Breaking News

Islam

Politik

Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 November 2017

Antara Trump dan Anies


Dalam beberapa hal gaya Trump itu mirip-mirip dengan Anies. Banyak yang bilang keduanya "rasis": Trump anti non-pribumi Amerika, sedang Anies anti non-pribumi Indonesia. Padahal, keduanya sama-sama pendatang.

Warga pribumi Amerika itu ya, antara lain, suku-suku Indian (sekarang disebut "native Americans"). Emang Trump keturunan suku-suku Indian? Orang-orang kulit putih di Amerika seperti Trump kan keturunan kaum migran, pengungsi, dan pendatang dari Eropa. Sama seperti para bule Australia. Semua migran.

Anies juga sama. Ia keturunan migran Arab-Yaman (khususnya dari daerah Hadramaut di Yaman selatan) yang dulu berbondong-bondong berlayar ke Nusantara karena di negerinya dilanda perang dan paceklik berkepanjangan. Jadi orang Arab-Yaman ke Nusantara itu dulu untuk jualan dan mencari makan. Ada beberapa kelompok migran Arab-Yaman di Nusantara: sadah, irshadi dan qabail. Baswedan masuk grup irshadi yang di Yaman masuk kelompok sosial sedang-sedang saja: elit bukan, gembel juga bukan.
Jika yang dimaksud Trump dengan "non-pribumi Amerika" itu khususnya kaum Latinos, Blacks, dan Arabs. Maka, yang dimaksud dengan "non-pribumi Indonesia" itu khususnya adalah Cina (Tionghoa).


Apakah Trump dan Anies tidak tahu atau tidak sadar kalau mereka sebetulnya juga bukan pribumi Amerika dan Indonesia? Mereka berdua jelas tahu betul dan sadar benar kalau pendatang! Emangnya mereka berdua itu Mamat yang nggak tahu-tahu dan gak sadar-sadar tapi malah bangga dengan ketidaktahuannya dan ketidaksadarannya he he?
Meskipun banyak yang bilang kalau Trump dan Anies itu "rasis". Tapi bagiku mereka itu tidak rasis. Mereka hanya memanfaatkan sentimen rasisme yang sudah tumbuh-berkembang di sebagian kelompok masyarakat. Mereka hanya "mengfasilitasi" atau mewadahi kemauan para gerombolan bigot dan rasis di kedua negara. Dengan kata lain, mereka berdua hanya sebagai "corong" dan "echo" para Mamat-Mimin-Momon di kedua negara.

Mereka berdua menggunakan sentimen rasisme dan isu "pri-nonpri" itu hanya sebagai "alat jualan" dalam kampanye politik untuk mendulang suara dan meraup dukungan. Itu saja. Pidato berapi-api Mr. Trump yang mengatakan "non-pribumi sering menyantap makan siang jatah orang pribumi Amerika" atau Anies yang bilang "Kini saatnya pribumi memimpin" hanyalah retorika belaka yang tujuan utamanya hanya untuk menyenangkan para pendukungnya, terutama kaum Mamat-Mimin-Momon itu.

Apakah Trump anti-Arab dan Muslim? Tidak. Bagaimana mungkin anti-Arab dan Muslim wong dia itu berauliya dengan para tokoh dan pengusaha Arab dan Muslim. Trump misalnya dikenal sebagai sahabat dekat Prince Alwaleed bin Talal yang dulu pernah membeli Yacht mewah milik Mr. Donald bernama "Trump Princess" disaat Trump dillit utang karena perusahaan real estate-nya bangkrut. Kini yacht itu bernama Kingdom 5KR.

Anies juga bukan anti-China. Bagaimana mungkin anti-China wong dia dan Uno itu justru dikelilingi dan "diberkati" oleh para tokoh dan pengusaha China, khususnya para tokoh dan pengusaha China yang anti-Ahok he he. Nih lihat foto ini, bagaimana "30 naga" mengelilingi dan "memberkati" Anies he he. Saatnya pribumi memimpin? Preetttt...

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Rabu, 08 November 2017

Jaman NOW Kok RASIS


Hati-hati dengan kelompok rasis. Waspadalah dengan politik rasisme. Masyarakat harus hati-hati dan tetap waspada, jangan mau diadu-domba dan digiring oleh para "pecundang kesiangan" dan tokoh-tokoh "bermental Hitler" atau Trump atau "si anu" yang hobi "mainin si sara" dan isu-isu rasisme.
Kaum bigot dan rasis ada dimana-mana, di suku-bangsa manapun: Jawa, Betawi, Sunda, Cina, Arab, Eropah (pakai "h"), Persi, Afrika, India, Ngamerika, dlsb. Oleh gerombolan rasis ini, rakyat hanyalah dijadikan sebagai "bahan bakar" belaka: sebagai pembuat spanduk, tukang yel-yel waktu demo, pemandu sorak pawai, dan seterusnya.


Mereka tidak akan mendapatkan apa-apa di kemudian hari, paling-paling cuma dapat pegel-pegel karena disuruh demo terus sama nasbung dan uang recehan doang he he. Di mana-mana, rakyat kecil memang hanya dijadikan sebagai "tumbal" oleh sejumlah "kelompok menengah-elit tengil" yang rakus bin serakah dengan kekuasaan dan keduniaan.
Kita hendaknya melihat orang dari pemikiran, tindakan, atau kelakuan orang, bukan dari etnik dan suku-bangsa mereka.

Memang ada tokoh-tokoh China yang "bermental Eddy Tansil" alias Tan Tjoe Hong yang berengsek mengemplang trilyunan uang rakyat. Entah dimana rimbanya dia sekarang kok lenyap seperti Bang Tayyip gak pulang-pulang kayak "si anu". Ingin sekali saya memberi hadiah "bom panci" untuknya. Atau Si Felix meskipun kemana-mana sering pakai baju batik, tapi ngomongnya khilafah melulu. Sepertinya si doi cinta mati sama mbak khilafah.

Tetapi ada pula tokoh Tionghoa seperti Pak Kwik Kian Gie atau Pak Eddie Lembong atau Pak Sudhamek yang sangat nasionalis dan tidak diragukan lagi jiwa nasionalisme, spirit keindonesiaan, dan semangat kebangsaannya.

Dulu, di zaman kompeni dan perjuangan kemerdekaan, juga ada tokoh-tokoh Tionghoa yang sangat nasionalis dan anti-kolonial seperti Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw, atau Laksamana John Lie Tjeng Tjoan. Liem Koen Hian dulu mendirikan Partai Tionghoa Indonesia untuk membantu proses kemerdekaan RI. Ia juga memimpin surat kabar Sin Tit Po sebagai "corong gerakan nasionalisme yang anti penjajah". Tetapi ada pula kelompok Tionghoa yang bergabung di Chung Hwa Hui yang pro-Tionghoa dan Belanda.

Kubu Arab juga sama. Dulu ada tokoh bernama Syaikh Salim bin Abdullah bin Sumair, kakeknya Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi di Surabaya yang sangat masyhur itu, yang sangat anti-penjajah kolonial Belanda. Tetapi juga ada tokoh bernama Sayyid Usman bin Abdullah al-Hussaini yang pro-Belanda. Atas usulan Christian Snouck Hurgronje, Sayyid Usman diangkat sebagai penasehat Belanda untuk mengurusi masyarakat Arab di Hindia Belanda yang sekarang bernama Indonesia.

Dewasa ini juga banyak para habib seperti Habib Luthfi bin Yahya, Habib Syech Abdul Qadir Assegaf, Habib Ahmad Muthahar, dlsb yang sangat toleran, humanis, nasionalis, dan masya Allah lembutnya. Tetapi ada juga sejumlah habib yang tergabung di "Kelompok Petamburan" yang assuudahlah...

Jadi, sekali lagi, lihatlah atau fokuslah pada pemikiran dan tindakan, bukan etnis dan suku-bangsa seseorang. Politik rasisme hanya akan merugikan kita dan anak-cucu kita semua. Masak jaman now kok cuma HP-nya doang yang smart he he

Jabal Dhahran, Arabia
Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Rabu, 01 November 2017

ISU PRIBUMI MENEMBAK JOKOWI


Karl Marx membangkitkan revolusi sosial dengan membenturkan kaum proletar dan borjuis. Dasarnya adalah kecemburuan ekonomi. Dengan cara itulah diharapkan terjadi kemarahan proletar yang merasa tertindas untuk mengambil alih kekuasaan.

Di Indonesia seruan Karl Marx tampaknya ingin dicobakan lagi. Kali ini isu yang dipakai adalah soal pribumi yang mewakili proletar dan non-pribumi yang diasumsikan mewakili kelompok borjuis. Dasar argumennya sama, membakar kecemburuan sosial dan ekonomi.

Problem kesenjangan adalah masalah laten di Indonesia. Jaman Orde Baru yang menggenjot pembangunan ke arah pertumbuhan ekonomi ternyata gagal menghadirkan trickle down effect dalam bentuk pemerataan. Kesenjangan melebar, terbaca dari rasio gini yang tinggi.

Isu seperti inilah yang dibakar pada saat tragedi 1998. Kebencian rasial yang dibungkus kecemburuan sosial berhasil membakar Jakarta. Apinya menjalar keseluruh Indonesia. Latar belakang itulah dan trauma kerusuhan yang mendasari dibuatnya UU pelarangan penggunaan idiom pribumi dan nonpri.


Jokowi sadar dengan masalah kesenjangan ini. Dia fokus membangun infrastuktur di pelosok yang diharapkan nantinya akan berdampak pada pertumbuhan di daerah. Dengan cara itu diharapkan terjadi distribusi pertumbuhan ekonomi yang ujung-ujungnya akan mempersempit kesenjangan.
Tapi seperti juga sebuah proses, hasil pembangunan membutuhkan waktu untuk merasakan dampaknya. Meski ada penurunan sedikit indeks koefesien gini saat ini, masalah kesenjangan sosial dan ekonomi tetap menjadi problem laten di Indonesia.

Setiap isu soal kesenjangan sosial dan ekonomi telunjuk kita selalu mengarah pada pemerintah. Jika perdebatan soal pribumi dibingkai dengan latar belakang ini kita tahu kemana mana laras senjata sedang diarahkan.

Saya sih membayangkan, sejak pelantikan Gubernur Jakarta, persaingan Pilpres sudah dimulai.

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Kamis, 26 Oktober 2017

TERIMA KASIH PAK ANIES, PAK SANDI


Terimakasih pak Anies Sandi
Ternyata saya baru tahu kenapa warga Jakarta lebih banyak memilih anda untuk memimpin kota ini daripada Ahok..
Ketika Ahok memimpin, bawaannya tegang mulu. Selalu ada amarah dan bentakan. Warga Jakarta kurang enjoy dengan semua itu, karena hidup mereka sudah sulit.
Mana panas, macet dimana2, kalau hujan banjir. Mereka tegang setiap hari, dan Ahok malah menambah ketegangan mereka..
Tapi zaman bapak Anis Sandi beda, beda banget..
Bapak berdua sungguh menghibur. Ada saja lawakan yang diberikan kepada kami supaya kami tertawa. Ada saja perilaku bapak berdua yang membuat kami rileks dan bersenda ria.
Waktu bapak ngomong pribumi, sontak banyak meme yang bicara pribumi. Apalagi waktu bapak Anies klarifikasi bahwa itu maksudnya pribumi di masa kolonial Belanda yang hanya ada di Jakarta, semua langsung kreatif membikin kata-kata kocak, "Belanda ngapain ke Bandung ? Beli peyempuan..."


