa Jakarta dimenangkan oleh Islam garis keras, sebenarnya adalah bentuk kewaspadaan mereka. Ada ketakutan bahwa apa yang terjadi di Jakarta akan berdampak meluas ke seluruh Indonesia. Dan ini lampu kuning untuk pemerintahan negara tetangga semisal Malaysia, Singapura dan Australia.
Jadi melihat apa yang terjadi di Jakarta sebenarnya sedang melihat apa yang kelak akan terjadi di Indonesia.
Konsep khilafah - atau menjadikan Indonesia bersyariah - tidak lagi menjadi tren untuk digaungkan di jalan2. Tapi cukup dengan menunggangi tokoh politik yang ambisius dan menghalalkan segala cara supaya memenangkan pemilihan.
Sesudah berkuasa, baru disanalah mereka mengontrol pemimpin yang takut kehilangan suara. Mereka akan mendoktrin dan memaksakan kehendak sekaligus dibangun setahap demi setahap konsep khilafah atau menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.
Jadi ketika pak JK membantah liputan media asing bahwa Jakarta dimenangkan oleh Islam Radikal, itu malah meremehkan apa yang sedang terjadi sekarang. Gelombang ini sedang menuju kesana.
Ini bukan permasalahan Ahok menang atau kalah, karena kalah menang itu biasa. Tetapi bagaimana proses kemenangannya dilakukan dengan cara kekerasan dan penuh intimidasi dengan baju agama.
Apa masih kurang terbuka mata ketika melihat pembaiatan pake Alquran dan golok yang diacungkan ??
Pak JK harusnya sadar, gerakan yang sama akan mereka ulangi pada Pilpres 2019 nanti. Tujuan mereka mendongkel Jokowi karena tidak mau kompromi dengan mereka. Hanya isu yang dipakai bukan lagi "Islam vs Penista Agama", tetapi lebih luas dan lebih kasar, ISLAM VS PKI.
Mungkin bagi sebagian orang tidak sadar akan hal ini, mereka melihat hal ini hanya pada masalah kemenangan atas kekuasaan. Bagi sebagian besar lainnya, mereka terpedaya oleh kata "perjuangan umat Islam". Mereka bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang memegang dan memainkan bola api yang kelak akan membakar mereka sendiri...
Pak JK mungkin tidak sadar ini - atau memang sengaja menutup mata ?
Mungkin seharusnya pak JK dan banyak lagi lainnya belajar membaca peta politik global bagaimana pola dan proses yang mereka lakukan di banyak negara di dunia untuk menguasai wilayah..
Masih kurang apa pelajaran dari Libya, Mesir, Irak dan Suriah ? Atau kita harus tambah nama INDONESIA dalam catatan sejarah dunia ?
Coba seruput secangkir kopi pahit dulu, pak JK. Karena pahit itu biasanya membukakan pandangan yang buta.
Kita sedang menuju kesana, akui itu dengan gagah dan pikirkan bagaimana cara yang terbaik untuk melawan mereka daripada bersikeras mengingkari situasi yang ada...
Read more ...

Senin, 01 Mei 2017

Nota Pembelaan Ahok Dalam Sidang Penistaan Agama

Selamat siang melaporkan pada hari Selasa tanggal 25 April 2017 pukul 09.01 Wib, di Auditorium Kementrian Pertanian RI Jl. Raya Harsono RM No. 3 Kel. Ragunan Kec. Pasar Minggu Jaksel, dilaksanakan sidang kasus Dugaan Penistaan Agama ke 20 Perkara No. 1537/Pid.B/2016/PN. JKT. UTR Pasal 156 & 156-a KUHP dengan terdakwa Ir. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Adapun yang dapat dilaporkan :

A. Majelis Hakim sbb :

1. H. Dwiarso Budi Santiarto SH , M Hum.
(Ketua majelis hakim)
2. Jupriadi SH , M. Hum (Hakim anggota)
3. Abdul Rosyad SH
(Hakim anggota)
4. Joseph V. Rahantoan, SH
(Hakim anggota)
5. I Wayan Wirjana, SH (Hakim anggota)

B. Panitera Pembantu sbb :

1. Arie Palti Siregar, SH.
2. H. Erni, SH.
3. Yose Priyono, SH.

C. Jaksa Penuntut Umum :

1. Ali Mukartono SH. MH. (Jaksa Utama Madya).
2. Reky Sonny Eddy Lumentut, SH. (Jaksa Utama Pratama).
3. Dr. Lila Agustina, SH. MH. (Jaksa Utama Pratama).
4. Drs. Bambang Surya Irawan, SH. (Jaksa Utama Pratama).
5. J. Devi Sudarso, SH MH . (Jaksa Utama Pratama).
6. Sapto Subrata, SH. MH. (Jaksa Utama Pratama).
7. Bambang Sindhu Pramana, SH. (Jaksa Utama Pratama).
8. Ardito Muwardi, SH. MH. (Jaksa Madya).
9. Deddy Sunanda, SH. MH. (Jaksa Madya).
10. Suwanda, SH. (Jaksa Madya).
11. Andri Iranofa, SH. MH. (Jaksa Muda).
12. Diky Oktavia, SH. Mpd. (Jaksa Muda).
13. Federik, SH. (Jaksa Muda).

D. Kuasa hukum terdakwa (Tim Advokasi Bhineka Tunggal Ika BTP), sbb :

1. Sirra Prayuna, SH
2. Fifi Letty Indra, SH
3. Humprey Djemat, SH
4. Diarson Lubis, S.H, M.H
5. Tegus Samudera, S.H
6. I Wayan Sudirta, S.H
7. Yanuar Prawirawasesa, S.H, M.H dll.

E. Agenda sidang yg ke 20 adalah : Pledoi/Pembelaan

F. Terdakwa BTP :



#NOTA PEMBELAAN

BASUKI TJAHAJA PURNAMA
TERHADAP TUNTUTAN  PENUNTUT UMUM DALAM  PERKARA PIDANA
No. 1537/Pid.B/2016/PN.JKT.UTR

“SAYA BUKAN KAFIR”

Bapak Ketua Majelis Hakim, dan Anggota Majelis Hakim yang saya muliakan,
Yang saya hormati :
Tim  Penuntut Umum
Polisi, TNI dan  Petugas Pengadilan
Wartawan, Hadirin dan Penasehat Hukum

Pertama-tama Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Majelis Hakim atas kesempatan, yang diberikan kepada Saya.

Setelah mengikuti jalannya persidangan, memperhatikan realitas yang terjadi selama masa kampanye Pilkada DKI Jakarta, serta mendengar dan membaca tuntutan Penuntut Umum, yang ternyata mengakui dan membenarkan bahwa saya tidak melakukan penistaan agama seperti yang dituduhkan kepada saya selama ini dan karenanya terbukti saya bukan penista/penoda agama. Saya mau tegaskan, selain saya bukan penista/penoda agama, saya juga tidak menghina suatu golongan apapun.

Kalau kita mau jujur menegakkan hukum diatas semua suku bangsa, agama, ras dan golongan, di dalam sidang semakin jelas sudah terjadi kesalahan fatal dengan memaksakan kasus yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Begitu jelas terungkap bahwa kasus ini, sejak awal adalah rekayasa politik dan merupakan pengadilan massa (trial by the mob)  yang didalangi oleh orang-orang yang sejak lama telah membenci saya dan menolak saya dan mencap saya sebagai gubernur kafir.  Mereka bahkan sudah melantik gubernur tandingan sejak tanggal 1 Desember 2014.

Orang-orang ini juga yang selalu berdemo menolak saya sebagai gubernur dan meneriaki saya sebagai pemimpin kafir. Bahkan menghalalkan untuk membunuh saya. Faktanya terbukti di dalam persidangan ini, semua Pelapor adalah anggota FPI atau ormas yang terafiliasi dengan FPI atau pihak yang sudah dikenal sebagai pembenci saya menyebut saya kafir dan bahkan ada Pelapor yang menghina iman kepercayaan saya pada Tuhan Yesus. Padahal jelas saya bukan kafir. Mengapa saya bukan kafir? Karena saya juga taat kepada Tuhan dan agama saya diakui oleh Negara.  Dan iman kepercayaan saya didasarkan pada firman Tuhan yang hidup. Itu sebabnya, pada bulan April ini, semua orang Indonesia, suka tidak suka, baru saja merayakan libur nasional pada hari kematian Tuhan Yesus (Jumat Agung) dan hari kebangkitan Yesus (Paskah) dan perayaan kenaikan Isa Almasih yaitu Tuhan Yesus ke Surga pada tanggal 25 Mei mendatang. Perlu saya ceritakan, itulah yang saya imani bahwa Tuhan Yesus mati menggantikan saya yang harusnya binasa karena dosa dan sediakan tempat di Surga setelah dia bangkit dan naik ke surga. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 15:16-20:  “Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.”

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Banyak tulisan yang menyatakan saya ini korban fitnah. Bahkan Penuntut Umum pun mengakui adanya peranan Buni Yani dalam perkara ini. Hal ini sesuai dengan fakta bahwa saat di Kepulauan Seribu, banyak media massa yang meliput sejak awal hingga akhir kunjungan saya dan bahkan disiarkan secara langsung yang menjadi materi pembicaraan di Kepulauan Seribu, tidak ada satupun yang mempersoalkan, keberatan atau merasa terhina atas perkataan saya tersebut. Bahkan termasuk pada saat saya diwawancara setelah dialog dengan masyarakat Kepulauan Seribu. Namun baru menjadi masalah 9 (sembilan) hari kemudian, tepatnya tanggal 6 Oktober 2016 setelah Buni Yani memposting potongan video sambutan saya dengan menambah kalimat yang sangat provokatif, barulah terjadi pelaporan dari orang-orang yang mengaku merasa terhina, padahal mereka tidak pernah mendengar langsung bahkan tidak pernah menonton video sambutan saya secara utuh.

Adapun salah satu tulisan yang menyatakan saya ini korban fitnah adalah dari Goenawan Mohammad  : “Stigma itu bermula dari fitnah. Ahok tidak menghina agama Islam, tapi tuduhan itu tiap hari diulang – ulang; seperti kata ahli propaganda Nazi Jerman, dusta yang terus – menerus diulang akan menjadi “kebenaran”. Kita mendengarnya di masjid – masjid, di media sosial, di percakapan sehari – hari, sangkaan itu menjadi bukan sangkaan, tapi sudah kepastian. Ahok pun harus diusut oleh pengadilan, dengan undang – undang “penistaan agama” yang diproduksi rezim Orde Baru, sebuah undang – undang yang batas pelanggarannya tak jelas, dan tak jelas pula siapa yang sah mewakili agama yang dinista itu. Walhasil, Ahok diperlakukan tidak adil dalam tiga hal (1) difitnah, (2) dinyatakan bersalah sebelum pengadilan, (3) diadili dengan hukum yang meragukan. Mengakui adanya ketidakadilan di dalam kasus ini tapi bertepuk tangan untuk kekalahan politik Ahok, yang tidak bisa diubah, sebuah ketidakjujuran.”

