Breaking News

Islam

Politik

Tampilkan postingan dengan label Arab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arab. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Oktober 2016

Pluralisme Kafir


Karena sedang “hangat” dan ramai dibicarakan, saya ingin mengulas sedikit tentang sejarah dan implementasi kata “kafir” agar tidak disalahpahami dan digunakan untuk hal-hal yang bukan-bukan. Kata “k-f-r” dan padanannya (kafir, kufr, kuffar, takfir, kafirah, kafirun, dst) ini memiliki makna yang sangat plural, majemuk, dan kompleks.

Dari aspek sejarah dan perkembangan bahasa, kata k-f-r juga sangat fluktuatif dan tidak stabil penggunaannya. Perlu pemahaman dan pengetahuan yang dalam, luas, dan utuh untuk memahami akar kata dan sejarah penggunaan kata “k-f-r” ini yang dimaksudkan agar kita tidak mudah bilang “kopar-kapir” terhadap seseorang dan kelompok tertentu.


Meski jelas kata “kafir” adalah Bahasa Arab, tetapi kata ini jelas berakar dari Bahasa Hebrew (“kipper” atau “kofer”) atau Persia (“gaur” atau “gabr”) atau Aram (“gabra”) yang jauh lebih tua ketimbang Bahasa Arab. Menarik untuk disimak, dalam bahasa kuno India, Sanskrit, juga disebut kata “kapish” atau “kapis” yang maknanya kurang lebih sama dengan “kafir”. Dalam Bahasa Hebrew, kata “kipper” atau “kofer” memiliki sejumlah makna seperti menolak, menutupi, melenyapkan, merepresentasikan, mengtransfer, atau bahkan menebus atau tebusan, dlsb. Hal yang sama juga dalam Islam seperti nanti saya jelaskan.
Kata “k-f-r” juga memiliki padanan di berbagai bahasa seperti Turki (“gavur”), Albania (“kaur”), dan “Kafiristan” yang kini berubah menjadi Provinsi Nuristan di Afganistan. Masyarakat Muslim di Nuristan, menyebutnya “kapir” (seperti dalam Bahasa “Indonesia gaul”). Kata “kapir” di Nuristan ditujukan kepada “masyarakat pribumi” Kalash yang tinggal di kawasan pegunungan Hindu Kush yang memiliki agama, kepercayaan, dan kebudayaan berbeda dengan mayarakat Islam di daerah itu.

Rezim Turki Usmani (Ottoman) dulu menggunakan kata “giaour” atau “gawur” yang juga bermakna “kafir”. Kata ini khususnya ditujukan untuk masyarakat Kristen Ortodoks di Balkans, tapi bukan untuk kelompok non-Muslim lain (termasuk non-Kristen Ortodoks). Kata “giaour” ini diambil dari nama sosok “manusia monster” dalam novel Vathek: an Arabian Tale, karya William Beckford (terbit pada 1782), mungkin seperti “Tuan Takur” dalam film India.

Menariknya, Saudi dulu menyebut rezim Turki Usmani yang Muslim sebagai “kafir” penjajah Arabia, sementara Inggris yang “jelas-jelas kafir” malah tidak dikafirkan. Sama seperti Imam Khomaini atau Ahmadinajad yang mengafirkan Israel dan Amerika tapi tidak pada Uni Soviet / Russia maupun China. Kemudian, di Persi (“pre-modern Iran”), kata “gaur” atau “gabr” merujuk pada penganut Zoroastrianisme (atau Majusi dalam Islam). Di Afrika dulu lain lagi, kata “kafir” ditujukan untuk untuk masyarakat suku asli (native) seperti pernah ditulis oleh Dudley Kid, The Essential Kafir.

Sementara itu di era Kerajaan Sasani, kata “gabr” ditujukan untuk masyarakat petani di Mesopotamia. Menarik juga untuk disimak, salah satu arti kata “kafir” dalam Bahasa Arab adalah juga “petani”. Hal ini masih tercermin dalam Al-Qur’an, misalnya Surat Al-Hadid ayat 20: “Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani…”. Disini Al-Qur’an menyebut “kuffar” (jamak dari “kafir”) untuk “para petani”. Bukan “petani kafir” tapi kata “kafir” disini memang berarti “petani”. Jadi memang kata “k-f-r” ini sangat plural dan memiliki makna dan “konteks sosial” yang sangat kompleks dan beragam. Jadi, mulai sekarang, jangan suka sembarangan “mengafirkan” orang lain ya, entar dimarahi abi-umi lo?