Belum tingkah pak Sandi yang suka mbanyol. Gaya bangaunya itu lhoo... membuat kami terpingkal. "Kok bisa ya wagub bisa sekonyol itu ? Gak jaim orangnya, asik juga.." Sungguh menbuat kami merasa menjadi generasi milenial kembali..
Kami juga jadi asik waktu bapak barengan naik motor. Mesra sekali, seperti Ropik dan Juleha. Kemana-mana berdua. Duh, jomblo mana yang gak kepengen seperti itu ? Gubernur aja gandengan, masak kamu nggak ?
Kami tahu kok, masalah janji bapak untuk menutup Alexis itu becanda kaaaan ? Kami tahu kok, pak.. Reklamasi juga. Bapak bisaan becandanya..
Dan asiknya lagi, 5 tahun ini akan penuh dengan canda ria. Serasa Warkop DKI, Srimulat, Bagito ma Kwartet S tampil sepanggung kembali. Rame pastinya dengan tingkah dan kelucuan spontan yang tercipta.

Inilah yang gak dipunyai Ahok, yang bawaannya tegang terus. DPR beli UPS, ribut. DPR bikin anggaran seenak udelnya, ribut lagi. Sumpah, gada lucu-lucunya zaman Ahok..
Sebagai Gubernur zaman now, tentu Pak Anies Sandi paham sekali bagaimana bisa membuat warga Jakarta lupa akan masalahnya sehari-hari. Kita kurang hiburan, hibur kami pak, tolong hibur kami...
Saya yakin semua itu gak dibuat-buat. Spontan dan mengalir saja. Seperti ada bakat ngelawaknya bapak berdua. Terimakasih, Tuhan.. Engkau sudah menghadiahkan kami penimpin yang bisa menghibur kepenatan kami..

Saya aja, setiap kali bapak berdua muncul di media langsung ketawa kebahak-bahak. Pasti ada aja ulahnya, sampe kopi saya tumpah saking gak kuat nahan geli.. Terbaik, terbaik...
Terimakasih bapak, nanti kapan-kapan saya terbitkan buku "Mati ketawa cara Anies Sandi".
Katanya, menghibur orang itu ada pahalanya loh pak. Sungguh... Gak percaya ? Yah, Percaya cukur, gak percaya gondrong...

Semoga Tuhan membalas kebaikan pak Anies Sandi selama memimpin dengan gaya berbeda...
Salam seruput kopi, pak...

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Minggu, 22 Oktober 2017

SARA DAN RASIS DI PELANTIKAN GUBERNUR JAKARTA


Mereka bilang kemenangan Anies-Sandi bukan karena politisasi agama. Nah, sekarang spanduk pelantikannya saja seperti provokasi gesekan antar agama. Mengklaim kebangkitan pribumi muslim, katanya.


Apa mereka mau rayakan kemenangan dengan terus menerus meneriakkan kebencian agama dan rasial? Mau jadi apa Jakarta?

Jika begini cara Anies-Sandi dan pendukungnya meminta publik Jakarta menerima Gubernur baru, ini adalah cara paling norak dan bodoh.

Bagaimana akan didukung seluruh rakyat jika mereka sendiri menistakan keberagaman rakyat Jakarta.

Apa kategorisasi muslim dan pribumi masih pantas diteriakkan oleh pendukung seorang Gubernur terpilih? Apa mereka hanya akan memungut pajak dan retribusi dari segolongan rakyat saja? Apa mereka akan melayani segolongan yang satu dan menistakan golongan lainnya?

Lalu apa yang bisa diharapkan rakyat Jakarta yang plural ini dari perilaku para pendukung Gubernur baru yang model begini?

Kemenangan Anies-Sandi bukan kemenagan kaum muslim. Bukan kemenangan pribumi. Itu cuma kemenangan PKS dan Gerindra. Slogan muslim dan pribumi cuma dijadikan tunggangan untuk terus mengobarkan perpecahan.


Shame on you, Mr Governor!

Penulis: Eko Kuntadhi 
Read more ...

Rabu, 17 Mei 2017

Membela Ahok = Membela Islam


Islam adalah agama yang bertumpu pada keadilan dan kemanusiaan. Islam adalah agama yang menjunjung tingggi pada pembelaan terhadap orang/kelompok yang menjadi korban persekongkolan elit. Islam adalah agama yang pro terhadap kelompok tertindas. Islam adalah agama yang memperjuangkan kelompok minoritas, baik minoritas politik, etnis, ekonomi, maupun agama, yang menjadi korban kejahatan sindikat elit.
Ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis Nabi bertebaran mengenai pentingnya memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan di masyarakat.


Kenapa Islam adalah agama yang pro-keadilan dan kemanusiaan serta anti terhadap penindasan dan diskriminasi? Jawabnya karena Islam adalah "agama rakyat", "agama wong cilik", agama yang merepresentasikan kelompok-kelompok minoritas yang tertindas dan dizalimi oleh sistem politik-ekonomi Makah pada waktu itu di abad ke-6/7 M yang sangat elitis, korup, hegemonik, dan sektarian. Islam lahir "dari bawah", bukan "dari atas" (kaum bangsawan atau kerajaan).

Nabi Muhammad bukanlah Siddhartha Gautama (Gautama Buddha) atau Confucius yang berasal dari kelompok elit masyarakat dan kaum cerdik-pandai (filosof, pendidik, politisi, sastrawan, dlsb). Nabi Muhammad adalah orang miskin yatim-piatu. Meskipun Nabi Muhammad berasal dari keluarga yang cukup terhormat dari sisi keagamaan dan spiritualitas, tetapi ia tidak memiliki otoritas politik-ekonomi memadai sehingga selalu menjadi bulan-bulanan para elit politik dan penguasa ekonomi Makah.

Nabi Muhammad dimusuhi oleh para penggede Makah dan elit sontoloyo itu sejatinya bukan karena ia telah "menawarkan Tuhan baru" tetapi lebih pada karena ia membawa dan menawarkan ajaran agama (Islam) yang bertumpu pada doktrin persamaan (egalitarianisme), keadilan, dan kemanusiaan, yang dipandang bisa membahayakan sistem, tatanan, dan sendi-sendi politik-ekonomi yang mereka kuasai selama ini.
Kaum elit politik-ekonomi Makah waktu itu (dan dimana saja pada umumnya) adalah "kaum oportunis-pragmatis" yang tidak mempedulikan agama dan sistem teologi apapun sepanjang bisa diajak kompromi dan membawa keuntungan. Nah, sayangnya ajaran-ajaran Islam itu tidak pro-elit tetapi pro-rakyat bawah sehingga harus dimusnahkan.

Demikianlah Nabi Muhammad dan para pengikut awal Islam di Makah selalu menjadi bulan-bulanan sindikat elit politik-ekonomi-agama: dikejar-kejar, diteror, difitnah, dicaci-maki, diancam bunuh sampai mengungsi ke Abyssinia (Ethiopia) dan Yatsrib (Madinah).

Situasi yang dialami oleh Nabi Muhammad pada abad ke-7 M itu persis menimpa pada diri Ahok di abad ke-21 sekarang. Seperti Nabi Muhammad, Ahok juga dicaci-maki, difitnah, didiskriminasi, diteror, dan diancam bunuh. Seperti Nabi Muhammad, Ahok juga menjadi korban sindikat kaum elit politik, ekonomi, dan agama, yang merasa terancam dengan kehadiran Ahok: terancam karir politiknya (bagi politisi), terancam bisnisnya (bagi pengusaha), serta terancam sulit mengembangkan jenis keislaman konservatif-radikal (bagi "elit Islamis").

Apakah sejumlah ormas Islam tengil yang hobi memobilisasi massa untuk demo dengan mengatasnamakan Islam itu betul-betul membela Islam karena agama ini "telah dinistakan" misalnya? Jelas tidak. Buktinya, mereka tidak pernah mendemo Rizieq Shihab dan gerombolannya, meskipun mereka telah berkali-kali menghina, melecehkan, dan merendahkan martabat Islam sebagai agama yang mulia, dengan perkataan dan tindakan mereka yang bahlul, intoleran, rasis, dan penuh kekerasan. Apakah asi-aksi mereka demi membela Ulama? Juga tidak. Sudah berapa kali mereka menghina dan melecehkan ulama tapi tidak ada yang memobilisasi massa untuk demo.

Jadi, membela Ahok jelas sama dengan membela Islam karena agama ini sangat menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan serta anti-diskriminasi, anti-ketidakadilan, dan berbagai perbuatan yang merendahkan martabat kemanusiaan.

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Selasa, 09 Mei 2017

KAWAL SIDANG AHOK

KAWAL SIDANG AHOK



Saatnya KITA TURUN menyuarakan suara KEBENARAN dan KEADILAN...

BANTU SHARE YA...AGAR SEMUA ORANG TAHU AKSI KITA .

Salam Perjuangan
Read more ...

Senin, 08 Mei 2017

PANGLIMA : "EMANG GUE PIKIRIN..."


Saya ingat sekali, waktu itu Jokowi diserang karena terlihat ragu-ragu memutuskan posisi Kapolri pada kasus BG..
Jokowi di bully oleh pendukung lawan politiknya. Ia dibilang "boneka" karena seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Dan para pendukung Jokowi mulai meragukan Presiden yang mereka pilih itu. Dari luar Jokowi tampak lemah dan tak berdaya dan seperti tidak mampu melakukan apa-apa.
Saya kemudian menulis tentang bagaimana sesungguhnya Jokowi bergerak dengan menganalogikan dia sebagai kuda di bidak catur., "Langkah kuda Jokowi".

Saya gambarkan bagaimana cara bertarung Jokowi yang tidak secara frontal menyerang, tetapi memutar, merangkul dan membunuh dalam keheningan.
"Dia orang Solo.." begitu kata pembuka dalam tulisanku dulu.


Pada waktu saya menulis itu, banyak yang meragukannya. Bahkan jauh lebih banyak yang mengejek tulisan itu. Sesudah lebih dari setahun tulisan itu, terbukti bagaimana cara kerja Jokowi yang berbeda dengan Presiden sebelumnya - bahkan Gus Dur - yang langsung menghajar lawannya.
Ketika menonton wawancara Panglima TNI Gatot Nurmantyo di Kompas TV, entah kenapa saya melihat gerakan yang sama. Langkah dia yang tidak frontal dalam menghadapi masalah dan cenderung memutar juga merangkul, mengingatkan saya kembali pada langkah kuda Jokowi.
Pada sesi wawancara dia dengan Rosi, terpancar kekaguman Panglima terhadap Jokowi sebagai orang yang "berani dan nekad". Dan kekaguman itu - mungkin - terpancar dari langkah-langkahnya ketika menghadapi situasi. Ia memakai langkah catur "Jokowi's style".

Langkah catur ala Jokowi memang membingungkan. Perlu waktu sedikit agak lama untuk merenung dan memikirkan "kenapa ia melakukan" itu ?
Dan sesudah kita tahu, seharusnya kita juga paham kenapa Panglima melakukan hal yang terlihat agak berseberangan dengan mendekati mereka yang termakan propaganda kaum radikal.
Panglima harus memainkan peran yang sesuai dengan tupoksinya. TNI itu menjaga keamanan dari serangan luar, sedangkan Polri tugasnya di dalam. Jadi TNI memang tidak bisa terjun langsung ketika ada masalah di dalam. Dibutuhkan kerjasama antara TNI dan Polri. TNI hanya berjaga2 sampai situasi betul2 mengancam.
Apa yang dilakukan Panglima TNI dengan merangkul dan mendekati mereka sudah betul. Karena ini akan meredam suasana. Dibutuhkan suasana yang teredam supaya Polri bisa bekerja menangkap aktor-aktor di balik layarnya.

Resikonya memang tidak enak.

Panglima TNI dituding bahwa ia "dekat" dengan kaum radikal. Apalagi dari pihak sana kemudian mengelu-elukan dia. Jika sudah dielukan, berarti strategi ini berhasil. Tinggal menjaga tensi jangan sampai malah aparat dipecah oleh opini publik.
Tudingan yang dihadapi Panglima TNI sekarang bahwa ia lunak dan terlalu berpihak, sama seperti tudingan kepada Jokowi waktu itu ketika dijuluki boneka Megawati.