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Sebuah ketidakjujuran memang telah terjadi, tetapi kita bisa mengubahnya kalau kita mau jujur dan melihat dengan mata hati perjalanan hidup saya, apa yang telah almarhum Bapak saya ajarkan dan perbuat, khususnya dalam menjalin kekerabatan dan kemaslahatan dengan saudara-saudara Muslim, serta praktik pemerintahan yang saya jalankan yang telah berusaha sebisa mungkin untuk memberikan pelayanan terhadap harapan dan keperluan umat Islam.

Karenanya, perlu saya tegaskan apabila saya menguraikan segala keyakinan politik saya dan membeberkan semua maksud dari segala perkataan dan tindakan saya yang menjadi proses dalam perkara ini, maka itu bukan untuk mempropagandakan kebenaran atau menyatakan diri saya yang paling benar dan paling baik, tetapi semata-mata untuk menyatakan apa yang terjadi sesungguhnya seperti tulisan Goenawan Muhammad mengakui adanya ketidakadilan dalam kasus ini, supaya tidak ada lagi orang atas nama apapun mengoyakkan Bhinneka Tunggal Ika yang sudah diletakkan sebagai fondasi oleh para pendiri bangsa (founding fathers).

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Ketika saya memilih untuk mengabdi melayani bangsa tercinta ini, saya masuk ke pemerintahan dengan kesadaran penuh untuk mensejahterakan rakyat – otak, perut dan dompet penuh. Untuk itu, ketika saya memberikan sambutan di Pulau Pramuka, saya memulai dengan kalimat bahwa saya mau cerita ini, biar Bapak Ibu semangat. Dari sambutan saya, jelas sekali bahwa saya hanya punya satu niat saja agar warga tebal kantongnya, mau ambil program yang sangat menguntungkan ini. Terbukti Penuntut Umum mengakui bahwa saya tidak punya niat sedikitpun untuk menghina, menista/menodai agama. Dan saya tegaskan, saya pun tidak punya niat sedikitpun untuk menghina golongan tertentu.

Tetapi niat baik dan pengabdian saya ternyata tidak cukup !

Judy Latif menulis, “Nasionalisme bukan soal dari mana kita bermula, melainkan apa yang kita perbuat. Bahwa kita menjadi makan dari daratan dan lautan kepulauan ini, minum dari air yang terpancar dari perut bumi dan sungai yang mengalir di sini, serta menghirup oksigen dari atmosfir alam raya nusantara ini. Maka, kita punya hutang budi kehormatan terhadap Tanah Air ini. Dimana Bumi dipijak, di sana langit dijunjung.
Kecintaan kepada Nusa Bangsa tanpa mengenal asal – usul itu ditunjukkan oleh Pahlawan Nasional Keturunan Tionghoa, Laksamana Muda John Lie (Jahja Daniel Dharma). Lahir di Manado, 9 Maret 1911, jalan hidupnya mengambil jalur “menyimpang” dengan meninggalkan zona nyaman demi mengabdi kepada Ibu Pertiwi lewat jalur ketentaraan. Ketulusan pengabdian dan kecintaannya pada Nusa Bangsa Indonesia, membuat John Lie memiliki pandangan tersendiri tentang  apa yang disebut sebagai “pribumi” dan “non Pribumi”. Menurutnya orang pribumi adalah orang – orang yang pancasilais, sapta margais, yang jelas – jelas membela kepentingan negara dan bangsa. Sedangkan non-pribumi adalah mereka yang suka korupsi dan merugikan kepentingan Nasional. “Mereka itu sama juga menusuk bangsa kita dari belakang. Maka patutlah mereka digolongkan orang non-pribumi”.

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Apakah kita bisa memilih untuk lahir sebagai suku atau agama apa? Tidak ! Semua KedaulatanNYA. Tetapi kita bisa memilih untuk menjadi pribumi dan mengabdi kepada nusa dan bangsa. Sayapun memilih jalur politik untuk melayani masyarakat, walaupun sebenarnya pilihan hidup saya tersebut membuat saya mengambil jalur “menyimpang” melawan arus dengan meninggalkan zona nyaman demi mengabdi kepada Ibu Pertiwi.

Bicara mengenai melawan arus, mengingatkan saya ketika saya mengajak anak-anak yang mengunjungi saya di Balaikota untuk bersama menonton cuplikan film Finding Nemo melawan arus. Setelah itu saya menjelaskan apa pesan moral dari film Finding Nemo, sebagaimana dapat dilihat dalam video youtube yang saya kutip kembali sebagai berikut:

“Bapak mau kasih tahu melalui pelajaran ikan ini, kalian bisa lihat ngga tadi? Papanya tidak ijinkan Nemo masuk ke jaring. Ya…jadi jaring tadi, Nemo bisa keluar masuk kan? Ikan besar kan tertangkap? Kalau Nemo ga mau masuk boleh ga? boleh juga, buat apa dia membahayakan nyawanya. Dia masuk…padahal papanya khawatir, kalau masuk, ikan gitu banyak, bisa kejepit, bisa keangkat. Nah kita hidup dijaman orang-orang itu kadang-kadang berenangnya salah arah…jadi persis seperti ikan. Yang benar harus berenang ke bawah, tapi semua ikan ikut jaring ke atas. Kalau dibiarkan ikut ke atas ikan-ikan ini ketangkap akan mati ga? (jawaban anak-anak) mati! Nah bagaimana mereka bisa tau apa yang bener? Nemo yang tahu! Waktu Nemo minta berenang berlawanan arah, kira-kira orang nurut ga? Ga nurut pertama. Jadi sama, kita hidup di dunia ini…kadang kita melawan arus, melawan orang yang ke arah berbeda sama kita. Tapi kita tetap lakukan demi menyelamatkan dia, dia bilang kalau ngga si Dori bisa mati nih, ikan yang biru tadi. Jadi papanya pun mengikhlaskan…merelakan anaknya untuk masuk. Lalu ketika dia mulai teriak minta turun..Nemo..papanya tau ngga resiko Nemo? Tahu bisa kejepit mati ikan kecil. Lalu begitu terlepas, ada ngga ikan yang berterima kasih kepada Nemo yang terkapar pingsan? Tidak ada! Jadi inilah yang harus kita lakukan, sekalipun kita melawan arus semua, melawan semua orang berbeda arah, kita harus tetap teguh. Semua tidak jujur, ngga papa, asal kita sendiri jujur. Mungkin setelah itu tidak ada yang terima kasih sama kita, kita juga tidak peduli karena Tuhan yang menghitung untuk kita, bukan orang. Nah, ini pelajaran dari film ikan Nemo, jadi bukan soal ketangkap ikannya itu tadi. Jadi orang tanya sama saya, kamu siapa? Saya bilang saya hanya seekor ikan kecil Nemo di tengah Jakarta…seperti itu. Nah ini pelajaran untuk kita….(disambut tepuk tangan anak-anak)”.

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Sambutan tepuk tangan anak-anak kecil diakhir cerita saya tersebut, memberikan saya penghiburan dan kekuatan baru untuk terus berani melawan arus menyatakan kebenaran dan melakukan kebaikan sekalipun seperti ikan kecil Nemo dilupakan, karena saya percaya di dalam Tuhan segala jerih payah kita tidak ada yang sia-sia. Tuhan yang melihat hati, mengetahui isi hati saya.

Saya hanya seekor ikan kecil Nemo di tengah Jakarta, yang akan terus menolong yang miskin dan membutuhkan (Poor dan Needy) walaupun saya difitnah dan dicaci maki, dihujat sebagai kafir serta darah kafir dianggap halal untuk dibunuh. Ironis memang, tetapi seperti Tuhan Yesus Kristus, ketika Dia diadili karena difitnah, Pilatus ingin menyelesaikan kasus fitnah ini dengan menawarkan untuk membebaskan Tuhan Yesus di depan orang banyak karena Pilatus tahu Tuhan Yesus tidak bersalah. Tetapi walaupun mengetahui kebenaran bahwa Yesus tidak bersalah, Pilatus tidak berani membebaskan Yesus karena khawatir akan terjadi pemberontakan besar dan takut kepada orang banyak. Maka dia bertanya, akankah orang-orang tersebut menerima pembebasan dan pengampunan bagi Yesus Kristus? Mereka menolak dan memilih membebaskan Barabas, seorang pembunuh, pemberontak dan penjahat keji. Orang-orang lebih memilih pembunuh keji daripada Yesus, Sang Penyembuh! Pembunuh lebih mereka sukai daripada Pemberi Hidup! Betapa butanya orang-orang tersebut karena berita bohong yang disebarkan para imam. Betapa rusaknya para imam, yang dengan bakat yang sangat hebat dan ketekunan yang sangat besar memengaruhi opini orang-orang dan mengubah mereka menjadi ganas dan penuh niat membunuh.

Walaupun Yesus disalib (Jumat Agung), Yesus tidak membenci dan memusuhi tetapi justru mengampuni mereka yang menyalibkannya dan bahkan tetap menyelamatkan mereka ketika dia bangkit (Paskah). Sebagai seorang kristen, saya diajarkan hal yang sama untuk mengampuni orang yang memfitnah, membenci dan mencaci maki saya dan memaksa saya diadili di pengadilan ini. Saya akan tetap berbuat baik karena saya tahu kasih menutupi banyak kesalahan dan kita hanya bisa mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Seperti John Lie yang walaupun keturunan Tionghoa dan beragama Kristen, memilih untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa dan sadar dirinya adalah pribumi, demikian juga saya yang selalu sadar diri saya adalah pribumi karena seperti pesan Bapa saya, bahwa saya adalah orang Indonesia, punya hak dan kewajiban yang sama di negeri ini dan pekerjaan yang paling mulia adalah menjadi pejabat yang melayani masyarakat, karena orang miskin jangan lawan orang kaya, orang kaya jangan nantang pejabat. Kalau mau lawan pejabat yang kotor dan korupsi harus jadi pejabat”.


Majelis Hakim yang saya muliakan,
Apakah saya yang “double minoritas” di bangsa ini, keturunan Tionghoa dan Kristen, ketika saya mau melayani dan mengabdi kepada bangsa ini, yang hak dan kewajibannya dijamin oleh konstitusi selalu harus berhadapan dengan oknum politisi yang demi mencapai kekuasaan rela mengoyakkan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar hidup kita berbangsa dan bernegara?

Pengadilan ini adalah bukti sejarah bahwa realita politik demokrasi bangsa ini masih jauh dari cita-cita luhur pendiri bangsa (founding fathers), yang telah meletakkan fondasi Pancasila dan UUD 1945 yang memberikan jaminan kepada setiap anak bangsa, apapun latar belakang suku, agama dan rasnya boleh menjadi apa saja di negeri ini termasuk menjadi seorang gubernur. Sayangnya, sebagian dari kita tidak berani melawan arus dan masih takut untuk membela kebenaran, keadilan dan taat pada konstitusi, sehingga secara sadar membiarkan terjadinya peradilan ini karena ketakutan pada tekanan massa.

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Saya bersyukur, karena dalam persidangan ini saya bisa menyampaikan kebenaran yang hakiki dan saya percaya bahwa Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini tentu akan mempertimbangkan semua fakta dan bukti yang muncul dalam persidangan ini di mana Penuntut Umum mengakui dan membenarkan bahwa saya tidak melakukan penistaan/penodaan agama seperti yang dituduhkan kepada saya selama ini dan karenanya terbukti saya bukan penista/penoda agama.