Bagaimana penjelasan selanjutnya tentang “pluralisme kafir” dalam Islam, jangan kemana-mana, panteng terus di Facebook ini (bersambung).

Jabal Dhahran, Arabia

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Kamis, 20 Oktober 2016

Ayam Datang, Babi Hilang


Ini lanjutan kuliah virtual tentang "Bab Perbabian" yang sempat tertunda. Untuk sementara lanjutan pembahasan "Bab Perkafiran" saya tunda dulu sebentar. Seperti pernah saya singgung sebelumnya (silakan review postinganku sebelumnya), ada sejumlah teori yang dikemukakan oleh sejumlah pakar (sejarawan, arkeolog, antropolog) tentang fenomena punahnya babi dari mayoritas kawasan Timur Tengah (meski tidak semuanya).


Salah satu teori yang belum sempat saya kemukakan adalah tentang hadirnya ayam sebagai bagian penting dalam "subsistence system" masyarakat Arab dan Timur Tengah. Teori ini dikemukakan oleh Richard Redding, misalnya dalam tulisannya, "The Pig and the Chicken in the Middle East". Menurutnya, berdasarkan kajian antropologi sejarah dan didukung oleh sejumlah data arkeologis, "kehadiran" ayam menjadi faktor fundamental bagi lenyapnya hewan babi di Arab dan Timur Tengah pada umumnya.

Asal-usul ayam tentu saja bukan dari Timur Tengah tapi dari Asia Tenggara. Hewan khas Timur Tengah waktu itu adalah keledai, onta, domba, termasuk babi yang menjadi primadona masyarakat di kawasan ini. Kaum nomad dan pelayar / pelaut Asia Tenggara (termasuk "Indonesia" tentunya) yang memperkenalkan mahluk bernama ayam ke kawasan Arab/Timur Tengah ini melalui jalur dan jaringan perdagangan dan pelayaran Samudera Hindia.

Kehadiran ayam disambut dengan riang-gembira oleh masyarakat suku Timur Tengah di daerah pedesaan, sub-urban, dan Arab nomad (pastoral nomads atau nomadic pastoralists) yang hidupnya mobile, berpinda-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada sejumlah alasan kenapa mereka lebih jatuh hati pada ayam daripada babi.

Pertama, ayam dipandang sebagai sumber protein yang jauh lebih efisien dari sisi ekonomi daripada babi. Tidak seperti babi yang yang boros makanan dan minuman yang juga dibutuhkan oleh manusia, ayam, karena perutnya kecil, hanya perlu sedikit makanan.

Kedua, ayam menghasilkan "sumber sekunder protein", yaitu telur. Ini tentu jauh lebih efisien. Ibaratnya: sambil menyelam minum air, sambil makan daging ayam, makan pula telurnya. Apalagi bulu ayam juga bisa dipakai untuk "korek kuping" he he.

Ketiga, ukuran ayam jauh lebih kecil ketimbang babi (kecuali "ayam kampus" lo ya yang mungkin ada yang bongsor he he) sehingga efektif dan efisien untuk dikonsumsi oleh keluarga dalam 24 jam kapan saja kalau lapar. Masaknya juga gampang, tidak perlu banyak alat. Kalau menyembelih babi repot karena dagingnya terlalu banyak dan belum ada kulkas untuk menyimpan. Kalau mereka menyembelih babi, sebagian daging harus ditukar dengan barang-barang lain (dalam antropologi istilahnya "reciprocal exchange") supaya tidak mubazir.

Keempat, ayam gampang diangkut kemana-mana (biasanya ditaruh di belakang punggung keledai atau onta) sesuai dengan kultur masyarakat nomad, sedangkan babi terlalu gembrot dan gak bisa jalan jauh berpindah-pindah. Babi juga tidak bisa dipakai sebagai alat transportasi seperti onta atau keledai. Jadi, fungsi babi seperti ayam, yaitu sebagai sumber protein saja. Oleh karena itu daripada memelihara babi yang boros dan ngrepotin, ya diceraikan saja si babi, lalu pindah ke ayam yang lebih "langsing" dan oke.