Tetapi dalam wawancaranya dengan Kompas TV jelas dan tegas Panglima TNI mengatakan, "Yang mengontrol saya hanya Presiden sebagai Panglima Tertinggi.."
Cukup yakini itu dan hentikan semua pemikiran miring dan keraguan. Percayakan bahwa TNI dan Polri bisa mengawal situasi sampai 2019 nanti. Ini hanya permainan berselancar diatas gelombang..
Saya masih yakin bahwa Panglima tidak akan terprovokasi untuk melakukan tindakan yang tidak konstitusional.

Kalaupun banyak tudingan, seperti apa yang Panglima bilang sambil tertawa, "Emang gue pikirin..."
Seruput..

"Dekati kawanmu tetapi lebih dekat kepada musuhmu..' Sun Tzu

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Sabtu, 06 Mei 2017

Tetap Setia Dan Berpengharapan


Hari Selasa depan, 9 Mei 2017, adalah akhir dari persidangan Ahok. Dua puluh satu minggu saya ada di sana. Menyuarakan tentang pembelaan kami bahwa Ahok korban dari nafsu syahwat berkuasa dari kelompok yang selama ini ingin membegal Ahok.

Pada akhirnya, seperti lagu Christine Pandjaitan, walau ingin hatiku memeluk gunung, manalah mungkin tangan tak sampai. Walau ingin hatiku memetik bintang, manalah mungkin tiada sayapku. Kita sadar batas akhir perjalanan kita merengkuh keadilan.

Saya percaya jika Tuhan izinkan keburukan terjadi bukan karena Tuhan melupakan kita.


Saya percaya jika Tuhan izinkan ketidakadilan terjadi di Indonesia bukan karena Tuhan memunggungi kita.
Keburukan, penderitaan, kepedihan hidup, kesesakan hidup, ketidakadilan bisa terjadi bukan karena Tuhan tidak berpihak pada kita, melainkan agar kita tahu bahwa ikhtiar kita sebagai orang beriman untuk tidak takut dan menyerah meski langit keadilan akan runtuh. Terus berjuang mencari keadilan sekalipun di depan sana ada lautan lawan kita sedang menghunus pedang tajam ingin menghabisi kita.

Ketika kita berjuang dan memohon keadilan, di ujung sana ada wajah Tuhan menatap kita. Percayalah, roh Tuhan yang mendekam dalam tubuh kita adalah roh keadilan daripadaNYA.

Tetap berjuang sampai batas akhir. Jangan pernah takut dan gentar. Kerahkan seluruh kekuatan yang kita miliki. Cinta, kesetiaan, keteguhan hati dan persaudaraan. Ketika semua itu sudah kita berikan, selebihnya biarlah kehendak DIA YANG MAHA ADIL terjadi. DIA berkuasa atas segala kehidupan di bumi dan di sorga.

Salam Perjuangan

Penulis: Birgaldo Sinaga
Read more ...

Senin, 01 Mei 2017

Nota Pembelaan Ahok Dalam Sidang Penistaan Agama

Selamat siang melaporkan pada hari Selasa tanggal 25 April 2017 pukul 09.01 Wib, di Auditorium Kementrian Pertanian RI Jl. Raya Harsono RM No. 3 Kel. Ragunan Kec. Pasar Minggu Jaksel, dilaksanakan sidang kasus Dugaan Penistaan Agama ke 20 Perkara No. 1537/Pid.B/2016/PN. JKT. UTR Pasal 156 & 156-a KUHP dengan terdakwa Ir. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Adapun yang dapat dilaporkan :

A. Majelis Hakim sbb :

1. H. Dwiarso Budi Santiarto SH , M Hum.
(Ketua majelis hakim)
2. Jupriadi SH , M. Hum (Hakim anggota)
3. Abdul Rosyad SH
(Hakim anggota)
4. Joseph V. Rahantoan, SH
(Hakim anggota)
5. I Wayan Wirjana, SH (Hakim anggota)

B. Panitera Pembantu sbb :

1. Arie Palti Siregar, SH.
2. H. Erni, SH.
3. Yose Priyono, SH.

C. Jaksa Penuntut Umum :

1. Ali Mukartono SH. MH. (Jaksa Utama Madya).
2. Reky Sonny Eddy Lumentut, SH. (Jaksa Utama Pratama).
3. Dr. Lila Agustina, SH. MH. (Jaksa Utama Pratama).
4. Drs. Bambang Surya Irawan, SH. (Jaksa Utama Pratama).
5. J. Devi Sudarso, SH MH . (Jaksa Utama Pratama).
6. Sapto Subrata, SH. MH. (Jaksa Utama Pratama).
7. Bambang Sindhu Pramana, SH. (Jaksa Utama Pratama).
8. Ardito Muwardi, SH. MH. (Jaksa Madya).
9. Deddy Sunanda, SH. MH. (Jaksa Madya).
10. Suwanda, SH. (Jaksa Madya).
11. Andri Iranofa, SH. MH. (Jaksa Muda).
12. Diky Oktavia, SH. Mpd. (Jaksa Muda).
13. Federik, SH. (Jaksa Muda).

D. Kuasa hukum terdakwa (Tim Advokasi Bhineka Tunggal Ika BTP), sbb :

1. Sirra Prayuna, SH
2. Fifi Letty Indra, SH
3. Humprey Djemat, SH
4. Diarson Lubis, S.H, M.H
5. Tegus Samudera, S.H
6. I Wayan Sudirta, S.H
7. Yanuar Prawirawasesa, S.H, M.H dll.

E. Agenda sidang yg ke 20 adalah : Pledoi/Pembelaan

F. Terdakwa BTP :



#NOTA PEMBELAAN

BASUKI TJAHAJA PURNAMA
TERHADAP TUNTUTAN  PENUNTUT UMUM DALAM  PERKARA PIDANA
No. 1537/Pid.B/2016/PN.JKT.UTR

“SAYA BUKAN KAFIR”

Bapak Ketua Majelis Hakim, dan Anggota Majelis Hakim yang saya muliakan,
Yang saya hormati :
Tim  Penuntut Umum
Polisi, TNI dan  Petugas Pengadilan
Wartawan, Hadirin dan Penasehat Hukum

Pertama-tama Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Majelis Hakim atas kesempatan, yang diberikan kepada Saya.

Setelah mengikuti jalannya persidangan, memperhatikan realitas yang terjadi selama masa kampanye Pilkada DKI Jakarta, serta mendengar dan membaca tuntutan Penuntut Umum, yang ternyata mengakui dan membenarkan bahwa saya tidak melakukan penistaan agama seperti yang dituduhkan kepada saya selama ini dan karenanya terbukti saya bukan penista/penoda agama. Saya mau tegaskan, selain saya bukan penista/penoda agama, saya juga tidak menghina suatu golongan apapun.

Kalau kita mau jujur menegakkan hukum diatas semua suku bangsa, agama, ras dan golongan, di dalam sidang semakin jelas sudah terjadi kesalahan fatal dengan memaksakan kasus yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Begitu jelas terungkap bahwa kasus ini, sejak awal adalah rekayasa politik dan merupakan pengadilan massa (trial by the mob)  yang didalangi oleh orang-orang yang sejak lama telah membenci saya dan menolak saya dan mencap saya sebagai gubernur kafir.  Mereka bahkan sudah melantik gubernur tandingan sejak tanggal 1 Desember 2014.

Orang-orang ini juga yang selalu berdemo menolak saya sebagai gubernur dan meneriaki saya sebagai pemimpin kafir. Bahkan menghalalkan untuk membunuh saya. Faktanya terbukti di dalam persidangan ini, semua Pelapor adalah anggota FPI atau ormas yang terafiliasi dengan FPI atau pihak yang sudah dikenal sebagai pembenci saya menyebut saya kafir dan bahkan ada Pelapor yang menghina iman kepercayaan saya pada Tuhan Yesus. Padahal jelas saya bukan kafir. Mengapa saya bukan kafir? Karena saya juga taat kepada Tuhan dan agama saya diakui oleh Negara.  Dan iman kepercayaan saya didasarkan pada firman Tuhan yang hidup. Itu sebabnya, pada bulan April ini, semua orang Indonesia, suka tidak suka, baru saja merayakan libur nasional pada hari kematian Tuhan Yesus (Jumat Agung) dan hari kebangkitan Yesus (Paskah) dan perayaan kenaikan Isa Almasih yaitu Tuhan Yesus ke Surga pada tanggal 25 Mei mendatang. Perlu saya ceritakan, itulah yang saya imani bahwa Tuhan Yesus mati menggantikan saya yang harusnya binasa karena dosa dan sediakan tempat di Surga setelah dia bangkit dan naik ke surga. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 15:16-20:  “Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.”

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Banyak tulisan yang menyatakan saya ini korban fitnah. Bahkan Penuntut Umum pun mengakui adanya peranan Buni Yani dalam perkara ini. Hal ini sesuai dengan fakta bahwa saat di Kepulauan Seribu, banyak media massa yang meliput sejak awal hingga akhir kunjungan saya dan bahkan disiarkan secara langsung yang menjadi materi pembicaraan di Kepulauan Seribu, tidak ada satupun yang mempersoalkan, keberatan atau merasa terhina atas perkataan saya tersebut. Bahkan termasuk pada saat saya diwawancara setelah dialog dengan masyarakat Kepulauan Seribu. Namun baru menjadi masalah 9 (sembilan) hari kemudian, tepatnya tanggal 6 Oktober 2016 setelah Buni Yani memposting potongan video sambutan saya dengan menambah kalimat yang sangat provokatif, barulah terjadi pelaporan dari orang-orang yang mengaku merasa terhina, padahal mereka tidak pernah mendengar langsung bahkan tidak pernah menonton video sambutan saya secara utuh.

Adapun salah satu tulisan yang menyatakan saya ini korban fitnah adalah dari Goenawan Mohammad  : “Stigma itu bermula dari fitnah. Ahok tidak menghina agama Islam, tapi tuduhan itu tiap hari diulang – ulang; seperti kata ahli propaganda Nazi Jerman, dusta yang terus – menerus diulang akan menjadi “kebenaran”. Kita mendengarnya di masjid – masjid, di media sosial, di percakapan sehari – hari, sangkaan itu menjadi bukan sangkaan, tapi sudah kepastian. Ahok pun harus diusut oleh pengadilan, dengan undang – undang “penistaan agama” yang diproduksi rezim Orde Baru, sebuah undang – undang yang batas pelanggarannya tak jelas, dan tak jelas pula siapa yang sah mewakili agama yang dinista itu. Walhasil, Ahok diperlakukan tidak adil dalam tiga hal (1) difitnah, (2) dinyatakan bersalah sebelum pengadilan, (3) diadili dengan hukum yang meragukan. Mengakui adanya ketidakadilan di dalam kasus ini tapi bertepuk tangan untuk kekalahan politik Ahok, yang tidak bisa diubah, sebuah ketidakjujuran.”

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Sebuah ketidakjujuran memang telah terjadi, tetapi kita bisa mengubahnya kalau kita mau jujur dan melihat dengan mata hati perjalanan hidup saya, apa yang telah almarhum Bapak saya ajarkan dan perbuat, khususnya dalam menjalin kekerabatan dan kemaslahatan dengan saudara-saudara Muslim, serta praktik pemerintahan yang saya jalankan yang telah berusaha sebisa mungkin untuk memberikan pelayanan terhadap harapan dan keperluan umat Islam.

Karenanya, perlu saya tegaskan apabila saya menguraikan segala keyakinan politik saya dan membeberkan semua maksud dari segala perkataan dan tindakan saya yang menjadi proses dalam perkara ini, maka itu bukan untuk mempropagandakan kebenaran atau menyatakan diri saya yang paling benar dan paling baik, tetapi semata-mata untuk menyatakan apa yang terjadi sesungguhnya seperti tulisan Goenawan Muhammad mengakui adanya ketidakadilan dalam kasus ini, supaya tidak ada lagi orang atas nama apapun mengoyakkan Bhinneka Tunggal Ika yang sudah diletakkan sebagai fondasi oleh para pendiri bangsa (founding fathers).