Berdasarkan hal tersebut di atas, haruskah masih dipaksakan bahwa saya menghina suatu golongan? padahal tidak ada niat untuk memusuhi atau menghina siapapun dan tidak ada bukti bahwa saya telah mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan atau penghinaan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap agama Islam dan Ulama atau penghinaan terhadap suatu golongan.

Saat ini, apakah pengadilan massa (trial by the mob) yang menang atau Pengadilan demi keTuhanan Yang Maha Esa yang menang? Saya menyerahkan kepada Majelis Hakim Yang Mulia, apakah saya dianggap bersalah atau saya harus dibebaskan dari tuntutan  Penuntut Umum.

Mengutip adagium yang sangat terkenal dalam hukum pidana yaitu, “lebih baik membebaskan seribu orang bersalah daripada menghukum satu orang yang benar.”

Saya berkeyakinan bahwa Majelis Hakim akan memberikan keputusan yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan karena mengambil keputusan demi keadilan berdasarkan keTuhanan yang Maha Esa.

Keputusan Majelis Hakim akan menentukan bhinneka tunggal ika akan terkoyak atau apa yang sudah coba dikoyakkan orang akan yang akan ditenun kembali. Sebab seperti kata Gus Dur, “kita tidak boleh takut-takut. Kalau kita kehilangan keberanian, itulah yang salah, karena hidup kita hanya sekali saja demi kebenaran.”

Mungkin orang – orang yang membenci, menyerang, memaki dan menghujat saya berpikir mereka sudah berhasil mengalahkan dan menjatuhkan saya, tetapi saya percaya orang mereka-reka yang jahat, Tuhan pasti mengubahnya menjadi kebaikan. Ingat saja pepatah Tiongkok, ‘Sebelum bunyi empat paku di atas peti mati kamu, kamu tidak bisa nilai orang lain itu baik atau buruk.” Nanti kamu baru tahu apa yang saya kerjakan.


Majelis Hakim yang saya muliakan,
Biarlah sejarah akan mencatat bahwa kebhinekaan hanya dapat dipertahankan dengan menerima perbedaan dan selalu berlandaskan pada konstitusi.

Kepada semua rakyat Indonesia yang mencintai kejujuran dan menghargai kebhinnekaan semua orang-orang yang ingin hidupnya bersih, transparan dan profesional dan mau melayani bangsa ini, jangan pernah menyerah seperti  si ikan kecil Nemo, berani melawan arus sekalipun nyawa taruhannya, walaupun engkau tidak dihargai, dan tidak ada orang yang berterima kasih.

Seperti kata Bung Karno, “perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.

Percayalah Tuhan tahu yang terbaik. Bangkit dan jadilah terang di tengah kegelapan korupsi, pencurian uang rakyat, ketidakjujuran dan kemunafikan juga upaya mengingkari konstitusi dan kebhinekaan yang sudah dibangun dengan keringat darah dan nyawa founding fathers kita.

Majelis Hakim yang saya muliakan.
Demikian Nota Pembelaan ini saya buat untuk mematahkan semua tuduhan dan fitnah atas sambutan saya selaku Gubernur DKI Jakarta yang sedang menjalankan tugas di Kepulauan Seribu pada tanggal 27 September 2016 dengan maksud mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program budidaya ikan kerapu, berdasarkan Pasal 31 UU Pemerintah Daerah.

Saya percaya Allah itu adalah setia dan adil, sejak awal telah mengetahui akhir cerita hidup kita. Apapun yang telah kita kerjakan dan katakan dan apapun yang telah terjadi pada kita semua adalah atas seijin Tuhan. Percayalah bahwa kekuasaan itu Tuhan yang kasih, Tuhan yang ambil. Tidak ada seorangpun bisa menjabat tanpa seijin Tuhan. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya yaitu Allah yang memulai pekerjaan yang baik diantara kita akan menyempurnakannya sampai pada akhirnya.

Jakarta, 25 April 2017
Hormat saya,
Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M.

G. Penasehat Hukum terdakwa :

- Hanya membacakan yg nota2 pembelaan pokok saja Majelis Hakim
- Harus berupaya objektif melakukan pembenaran dan tdk ditemukannya bukti kesalahan pada terdakwa
- Kasus ini adanya rekayasa massa dan dipaksakan karena adanya desakan massa diawali oleh pidato di Kepulauan Seribu
- Tidak ada penduduk Kepulauan Seribu yg merasa marah sakit hati dan sakit hati dan justru malah orang2 yg menjadi saksi pelapor justru dari Buni Yani yg meng upload video tersebut
- Berapa ahli pun saksi yg dihadirkan oleh JPU jika tdk ada saksi fakta yg ada
- Perkara ini banyak Calon Gubernur Walikota yg Non Muslim selalu dijadikan orang2 tertentu untuk tdk memilih pemimpin yg Non Muslim ini merupakan sebuah suatu ironi
- Ahli yg dihadirkan dlm sidang ini adalah melihat keseharian sehari hari dari terdakwa sehingga pantas tidak menjadikan terdakwa
- saksi yg dihadirkan menyatakan bahwa BTP banyak membantu saudara muslim, hal ini membuktikan tdk mungkin nya BTP untuk melukai Agama Muslim
- Semua orang yg melapor adalah FPI orang yg telah membenci BTP
- 15 April 2017 BTP telah menjadi korban dari Pasal anti demokrasi, LBH Jakarta menyatakan ini sebuah ironi namun nyata
- Pernyataan BTP tdk memenuhi itikad tdk baik
- Pasal 156 a KUHP jelas telah membatasi bicara
- Penafsiran negatiflah yg dikeluarkan oleh media dan tekanan massa yg menjadi hal ini lah menjadi tunduk karena adanya tekanan massa
- Adanya seolah memaksakan bahwa BTP telah melanggar, hanya menyampaikan isi hatinya kebebasan berpendapat dijamin oleh konstitusi kita
- Pemaksaan terhadap kss BTP ini adanya terkoyakan ke Bhinekaan di negeri ini
- Pelapor dalam kss ini tdk bisa disamakan dengan perkara lainnya, saksi di Kepulauan seribu tdk keberatan sesuai dengan fakta bahwa masyarakat di Kepulauan seribu tdk ada pelapor dalam keberatan pidato BTP
- Ahli Agama yg hadir juga menjelaskan Al Maidah diturunkan bukan konteks pemilihan pemimpin melainkan memilih teman bukan yg Non Muslim
- Ahli Hukum pidana juga menjelaskan bahwa niat dilihat dari sikap hidup keseharian dari pelakunya
- BTP melakukan perbuatan yg positif kepedulian terhadap umat islam di Jakarta dan banyak yg sudah dilakukan, membangun Masjid di Balai Kota, Telah Membangun Masjid Raya Jakarta, BTP membangun masjid di setiap rusun, Sejak th 2016 KJP diberikan kpd siswa, memajukan jam pulang PNS selama bulan Ramadhan, BTP rutin memberikan infak dan sedekah dan rutin memberikan Qurban dari dana pribadinya.
- Jika ada salah satu unsur pasal tdk terpenuhi maka dakwaan terhadap terdakwa harus dibebaskan
- Alternatif kedua adalah unsur dimuka umum tdk terpenuhi menurut hukum harus memenuhi seluruh unsur unsur dalan kandungan pasal tersebut
- Pidato sambutan BTP bukan dalam sedang kampanye, memperlihatkan tdk ada kehendak untuk menyatakan kebencian penghinaan terhadap adanya unsur kebencian dan tdk objektif, melakukan sambutan dalam penuh keceriaan sesuai dengan asas kepatutan dalam kesehariannya tdk adanya unsur kebencian dalam suatu agama atau golongan masyarakat indonesia
- Pidato sambutan BTP di Pulau Pramuka tdk memenuhi unsur dalam sikap penistaan atau penodaan terhadap suatu agama atau golongan suatu kelompok
- Untuk membebaskan terdakwa dari Pasal alternatif terhadap terdakwa
- BTP jauh dari sifat pejabat yg malas selaku Gubernur selalu bersikap jujur dan diganjar 4 penghargaan sekaligus, namun begitu banyak caci maki serta demontrasi yg diterima oleh BTP seolah olah tdk ada hal yg baik yg dilakukan oleh BTP
- Secara Yuridis BTP telah bebas secara Yuridis karena telah ditetapkannya Buni Yani yg mengunggah dan saat itu barulah ada reaksi dari masyarakat karena tdk ada kata atau menghilangkan kata pakai, unggahan Bumi Yani lah yg menjadi pintu masuk resah diluar sana
- JPU tdk bisa menyebut golongan mana saja yg menjadi korban secara kongkrit dan tdk Limitatif dalam perkara ini
- Kami mohon kpd Yang Mulia sangat jelas adanya hal keraguan yaitu putusan yg membebaskan BTP, memohon untuk membebaskan BTP dari segala tuntutan hukum, dengan arif dan penuh keberanian dalam membebaskan BTP dlm perkara ini
- Pernyataan LBH Jakarta bahwa BTP dalan hal ini menjadi korban pasal demokrasi dan menjadi sebuah ironi namun nyata, pernyataan BTP sama sekali tdk masuk dalam tafsir agama justru kritik terhadap orang dengan menipu publik dalam kaitan politik, pernyataan Ahok dilindungi dalam UUD 45 HAM, ada pihak ketiga yg memaknai pernyataan Ahok dan pihak ketiga ini tdk mendengar dan melihat langsung pernyataan Ahok tersebut, tekanan massa dan Fatwa MUI merupakan tindakan yg merusak Indonesia sepanjang sejarah telah terjadi.
- Agar Majelis Hakim menjunjung tinggi penegakan Hukum atas Hak kebebasan beragama dan berkeyakinan
- Agar Majelis Hakim menerapkan 156 a KUHP delik materil yg tdk diuraikan JPU tdk terpenuhi
- Harus mengacu terhadap acuan MK, sehingga tdk menerapkan pasal 155 KUHP yg bertentangan
- LBH Jakarta juga menyampaikan untuk melakukan Review karena jelas pasal tersebut akan meruntuhkan demokrasi
- Agar Majelis Hakim Yang Mulia memutuskan ;

1. Ahok tdk terbukti secara sah dan meyakinkan tdk bersalah dalam suatu agama yg di anut di Indonesia
2. Melakukan tindak pidana barang siapa dimuka umum menyatakan penghinaan golongan masyarakat indonesia, membebaskan Ahok dari Dakwaan pertama dan kedua
3. Memulihkan keadaan Ahok dalam segala hal semenjak Kasus ini berlangsung sampai dengan saat ini
4. Menyampaikan BB tetap terlampir An Ahok
5. Membebankan biaya pengadilan kpd Negara
6. Membebaskan BTP dari segala tuntutan

H. JPU tanggapan :

- Ada beberapa pertimbangan tdk akan ada hal yg baru
- Kami akan resmi memberikan jadwal untuk menghindari yg tdk perlu kami tetap pada prinsip tuntutan yg kami sampaikan.