Sejumlah kajian antropologi juga menunjukkan suku-suku nomads di Arab dan Timur Tengah (seperti Beduin, Bahktiari, Luri, Qashqai, dlsb) memang memelihara ayam di tenda-tenda mereka. Mau percaya atau tidak dengan teori ini, terserah saja, emang gue pikirin? he he (bersambung)

Jabal Dhahran, Arabia

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Senin, 13 Juni 2016

Murid Saudi-ku yang Spesial

Di antara sekian ratus murid-murid Arabku semester ini, ada beberapa yang cukup spesial seperti dalam foto ini. Yang satu dari suku Badui, satunya lagi dari suku al-Faifi (atau al-Fifa). Kedua suku ini sangat unik di Saudi. Nama "Badui" (English: Bedouin) berasal dari kata "badawi" dalam Bahasa Arab yang berarti "penduduk padang pasir". Kata "badawi" sendiri berasal dari akar kata "badiyah" yang berarti "daratan padang pasir". Sebutan "badui" sebetulnya dari orang lain. Mereka sendiri menyebutnya sebagai "Arab".
Suku Badui masa kini yang pecah menjadi berbagai suku dan klan ('asya'ir) merupakan keturunan para nomads yang tinggal dan hidup berpindah-pindah di daerah gurun Arabia dan Suriah. Kini mereka tinggal di berbagai wilayah gurun di Afrika Utara dan Timur Tengah. Dalam sejarahnya, mereka tinggal di tenda-tenda dan selalu pindah tempat tergantung musim dan cuaca. Ciri lain dari kelompok ini adalah penggembala onta dan kambing.


Masyarakat Badui dikenal sangat sederhana, ramah, pemurah, dan sangat menghormati tamu. Seperti ditunjukkan dalam berbagai studi antropologi, konon jika ada tamu atau orang asing datang atau mampir, orang-orang Badui akan minta para tamu untuk menginap di tenda-tenda mereka sambil menikmati hidangan ala kadarnya, khususnya "teh Arabia" yang aduhai rasanya. Bukan hanya itu, mereka juga akan memotong kambing atau domba untuk dihidangkan kepada sang tamu tadi, meskipun sebetulnya mereka sangat membutuhkan domba / kambing itu. Bagi mereka, yang penting tamu kenyang meskipun mereka lapar.
Meski cukup banyak dari komunitas Badui yang sudah mengalami "transformasi gaya hidup" dalam hal berpakaian (seperti muridku ini yang mengenakan pakaian formal khas Saudi) dengan tinggal di kota-kota, mereka masih memelihara dan mempraktekkan tradisi dan warisan kebudayaan Baduwi seperti berpuisi / berpantun, musik tradisional, "tarian pedang" dlsb. Mereka juga menggelar aneka "festifal Badui" di berbagai daerah.


Selain Suku Badui, Suku Al-Fifi juga unik. Mereka hidup dan tinggal di pegunungan berbatu atau dataran tinggi yang sangat terjal dan sulit dijangkau di wilayah Jizan, Saudi. Karena medan darat yang sangat sulit untuk transportasi, akhirnya mereka mengembangkan "transportasi udara" yang antik (seperti dalam foto ini). Sangking tingginya daerah dimana suku ini tinggal, maka daerah ini sering disebut sebagai "tetangga bulan" atau "surga bumi". Suku Faifi ini memiliki kostum / busana, makanan, adat, tradisi & kebudayaan sendiri. Mereka juga memiliki Bahasa Arab sendiri yang tidak bisa dipahami oleh masyarakat Arab lain. Hanya yang orang-orang yang bermental baja (seperti muridku ini) yang mau berkelana mencari ilmu dan berani berkompetisi dengan suku-suku lain. Melihat mereka berdua, saya seperti melihat diriku sendiri: orang gunung dan mantan penggembala kambing...

Jabal Dhahran, Arab Saudi

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Minggu, 05 Juni 2016

Euforia Bahasa Arab


Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah orang yang menuduh saya anti Bahasa Arab hanya karena saya menyindir sejumlah kaum Muslim di Indonesia yang suka "berantum-antum" dan "berikhwan-ikhwat" dalam berkomunikasi. Lucunya lagi, saya dianggap "anti Arab" dan "anti-Islam". Begini ya bapak, ibu, saudara, saudari yang budiman. Saya sama sekali tidak anti Bahasa Arab, apalagi anti Arab (baik orangnya maupun budayanya) dan anti-Islam. Sama sekali bukan.

Bagaimana mungkin saya anti Bahasa Arab wong saya belajar bahasa ini sejak kecil: di madrasah dan pesantren. Juga belajar berbagai kitab tentang tata-bahasa Arab: dari Jurumiyah, Imrithi sampai Alfiyah Ibnu Malik. Di kelas saat mengajar, meskipun bahasa pengantar memakai Bahasa Inggris, saya juga sering menulis dengan Bahasa Arab khususnya untuk menjelaskan sejumlah teori, konsep, dan istilah dalam antropologi dan ilmu-ilmu sosial lain yang kurang familiar buat mahasiswa Arab. 