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Ketika saya memilih untuk mengabdi melayani bangsa tercinta ini, saya masuk ke pemerintahan dengan kesadaran penuh untuk mensejahterakan rakyat – otak, perut dan dompet penuh. Untuk itu, ketika saya memberikan sambutan di Pulau Pramuka, saya memulai dengan kalimat bahwa saya mau cerita ini, biar Bapak Ibu semangat. Dari sambutan saya, jelas sekali bahwa saya hanya punya satu niat saja agar warga tebal kantongnya, mau ambil program yang sangat menguntungkan ini. Terbukti Penuntut Umum mengakui bahwa saya tidak punya niat sedikitpun untuk menghina, menista/menodai agama. Dan saya tegaskan, saya pun tidak punya niat sedikitpun untuk menghina golongan tertentu.

Tetapi niat baik dan pengabdian saya ternyata tidak cukup !

Judy Latif menulis, “Nasionalisme bukan soal dari mana kita bermula, melainkan apa yang kita perbuat. Bahwa kita menjadi makan dari daratan dan lautan kepulauan ini, minum dari air yang terpancar dari perut bumi dan sungai yang mengalir di sini, serta menghirup oksigen dari atmosfir alam raya nusantara ini. Maka, kita punya hutang budi kehormatan terhadap Tanah Air ini. Dimana Bumi dipijak, di sana langit dijunjung.
Kecintaan kepada Nusa Bangsa tanpa mengenal asal – usul itu ditunjukkan oleh Pahlawan Nasional Keturunan Tionghoa, Laksamana Muda John Lie (Jahja Daniel Dharma). Lahir di Manado, 9 Maret 1911, jalan hidupnya mengambil jalur “menyimpang” dengan meninggalkan zona nyaman demi mengabdi kepada Ibu Pertiwi lewat jalur ketentaraan. Ketulusan pengabdian dan kecintaannya pada Nusa Bangsa Indonesia, membuat John Lie memiliki pandangan tersendiri tentang  apa yang disebut sebagai “pribumi” dan “non Pribumi”. Menurutnya orang pribumi adalah orang – orang yang pancasilais, sapta margais, yang jelas – jelas membela kepentingan negara dan bangsa. Sedangkan non-pribumi adalah mereka yang suka korupsi dan merugikan kepentingan Nasional. “Mereka itu sama juga menusuk bangsa kita dari belakang. Maka patutlah mereka digolongkan orang non-pribumi”.

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Apakah kita bisa memilih untuk lahir sebagai suku atau agama apa? Tidak ! Semua KedaulatanNYA. Tetapi kita bisa memilih untuk menjadi pribumi dan mengabdi kepada nusa dan bangsa. Sayapun memilih jalur politik untuk melayani masyarakat, walaupun sebenarnya pilihan hidup saya tersebut membuat saya mengambil jalur “menyimpang” melawan arus dengan meninggalkan zona nyaman demi mengabdi kepada Ibu Pertiwi.

Bicara mengenai melawan arus, mengingatkan saya ketika saya mengajak anak-anak yang mengunjungi saya di Balaikota untuk bersama menonton cuplikan film Finding Nemo melawan arus. Setelah itu saya menjelaskan apa pesan moral dari film Finding Nemo, sebagaimana dapat dilihat dalam video youtube yang saya kutip kembali sebagai berikut:

“Bapak mau kasih tahu melalui pelajaran ikan ini, kalian bisa lihat ngga tadi? Papanya tidak ijinkan Nemo masuk ke jaring. Ya…jadi jaring tadi, Nemo bisa keluar masuk kan? Ikan besar kan tertangkap? Kalau Nemo ga mau masuk boleh ga? boleh juga, buat apa dia membahayakan nyawanya. Dia masuk…padahal papanya khawatir, kalau masuk, ikan gitu banyak, bisa kejepit, bisa keangkat. Nah kita hidup dijaman orang-orang itu kadang-kadang berenangnya salah arah…jadi persis seperti ikan. Yang benar harus berenang ke bawah, tapi semua ikan ikut jaring ke atas. Kalau dibiarkan ikut ke atas ikan-ikan ini ketangkap akan mati ga? (jawaban anak-anak) mati! Nah bagaimana mereka bisa tau apa yang bener? Nemo yang tahu! Waktu Nemo minta berenang berlawanan arah, kira-kira orang nurut ga? Ga nurut pertama. Jadi sama, kita hidup di dunia ini…kadang kita melawan arus, melawan orang yang ke arah berbeda sama kita. Tapi kita tetap lakukan demi menyelamatkan dia, dia bilang kalau ngga si Dori bisa mati nih, ikan yang biru tadi. Jadi papanya pun mengikhlaskan…merelakan anaknya untuk masuk. Lalu ketika dia mulai teriak minta turun..Nemo..papanya tau ngga resiko Nemo? Tahu bisa kejepit mati ikan kecil. Lalu begitu terlepas, ada ngga ikan yang berterima kasih kepada Nemo yang terkapar pingsan? Tidak ada! Jadi inilah yang harus kita lakukan, sekalipun kita melawan arus semua, melawan semua orang berbeda arah, kita harus tetap teguh. Semua tidak jujur, ngga papa, asal kita sendiri jujur. Mungkin setelah itu tidak ada yang terima kasih sama kita, kita juga tidak peduli karena Tuhan yang menghitung untuk kita, bukan orang. Nah, ini pelajaran dari film ikan Nemo, jadi bukan soal ketangkap ikannya itu tadi. Jadi orang tanya sama saya, kamu siapa? Saya bilang saya hanya seekor ikan kecil Nemo di tengah Jakarta…seperti itu. Nah ini pelajaran untuk kita….(disambut tepuk tangan anak-anak)”.

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Sambutan tepuk tangan anak-anak kecil diakhir cerita saya tersebut, memberikan saya penghiburan dan kekuatan baru untuk terus berani melawan arus menyatakan kebenaran dan melakukan kebaikan sekalipun seperti ikan kecil Nemo dilupakan, karena saya percaya di dalam Tuhan segala jerih payah kita tidak ada yang sia-sia. Tuhan yang melihat hati, mengetahui isi hati saya.

Saya hanya seekor ikan kecil Nemo di tengah Jakarta, yang akan terus menolong yang miskin dan membutuhkan (Poor dan Needy) walaupun saya difitnah dan dicaci maki, dihujat sebagai kafir serta darah kafir dianggap halal untuk dibunuh. Ironis memang, tetapi seperti Tuhan Yesus Kristus, ketika Dia diadili karena difitnah, Pilatus ingin menyelesaikan kasus fitnah ini dengan menawarkan untuk membebaskan Tuhan Yesus di depan orang banyak karena Pilatus tahu Tuhan Yesus tidak bersalah. Tetapi walaupun mengetahui kebenaran bahwa Yesus tidak bersalah, Pilatus tidak berani membebaskan Yesus karena khawatir akan terjadi pemberontakan besar dan takut kepada orang banyak. Maka dia bertanya, akankah orang-orang tersebut menerima pembebasan dan pengampunan bagi Yesus Kristus? Mereka menolak dan memilih membebaskan Barabas, seorang pembunuh, pemberontak dan penjahat keji. Orang-orang lebih memilih pembunuh keji daripada Yesus, Sang Penyembuh! Pembunuh lebih mereka sukai daripada Pemberi Hidup! Betapa butanya orang-orang tersebut karena berita bohong yang disebarkan para imam. Betapa rusaknya para imam, yang dengan bakat yang sangat hebat dan ketekunan yang sangat besar memengaruhi opini orang-orang dan mengubah mereka menjadi ganas dan penuh niat membunuh.

Walaupun Yesus disalib (Jumat Agung), Yesus tidak membenci dan memusuhi tetapi justru mengampuni mereka yang menyalibkannya dan bahkan tetap menyelamatkan mereka ketika dia bangkit (Paskah). Sebagai seorang kristen, saya diajarkan hal yang sama untuk mengampuni orang yang memfitnah, membenci dan mencaci maki saya dan memaksa saya diadili di pengadilan ini. Saya akan tetap berbuat baik karena saya tahu kasih menutupi banyak kesalahan dan kita hanya bisa mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Seperti John Lie yang walaupun keturunan Tionghoa dan beragama Kristen, memilih untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa dan sadar dirinya adalah pribumi, demikian juga saya yang selalu sadar diri saya adalah pribumi karena seperti pesan Bapa saya, bahwa saya adalah orang Indonesia, punya hak dan kewajiban yang sama di negeri ini dan pekerjaan yang paling mulia adalah menjadi pejabat yang melayani masyarakat, karena orang miskin jangan lawan orang kaya, orang kaya jangan nantang pejabat. Kalau mau lawan pejabat yang kotor dan korupsi harus jadi pejabat”.


Majelis Hakim yang saya muliakan,
Apakah saya yang “double minoritas” di bangsa ini, keturunan Tionghoa dan Kristen, ketika saya mau melayani dan mengabdi kepada bangsa ini, yang hak dan kewajibannya dijamin oleh konstitusi selalu harus berhadapan dengan oknum politisi yang demi mencapai kekuasaan rela mengoyakkan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar hidup kita berbangsa dan bernegara?

Pengadilan ini adalah bukti sejarah bahwa realita politik demokrasi bangsa ini masih jauh dari cita-cita luhur pendiri bangsa (founding fathers), yang telah meletakkan fondasi Pancasila dan UUD 1945 yang memberikan jaminan kepada setiap anak bangsa, apapun latar belakang suku, agama dan rasnya boleh menjadi apa saja di negeri ini termasuk menjadi seorang gubernur. Sayangnya, sebagian dari kita tidak berani melawan arus dan masih takut untuk membela kebenaran, keadilan dan taat pada konstitusi, sehingga secara sadar membiarkan terjadinya peradilan ini karena ketakutan pada tekanan massa.

Majelis Hakim yang saya muliakan,
Saya bersyukur, karena dalam persidangan ini saya bisa menyampaikan kebenaran yang hakiki dan saya percaya bahwa Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini tentu akan mempertimbangkan semua fakta dan bukti yang muncul dalam persidangan ini di mana Penuntut Umum mengakui dan membenarkan bahwa saya tidak melakukan penistaan/penodaan agama seperti yang dituduhkan kepada saya selama ini dan karenanya terbukti saya bukan penista/penoda agama.

Berdasarkan hal tersebut di atas, haruskah masih dipaksakan bahwa saya menghina suatu golongan? padahal tidak ada niat untuk memusuhi atau menghina siapapun dan tidak ada bukti bahwa saya telah mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan atau penghinaan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap agama Islam dan Ulama atau penghinaan terhadap suatu golongan.

Saat ini, apakah pengadilan massa (trial by the mob) yang menang atau Pengadilan demi keTuhanan Yang Maha Esa yang menang? Saya menyerahkan kepada Majelis Hakim Yang Mulia, apakah saya dianggap bersalah atau saya harus dibebaskan dari tuntutan  Penuntut Umum.

Mengutip adagium yang sangat terkenal dalam hukum pidana yaitu, “lebih baik membebaskan seribu orang bersalah daripada menghukum satu orang yang benar.”

Saya berkeyakinan bahwa Majelis Hakim akan memberikan keputusan yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan karena mengambil keputusan demi keadilan berdasarkan keTuhanan yang Maha Esa.

Keputusan Majelis Hakim akan menentukan bhinneka tunggal ika akan terkoyak atau apa yang sudah coba dikoyakkan orang akan yang akan ditenun kembali. Sebab seperti kata Gus Dur, “kita tidak boleh takut-takut. Kalau kita kehilangan keberanian, itulah yang salah, karena hidup kita hanya sekali saja demi kebenaran.”