I. PH Tanggapan :

- Segalanya kami serahkan kepada Yang Mulia dan Kami tetap pada pembelaan kami

K. Pkl 11.14 Wib sidang selesai, dan akan kembali dilanjutkan pada hari Selasa tgl  09 Mei 2017 pkl 09.00 Wib dengan agenda sidang Putusan.

DUM TTK
Read more ...

Senin, 17 April 2017

MEREKA MENISTA MASJID


Takmir dan penggurus mesjid Al-Atiq di Tebet, Jakarta Selatan mengusir Djarot Saiful Hidayat saat sholat Jumat tadi siang. Padahal Djarot datang untuk sholat Jumat, bukan buat kampanye. Dia datang sebagai jemaah, bukan sebagai Cawagub.
Peristiwa-peristiwa seperti ini yang membuat saya makin ngotot membela mereka yang ditindas. Atas nama agama, mereka mempermalukan Pak Djarot. Dia adalah seorang muslim yang berhak sholat Jumat di masjid mana saja. Rumah Allah terbuka untuk semua muslim.


Tapi kampret-kampret di masjid itu mengotori rumah Allah dengan provokasi. Mereka mencaci. Mereka memaki. Menggunakan speaker masjid, untuk menista muslim lainnya. Menggunakan fasilitas umat, untuk menista seorang umat lainnya.
Pak Djarot dan seluruh muslim punya hak sholat Jumat di masjid mana saja. Dia berhak bersujud di musholla manapun. Sebab masjid sesungguhnya adalah tempat bersujud. Tempat manusia menempelkan keningnya ke lantai, menundukkan egonya berhadapan dengan Yang Maha Besar.
Masjid didirikan untuk menandakan kerendahan hati manusia di hadapan sang Khalik. Bukan sarana untuk petantang-petenteng, merasa sok kuasa. Masjid bukan sarana untuk melampiaskan ego. Apalagi cuma karena alasan beda pilihan politik.

Kita menyaksikan kekurangajaran itu. Kita menyaksikan masjid-masjid kita dikotori oleh kejahilan. Kita juga mendengar mimbar-mimbar Jumat berubah jadi ajang kampanye. Semakin lama, semakin memuakkan.
Dulu orang masuk masjid untuk mencari kedamaian. Kini masjid justru dipenuhi provokasi. Di manakah mihrab-mihrab suci itu, tempat manusia dari manapun asalnya bermesra-mesra dengan Tuhannya.
Di depan mata kita, kesucian masjid sedang dilumuri kebebalan. Di depan mata kita, agama cuma diposisikan sebagai slogan politik yang makin hari semakin norak.
Kini masjid KH Hasyim Asyari di Daan Mogot juga difitnah. Mereka menyebarkan isu masjid itu ada lambang salib. Ini benar-benar memuakkan. Para kampret itu selalu mengumbar cerita-cerita busuk untuk merusak persatuan.

Kita tahu, semua ini sengaja dilakukan agar orang-orang yang masih menjaga akal sehatnya menjadi muak. Lalu apatis. Kemudian mereka berkuasa. Dan dengan kekuasaan di tangan, mereka bisa berbuat lebih memuakkan lagi.

Tidak. Demi akal sehat, kita akan terus menghadapi para perusak ini. Sebab jika prinsip yang waras mengalah, bangsa ini akan dimangsa orang-orang 'gila' seperti mereka.
Semoga Pilkada ini cepat berlalu. Agar masjid-masjid kita bisa kembali pada fungsinya sebagai tempat bersujud. Tempat seluruh muslim menyatakan kerendahan dirinya berhadapan dengan Tuhan semesta alam. Apapun pilihan politiknya.

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Sabtu, 15 April 2017

Perda Syariat Itu Sekuler


Banyak pihak salah paham tentang "Perda Syariat" yang dianggapnya sebagai "perda Islami", dan kalau sudah dianggap "Islami" atau "relijius" terus asumsinya sudah "sangat Tuhani" (maksudnya: sesuai dengan kehendak Tuhan dan karena itu direstui oleh-Nya).
Sebetulnya, saya tidak setuju dengan istilah "Perda Syariat" karena "Perda Syariat" itu sejatinya tidak ada, dan tidak akan pernah ada. Kalau Perda (Peraturan Daerah) yang didasarkan pada tafsir atau interpretasi atas sejumlah diktum "Hukum Syariat Islam", itu baru ada. Pembuatan pasal-pasal dalam sebuah Perda bisa didasarkan atau bersumber pada hukum apa saja: Hukum Syariat, Hukum Adat, Hukum Kolonial Belanda, Hukum Injil, dlsb.
Kemudian, semua Undang-Undang atau peraturan hukum (termasuk yang diklaim sebagai "Perda Syariat" tadi) jelas sangat "sekuler" karena produk dari kebudayaan manusia. Semua hasil cipta, karsa, dan rasa manusia itu disebut "kebudayaan", dan karena sebuah "kebudayaan" maka itu bersifat sekuler. Yang namanya "Perda" adalah hasil kreasi, ide, tafsir, pemikiran, dan "otak-atik" manusia. Memang Tuhan yang bikin "Perda Syariat"? Tidak kan? Kaaannnn.



Lalu, jika ada yang mengklaim bahwa "Perda Syariat" itu "Islami" karena berdasarkan pada ayat-ayat Al-Qur'an misalnya, itu juga keliru karena apa yang mereka klaim bahwa "Perda Syariat" itu bersumber dari Al-Qur'an pada hakikatnya atau dalam realitasnya adalah bersumber pada jenis-jenis penafsiran Al-Qur'an dan wacana Hukum Islam tertentu.
Karena bersumber pada tafsir dan wacana hukum Islam tertentu inilah maka kenapa masing-masing negara/daerah yang mayoritas berpenduduk Muslim menggunakan peraturan hukum yang berbeda-beda. Semua mengklaim "sangat Islami", "sangat Qur'ani", "sangat Syar'i".
Negara yang menganut Mazhab Hukum Islam Hanbali seperti Saudi atau Qatar, berbeda dengan negara yang menganut Mazhab Maliki (seperti Maroko), mazhab Hanafi (seperti Turki), atau mazhab Syafii seperti Mesir dalam mengimplementasikan peraturan hukum. Negara yang mayoritas Sunni akan menerapkan sistem hukum yang berbeda dengan negara yang mayoritas Syiah (seperti Iran), Ibadiyah (seperti Oman), atau negara-negara yang hampir sama kekuatan Sunni-Syiah seperti Irak atau Lebanon.

Pula, jika yang disebut "Perda Syariat" itu adalah Perda yang pasal-pasalnya bersumber dari (tafsir) ayat-ayat Al-Qur'an atau Sunnah Nabi, maka semua pasal dan ketentuan hukum yang baik pada dasarnya adalah sangat Syar'i. Maka, demokrasi itu sangat syar'i karena Al-Qur'an menggarisbawahi tentang pentingnya bermusyawarah, berpendapat, dlsb. Bahkan "komunisme" juga sangat syar'i karena Al-Qur'an juga menandaskan tentang pentingnya egalitarianisme ekonomi yang menjadi fondasi Komunisme.
Jadi, sejumlah kelompok Islam di Indonesia yang mengkampanyekan tentang "Perda Syariat" itu pada dasarnya adalah mengkampanyekan kelompoknya sendiri, bukan mengkampanyekan Tuhan. Mengkampanyekan kelompok atau ormas Islamnya sendiri, bukan mengkampanyekan Islam. Mereka mengkampanyekan imajinasi dan tafsir mereka atas Hukum Tuhan. Mereka memperjuangkan Hukum Islam yang sesuai dengan selera, pemahaman dan praktek kelompoknya. Itu saja.

Dengan demikian, kampanye Perda Syariat yang Islami, Syar'i dan segala macam itu pada hakikatnya hanyalah retorika, jargon, alat kampanye, dan medium untuk meraih atau mempertahanan kekuasaan saja. Tidak lebih, tidak kurang. Hanya orang yang lugu-njegu saja yang percaya dan terbuai dengan propaganda dan kampanye tentang Perda Syariat.

Al-Qur'an adalah "korpus terbuka" yang kaya-makna dan multi-tafsir. Sejumlah kaum Muslim dan kelompok Islam yang berwawasan cupet-sempitlah sebetulnya yang membuat Al-Qur'an itu menjadi tampak eksklusif, sempit, dan miskin-makna. Udah ya Mat, saya mau nyusu dulu: nyut, nyut, nyut...

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Kamis, 17 November 2016

JANGAN, JANGAN DITERUSKAN. HIKS...


Ini gila. Saya mendapat undangan untuk menandatangani petisi agar dilakukan audit keuangan terhadap MUI. Alasannya karena MUI, selain menggunakan dana dari APBN, juga menarik uang dari masyarakat untuk pengurusan sertifikat halal.


Sebetulnya sih, biasa saja. Semua lembaga yang menarik duit dari masyarakat sejatinya harus bisa mempertanggungjawabkan. Diperlukan keterbukaan laporan keuangan agar tidak terjadi salah paham. Ada yang menghitung, potensi uang dari sertifikat halal mencapai Rp 240 triliun.
Tapi, masa sih, kita gak percaya sama MUI? Meskipun tanpa audit, jika sudah distempel halal, terus kamu mau apa? Mau bilang itu belum tentu halal, makanya harus dibuktikan dengan audit? Itu namanya suudzon. Kamu tahu, suudzon, apalagi sama lembaga sekelas MUI, sungguh bukan tindakan terpuji.
Jangankan suudzon. Nusron yang matanya memang belo saja, dianggap memeloti ulama, kok. Padahal kalau tidak salah, Nusron dibesarkan ketika lagu "Mata Indah Bola Pingpong' dari Iwan Fals sedang hit-hitnya. Struktur bola matanya memang begitu.

Jadi sudahlah, petisi itu gak perlu diteruskan. Lagipula apakah kita kuat jika ada ustad yang merekam tangisannya lagi?
Apa kamu mau di timeline FB kamu berlalu lalang lagi video lelaki yang wajahnya disendu-senduin lalu dia menangis gegerungan? Apakah kamu tidak melihat kepiluannya? Rasa pilu yang bagaikan disayat pisau Swiss Army, lalu lukanya ditetesi cuka Cap Petani, lantas disundut Dji Sam Soe. Juss...
Lihat saja saat dia menggigit bibirnya yang mulai bergetar. Suara isaknya tertahan, seperti tidak kuat mengekang perasaannya sendiri. Perasaan orang yang tersakiti.

Coba perhatikan matanya yang mulai mendung, seperti langit Jakarta di awal Oktober. Dia benar-benar sedang bersusah hati. Air matanya berlinang, mas intan yang kukenang. Bumi, gunung, sawah, lautan. Simpanan kekayaan....

Sedih mblo. Terlalu sedih untuk kita resapi. Manusia mana yang sanggup melihat video yang sangat menyayat hati itu? Jika kita tidak menangis menonton video itu, jangan-jangan kita tergolong mahluk yang tidak punya hati atau tidak punya empati. Atau kita adalah mahluk yang tidak punya perasaan. Atau mungkin tidak punya duit?

Jadi, jangan. Jangan ditiru, ya. Jangan. Adik-adikku, saya mohon jangan diteruskan petisi itu. Hiks...


Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Jumat, 11 November 2016

Engkau Bagian Dariku, dan Aku Pun Bagian Darimu


Salah satu akhlak Rasulullah SAW adalah membuat siapapun merasa nyaman berbicara dan bergaul dengan beliau. Orang Arab Badui yang jauh-jauh datang menemui beliau gemetaran saat berhadapan dengan Nabi. Untuk menenangkannya Nabi mengatakan, seperti direkam dalam Kitab Sunan Ibn Majah (hadis nomor 3303): "aku bukan raja. Aku putra seorang perempuan yang juga senang makan daging dendeng (yang dikeringkan di bawah sinar matahari)." Lihatlah bukan saja Nabi mengatakan bahwa beliau tidak perlu dihormati sebagaimana raja, tapi beliau juga mencari titik kesamaan antara tradisi Badui dengan apa yang dilakukannya. Dengan cara demikian, Badui itu merasa nyaman.


Pesona Sang Nabi memang luar biasa. Salah satu akhlak yang beliau contohkan adalah membuat semua orang merasa akrab. Ini menyebabkan kita kesulitan menentukan siapa sebenarnya sahabat beliau yang paling dekat. Terhadap Sayyidina Abu Bakar ra beliau bersabda: 'seandainya aku diperkenankan mengambil kekasih, tentu aku pilih Abu Bakar" (hadis nomor 447). Di lain kesempatan Kitab Sahih Bukhari (hadis nomor 3430) menceritakan tatkala Rasul memutuskan pergi dalam perang Tabuk dan meminta Ali bin Abi Thalib ra tinggal di Madinah menjaga anak-anak dan perempuan yang tidak berperang, Sayyidina Ali tetap ingin pergi berperang, lantas Rasul menenangkannya: "Tidak inginkah kamu hai Ali memperoleh posisi di sisiku seperti posisi Harun di sisi Musa?" Rasul merujuk pada peristiwa Nabi Musa pergi menerima perintah Allah dan memercayakan urusan umat kepada Nabi Harun.

Tentang Sayyidina Umar bin Khattab ra, amat banyak riwayat yang menyebutkan keutamaanya. Kitab Sahih Bukhari (hadis nomor 80) menceritakan mimpi Rasul: "Ketika tidur, aku bermimpi meminum (segelas) susu hingga aku dapat melihat aliran air dari kukuku, kemudian aku berikan (sisanya kepada) 'Umar".

Orang-orang bertanya; "Apa maknanya (susu tersebut)? Rasulullah menjawab: "Ilmu"
Pernah terjadi rebutan hak asuh anak Sayyidina Hamzah yang gugur di perang Uhud. Ali mengambilnya dengan alasan, "dia anak perempuan pamanku". Ja'far mengatakan, "Istriku itu bibinya anak perempuan ini." Zaid tidak mau kalah dan mengatakan, "Dia anak perempuan saudaraku". Kitab Sahih Bukhari (hadis nomor 3920) menceritakan bagaimana Rasul kemudian menengahi dengan membuat semua pihak merasa nyaman:
"Bibi adalah pegganti ibu" maka Rasul memberikannya kepada Bibi anak itu. Lantas Rasul berkata kepada Ali, "Engkau bagian dariku, dan aku bagian darimu." Rasul berkata kepada Ja'far: "Akhlakku menyerupai akhlakmu". Dan kepada Zaid, Rasul berkata: "Engkau saudara dan maula kami". Semua menjadi senang dengan keputusan Nabi.

Mari yuk kita terus jaga akhlak kita agar kelak Nabi Muhammad berbisik mesra kepada kita: "Engkau bagian dari umatku, akhlakmu menyerupai akhlakku dan engkaulah saudaraku". Duh Gusti....
Shallu 'alan Nabi....

#jumatmubarak #metjumatan

Tabik,
Nadirsyah Hosen
Read more ...

Sabtu, 05 November 2016

Kejujuran Menampilkan Pendapat yang Berbeda


Salah satu problem terbesar umat saat ini adalah anti dengan perbedaan. Perbedaan dianggap perpecahan. Itu karena kita menyikapinya sebagai pertentangan yang berlanjut pada pertarungan antar kelompok sampai perebutan kursi politik. Maka atas nama Islam banyak yang terjebak pada fanatisme kelompok. Retorikanya saja berjuang atas nama Islam, padahal yang mereka bela adalah pemahaman kelompoknya sendiri.
Belakangan banyak yang gerah dengan sejumlah tulisan saya karena dianggap selalu membahas pendapat yang tidak mainstream. Seolah menyebutkan pendapat di luar mayoritas itu menjadi anacaman. Seolah menyebutkan ada pendapat lain dari yang selama ini dipahami orang kebanyakan akan meresahkan. Seolah pendapat jumhur ulama, mayoritas ormas Islam atau pandangan mainstream itu pasti benar. Seolah pendapat yang memicu kontroversi itu pasti keliru.


Bagi mereka yang meniatkannya untuk belajar, maka mendengar atau membaca adanya pendapat yang berbeda dengan yang selama ini diketahuinya akan penasaran dan segera membaca kembali berbagai kitab rujukan. Bagi yang tidak mau lagi belajar, maka dengan mudah semua pendapat yang baru dia dengar dan berbeda dari apa yang dia pahami selama ini, dicap sebagai omongannya JIL, Syi'ah, atau bahkan ditanya: "anda muslim bukan? Atau "anda dibayar berapa?"

Kondisi ini jelas berbeda dengan masa keemasan Islam dahulu dimana semua pendapat didiskusikan dengan baik dan mendalam. Pelabelan hanya akan membuat diskusi terhenti. Datangkan saja argumen atau rujukan lain karena bagi para ulama klasik: "pendapat saya benar tapi bisa jadi mengandung kemungkinan salah, semenatara pendapat anda itu saya anggap keliru, tapi bisa jadi mengandung kebenaran yang belum saya pahami".

Ini saya hadirkan contoh dari kitab klasik Bidayatul Mujtahid karya Ibn Rusyd. Dari gambar yang saya sajikan terlihat bagaimana Ibn Rusyd ketika membahas persoalan syarat sah jamaah dalam shalat Jum'at itu berapa orang, beliau menyantumkan semua pendapat, termasuk yang tedengar aneh sekalipun. Ada yang bilang satu makmum saja cukup, ada yang bilang dua makmum, ada yang bilang 3, lantas disebutkan juga pendapat yang bilang 30 dan pendapat yang umum dipahami kita, yaitu minimal 40.

Apa manfaatnya mengetahui perbedaan di atas? Untuk kondisi tertentu dimana Muslim menjadi minoritas, mereka tetap bisa menjalankan shalat Jum'at meski jumlah jamaah tidak mencapai 40 karena para ulama klasik tetap mencantumkan pendapat yang berbeda itu. Sekarang bayangkan betapa sulitnya kita kalau para ulama dulu 'menyembunyikan' pendapat yang berbeda itu dari ruang publik.

Kejujuran ilmiah ini penting untuk kita teruskan. Sebutkan kalau ada pendapat yang lain dalam masalah itu. Agar umat ini secerdas umat jaman dulu, setoleran ulama di masa kejayaan Islam, dan terus mau belajar seperti dicontohkan para ulama klasik.

Kalau kita terbiasa dengan keragaman pendapat maka kita tidak akan kaget, ngeyel, atau dengan mudahnya melabeli orang lain. Persis dengan wajarnya kita melihat pilihan menu makanan yang berbeda di warung padang, warteg atau fast food. Semua punya hak memilih. Selera boleh berbeda, pilihan boleh tak sama, namun kita tetap umat yang satu. Mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk dijalankan, bukan?

Tabik,
Nadirsyah Hosen
Yang sudah 11 tahun jadi Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand, dan sayangnya masih terus diminta untuk periode dua tahun ke depan. Khuz bi yadi ya Rasul....
Read more ...

Sabtu, 08 Oktober 2016

TEST NALAR


Ketika anda melihat video ini, bagaimana penafsiran anda ?



A. Ahok mengatakan bahwa surat Al Maidah 51 adalah bohong dan membodohi umat Islam..

B. Ahok mengatakan bahwa surat Al Maidah 51 sering dipakai orang untuk membodohi dan membohongi umat Islam.

Demi Kanjeng Dimas dan Aa Gatot... Semoga nalar saya tidak seperti bu Marwah dan teteh Reza !
Read more ...

ISLAM YANG SELALU MERASA TERHINA


"Kristen itu ajaran konyol !!"
Begitu kata Ahok beberapa waktu lalu dalam sebuah rapat bersama jajarannya.
Ahok mengkritisi dengan tepat perilaku manusia dalam agamanya yang menjadikan agama sebagai mie instan, "lu boleh buat dosa sebesar apa saja karena Kristus nanti akan mengampuni semua dan lu pasti masuk surga.."

Siapakah yang ribut ? Ya, yang mengaku beragama Islam.

Mereka langsung teriak gembira dan men-share video itu kemana saja dengan poin perkataan, 'Tuh kan, Ahok yang kristen aja bilang bahwa kristen ajaran yang konyol. Bukti bahwa Islam yang paling benar !"
Dan disambutlah takbir bersahut2an persis seperti di pasar ayam.

Yang beragama Kristen tampak tenang. Sebagian karena paham maksud dari ucapan Ahok, sebagian karena tidak mengerti ada apa. Tapi yang paling penting adalah mereka tidak merasa terhina ketika Ahok mengatakan "Kristen ajaran konyol.."

Aneh memang, yang ngomong orang Kristen, tentang ajaran Kristen, tapi yang ribut yang merasa Islam.
Dan ketika Ahok mengatakan, "jangan mau dibodohi dan dibohongi pake surat Al Maidah 51', ribut lagi lah mereka yang mengaku beragama Islam. Ahok dibilang melecehkan, mengolok2 bahkan menghina Alquran.
Ketika di jelaskan bahwa yang dimaksud Ahok adalah "orang yang mempolitisasi ayat di Alquran", mereka tetap meradang. Apapun penjelasannya mereka tetap tidak terima, yang penting Ahok sudah menghina.
Kenapa si pengaku umat Islam ini selalu merasa sedikit2 terhina ?

Karena bodoh, itu saja. Bodoh karena tidak paham agamanya sendiri tapi kebanggaan mereka berlebih. Baju agama mereka terlalu ketat, sehingga nafas mereka sesak.
Mereka menjadi paranoid, mudah dipolitisasi dan di doktrin. Karena mereka tidak mau mengkaji kitab suci, meski suka datang ke pengajian. Mudah terhasut dengan "kata si anu" karena malas membuka kitabnya sendiri.


Mungkin karena merasa mayoritas, sehingga sulit membuka cakrawalanya dengan bebas. Sulit melihat kesalahan di diri sendiri dan suka bergunjing kesalahan pada orang lain.
Ahok itu ujian mayoritas muslim dalam menghadapi politik di negeri ini. Apakah kita akan dewasa dalam beragama atau seperti kerbau dicocok hidungnya. Apakah kita selalu mau dipolitisasi oleh para penjual ayat ataukah kita bisa memisahkan mana ayat dan mana penjualnya..