Tidak hanya itu, saya juga dengan senang hati belajar perkembangan Bahasa Arab dengan para mahasiswaku karena implementasi bahasa ini sangat luas dan masing-masing kawasan memiliki dialek dan kadang kosa kata yang berlainan bukan hanya antar-negara, bahkan dalam satu negara itu sendiri. Di Saudi sendiri juga bermacam-macam. Misalnya Bahasa Arab yang digunakan suku Al-Faifa (atau Al-Fifa) yang tinggal di pegunungan tidak bisa dimengerti oleh suku-suku lain di Saudi.

Singkatnya, saya sama sekali tidak mempermasalahkan kita mau berkomunikasi dengan bahasa apa saja: Arab, Inggris, Perancis, Mandarin, Korea, Indonesia, Jawa, Betawi, Sunda, dlsb. Dalam dunia modern yang sudah mengglobal seperti sekarang ini, kita tidak bisa menghindar dari pengaruh aneka bahasa manusia di jagat ini. Semakin banyak menguasai bahasa justru semakin bagus karena buku/tulisan sebagai sumber-sumber ilmu-pengetahuan ditulis di berbagai bahasa.

Yang saya kritik adalah anggapan, persepsi, apalagi keyakinan bahwa berkomunikasi dengan Bahasa Arab itu "lebih agamis", "lebih Islami", atau "lebih syar'i" ketimbang dengan bahasa lain. Semua bahasa itu sama derajat dan kualitasnya. Ucapan "salam" dalam Bahasa Arab itu ya sama dengan "syalom" (Ibrani), "shlomo" (Syriac-Assyria) atau "selamat" (Melayu / Indonesia), dlsb. Bukan hanya kaum Muslim, saya kadang juga merasa aneh dengan sejumlah umat Kristen yang memandang dan meyakini kata syalom "lebih Kristiani" (mestinya kan "lebih Yahudi"). Begitu pula kata "ana-anta/um" sama saja dengan "ane-ente", "saya-kamu/sekalin", "inyong-rika/kabeh" dlsb. Ucapan "shabahul khair" ya sama saja dengan selamat pagi, sugeng injing atau wilujeng injing. Sebagai sebuah sapaan, tidak ada bedanya makna "As-salamu alaikum" dengan "sampurasun" (sampura ning ingsun) misalnya. Jadi tidak usah euforia dan lebay lah dalam berkomunikasi. Wong teman-temanku yang "asli Arab" (bukan "Arab KW") saja biasa bilang "good mornang-good morning" tiap ketemu...

Jabal Dhahran, Arab Saudi

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Jumat, 03 Juni 2016

KEMESRAAN SAUDI ISRAEL


Setelah puluhan tahun bermain kucing kucingan agar hubungan akrab mereka tetap menjadi rahasia, akhirnya kini kakak beradik Israel dan Saudi secara terbuka bermesraan di hadapan publik dunia.
Semestinya mereka pun merangkul Iran menjadi saudara agar pertahanan mereka lebih kokoh di Timur Tengah, tetapi mereka malah memusuhinya.

SAUDI ISRAEL

Lagipula, apakah Iran bersedia dirangkul kemudian bersama berleha leha dengan sejumlah wanita cantik yang dipasok oleh Paman Sam ??

Saya tidak yakin hal itu akan terjadi.

Iran bukanlah type pria klemat klemet seperti peran Commudus dalam film Gladiator walaupun dia sudah mengenakan pakaian perang tapi tetap saja terlihat kemayu.
Iran lebih berperan sebagai seorang Maximus yang tanpa busana pangeran pun jelas tampak seorang Ksatria Maco Jantan.

Puluhan tahun terkena sanksi embargo bukannya memohon ampun apalagi mengemis ngemis, melainkan Iran semakin giat membangun kekuatan yang lebih dahsyat dari sebelum sebelumnya.
Iran layaknya singa jantan yang tak akan berubah menjadi seekor kelinci. Iran tidak pernah takut akan ketinggalan zaman hanya karena diasingkan dan dikucilkan. Iran tau bahwa semuanya itu hanyalah fatamorgana dunia.

(berpalinglah dari apa yang menakjubkanmu di dunia ini karena hanya sedikit darinya yang bersahabat denganmu - Imam Ali bin Abi Thalib).

Penulis: Raymond Liauw
Read more ...

Indonesia

Air Hidup

Advertise Here

Designed By VungTauZ.Com