Mungkin orang – orang yang membenci, menyerang, memaki dan menghujat saya berpikir mereka sudah berhasil mengalahkan dan menjatuhkan saya, tetapi saya percaya orang mereka-reka yang jahat, Tuhan pasti mengubahnya menjadi kebaikan. Ingat saja pepatah Tiongkok, ‘Sebelum bunyi empat paku di atas peti mati kamu, kamu tidak bisa nilai orang lain itu baik atau buruk.” Nanti kamu baru tahu apa yang saya kerjakan.


Majelis Hakim yang saya muliakan,
Biarlah sejarah akan mencatat bahwa kebhinekaan hanya dapat dipertahankan dengan menerima perbedaan dan selalu berlandaskan pada konstitusi.

Kepada semua rakyat Indonesia yang mencintai kejujuran dan menghargai kebhinnekaan semua orang-orang yang ingin hidupnya bersih, transparan dan profesional dan mau melayani bangsa ini, jangan pernah menyerah seperti  si ikan kecil Nemo, berani melawan arus sekalipun nyawa taruhannya, walaupun engkau tidak dihargai, dan tidak ada orang yang berterima kasih.

Seperti kata Bung Karno, “perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.

Percayalah Tuhan tahu yang terbaik. Bangkit dan jadilah terang di tengah kegelapan korupsi, pencurian uang rakyat, ketidakjujuran dan kemunafikan juga upaya mengingkari konstitusi dan kebhinekaan yang sudah dibangun dengan keringat darah dan nyawa founding fathers kita.

Majelis Hakim yang saya muliakan.
Demikian Nota Pembelaan ini saya buat untuk mematahkan semua tuduhan dan fitnah atas sambutan saya selaku Gubernur DKI Jakarta yang sedang menjalankan tugas di Kepulauan Seribu pada tanggal 27 September 2016 dengan maksud mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program budidaya ikan kerapu, berdasarkan Pasal 31 UU Pemerintah Daerah.

Saya percaya Allah itu adalah setia dan adil, sejak awal telah mengetahui akhir cerita hidup kita. Apapun yang telah kita kerjakan dan katakan dan apapun yang telah terjadi pada kita semua adalah atas seijin Tuhan. Percayalah bahwa kekuasaan itu Tuhan yang kasih, Tuhan yang ambil. Tidak ada seorangpun bisa menjabat tanpa seijin Tuhan. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya yaitu Allah yang memulai pekerjaan yang baik diantara kita akan menyempurnakannya sampai pada akhirnya.

Jakarta, 25 April 2017
Hormat saya,
Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M.

G. Penasehat Hukum terdakwa :

- Hanya membacakan yg nota2 pembelaan pokok saja Majelis Hakim
- Harus berupaya objektif melakukan pembenaran dan tdk ditemukannya bukti kesalahan pada terdakwa
- Kasus ini adanya rekayasa massa dan dipaksakan karena adanya desakan massa diawali oleh pidato di Kepulauan Seribu
- Tidak ada penduduk Kepulauan Seribu yg merasa marah sakit hati dan sakit hati dan justru malah orang2 yg menjadi saksi pelapor justru dari Buni Yani yg meng upload video tersebut
- Berapa ahli pun saksi yg dihadirkan oleh JPU jika tdk ada saksi fakta yg ada
- Perkara ini banyak Calon Gubernur Walikota yg Non Muslim selalu dijadikan orang2 tertentu untuk tdk memilih pemimpin yg Non Muslim ini merupakan sebuah suatu ironi
- Ahli yg dihadirkan dlm sidang ini adalah melihat keseharian sehari hari dari terdakwa sehingga pantas tidak menjadikan terdakwa
- saksi yg dihadirkan menyatakan bahwa BTP banyak membantu saudara muslim, hal ini membuktikan tdk mungkin nya BTP untuk melukai Agama Muslim
- Semua orang yg melapor adalah FPI orang yg telah membenci BTP
- 15 April 2017 BTP telah menjadi korban dari Pasal anti demokrasi, LBH Jakarta menyatakan ini sebuah ironi namun nyata
- Pernyataan BTP tdk memenuhi itikad tdk baik
- Pasal 156 a KUHP jelas telah membatasi bicara
- Penafsiran negatiflah yg dikeluarkan oleh media dan tekanan massa yg menjadi hal ini lah menjadi tunduk karena adanya tekanan massa
- Adanya seolah memaksakan bahwa BTP telah melanggar, hanya menyampaikan isi hatinya kebebasan berpendapat dijamin oleh konstitusi kita
- Pemaksaan terhadap kss BTP ini adanya terkoyakan ke Bhinekaan di negeri ini
- Pelapor dalam kss ini tdk bisa disamakan dengan perkara lainnya, saksi di Kepulauan seribu tdk keberatan sesuai dengan fakta bahwa masyarakat di Kepulauan seribu tdk ada pelapor dalam keberatan pidato BTP
- Ahli Agama yg hadir juga menjelaskan Al Maidah diturunkan bukan konteks pemilihan pemimpin melainkan memilih teman bukan yg Non Muslim
- Ahli Hukum pidana juga menjelaskan bahwa niat dilihat dari sikap hidup keseharian dari pelakunya
- BTP melakukan perbuatan yg positif kepedulian terhadap umat islam di Jakarta dan banyak yg sudah dilakukan, membangun Masjid di Balai Kota, Telah Membangun Masjid Raya Jakarta, BTP membangun masjid di setiap rusun, Sejak th 2016 KJP diberikan kpd siswa, memajukan jam pulang PNS selama bulan Ramadhan, BTP rutin memberikan infak dan sedekah dan rutin memberikan Qurban dari dana pribadinya.
- Jika ada salah satu unsur pasal tdk terpenuhi maka dakwaan terhadap terdakwa harus dibebaskan
- Alternatif kedua adalah unsur dimuka umum tdk terpenuhi menurut hukum harus memenuhi seluruh unsur unsur dalan kandungan pasal tersebut
- Pidato sambutan BTP bukan dalam sedang kampanye, memperlihatkan tdk ada kehendak untuk menyatakan kebencian penghinaan terhadap adanya unsur kebencian dan tdk objektif, melakukan sambutan dalam penuh keceriaan sesuai dengan asas kepatutan dalam kesehariannya tdk adanya unsur kebencian dalam suatu agama atau golongan masyarakat indonesia
- Pidato sambutan BTP di Pulau Pramuka tdk memenuhi unsur dalam sikap penistaan atau penodaan terhadap suatu agama atau golongan suatu kelompok
- Untuk membebaskan terdakwa dari Pasal alternatif terhadap terdakwa
- BTP jauh dari sifat pejabat yg malas selaku Gubernur selalu bersikap jujur dan diganjar 4 penghargaan sekaligus, namun begitu banyak caci maki serta demontrasi yg diterima oleh BTP seolah olah tdk ada hal yg baik yg dilakukan oleh BTP
- Secara Yuridis BTP telah bebas secara Yuridis karena telah ditetapkannya Buni Yani yg mengunggah dan saat itu barulah ada reaksi dari masyarakat karena tdk ada kata atau menghilangkan kata pakai, unggahan Bumi Yani lah yg menjadi pintu masuk resah diluar sana
- JPU tdk bisa menyebut golongan mana saja yg menjadi korban secara kongkrit dan tdk Limitatif dalam perkara ini
- Kami mohon kpd Yang Mulia sangat jelas adanya hal keraguan yaitu putusan yg membebaskan BTP, memohon untuk membebaskan BTP dari segala tuntutan hukum, dengan arif dan penuh keberanian dalam membebaskan BTP dlm perkara ini
- Pernyataan LBH Jakarta bahwa BTP dalan hal ini menjadi korban pasal demokrasi dan menjadi sebuah ironi namun nyata, pernyataan BTP sama sekali tdk masuk dalam tafsir agama justru kritik terhadap orang dengan menipu publik dalam kaitan politik, pernyataan Ahok dilindungi dalam UUD 45 HAM, ada pihak ketiga yg memaknai pernyataan Ahok dan pihak ketiga ini tdk mendengar dan melihat langsung pernyataan Ahok tersebut, tekanan massa dan Fatwa MUI merupakan tindakan yg merusak Indonesia sepanjang sejarah telah terjadi.
- Agar Majelis Hakim menjunjung tinggi penegakan Hukum atas Hak kebebasan beragama dan berkeyakinan
- Agar Majelis Hakim menerapkan 156 a KUHP delik materil yg tdk diuraikan JPU tdk terpenuhi
- Harus mengacu terhadap acuan MK, sehingga tdk menerapkan pasal 155 KUHP yg bertentangan
- LBH Jakarta juga menyampaikan untuk melakukan Review karena jelas pasal tersebut akan meruntuhkan demokrasi
- Agar Majelis Hakim Yang Mulia memutuskan ;

1. Ahok tdk terbukti secara sah dan meyakinkan tdk bersalah dalam suatu agama yg di anut di Indonesia
2. Melakukan tindak pidana barang siapa dimuka umum menyatakan penghinaan golongan masyarakat indonesia, membebaskan Ahok dari Dakwaan pertama dan kedua
3. Memulihkan keadaan Ahok dalam segala hal semenjak Kasus ini berlangsung sampai dengan saat ini
4. Menyampaikan BB tetap terlampir An Ahok
5. Membebankan biaya pengadilan kpd Negara
6. Membebaskan BTP dari segala tuntutan

H. JPU tanggapan :

- Ada beberapa pertimbangan tdk akan ada hal yg baru
- Kami akan resmi memberikan jadwal untuk menghindari yg tdk perlu kami tetap pada prinsip tuntutan yg kami sampaikan.

I. PH Tanggapan :

- Segalanya kami serahkan kepada Yang Mulia dan Kami tetap pada pembelaan kami

K. Pkl 11.14 Wib sidang selesai, dan akan kembali dilanjutkan pada hari Selasa tgl  09 Mei 2017 pkl 09.00 Wib dengan agenda sidang Putusan.

DUM TTK
Read more ...

Jumat, 28 April 2017

AHOK TIDAK MENISTA AGAMA


Ahok tidak dituntut dengan pasal menistakan agama. Asumsi itu tidak terbukti dan Jaksa sendiri tidak berani mengajukan pasal penodaan agama dalam tuntutannya. Ahok hanya dituntut pasal penodaan pada kelompok keagamaan.
Tuntutan ini membuktikan, bahwa Ahok memang tidak pernah menodai agama. Tidak menodai Islam dan Al Quran. Dia hanya menyinggung orang yang menggunakan ayat Al Maidah 51 untuk kepentingan politiknya.
Tapi apakah orang akan bisa memaknai ini dengan baik? Saya tidak yakin, setelah semua kehebohan ini. Saya rasa mereka yang membenci akan lebih suka memaki Ahok sebagai penista agama. Walaupun dituntut sebagai penista agama saja belum pernah.

 
Jaksa menuntut Ahok dengan tuntutan penjara 1 tahun, dwngan masa percobaan 2 tahun. Itu maknanya Ahok akan dikenakan hukuman penjara 1 tahun, apabila dia melakukan tindak pidana dalam 2 tahun masa percobannya. Jika dalam 2 tahun tidak ada tindakan pidana yang dilakukan, Ahok tidak perlu masuk penjara. Jadi kemungkinan besar memang Ahok tidak akan dipenjara.
Tapi bukan soal Ahok dipenjara atau tidak yang penting disini. Keputusan hakimlah yang penting. Palu hakim itu akan menentukan masa depan politik seorang Ahok.
Jika Ahok diputuskan bersalah oleh majelis hakim, meski tidak dipenjara, maka para pembenci Ahok akan terus menstigma dia sebagai penista agama. Walaupun tuntutan JPU tidak mengatakan Ahok sebagai menista agama.