Maka tidak heranlah jika kita berjumpa dengan Reza2 yang lain, Marwah2 yang lain, yang secara ukuran sosial dia rasional tapi dalam pengetahuan agama mereka masuk di kelas emosional.
Secangkir kopi kuhidangkan pagi ini, sambil menatap wajah negeriku sendiri, orang2 dalam agamaku sendiri, berasa sedih.

Perjuangan mencerdaskan saudara2ku seiman ini, jalannya masih sangat panjang dan berbatu...

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Jumat, 16 September 2016

Pokemon: Pokoe Mondok


Dengan ini saya anjurkan kepada para bapak dan ibu kaum Muslim / Muslimah di Indonesia tidak perlu repot-repot menyekolahkan anak-anaknya ke negara-negara Arab kalau tujuannya hanya sekedar untuk mempelajari Islam, belajar Bahasa Arab atau mengaji kitab-kitab keislaman. Sekali lagi, kalau tujuannya hanya untuk belajar masalah ini (kalau punya tujuan lain ya lain lagi persoalannya), di Indonesia saja sudah cukup. Pondok-pondok pesantren, khususnya milik Nahdlatul Ulama (NU) sudah melimpah-ruah di kota maupun desa. Indonesia kini juga sudah surplus kiai, baik tua maupun muda, yang sangat mumpuni dalam masalah ini.


Lagi pula, untuk apa menyekolahkan anak jauh-jauh ke Arab untuk "belajar Islam" kalau pada akhirnya kelak ketika selesai sekolah malah menjadi "malin kundang" yang, atas nama "kemurnian Islam" dan "tegaknya tauhid", berani melawan orang tua, mengafirsesatkan mereka, membidahkan amalan-amalan keagamaan mereka dan seterusnya. Nanti Anda sendiri yang akan kerepotan lo: mau dibiarkan kurang ajar, mau digampar itu anak sendiri. Repot kan?

Bukan hanya melawan orang tua saja lo. Para ulama dan kiai yang kebetulan berbeda pemikiran juga dikapir-kapirkan oleh "anak kemarin sore" yang baru sunat ini. Tidak sebatas itu. Sebagian mereka bahkan tega untuk mengpitnah dan mengukapkan kata-kata kotor dengan beliau-beliau. Padahal beliau-beliau itu masya Allah ulama yang sangat rendah hati, alim dan saleh dalam segala hal. Kok tega ya mereka melakukan itu?

Terus? Sudah jauh-jauh sekolah dan "menuntut ilmu keislaman", pulang-pulang malah menjadi "provokator kebencian" yang anti-pati terhadap tetangga, non-Muslim dan bahkan terhadap sesama Muslim itu sendiri yang hanya secara kebetulan berbeda mazhab, pandangan, pemikiran, dan praktek keagamaan dengan mereka. Repot kan? Hidup di dunia yang warna-warni kok "kaku-regeng" kayak tiang listrik, tidak mau toleran dengan keragaman. Emang bumi ini milik engkong mereka apa?

Sudah cukup? Belum. Mereka juga mengharamkan bendera merah-putih, memusyrikkan penghormatan terhadapnya, mengthogutkan Pancasila dan Konstitusi, "menerakakan" para pejuang dan pahlawan bangsa. Wis embuh lah. Banyak pokoknya yang aneh-aneh dan "unyu-unyu" dari tingkah-polah mereka. Tapi sebagian lo, tidak semua alumni Timur Tengah yang belajar Islam bersikap seperti ini. Entar ada yang ngamuk-ngamuk lagi.

Nah, kalau mondok di pesantren-pesantren NU, nanti akan lain ceritanya. Anak-anak nanti diajari untuk mencitai ulama, mencintai bangsa, negara dan Tanah Air, menghormati orang tua, toleran terhadap sesama manusia, ramah terhadap tetangga, mencitai tradisi dan budaya bangsa. Pokoknya banyak deh yang baek-baek. Dan sudah barang tentu, para santri akan mendapatkan pelajaran-pelajaran keislaman yang "yahud" (tanpa "i"), keislaman yang ramah dan respek dengan kemajemukan pemikiran, keragaman mazhab, dan perbedaan pendapat. Yuk, kita semarakkan gerakan "cinta Pokemon".

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Senin, 12 September 2016

KAMI MUSLIM. KAMI SELALU BENAR !!


"Anggap warga tanjung balai anarkis, Jokowi bela etnis Tionghoa oknum pembuat rusuh ?"
Ini judul sebuah berita di media online yang ada kata "muslim-nya".
Jika anda orang yang sering membaca dan berlogika sehat, tentu menolak judul tersebut.
Kenapa ? Karena, pertama seorang ibu etnis tionghoa itu protes terhadap pengeras suara yang mengganggunya. Protes adalah hal yang wajar, menyuarakan hak-nya atas kenyamanan yang terganggu.
Yang kedua, ada tudingan bahwa Jokowi sangat membela si etnis Tionghoa karena menganggap warga Tanjung Balai anarkis. Tudingan dalam judul berita itu membesarkan protes si ibu - yang mereka anggap oknum perusuh - dan mengecilkan anarki pembakaran vihara.


Judul berita itu membalikkan logika berfikir yang masih sehat. Bagaimana bisa orang protes dianggap oknum perusuh, seakan2 kejahatan protes jauh lebih besar dari membakar vihara ? Dan ketika Jokowi mengutuk aksi pembakaran itu sebagai tindakan anarkis, bagaimana bisa ia dituding membela si orang yg protes yang ber-etnis Tionghoa ?

Kaum otak setengah matang tentu pusing memikirkan logika yang - memang sengaja - dibalik2 itu. Daripada berat mikir, maka lebih mudah "salahkan Jokowi" dan " salahkan si etnis Tionghoa", karena Jokowi dan etnis Tionghoa adalah tempatnya salah.
Jadi merekalah akar semua kesalahan yang ada. Kalau pantat mereka bisulan, bisul itu pasti ber-etnis Tionghoa dan ini salah Jokowi.

Sedangkan si pembakar vihara, meskipun mereka salah, tapi kesalahannya tidak sebesar Jokowi dan etnis Tionghoa. Kenapa ? Karena mereka muslim, jadi muslim haruslah berada di pihak yang benar, apapun itu kesalahannya.
Kita bisa ketawa keras ketika bertemu dengan mereka yang logikanya kebalik seperti itu. Kita biasanya jadikan meme2an dan ngikik sampe kopi pun muncrat sekeras2nya. Tapi jangan salah, kaum yang kita namakan kaum 2D itu banyak jumlahnya.

Merekalah - yang dengan kecepatan cahaya - menshare berita dengan logika terbalik begitu. Hanya dengan membaca judul saja.
Selama berita itu sesuai dengan pembenaran mereka, maka wajib ketik amin dan bagikan. Dan lalu komen bla bla sampai kadang mengutip ayat dan hadis yang juga penafsirannya keliru. "Kami muslim, kami selalu benar".
Orang bodoh dalam jumlah yang besar adalah senjata yang berbahaya. Bungkuslah kebodohan dengan nama agama, maka perhatikan kerusakan yang dibuatnya.
Para pemain di belakang layar tentu paham ini. Mereka membangun ribuan website, membuat ribuan akun di medsos, upload peristiwa terbakarnya vihara dengan judul yang bombastis. Pada intinya, mereka mengarahkan ke satu titik bahwa peristiwa Tanjung balai ini terjadi karena kesalahan Jokowi dan Etnis Tionghoa.

Mengerikan, ya ? Seruput kopi dulu biar tenang...

Fahami, begitulah model yang terjadi pada kerusuhan di timur tengah. Membangkitkan kebanggaan akan golongan setinggi2nya, mem-posisikan golongan pada posisi yang selalu benar dan menjatuhkan kredibilitas orang yang kontra dengan mereka.
Ketika kita kontra, maka keluarlah label syiah, kafir, JIL, liberalis, pluralis sampe margarito kamis. Kadang dibumbui peran Yahudi yang selalu pake Remason.
Begitulah fakta di lapangan, betapa berbahayanya media sosial dan online dalam mengacaukan logika berfikir mereka.

Kacau logika ini bukan hanya milik kaum penggemar nasi bungkus karet dua, bahkan mereka yang bergelar S2 pun menjadi kacau logikanya. Ini akibat kebanggaan berlebih terhadap golongan sehingga pakaian suku, agama dan ras mereka terlalu ketat membungkus jiwa yang penuh lemak.
Inilah musuh kita yang nyata meski mereka ada di dunia maya. Karena itu tidak salah ketika banyak pemuka agama yang jalan berfikirnya sehat menyerukan jihad di media sosial melawan propaganda kebodohan yang mereka doktrin setiap waktu. Internet menjadi medan perang antara sebelum menuju perang fisik yang sesungguhnya.

Jadi sekali lagi pahami pola mereka.

Sesungguhnya kejadian seperti pembakaran vihara di Tanjung balai itu hanya sebagai PELENGKAP PERISTIWA saja.
Tujuan mereka sebenarnya menanam bibit2 permusuhan yang pelan2 tumbuh dalam dada kaum intoleran yang akalnya melemah dengan kebanggaan dirinya yang semakin tinggi.

Persis kata Imam Ali as, " Mereka yang kebanggaan dirinya meninggi, akalnya melemah.."
Terbukti lagi kata2 beliau dalam memisahkan mana kebenaran dan mana kesalahan.. Seruputtt..

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Sabtu, 30 Juli 2016

MEMELIHARA MONSTER


Ideologi Wahabi Takfiri yang kaku dan hobi mengkafirkan orang lain, adalah bahan dasar terorisme. Sikap merasa pemahaman agamanya paling benar dan merasa punya hak menghukum orang, menjadikam semangat radikal menemukan wujudnya.
Saudi Arabia paling getol menyebarkan pemahaman ini kemana-mana. Dulu bersama AS dan sekutunya, Saudi membentuk Kaum Mujahidin dan Al Qaedah di Afganistan untuk menghadang Rusia.
Mereka tidak sadar sedang menciptakan monster ganas. Setelah Rusia pergi dan Taliban berkuasa, monster yang bernama Al Qaedah harus mencari mangsa. Lalu mereka membuat teror di New York dengan menghancurkam menara WTC.


AS yang sebelumnya menjadi majikan Al Qaedah akhirnya berbalik. Hewan peliharaan buas yang diciptakannya malah menggigit bokong tuannya.
Untuk menumbangkan Asaad di Suriah, Saudi, AS dan Turki memgulang lagi taktik yang sama. Mereka menciptakan monster baru bernama ISIS. Ditenggarai pembentukannya juga disupport agen-agen Israel. Ini terbukti di Irak misalnya, dengan tertangkap beberapa perwira senior Israel yang menjadi komandan ISIS. Jadi jika serangan ISIS lebih berfokus ke negara-negara muslim --khususnya yang juga musuh Istael-- itu wajar.

Di luar dugaan monster ini tumbuh tak terkendali. Kekejaman yang ditunjukan membuat publik ngeri. Bukan hanya di Irak dan Suriah, ISIS malah bergerak kemana-mana. Negara-negara Eropa jadi sasaran.
Lalu Turki juga kena dampaknya. Berkali-kali ISIS melakukan peledakan di Turki. Korbannya ratusam orang. Belakangan Saudi juga kaget. Ada bom bunuh diri mengguncang negaranya. Bahkan hampir masuk kenjantung Madinah : Masjid Nabawi.
Padahal selama ini mereka paling rajin memberi makan monster-monster itu. Kok, ya, kini malah berbalik kena gigitan.

Mereka tidak pernah sadar, yang mereka ciptakan adalah seekor monster. Dalam alur kehidupan monster tidak ada aturan untuk berterimakasih pada tuan dan pemelihara. Tidak ada aturan untuk menghormati majikan.

Di Indonesia banyak juga ormas berideologi radikal, meski cuma lokal. Dasar keyakinannya sama : Wahabi takfiri. Sikap yang paling kentara adalah hobi mengkafirkan dan merasa pembawa kunci surga. Mereka inilah cikal bakal monster ganas yang bakal menyusahkan nantinya.

Daripada nanti membuat kerusakan dimana-mana, lebih baik diwaspadai sejak dini. AS dan Turki sudah merasakan gigitannya. Kemaren Saudi yang kena gigit dengan bom bunuh diri...

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Sabtu, 16 Juli 2016

Muhammad Ali dan Islam di Amerika (2)

Sambungan dari Muhammad Ali dan Islam di Amerika (1)

Seperti saya uraikan sebelumnya, keliru besar jika menganggap Amerika itu sebagai melulu "negeri Kristen-Yahudi". Amerika adalah negara "melting pot" tempat ngumpulnya berbagai agama dan sekte dan kelompok non-agama. Amerika juga rumah buat aneka ragam sekte Islam dan kelompok keislaman. Sekte-sekte dan berbagai kelompok Islam yang dilarang di negara-negara tertentu (misalnya Ahmadiyah atau Hizbut Tahrir), bisa menikmati kebebasan disini, ketawa-ketiwi, egal-egol, dan kentat-kentut dengan bebasnya karena konstitusi Amerika menjamin kebebasan beragama semua warganya.


Meskipun sebagian umat Islam dan sejumlah ormas keislaman di AS ada saja yang rajin dan istiqamah mengkopar-kapirkan Mamarika, tetapi mereka tetap dibiarkan sepanjang tidak melakukan tindakan terorisme, kekerasan, dan hal-ikhwal yang mengganggu ketentraman publik. Karena alasan "demokrasi agama" inilah, Amerika menjadi salah satu tumpuan hidup dan eksistensi buat aneka ragam kelompok agama, termasuk Islam. Jane Smith, dalam buku Islam in America, bahkan menyebut negara Paman Sam ini yang paling heterogen dan paling banyak menampung berbagai kelompok dan mazhab umat Islam.

Menurut catatan sejumlah sejarawan, dari sekian banyak suku-bangsa Muslim di Amerika, kaum Muslim Afrika-Amerika konon yang paling banyak populasinya. Kaum Muslim Afrika-Amerika (disebut "Black Muslims") kontemporer merupakan keturunan para budak Afrika yang didatangkan oleh Amerika sejak awal abad ke-18. Karena politik rasisme anti-negro (white supremacy) yang begitu kuat di Amerika kala itu, sejumlah tokoh Muslim Afrika-Amerika sejak awal abad ke-20 kemudian menggelar sejumlah perlawanan teologi-budaya untuk melawan "supremasi kulit putih".

Di antara tokoh Muslim Afrika-Amerika yang memelopori gerakan "perlawanan teologi-budaya" atas "bangsa kulit putih" adalah Noble Drew Ali dan yang paling fenomenal adalah Wallace Fard Muhammad yang mendirikan Nation of Islam (NOI) pada awal 1930-an. Puncak gemilang NOI ketika dipimpin oleh tokoh Muslim Afrika-Amerika karismatik bernama Elijah Muhammad (1837-1975). Tokoh Muslim yang hobi berpeci, berjas, dan berdasi inilah yang menjadi mentor sejumlah tokoh Muslim Afrika-Amerika legendaris termasuk Malcolm X (Malcolm Little), Louis Farrakhan, Warith Deen Mohammed, dan "sang petinju legenda" Muhammad Ali.

Mereka adalah para tokoh Muslim yang bergemuruh menentang perang dan politik rasisme serta memperjuangkan martabat dan hak-hak kemanusiaan yang dipenjarakan oleh rezim Amerika waktu itu. Mereka bahu-membahu berjuang bersama sejumlah tokoh Kristen kharismatik penentang rasisme seperti Martin Luther King, Jr. Di antara sekian tokoh Muslim Afrika-Amerika, Malcolm X yang paling fenomenal. Pidato-pidatonya menggelegar bergemuruh laksana petir yang menyambar-nyambar yang mampu menyihir beribu-ribu orang dan mampu memikat hati dan pikiran banyak warga Afrika-Amerika untuk bergabung menjadi umat Islam.

Menariknya, meskipun mereka adalah para tokoh Muslim hebat di Amerika ini, tidak ada satupun yang berjubah apalagi berjenggot panjang menjuntai tak terurus. Mereka berjas dan berdasi dan kelimis. Mereka juga tidak mengkhotbahkan tentang jubah, celana cingkrang setengah tiang, jilbab/hijab, apalagi poligami he he. Kenapa? Ya memang buat mereka semua itu gak penting banget lah karena bukan esensi ajaran Islam hanya "bunga-bunga" budaya Arab saja yang tidak perlu diterapkan di Amerika.

Kent Vale, Singapore

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Minggu, 10 Juli 2016

Muhammad Ali dan Islam di Amerika (1)


Anggapan atau tuduhan sejumlah kelompok “Islam ekstrim” di Indonesia bahwa Amerika adalah “negeri kafir” Kristen-Yahudi adalah tidak tepat. Menuduh “kafir” saja keliru karena mereka jelas bukan kafir tapi umat beriman. Apalagi menganggap Amerika sebagai negeri Kristen-Yahudi. Jelas bombastis dan mengandung unsur propaganda murahan. Amerika—atau Barat secara umum—adalah kawasan multi-agama. Ini persis dengan dunia Arab yang juga kawasan multi-agama.

Kemajemukan agama itu sebagai dampak dari arus migrasi yang sangat kuat. Seperti negara-negara Arab Teluk, Amerika juga dibanjiri oleh kaum migran, termasuk kaum migran Muslim tentunya. Memang Kristen menjadi agama dominan sebagaimana Islam di Arab. Tetapi umat Kristen, sebagaimana kaum Muslim, juga jauh dari kesan tunggal dan monolitik. Kedua kelompok ini bukan sekumpulan “bebek kuwek-kuwek” yang seragam. Baik “dunia Islam Arab” maupun “dunia Kristen Amerika” sangat beragam, majemuk, dan sangat kompleks: kelompoknya, mazhabnya, suku-bangsanya, kultur-tradisinya, pandangan keagamaannya, sikap politiknya dan seterusnya.



Karena itu keliru besar jika menganggap Amerika itu adalah “negeri kafir Kristen-Yahudi” yang anti-Islam seperti yang didakwahkan secara konyol oleh kelompok “Islam pentungan” itu. Ini sama kelirunya yang menganggap Arab atau Muslim itu anti-Amerika atau anti-Kristen. Bahkan menurut pencandraan para ilmuwan sosial, populasi kaum Muslim sebentar lagi akan menyalip warga Yahudi di Amerika hal itu dikarenakan kaum Muslim suka memproduksi anak, selain faktor lain tentunya (seperti migrasi). Menjadi Muslim juga mudah: hanya membaca sebaris kalimat syahadat sim salabim ting jadilah Muslim.

Ada cukup banyak kaum Muslim dari berbagai suku-bangsa yang tinggal di Amerika: Afrika, Arab, Iran, India, Pakistan, Bangladesh, Turki, Kurdi, Afganistan, Indonesia, negara-negara Muslim pecahan Uni Soviet (Kazahtan, Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgistan, dlsb), atau bahkan kaum “bule Muslim” itu sendiri yang menjadi mualaf, baik setelah menikah dengan suami Muslim atau istri Muslimah atau lantaran ketertarikan sendiri dengan ajaran-ajaran Islam. Dari sekian banyak suku-bangsa, warga Afrika-Amerika-lah yang paling banyak mendominasi keislaman di Amerika (mereka sering disebut dengan “Black Muslims”).

Dalam konteks sejarah, meski dipastikan kaum Muslim sudah mendarat di Amerika jauh sebelum pendaratan Christopher Columbus (1451 – 1506), arus migrasi kaum Muslim ke AS dalam jumlah signifikan baru terasa sejak akhir abad ke-18 terutama setelah pendirian negara AS pada tahun 1776. Kala itu, sebagai penguasa baru menggantikan Inggris, Amerika membutuhkan banyak budak untuk dipekerjakan di berbagai sektor pembangunan serta pembukaan lahan baru (babat alas) di berbagai wilayah di AS yang masih belantara tak bertuan. Para budak itu kebanyakan didatangkan dari Afrika. Tercatat pada tahun 1800, ada sekitar 500 ribu budak dari Afrika di AS. Para sejarawan, misalnya Michael Gomez, menaksir sekitar 30% dari para budak laki-laki dan 15% budak perempuan beragama Islam. Hal ini bisa dimaklumi mengingat para budak itu didatangkan dari berbagai kawasan Afrika yang diantaranya sudah lama diislamkan oleh para penguasa Muslim, misalnya Afrika Utara dan Afrika Barat.

Petinju legendaris Muhammad Ali yang nama aslinya Cassius Marcellus Clay yang meninggal beberapa hari lalu adalah dari generasi Afrika-Amerika ini. Lalu, bagaimana kisah orang-orang kulit hitam Afrika di Amerika seperti Ali ini kemudian berbondong-bondong masuk Islam? Jangan kemana-mana, panteng terus di channel FB-ku ini he he

Kent Vale, Singapore

Bersambung ke  Muhammad Ali dan Islam di Amerika (2)

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Kamis, 07 Juli 2016

Lebaran, Ketupat, Sungkem, dan Halal Bihalal

Semua postinganku sebetulnya bertujuan untuk mendidik publik masyarakat agar bersikap cerdas dan dewasa dalam menyikapi isu-isu sosial-kemanusiaan-keagamaan. Menggugah masyarakat akan pentingnya makna toleransi dan pluralisme dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa, dan bernegara. Menyadarkan akan bahaya "etnosentrisme" dan pentingnya "relativisme budaya" dalam menyikapi kemajemukan umat manusia. Menghargai tradisi sendiri, budaya sendiri, bahasa sendiri, bangsa sendiri, dan negara sendiri diatas tradisi, budaya, bahasa, bangsa, dan negara lain tanpa harus merendahkan tradisi, budaya, bahasa, bangsa, dan negara lain itu.