Stigma itu akan dipakai ketika dibutuhkan untuk memojokkan Ahok. Artinya keputusan Ahok bersalah atau tidak, bisa berfungsi sebagai lonceng kematian karir politik seorang Ahok. Setidaknya karirnya dalam politik elektoral.

Jika nanti Ahok berniat maju dalam sebuah kontestasi politik, baik untuk jabatan eksekutif maupun legislatif, kita yakin stigma ini akan dimunculkan lawan-lawan politiknya kembali. Keputusan hakim akan digunakan sebagai legitimasi bahwa Ahok menista agama. Walaupun faktanya bukan itu.
Kita mungkin akan melupakan urusan Pilkada Jakarta. Ahok mungkin bisa saja memilih karir lain di luar politik. Tampaknya tidak sulit baginya untuk menjalani hidup 'normal' : cari nafkah, leyeh-leyeh dengan keluarga, menikmati hidup seperti kebanyakan kita.
Dia tidak perlu lagi pusing memikirkan bagaimana ikut berperan untuk mensejahterakan rakyat. Tidak perlu lagi memikirkan bagaimana mengadministrasi keadilan sosial. Dia tidak perlu lagi menitikkan air mata melihat seorang renta terbaring di kamarnya dalam keadaan sakit.

Bahkan di masa akhir jabatannya, Ahok membuka diri kepada Gubernur terpilih untuk mengirimkan tim anggarannya membahas bersama penyusunan anggaran. "Biar Pak Anies lebih cepat menunaikan janji-janji kampanyenya," ujar Ahok.

Palu hakim akan menghentikan gairah itu dalam diri seorang Ahok. Dan bagi sebagian kita, setelah keputusan ini nanti, semuanya akan berjalan biasa saja.

Tapi, dengan tingkat kepuasan publik Jakarta mencapai 76% terhadap kinerjanya, hilangnya kesempatan Ahok untuk kembali menjalani karir politik elektoral, justru yang paling dirugikan adalah rakyat.
Kita akan kehilangan kesempatan menikmati seorang yang begitu bergairah dalam melayani kebutuhan publik. Orang yang meluangkan waktu, tenaga dan biaya untuk mau menyelesaika ratusan keluhan masyarakat setiap pagi.

Oktober nanti, Ahok seperti menjalani nubuat yang dinyanyikan John Lennon beberapa puluh tahun lalu. Dia kembali menjadi rakyat.

"Ahok someday you'll join us..."

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Rabu, 26 April 2017

ORANG-ORANG SUPER KAYA


Baru-baru ini saya berjumpa dengan orang-orang terkaya di negeri ini..
Mereka mengundang saya sekedar untuk mendengar penjelasan bagaimana analisa saya terhadap situasi negeri ini ke depannya nanti.

Bukan kekayaan mereka yang membuat saya takjub - karena saya tidak pernah takjub dengan materi - tetapi justru kesederhanaan mereka. Pakaian mereka tidak lebih bagus dari apa yang saya pakai.
Dan - menariknya - mereka mampu menghargai saya yang sama sekali bukan apa-apa dalam masalah materi jika dibandingkan dengan mereka. Seperti buih di lautan...
Saya tidak diundang ke rumah, tetapi ke kantor mereka. Kebetulan memang saya diundang makan siang bersama di sana. Kantor mereka tidak lebih bagus dari kantor2 yang pernah saya kunjungi. Model kantor lama. Ini diluar perkiraan saya mengingat nama besar mereka ketika nangkring di majalah yang selalu kepo dengan kekayaan seseorang, Forbes.



Di satu lantai yang dekat dengan kantor Direksi, saya melihat ada kantin disana dengan riuhnya para karyawan mereka. Saya bertanya, "Kenapa kok kantin ada dekat ruang Direksi ? Biasanya kantin karyawan ada di lantai bawah atau basement..".
Salah seorang "pangeran" yang sangat rendah hati meski masih muda, dengan senyum berkata, "Disini kami memang terbiasa makan bersama tidak membedakan pangkat dan jabatan. Dan itu bukan kantin, itu memang tempat makan siang dengan gaya kantin..". Ugh, menarik sekali bagaimana mereka memposisikan diri sebagai pemilik dengan para karyawannya.

Makan siangpun tidak istimewa - jika diukur dari besarnya kekayaan mereka. Sayur asem dan pecel. Yang agak mewah sedikit ada gule ayam padang disana kesukaan saya. Tidak ada lobster seperti yang biasa dimakan anggota DPRD DKI sebelum Ahok menjabat.
Selama perbincangan mereka banyak mendengar. Kemampuan mereka untuk menjadi pendengar sungguh mengagumkan. Mereka menyerap ilmu dengan mudah karena menggunakan prinsip air, ilmu tidak akan mengalir ke tempat yang lebih tinggi. Sesudah selesai, mereka bahkan mengantarkan saya ke bawah ke tempat mobil di parkir...

Apa yang bisa dipelajari pada situasi ini ?

Pada level orang superkaya, mereka sudah tidak perlu lagi menunjukkan eksistensi materinya. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Mereka sudah membumi dengan sendirinya.
Mereka menemukan tingkat tertinggi nilai materinya dan menemukan kekosongan di dalamnya. Mereka sudah tidak mengukur dirinya dan orang lain. Siapa yang berani mengukur mereka ?
Dalam tingginya puncak materi, mereka menemukan spiritualitas. Mirip seorang ulama yang dengan ketinggian ilmunya, menjadikannya membumi bukan sibuk demo dan memperkaya diri dengan teriakan-teriakan yang membuat ngeri.

Uang buat mereka sangat penting karena itu mereka terus memperbesar jaringannya kemana-mana. Tetapi disana bukan lagi berapa yang ingin mereka capai, karena "berapa" sudah bukan lagi nilai tertinggi. Mereka mengerjakan "apa" yang menarik dan terus mengembangkan insting.

Saya jadi teringat film tentang runtuhnya pasar modal di Amerika karena bubble. Dan disana ada adegan Warren Buffet - salah seorang terkaya di dunia - sedang mengajak jalan cucunya di Mc Donald sambil menerima telpon Presiden. Sungguh kontras pemandangan sebagai orang biasa dibandingkan berapa nilai materi yang dia punya.
Pelajaran berharga tentang nilai saya dapatkan lagi dalam perjalanan hidup yang semakin lama semakin menarik ini.

Dan sambil seruput kopi pagi ini, saya membaca berita bahwa Setnov baru saja membeli pesawat pribadi senilai hampir 700 miliar rupiah.

Memang beda antara orang superkaya dan kayasuper. Kalo kayasuper itu kaya tapi kwalitas super..
Seruputtt..

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Senin, 24 April 2017

ISLAM VS PKI


Saya dulu sering bercanda tentang isu kebangkitan PKI di Indonesia..
Bahkan ketika Kivlan Zein bicara tentang adanya 15 juta anggota PKI di Indonesia, saya membuat surat terbuka untuknya. Dan seperti biasa saya dicaci maki fans beliau yang saya tanggapi dengan senyum lebar karena saya berfikir, "kok bodoh benar ya percaya gituan.."
Tetapi ketika saya melihat perbincangan banyak grup di bumi datar, saya kaget juga. Isu PKI itu ternyata sangat efektif dan dibangun kembali pelan-pelan. Begitu banyak yang mempercayainya seperti mereka mempercayai agamanya.

Melihat kasus Teten Masduki yang dituding PKI oleh Alfian Tanjung yang dianggap ustad oleh jamaahnya, saya mulai menangkap benang merahnya. Apalagi ditambah politisasi masjid spt yang terjadi di Jakarta baru-baru ini.
Islam Indonesia di daerah-daerah adalah Islam kultural. Meskipun diikat dalam bentuk struktrural atau organisasi, tapi pada dasarnya umat Islam yang aktif dalam pengajian maupun majelis2 cenderung taklid pada ulama dan ustadnya.

Dan belajar dari kasus keberhasilan menguasai umat melalui masjid dan ulamanya disana, saya melihat bahwa isu PKI kembali dihembuskan dan diperkuat doktrinnya.
Pertanyaannya, kemana isu ini akan dihantamkan ?

Pola yang sama bisa kita lihat di Suriah.



Isu bahwa Bashar Assad Presiden Suriah adalah syiah yang membantai rakyatnya sendiri dimulai dari masjid2 dan tempat berkumpulnya umat. Semakin lama isu ini semakin gencar dengan bumbu yang makin kental dan masuk ke tentara. Tentara terpengaruh dan terpecah dua. Sebagian dari mereka desersi - bahkan sahabat Assad sendiri yg mempunyai jabatan tinggi - dan bergabung dalam kelompok perlawanan.
Isu PKI ini - yang sedang diperkuat sana sini - akan melanjutkan isu penistaan agama. Hanya kali ini sasarannya adalah Jokowi. Meskipun sempat reda, isu ini kembali di perkuat lagi karena dipercaya akan mengulang kesuksesan yang sama ketika menghadapi penista agama.

Para lawan Jokowi akan menbalut dirinya dengan kata "Islam". Belajar dari sejarah bahwa dulu umat Islam yang diprakarsai NU berada di barisan paling depan melawan PKI, maka mereka memanfaatkan situasi itu.
Salah satu partai yang akan terkena dampak dari isu ini adalah PDIP. Jabar akan menjadi ujian yang keras buat PDIP dan siapapun yang dicalonkannya.

Sayangnya, PDIP selalu terlambat mengantisipasi sesuatu yang sebenarnya mudah dideteksi. Mungkin ini akibat partai terlalu gemuk dan sedang berada di pucuk kekuasaan sehingga lamban bergerak dan memutuskan.
Isu Islam vs PKI ini kemungkinan akan membesar. Bermula di Jawa Barat sebagai "basis perjuangan Islam" dan meluas ke pusat saat Pilpres 2019. Model intimidasi, masjid di politisasi akan kita temui kembali saat Indonesia menyelenggarakan pemilu nantinya.

Kenapa model ini akan kembali diadopsi ? Karena di Jakarta mereka sukses dan menang..
Ada tiga kelompok yang memanfaatkan isu Islam vs PKI ini.
Pertama, para mafia yang selama ini kehilangan dapur gara2 Jokowi yang membuat mereka gemuk gak keruan.

Kedua, politikus ambisius yang rakus dan tamak akan jabatan.
Dan terakhir, ini yang paling ngeri. Kelompok ini akan menunggangi dana dari mafia dan ambisiusnya politikus untuk meluncurkan agenda sebenarnya yaitu khilafah.
Para pengusung khilafah ini tidak penting siapa yang akan jadi pemimpin. Buat mereka ketika negara bentrok akibat perebutan kekuasaan saja, itu sudah sukses besar dan memuluskan agenda mereka sebenarnya.
Kelompok yang mengatas-namakan agendanya sebagai "perjuangan Islam" ini akan kembali meneriakkan konsep perang Badar dan model Islami lainnya. Mereka sudah memetakan musuh yang mereka bangun sendiri ,yaitu PKI dan akan dihantamkan kepada Jokowi supaya kredibilitasnya hancur saat pemilu nanti.
Sebelum Pemilu 2019, kita akan melihat konsolidasi mereka di masjid2 dengan ormas2 yang dibiayai dari APBD. Dan dari hasil konsolidasi ini akan diarahkan untuk demo-demo lanjutan yang diarahkan ke Jokowi.
Analisa ini memang ngeri. Tapi belajar dari Suriah, situasi ini bisa saja terjadi. Dan kita melihat apa yang sudah mereka lakukan saat pilkada DKI sebagai contoh apa yang akan mereka lakukan nanti.
Coba sekali2 bicara sama sekelompok orang bodoh dalam jumlah besar, apa pendapat mereka tentang bangkitnya PKI di Indonesia ? Lihat ngerinya pandangan radikal mereka akibat doktrin karena ketidak-tahuan. Mereka yakin sekali bahwa mereka akan berjihad untuk membebaskan negeri ini.
Sejak kemenangan garis keras di DKI, kopi saya pahit sekali. Ini akan menjadi pilpres terkeras yang akan kita lalui..