Lebaran berarti "lebar" atau "selesai". Bisa juga berarti "lebur" yang berarti "hangus" atau "lenyap". Tentu saja lenyap segala kesalahan dengan jalan saling memaafkan satu sama lain. Konon tradisi ini pertama kali digagas oleh Sunan Bonang yang bertujuan untuk "menyempurnakan" bulan suci Ramadan. Jika dengan puasa, Tuhan mengampuni dosa-dosa kita dengan-Nya, maka dengan saling meminta maaf kepada sesama, lenyaplah dosa-dosa dan kesalahan kita dengan sesama umat manusia. Denagn demikian, dosa dengan Tuhan lebur, dosa dengan sesama manusia juga lebur.
Lambang dari pengampunan kesalahan dan permintaan maaf itu disimbolkan dengan ketupat atau kupat dalam Bahasa Jawa yang berarti "ngaku lepat" atau mengakui kesalahan atau kekhilafan. Tradisi makan kupat ini konon pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijogo, satu-satunya anggota Walisongo yang "njawani" dan gemar nguri-uri atau merawat tradisi dan kebudayaan lokal.
Selain makan ketupat, Lebaran juga diiringi dengan tradisi "sungkeman", sebuah tradisi Jawa yang konon dimulai dari Pangeran Samber Nyowo atau KGPA Arya Mangkunegara I dari Keraton Kartasura. Sungkem adalah sebuah tradisi permintaan maaf dan sekaligus permintaan berkah dari orang tua atau orang yang dituakan.

Terakhir adalah halal bihalal. Nah ini sejarahnya agak rumit dan banyak versi. Tetapi diantara sekian versi, saya menganut versi yang mengatakan bahwa nama "halal bihalal" itu diperkenalkan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), salah satu pendiri NU. Konon dulu, Presiden Sukarno minta nasehat Mbah Wahab untuk mengatasi perselisihan, ketegangan, dan konflik para elit poltik di awal-awal kemerdekaan RI. Mbah Wahab kemudian mengusulkan kepada Bung Karno untuk mengundang semua elit politik dari berbagai etnis dan agama dalam sebuah acara silaturahmi akbar di "istana" yang dinamakan "Halal Bihalal" tujuannya supaya saling "menghalalkan" dan "memaafkan" kesalahan, tidak ribut melulu dan saling "mengharamkan" dan "menyalahkan".

Demikian sekilas "santapan rohani" dari Negeri Singa. Insya Allah, besuk mudik kampung untuk ikut merayakan Lebaran, makan kupat, sungkeman, dan halal bihalal.

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Rabu, 06 Juli 2016

TUAN RUMAH TERKEJAM DI HARI YANG FITRI


Saya tahu, teman saya adalah tuan rumah yang kejam. Tapi lebaran kali ini, saya tetap harus mendatanginya. Seberapa kejamkah dia, hingga saya tidak mau berlebaran?
Saya rasa sekejam apapun dia sebagai tuan rumah, saya tidak punya alasan untuk memutus silaturahmi.
Jadi pagi ini, di hari raya yang agak mendung, saya telah duduk di ruang tamunya. Setelah berbasa-basi, saya melirik kaleng Khong Guan di atas meja. Saya membayangkan sebentar lagi menggigit biskuit dengan kismis di dalamnya. Ini salah satu jenis yang paling saya suka.
Ternyata kekejaman tuan rumah belum berubah. Saat saya membuka kaleng biskuit, saya hanya menenukan rengginang warna merah jambu. Keras dan kasar. Ini jenis penipuan klasik saat lebaran. Mungkin nasi aking untuk membuat rengginang kurang lama dijemurnya, hingga alot digigit. Butuh setengah jam untuk menghabiskan sepotong rengginang.

Meskipun dia adalah tuan rumah yang kejam, tapi saya adalah tamu yang beradab. Tidak mungkin saya campakkan rengginang alot itu di depan mukanya. Itu sungguh tidak sopan.
Obrolan kami terus dilanjutkan. Mata saya tertumpu pada toples nastar. Bentuknya bulat terbuat dari plastik transparan. Isinya kelihatan masih penuh. Saya tertarik dengan irisan keju kecil di ujungnya.
Pelan-pelan tangan saya meraih toples kecil itu. Tanpaknya masih baru. Mungkin karena saya tamu pertama yang datang ke rumahnya pada lebaran ini. Tapi saya kesulitan membuka tutupnya. Sepanjang obrolan saya sibuk mencari ujung solatip yang merekatkan tuup toples itu. Sial. Saya menghabiskan 30 menit berbasa-basi dengan jari tangan terus memutari tutup toples, hasil akhirnya nihil. Entah dimana ujung solatip itu.
Sudahlah. Nastar memang belum rezeki saya, pikirku. Bagaimana jika kacang atau kolang kaling? Hmmm, boleh juga. Tapi kacangnya juga berada di toples yang sama dengan nastar. Masih penuh isinya. Saya trauma dan tidak berani lagi mencari ujung solatipnya. Trauma itu telah meninggalkan bekas sangat dalam pada diri saya.


Mungkin hanya manisan kolang-kaling rezeki saya. Penutupnya pasti gampang dibuka, sebab ini adalah toples beling. Tidak mungkin ada solatip di tutupnya. Alhamdulillah, benar saja. Bukanya memang gampang.
Tapi, busyet dah. Rupanya tuan rumah yang kejam ini tidak menyiapkan piring kecil beserta sendoknya. Bagaimana caranya saya makan manisan kolang kaling, yang licin dan lengket itu? Apakah saya harus mencomot sebiji lalu memasukannya langsung ke mulut? Ah, itu sangat tidak sopan.
Tapi apakah saya harus pulang dengan tangan hampa? Pikiran-pikiran berkecamuk. Berbagai rencana disusun, tapi untuk menjalankannya saya butuh situasi yang kondusif.
Untung saja ada tamu lain yang mampir ke rumahnya. Sepertinya tamu itu cuma sekadar mengucapkan selamat lebaran. Tuan rumah beranjak untuk menyambut tamunya yang baru.
Buru-buru tangan saya masuk ke toples manisan kolang-kaling, mencomot satu buah. Begitu saya angkat kolang-kaling yang licin itu malah melompat keluar. Melejit dari genggaman tangan. Jatuh di lantai, dekat kaki tuan rumah yang kejam itu.

Untung dia tidak memperhatikan. Saya rasa dia masih sibuk berbasa-basi dengan tamu barunya.
Kakinya bergerak sedikit. Saya mulai khawatir, ketika langkahnya mendekati biji kolang kaling di lantai meramik itu. Ah, benar saja. Dia menginjak kolang-kaling yang licin, lalu --gubrak! Saat tubuhnya oleng sebelah tanganya meraih taplak meja. Segelas kopi ikut tumpah menyiram baju koko barunya yang berwarna putih bersih.
Setelah dia membersihkan diri, saya buru-buru pamit pulang. Sebetulnya dia menahan saya, tapi seperti biasa, saya beralasan harus ke rumah famili lain. Jadi dia tidak mungkin menahan saya terus di ruang tamunya.

Ketika berpamitan, dia memeluk saya sangat erat. Saya pikir dia merasa berat melepaskan sahabat lamanya pulang. Kami memang jarang bertemu. Mungkin hanya setahun sekali saja.
Tapi rupanya bukan itu. Dalam pelukan eratnya dia berbisik. "Aku tahu kamu sengaja menjatuhkan kolang-kaling ke dekat kakiku," katanya. Pelukannya tambah erat.
"Kamu juga sengaja menambah solatip di toples nastarmu," jawabku tidak mau kalah. Lalu dia melepaskan pelukannya. Memandang wajahku dalam-dalam.
"Kamu tidak berubah," katanya lagi. Kali ini wajahnya serius.
"Kamu juga tidak berubah. Lebaran tahun lalu, semurmu cuma berisi lengkuas. Aku makan ketupat hanya dengan kuah semur sambil menghisap-hisap lengkuas. Aku masih ingat itu," balasku.
"Tapi tahun lalu aku menyediakan permen karet," dia seperti membanggakan diri.
"Iya. Kamu juga menyajikan tepung gula. Kalau permen karet sudah tidak manis, kamu mempersilahkan tamumu mencocolnya dengan tepung gula. Begitu terus berulang-ulang. Mulut kami gak sempat makan kue yang lain," balasku.

"Aku berusaha jadi tuan rumah yang baik meski harus mengorbankan baju baruku."
"Siapa bilang. Kamu adalah tuan rumah yang kejam."
Lantas kami saling berpandangan. Dalam sekali.
Lalu kami tertawa. Tertawa sangat keras di hari yang fitri itu. Karena hidup begitu menyedihkan, kami ingin tertawa-tawa saja sepuasnya.


Penulis: Eko Kuntadhi

Selamat Idul Fitri 1437 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Read more ...

Senin, 04 Juli 2016

Penyakit Tahunan Umat Islam


Setiap bulan puasa, sejumlah kelompok dan umat Islam (sejumlah lo ya, gak semuanya, nanti ada yang menuduh lagi saya anti Islam dan kaum Muslim) di Indonesia selalu saja ada yang melakukan berbagai tindakan arogan, anarkis, ngamuk, mau menangnya sendiri, betul-betul memuakkan dan memalukan.
Yang rutin mereka lakukan setiap tahun di bulan puasa misalnya, "sweeping" warung-warung yang buka di siang hari, ngobrak-abrik tempat-tempat yang mereka anggap "sarang maksiat", kemudian khotbah dimana-mana pletar-pletor kayak petasan minta semua orang, khususnya non-Muslim, untuk menghormati kaum Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa dengan cara tidak makan-minum di hadapan orang-orang yang berpuasa atau menutup warung makan di siang bolong. Inilah yang saya maksud dengan "penyakit kambuhan tahunan" (sebagian) umat Islam. 



Dengan berlagak seperti "satpam Tuhan", mereka tidak sungkan-sungkan membentak-bentak orang lain atau bahkan melakukan kekerasan terhadap orang/kelompok lain yang menurut mereka tidak "menghormati" bulan Ramadan. Bukankah tindakan ini seperti "anak-anak" balita yang merengek-rengek minta diperhatiin orang tuanya? Atau, barang kali, seperti "Tuan Takur" dalam film India itu atau "tuan-tuan" lain yang "gila hormat"? Apakah kira-kira Tuhan bangga dengan kelakuan arogan mereka?

Jika kita dengan mudahnya minta umat agama lain untuk menghormati ibadah-ritual kita, apakah kita juga sudah melakukan hal yang sama: menghormati ibadah-ritual umat agama lain? Jika kita ingin dihormati orang lain, maka kita juga harus menghormati orang lain. Jika kita merasa sakit karena tidak dihormati orang lain, maka begitulah umat lain juga akan merasakan sakit jika kita tidak menghormati dan bahkan mengolok-olok mereka.

Puasa bukan hanya menahan makan-minum tapi juga menahan hawa nafsu, termasuk nafsu amarah dan mau menangnya sendiri. Tuhan tidak butuh "satpam" atau "satpol PP". Jangankan masalah puasa, soal keimanan dan kekafiran orang saja, Tuhan santai banget. Manusia saja yang ribut.

Akhirul kalam, jika kita minta orang yang tidak berpuasa untuk menghormati orang yang berpuasa, maka kita yang berpuasa juga harus menghormati mereka yang tidak berpuasa. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang berpuasa, dan selamat menikmati makan-minum seperti biasa bagi yang tidak berpuasa.

Kent Vale, Singapore

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Indonesia

Air Hidup

Advertise Here

Designed By VungTauZ.Com