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Sabtu, 22 April 2017

PERAYAAN KEKALAHAN AHOK

Aku baru datang ketika mereka berlima sudah berkumpul di sebuah kafe. Sore tadi, seorang kawan menelepon. "Bro, datang, ya. Ke tempat biasa. Kita rayakan kekalahan, Ahok," ujarnya. Aku cuma bisa menjawab, "Ok, gue usahain, ya..."


"Jangan cuma ok-ok, bro. Lama-lama jadi Ok-Oc lagi... hahahahaha."
Kawan-kawan ini adalah para die hard Ahok. Mereka bertarung habis-habisan untuk memenangkan Ahok-Djarot. Lelaki yang duduk di depanku, sedang merokok, adalah seorang pengusaha rumah makan. Di sebalahnya duduk seorang perempuan, mantan wartawan majalah wanita. Tiga orang lainnya, seorang perempuan dan dua orang lelaki adalah karyawan. Saya tidak tahu mereka bekerja di perusahaan apa.
"Gue sampai di boikot di keluarga. Gue dikafir-kafirin, dibilang keluar dari Islam," kisah seorang mengenang perjuangannya. "Tapi gue gak peduli. Emang yang nentuin masuk surga mereka? Yang nentuin masuk surga kan, panitia seleksi... hahahahahha."

"Gue sih, gak masalah dikafir-akfirin. Udah biasa," celetuk temanku, mantan wartawan.
"Iya, lu udah biasa. Lu kan, kristen," timpal teman perempuan lainnya. Wartawati tadi tertawa renyah.
"Jangan-jangan, nanti malah elu yang masuk surga duluan," celutukku, ke arah wartawati tadi. Lalu kami tertawa, melepaskan senja yang pelan-pelan tergelincir.
"Waktu perhitungan Quick Count menandakan Ahok kalah, gue langsung matiin TV. Gue ajak anak-bini gue jalan ke mall. Gue nonton..."

"Sama. Gue juga lemes waktu tanda-tanda bakal kalah. Makan jadi gak enak. Ngopi kok, rasanya pahit. Gak tahunya, belum pake gula... hahahahahha"

"Gue sih, waktu tahu Ahok kalah, langsung buka FB. Mau baca tulisan lu," kata seorang teman perempuan ke arah saya. "Eh, busyet. udah kalah, tulisan lu masih ngeledek aja. Dasar, lu."
Saya cuma nyengir. Obrolan diteruskan. Lalu seorang memperlihatkan foto-foto Ahok dan Djarot sedang di tengah kerumunan massa dari tabletnya. Ada foto Ahok sedang dipeluk nenek-nenek. Ada yang sedang menggendong Balita. Ada juga ketika dia duduk bersila di kamar seorang lelaki renta yang sedang sakit.
Seorang lagi, memutarkan sidang pertama Ahok. "Saya dituduh menista agama Islam. Itu sama saja saya dituduh menista agama saudara angkat saya sendiri. Sama saja saya dituduh menista agama ibu angkat saya sendiri. Saya menghormati ibu angkat saya, mecintai keluarga angkat saya...," ujar Ahok, yang duduk di kursi pesakitan. Suaranya bergetar.

"Udah, ah, jangan video itu diputerin lagi," ujar kawan perempuan. Dia mengambil tisu dari meja. Menyeka matanya. Teman pengusaha restoran juga membuang muka. Lalu berjalan ke arah westafel.
Saya cuma memandang ke luar. Langit Jakarta yang memerah. Awan berarak-arakan seperti karnaval 17 Agustus. Matahari sore luruh perlahan. "Senja memang selalu menakjubkan," bathinku.
Tetiba terlintas sebait puisi Sapardi Djoko Damono di kepalaku. "Dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya..."

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Senin, 17 April 2017

MEREKA MENISTA MASJID


Takmir dan penggurus mesjid Al-Atiq di Tebet, Jakarta Selatan mengusir Djarot Saiful Hidayat saat sholat Jumat tadi siang. Padahal Djarot datang untuk sholat Jumat, bukan buat kampanye. Dia datang sebagai jemaah, bukan sebagai Cawagub.
Peristiwa-peristiwa seperti ini yang membuat saya makin ngotot membela mereka yang ditindas. Atas nama agama, mereka mempermalukan Pak Djarot. Dia adalah seorang muslim yang berhak sholat Jumat di masjid mana saja. Rumah Allah terbuka untuk semua muslim.


Tapi kampret-kampret di masjid itu mengotori rumah Allah dengan provokasi. Mereka mencaci. Mereka memaki. Menggunakan speaker masjid, untuk menista muslim lainnya. Menggunakan fasilitas umat, untuk menista seorang umat lainnya.
Pak Djarot dan seluruh muslim punya hak sholat Jumat di masjid mana saja. Dia berhak bersujud di musholla manapun. Sebab masjid sesungguhnya adalah tempat bersujud. Tempat manusia menempelkan keningnya ke lantai, menundukkan egonya berhadapan dengan Yang Maha Besar.
Masjid didirikan untuk menandakan kerendahan hati manusia di hadapan sang Khalik. Bukan sarana untuk petantang-petenteng, merasa sok kuasa. Masjid bukan sarana untuk melampiaskan ego. Apalagi cuma karena alasan beda pilihan politik.

Kita menyaksikan kekurangajaran itu. Kita menyaksikan masjid-masjid kita dikotori oleh kejahilan. Kita juga mendengar mimbar-mimbar Jumat berubah jadi ajang kampanye. Semakin lama, semakin memuakkan.
Dulu orang masuk masjid untuk mencari kedamaian. Kini masjid justru dipenuhi provokasi. Di manakah mihrab-mihrab suci itu, tempat manusia dari manapun asalnya bermesra-mesra dengan Tuhannya.
Di depan mata kita, kesucian masjid sedang dilumuri kebebalan. Di depan mata kita, agama cuma diposisikan sebagai slogan politik yang makin hari semakin norak.
Kini masjid KH Hasyim Asyari di Daan Mogot juga difitnah. Mereka menyebarkan isu masjid itu ada lambang salib. Ini benar-benar memuakkan. Para kampret itu selalu mengumbar cerita-cerita busuk untuk merusak persatuan.

Kita tahu, semua ini sengaja dilakukan agar orang-orang yang masih menjaga akal sehatnya menjadi muak. Lalu apatis. Kemudian mereka berkuasa. Dan dengan kekuasaan di tangan, mereka bisa berbuat lebih memuakkan lagi.

Tidak. Demi akal sehat, kita akan terus menghadapi para perusak ini. Sebab jika prinsip yang waras mengalah, bangsa ini akan dimangsa orang-orang 'gila' seperti mereka.
Semoga Pilkada ini cepat berlalu. Agar masjid-masjid kita bisa kembali pada fungsinya sebagai tempat bersujud. Tempat seluruh muslim menyatakan kerendahan dirinya berhadapan dengan Tuhan semesta alam. Apapun pilihan politiknya.

Penulis: Eko Kuntadhi
Read more ...

Sabtu, 15 April 2017

Perda Syariat Itu Sekuler


Banyak pihak salah paham tentang "Perda Syariat" yang dianggapnya sebagai "perda Islami", dan kalau sudah dianggap "Islami" atau "relijius" terus asumsinya sudah "sangat Tuhani" (maksudnya: sesuai dengan kehendak Tuhan dan karena itu direstui oleh-Nya).
Sebetulnya, saya tidak setuju dengan istilah "Perda Syariat" karena "Perda Syariat" itu sejatinya tidak ada, dan tidak akan pernah ada. Kalau Perda (Peraturan Daerah) yang didasarkan pada tafsir atau interpretasi atas sejumlah diktum "Hukum Syariat Islam", itu baru ada. Pembuatan pasal-pasal dalam sebuah Perda bisa didasarkan atau bersumber pada hukum apa saja: Hukum Syariat, Hukum Adat, Hukum Kolonial Belanda, Hukum Injil, dlsb.
Kemudian, semua Undang-Undang atau peraturan hukum (termasuk yang diklaim sebagai "Perda Syariat" tadi) jelas sangat "sekuler" karena produk dari kebudayaan manusia. Semua hasil cipta, karsa, dan rasa manusia itu disebut "kebudayaan", dan karena sebuah "kebudayaan" maka itu bersifat sekuler. Yang namanya "Perda" adalah hasil kreasi, ide, tafsir, pemikiran, dan "otak-atik" manusia. Memang Tuhan yang bikin "Perda Syariat"? Tidak kan? Kaaannnn.



Lalu, jika ada yang mengklaim bahwa "Perda Syariat" itu "Islami" karena berdasarkan pada ayat-ayat Al-Qur'an misalnya, itu juga keliru karena apa yang mereka klaim bahwa "Perda Syariat" itu bersumber dari Al-Qur'an pada hakikatnya atau dalam realitasnya adalah bersumber pada jenis-jenis penafsiran Al-Qur'an dan wacana Hukum Islam tertentu.
Karena bersumber pada tafsir dan wacana hukum Islam tertentu inilah maka kenapa masing-masing negara/daerah yang mayoritas berpenduduk Muslim menggunakan peraturan hukum yang berbeda-beda. Semua mengklaim "sangat Islami", "sangat Qur'ani", "sangat Syar'i".
Negara yang menganut Mazhab Hukum Islam Hanbali seperti Saudi atau Qatar, berbeda dengan negara yang menganut Mazhab Maliki (seperti Maroko), mazhab Hanafi (seperti Turki), atau mazhab Syafii seperti Mesir dalam mengimplementasikan peraturan hukum. Negara yang mayoritas Sunni akan menerapkan sistem hukum yang berbeda dengan negara yang mayoritas Syiah (seperti Iran), Ibadiyah (seperti Oman), atau negara-negara yang hampir sama kekuatan Sunni-Syiah seperti Irak atau Lebanon.

Pula, jika yang disebut "Perda Syariat" itu adalah Perda yang pasal-pasalnya bersumber dari (tafsir) ayat-ayat Al-Qur'an atau Sunnah Nabi, maka semua pasal dan ketentuan hukum yang baik pada dasarnya adalah sangat Syar'i. Maka, demokrasi itu sangat syar'i karena Al-Qur'an menggarisbawahi tentang pentingnya bermusyawarah, berpendapat, dlsb. Bahkan "komunisme" juga sangat syar'i karena Al-Qur'an juga menandaskan tentang pentingnya egalitarianisme ekonomi yang menjadi fondasi Komunisme.
Jadi, sejumlah kelompok Islam di Indonesia yang mengkampanyekan tentang "Perda Syariat" itu pada dasarnya adalah mengkampanyekan kelompoknya sendiri, bukan mengkampanyekan Tuhan. Mengkampanyekan kelompok atau ormas Islamnya sendiri, bukan mengkampanyekan Islam. Mereka mengkampanyekan imajinasi dan tafsir mereka atas Hukum Tuhan. Mereka memperjuangkan Hukum Islam yang sesuai dengan selera, pemahaman dan praktek kelompoknya. Itu saja.

Dengan demikian, kampanye Perda Syariat yang Islami, Syar'i dan segala macam itu pada hakikatnya hanyalah retorika, jargon, alat kampanye, dan medium untuk meraih atau mempertahanan kekuasaan saja. Tidak lebih, tidak kurang. Hanya orang yang lugu-njegu saja yang percaya dan terbuai dengan propaganda dan kampanye tentang Perda Syariat.

Al-Qur'an adalah "korpus terbuka" yang kaya-makna dan multi-tafsir. Sejumlah kaum Muslim dan kelompok Islam yang berwawasan cupet-sempitlah sebetulnya yang membuat Al-Qur'an itu menjadi tampak eksklusif, sempit, dan miskin-makna. Udah ya Mat, saya mau nyusu dulu: nyut, nyut, nyut...

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Sabtu, 01 April 2017

BUBARKAN JAKARTA

Bagi Ahok, KJP hanya untuk anak yang mau sekolah. Sebab pemerintah berkepentingan untuk mensukseskan program belajar 12 tahun. Jika anak yang mau sekolah dan yang tidak mau sekolah mendapat insentif yang sama, ini namanya program tidak mendidik.



Toh sekolah gratis. Ongkos gratis. Alat-alat sekolah dibeli dari dana pemerintah. Bahkan dapat subsidi barang konsumsi. Dengan mereka sekolah sekaligus sudah mampu membantu kekuarganya.

Dengan KJP Ahok ingin mencerdaskan anak-anak Jakarta.

Sementara Anies lain lagi. Dia akan memberikan KJP buat semua anak. Baik yang sekolah maupun tidak. Sebab mungkin saja, dia merasa Pemda tidak harus mendukung program wajib belajar.

Saya rasa program ini lahir dari kekecewaanya dipecat dari menteri pendidikan. Jadi kesannya dia gak lagi penting mikirin pendisikan. Mau sekolah kek, mau gak kek. Sama saja.

Atau dasar fikirannya simpel. Dalam Pilkada orang yang sekolah maupun tidak, suaranya dihitung sama.

Dengan KJP Anies ingin meraup suara pemilih sebanyak mungkin.

Ahok ingin membangun banyak rumah susun. Sebab kebutuhan perumahan warga Jakarta besar sekali, tapi ketersediaan lahan tidak ada. Jikapun ada harganya sangat mahal. Tidak mungkin terjangkau pegawai rendahan.

"Jadi bagi mereka yang penghasilannya setara UMR, bisa tinggal di rumah susun. Biayanya cuma setara Rp 100 sd Rp 150 ribu sebulan. Istilahnya apartemen harga kos. Dengan begitu mereka bisa menabung untuk membeli rumah tapak di pingiran Jakarta."

Berbeda dengan Anies. Dia berfikir pemerintah bisa membantu masyarakat membeli rumah. Bukan dengan membangun rumah, tapi dengan DP disubsidi. Dari mana rumahnya? Dari masyarakat yang mau menjual rumah.

Sebelumnya dia mengatakan harga properti naiknya 20% setahun. Artinya jika pemerintah mau mensubsidi DP, angkanya juga akan naik 20% setiap tahunnya.

Di Jakarta banyak kok rumah yang harganya Rp 350 juta. Lihat saja di online. Kalau harganya segitu butuh DP Rp 52 juta. Nah, DP ini yang disubsisidi. Begitu kira-kira logika yang diajukan Anies.

Realitanya mencari rumah di Jakarta seharga Rp 350 juta, jauh lebih sulit dibanding mencari kutu di rambutnya Raisa.

Berapa kebutuhan perumahan warga Jakarta? Data menunjukan sekitar 1,3 juta. Sebagian besar dirasakan masyarakat penghasilan kecil. Artinya jika program ini mau diwujudkan Anies, pemerintah harus siapkan dana Rp 67 triliun.

Berapa besaran APBD Jakarta? Rp 70 triliun. Artinya jika Anies mau menjalankan program ini hampir seluruh uang Pemda habis cuma untuk subsidi rumah doang.

Dia harus memecat seluruh karyawan Pemda. Membubarkan Kecamatan, Kelurahan, Puskesmas dan seluruh Dinas. Juga menbubarkan DPRD. Membiarkan sampah, kali kotor, menghapus KJP, dan menghentikan pembangunan.

Sebab pemerintah gak punya duit lagi untuk membayar gaji dan aktifitas lainnya.

Dengan kata lain, jika Anies jadi Gubernur, Jakarta otomatis bubar.

Program ini seperti ingin mengubah bumi bulat menjadi datar.

Penulis:  Eko Kuntadhi
Read more ...

Senin, 21 November 2016

Kalau Takut Pilih Ahok, Ya Pilih Djarot Aja

Postingan ini khusus untuk umat Islam warga "Jakardah" yang ngefans dengan Koh Ahok tapi bingung menyikapi simpang-siur pendapat para ulama dan tokoh Muslim mengenai boleh-tidaknya memilih pemimpin non-Muslim.


Ulama dan fuqaha (ahli fiqih atau Hukum Islam) berbeda pendapat mengenai masalah keumatan itu sudah biasa terjadi sejak zaman bahula. Jadi tidak usah bingung. Kalau terjadi perbedaan pendapat tentang suatu masalah, maka Anda tinggal pilih saja mana pendapat yang menurut Anda "lebih mantab", "paling wokeh" dan paling membawa "manpaat" bagi kepentingan masyarakat banyak. 

Jadi umat Islam tidak usah bingungan. Yang penting madep mantep ikuti hati-nurani dan akal-sehatmu. Santai aja. Gitu aja kok bingung. Tapi kalau masih bingung dan ragu juga, maka saya sarankan jangan pilih Pak Ahok tapi pilih Pak Djarot saja. Beliau kan Muslim, jadi gak masalah milih dia. Dengan pilihan ini, maka Anda akan terhindar dari segala "jebakan teologis" dan perasaan berdosa.

Sekali lagi, ini hanya "berlaku" untuk kaum Muslim pendukung Ahok-Djarot saja lo. Kalau Anda mantepnya dengan Pak Anis juga silakan saja. Beliau orangnya juga baik, lemah-gemulai, tutur-katanya sopan, kata-katanya terstruktur rapi, persis seperti akademisi atau "wong kampusan" lah. Beliau ini khas seperti "dosen idaman" he he. Mau milih Mas Agus juga silakan. Dia juga orangnya (sepertinya) baik, sopan, gagah-perkasa, masih muda lagi. Kira-kira khas "perwira idaman" lah. Kalau Koh Ahok kan ya Anda tahu sendirilah, "khas gubernur idaman" gitu he he.

Anda boleh menjagokan siapa saja. Bebas mengidolakan siapa saja. Merdeka menjadi "cheerleader" kandidat siapa saja. Boleh memilih siapa saja. Yang penting rukun, jangan saling menghina, menjegal, dan mengolok-olok. Gak enak kan kalau didengar "tetangga sebelah" kalau kerjaanya berisik melulu kayak sopir bajaj. Menurut Cak Lontong: "Anda boleh setengah mati memuji istri/suami/pacarmu sendiri tapi jangan menjelek-jelekkan istri/suami/pacar orang lain."

Jabal Dhahran, Arabia

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Read more ...

Sabtu, 19 November 2016

KITA SEMUA BERSAUDARA


Saya dulu sering membahas pola yang sama bagaimana Indonesia ini bisa menjadi the new Suriah...
Pertama, bangkitkan superioritas salah satu agama di wilayah itu. Agama dibandingkan secara statistik, dengan angka, bukan dari nilai2 luhurnya.


Dengan konsep mayoritas dan minoritas, maka diharapkan ada efek yang berkelanjutan.
Mayoritas - diwakili oleh Islam - diangkat kebanggaannya sehingga mereka merasa berhak atas wilayah. Sedangkan minoritas - diwakili Kristen -dimunculkan kecemburuannya, sehingga mereka akan bangkit melawan.

Kristen yang mayoritas di satu wilayah akan membalas dendam kepada Islam yang minoritas di satu wilayah.
Bisa jadi ada aksi susulan di satu wilayah dimana Kristen yang mayoritas, akan disusupi orang2 bayaran yang menekan si Islam yang minoritas.

Dan ketika itu terjadi, maka Islam yang merasa mayoritas secara keseluruhan akan membalas dendam karena kembali "kebanggaannya" sebagai mayoritas terhina.
Terus begitu, sehingga perlahan2 kebencian pun akan tumbuh, di tambah provokasi2 melalui media2 seperti ini. Dan perang Ambon juga Poso di masa lalu, akan kembali digulirkan.

Pecahlah negara kita dengan perang saudara...
Tentu kita tidak mau seperti itu, kan ?

Karena itu saudara2ku yang Kristen, bersabarlah dan rapatkan barisan sehingga tidak ada provokator yang menyusup di internal kalian. Biarkan aparat yang akan menyelidiki media provokator seperti ini yang mengatas-namakan Islam tapi sesungguhnya bukan.

Dan percayalah, mayoritas muslim di negara tercinta kita ini tetaplah Nahdlatul Ulama. Mereka diam bukan berarti tidak waspada, tetapi terus mengamati situasinya..
Indonesia kita jaga dengan terus berpegang tangan dan meyakini bahwa kita adalah saudara dan saling melindungi..

Kalian sakit, kami juga merasakannya.
Semoga secangkir kopi bisa menjaga kewarasan kita bersama.. Seruput, brothers ?

Penulis: Denny Siregar
Read more ...

Selasa, 15 November 2016

Waspadai Skenario Adu Domba di Jakarta!


PILKADA DKI telah berkembang ke arah yang cukup mengkhawatirkan. Bukan saja soal Cagub petahana, Basuka Tjahaya Purnama (Ahok) yang pernyataannya di Kepulauan Seribu yang memicu kontroversi, tapi juga respon sebagian kelompok yang sengaja memanfaatkan isu ini untuk tujuan-tujuan lain di luar Pilkada DKI.

Sebenarnya situasi pasca kontroversi pernyataan Ahok mengenai Surat al-Maidah sudah mulai mereda setelah Ahok minta maaf secara terbuka atas ucapannya yang dianggap menyinggung umat Islam. Tokoh-tokoh agama ternama juga menanggapi positif permintaan maaf itu. Semua itu menjadikan situasi yang semua penuh ketegangan mulai mereda.


Tapi belakangan situasi kembali memanas, terutama setelah MUI mengeluarkan pernyataan sikap yang pada intinya menyatakan Ahok telah melakukan penistaan agama. Situasi tambah semakin memanas karena sebuah stasiun TV swasta menggelar acara dialog secara live kurang lebih 4 jam, dengan tema “Setelah Ahok Minta Maaf”. Berkembang juga berita, besok pagi, Jumat 14 Oktober 2016 akan ada aksi besar yang dimulai dari Masjid Istiqlal, dengan tema “Tangkap Ahok Penista Agama”. Situasi ini menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran, sehingga Gereja Katedral yang letaknya di sebelah masjid Istiqlal merasa perlu membuat himbauan khusus kepada Jemaatnya agar besok hari itu tidak mendekat ke kawasan Katedral jika tidak ada keperluan mendesak.

Saya menduga ada kelompok-kelompok yang mengambil untung dari situasi untuk merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Hal ini dilakukan dengan mengadu domba antara umat Islam dan non-Islam, bahkan antar sesame umat Islam yang mempunyai halauan yang berbeda. Mereka akan menunggangi organisasi-organisasi keagamaan, untuk memuluskan agenda adu dombanya.

Siapakah kelompok itu? Sebenarnya tidak terlalu sulit dikenali. Mereka bukan saja benci pada Ahok, tapi juga benci tatanan Negara ini, benci pada Pancasila, benci pada NKRI dan seterusnya yang dianggap sebagai sistem Negara thagut. Anasir-anasir kelompok radikal akan berkumpul dengan memanfaatkan persoalan Ahok menjadi pintu masuknya. Namun, yang dituju bukan soal Ahok, tapi lebih besar dari itu.
Karena itu, waspada dengan skenario adu domba yang sudah mulai terasa. Bukan soal Ahok dan Pilkada DKI, tapi ini soal keutuhan bangsa.

Rumadi Ahmad
Ketua Lakpesdam PBNU

[Catatan: himbauan di atas dari temanku, Mas Rumadi Ahmad, yang juga Ketua Lakpesdam PBNU, Jakarta. Silakan disebarluaskan jika berkenan demi keutuhan bangsa dan negara].
Read more ...

Indonesia

Air Hidup

Advertise Here

Designed By VungTauZ.Com